
aku dan Elisa duduk dengan santai di atas rerumputan yang tumbuh dengan sangat subur dan tertata rapi, menikmati semilir angin sore dan pemandangan indah mata hari menuju peraduan, menanti kilas-kilas jingga menuju hitam malam yang kelam, udara sejuk yang menghadirkan ketenangan membuat ku tersenyum pada matahari yang kini mengintip malu-malu di ufuk barat
MasyaAllah, sungguh indah Allah melukis setiap sudut langit yang memancarkan seni penuh makna yang mendalam bagi setiap jiwa yang mau berfikir, bagi mereka yang mau memikirkan setiap kebesaran Allah, bagi mereka yang mau memikirkan setiap kilas-kilas kejadian dan peristiwa yang terjadi di alam ini
aku menoleh pada derap langkah kuda yang melaju kencang di belakang ku, kilasan yang awalnya buram kian lama kian terang, aku bisa melihat seorang laki-laki dengan pakaian formal melaju kencang di atas kuda hingga akhirnya laju kuda itu semakin melamban saat jarak antara kita semakin memendek, dengan jelas aku bisa melihat pangeran berkuda hitam yang kini tampak menetralkan nafasnya yang memburu
Louis turun dari kuda hitam yang memiliki tinggi kurang lebih 170 cm....? itu hanya perkiraan ku, punggung kuda it bahkan hampir menyamai tinggi Louis, dengan langkah pelan Louis mendekat pada kami yang masih duduk di rerumputan, aku sudah hendak berdiri saat tangan Louis mengisyaratkan untuk tetap diam di tempat
dia duduk di samping ku dengan jarak yang sangat dekat, bahkan tangannya dengan lembut membelai pucuk kepalaku seperti yang sering ia lakukan
"Assalamualaikum" dia memandang tepat di mata ku dengan pandangan yang tidak dapat ku artikan, aku dapat merasakan banyak rasa yang terpancar dari matanya yang bersinar redup, kilau hijaunya tampak suram namun aku juga bisa melihat ada kobaran kebahagiaan yang memercik dan menari-nari di dalam sana
"wa'alaikum salam warohmatullah" setelah menjawab salamnya aku mencoba memalingkan wajah ku untuk menghindari tatapannya
aku melirik pada Elisa yang tampak santai seakan tidak terganggu dengan perlakuan louis terhadap ku, entah karena Elisa yang terlalu baik menyembunyikan perasaannya atau memang ini adalah hal yang biasa baginya....? aku tidak tau, tapi walau Elisa bersikap acuh tak acuh aku merasa tidak enak hati pada Elisa dengan perlakuan louis yang berbeda, dengan penuh kesadaran tinggi aku sedikit menggeser tubuhku untuk memberi jarak antara aku dengan Louis, bahkan dengan perasaan tidak rela aku mencoba untuk menyingkirkan tangan Louis yang sebetulnya masih sangat ku rindukan dari pucuk kepala ku
'aku juga harus memikirkan perasaan Elisa, aku tidak boleh egois' aku mencoba meyakinkan dalam hati, walau pada kenyataannya saat ini mata ku sudah hampir berembun
"ayo kembali ke rumah, di sini anginnya cukup kencang" Louis berkata dengan nada lembut sebelum kemudian membuka suit yang ia kenakan dan menyampirkannya di bahu ku, bahkan dengan santainya tangan Louis terulur untuk merangkul ku dalam dekapannya, dengan takut-takut aku melirik pada Elisa yang saat ini tengah tersenyum lebar
dahi ku berkerut dalam saat melihat ekspresi wajah Elisa yang sangat jauh dari dugaan ku, aku bahkan hampir menganga tak percaya saat Louis dengan santainya berpamitan pada Elisa dengan nada datarnya yang sangat kontras dengan perlakuannya pada ku
'inikah istilah habis manis sepah di buang....?'
aku bergidik ngeri memikirkan hal itu, aku bahkan tidak sanggup membayangkan bagaimana nasib ku jika nanti Louis sudah bosan ke pada ku....? memikirkannya saja sudah membuat ku ingin meraung menangis apa lagi sampai kejadian....?
"kenapa....?" Louis bertanya pada ku saat dia melihat ku yang tengah menatap nya dengan tanda tanya yang terlukis jelas di wajah ku, tangannya terulur untuk menekan dahi ku yang berkerut dalam, dan menekan tepat di lekukan yang berada di tengah dahi
"Elisa...?" aku menunjuk pada Elisa yang tetap santai menikmati senja, bahkan dia tidak sedikitpun merasa terusik dengan perlakuan Louis yang sangat-sangat tidak adil menurut ku
"kenapa Elisa...?" aku kembali menatap Louis yang malah tidak peka sama sekali dengan keadaan Elisa, melihat itu hampir membuat ku berteriak menyuarakan keadilan untuk Elisa yang dia perlakukan berbeda
merasa dongkol dengan sikap Louis, aku dengan wajah cemberut melepaskan rangkulannya dengan sedikit hentakan dan melangkah dengan lebar menuju kuda yang tadi Louis tunggangi, dengan susah payah aku mencoba menaiki kuda yang tingginya jauh di atas ku hingga akhirnya aku berhasil duduk dengan nyaman di punggungnya, dengan sekali hentakan kuda itu melaju dengan kencang meninggalkan Louis yang meneriaki nama ku dengan panik
kuda ini melesat dengan ke kecepatan sedang, walau demikian kecepatannya yang melebihi kecepatan kuda pada umumnya membuat ku harus berusaha keras menyetabilkan tubuhku agar tidak terpental, aku bahkan harus menarik talinya dengan cukup kencang untuk membuatnya berjalan santai
ya Allah aku hampir membuat tubuhku terjengkang dari atas kuda yang tingginya lumayan untuk membuat tulang punggung ku cidera
dengan santai aku melenggang memasuki area rumah utama dan memberikan kuda itu pada salah satu orang yang tengah berjaga di pintu depan, entah siapa, beruntung dia bisa memahami bahasa isyarat ku, bahasa yang paling efektif untuk di gunakan jika lawan bicara kita tidak memahami bahasa verbal yang kita gunakan, itu yang dinamakan bahasa seribu ummat
aku mengedarkan pandangan ku saat memasuki ruang keluarga yang selalu membuat ku takjub dengan berbagai fitur canggih yang hampir terdapat pada setiap benda yang ada di dalamnya
"Hi Zu, come here" Mommy yang berada di sofa panjang bersama Elio melambai pada ku untuk bergabung dengan mereka
"hi little Mommy, where's Daddy...?" Elio juga ikut menyapa ku dengan senyum lebarnya walau ujung-ujungnya Louis juga yang dia tanyakan
belum sempat aku menjawab saat Elio's kembali berteriak nyaring dan melompat dari sofa untuk menyambut Louis yang datang dengan nafas sedikit memburu, sepertinya dia habis lari....? tapi saat mata ku menanggap gambaran kuda berwarna coklat dengan tinggi yang hampir menyamai kuda hitam yang ku pinjam dari Louis tanpa persetujuannya tadi membuat ku meralat jawaban terakhir ku, tapi dapat ku pastikan jika dia menunggangi kudanya dengan kecepatan penuh, hati ku tersenyum jail memikirkan tentang itu
"hi, little Aslan" Louis dengan sigap menangkap tubuh mungil Elio saat dia melemparkan tubuhnya pada Louis, aku tersenyum dalam balutan pedih yang tersembunyi di laci hatiku yang terdalam
Meraka berbincang akrab walau sebenarnya ocehan Elio yang mendominasi percakapan, aku menatap mereka dengan sejuta pemikiran yang terjalin kusut tanpa ujung dalam benak ku, aku duduk dengan tenang di samping Mommy yang memandang haru moment itu
"Zu, when will you also give me little Aslan..?" Mommy bertanya dengan nada ceria dan binar penuh harap, harapan yang menurut ku akan sulit untuk ku jawab, apalagi untuk di wujudkan
aku hanya tersenyum tanpa mampu menjawab pertanyaan Mommy, bagaimana aku harus menjawabnya....? disaat kondisi hati ku sudah memutuskan yang sebaliknya
" it's okay, you guys are still young, don't be too burdened with my requests, ok, you still have a lot of time, take it easy" aku tidak menanggapi dan hanya memberikan senyum hangat dengan seribu rahasia yang coba ku kunci dengan sangat rapat, aku memeluk Mommy dan mencoba untuk mengingat setiap kehangatan dan kelembutannya yang pasti akan sangat ku rindukan nanti
percakapan kami semakin menghangat saat satu persatu anggota keluarga datang dan bergabung bersama kami, berbincang hangat menanti malam tiba, aku memandang pada Louis yang berinteraksi dengan hangat pada setiap anggota keluarga, walau Louis terkesan membatasi interaksinya dengan Elisa, dimata ku Meraka malah tampak seperti saudara ipar dari pada suami istri, tak ubahnya interaksi ku dengan Leo yang masih sangat kaku
entahlah mungkin sedang ada masalah di antara mereka berdua.....? aku tidak tau
aku mencoba untuk mengenali satu persatu karakter dari setiap anggota di dalam keluarga ini, bagaimana karakter Daddy yang sebelas dua belas dengan karakter Louis, Leo yang periang sama seperti halnya Leora, si kembar yang penuh drama, Mommy yang lemah lembut, Elisa yang easy going dan Elio yang ceria, dia sangat suka menjadi pusat perhatian, aku yakin aku akan merindukan saat-saat ini nantinya
perbincangan hangat yang mengikis waktu hingga tak terasa magrib pun telah tiba, tanpa kumandang dari merdunya suara adzan yang selalu tersiar di setiap penjuru, seperti halnya di Indonesia, di sini setiap pergantian waktu sholat terasa sunyi dan sepi, hanya terdengar hembusan angin yang mencoba berbisik pada setiap telinga orang-orang yang dengan penuh keyakinan menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya, aku baru mulai merasakan susahnya hidup di negri asing, dimana setiap fasilitas untuk beribadah kita sendirilah yang harus menyediakan beruntung Louis sangat dapat di andalkan sehingga aku tidak terlalu seperti anak ayam yang linglung kehilangan induknya
setelah berjama'ah kumandang dari merdunya suara Louis saat melantunkan ayat-ayat Allah mengalun mengisi setiap sudut kamar, mengalirkan ketenangan yang membuat jiwa yang gersang memercik semangat, aku menikmati setiap nada yang memanjakan tulang-tulang pendengaran ku hingga ketukan yang terdengar di daun pintu membuat Louis menghentikan bacaan, tentu saja membuat ku sedikit kecewa karena tak lagi bisa menikmati suara indah Louis yang ku rindukan, Louis menghentikan bacaan Al-Qur'an-nya untuk bertanya pada entah siapa yang berada di luar sana, aku tidak dapat memahami percakapan mereka karena Louis yang menggunakan bahasa Itali
ternyata yang mengantuk pintu adalah salah seorang asisten rumah tangga yang menyampaikan pesan dari Mommy agar kami segera bergabung untuk makan malam bersama
mau tak mau kami tetap harus beranjak dari kamar menuju ruang makan setelah menyimpan peralatan sholat dan Al-Qur'an pada tempatnya semula, tangan Louis terulur untuk membenarkan letak Khimar ku yang sepertinya tertekuk
hal yang paling membuat ku sedikit tidak nyaman berada di rumah ini adalah saat aku harus tetap menggunakan jilbab dan mihna di dalam rumah, aku harus berhati-hati dan memastikan pakaian ku tetap tertutup, pasalnya di rumah ini ada Leo yang sejatinya bukan mahrom ku, walaupun dia adik Louis, posisinya tetap sebagai ipar yang memang tidak berhak untuk melihat ku menggunakan pakaian dalam rumah seperti daster atau baby doll misalnya, belum lagi ada beberapa karyawan Daddy yang laki-laki, yang kadang akan Daddy panggil menemui Daddy di ruang kerjanya, jika mereka berpapasan dengan ku saat aku tidak memakai jilbab kan tidak lucu!
di ruang makan sudah berkumpul semua anggota keluarga kecuali aku dan Louis yang baru bergabung tentunya
aku duduk tepat di samping Mommy dan Louis, sedangkan Elisa duduk tepat di depan ku, aku tersenyum padanya saat dia menatap ku dengan jail, aku tidak mengerti makna tatapannya, mataku tertuju pada mahluk kecil di samping Elisa yang kini merengek minta turun dari kursi bayinya dan tangannya melambai pada Louis
dengan sigap Elisa memegang tubuhnya yang masih menggeliat hingga Louis harus menghampirinya dan duduk di samping Elisa dengan memang ku Elio yang kini mulai tenang, bahkan bocah imut itu kini tengah tersenyum dengan lebar hingga menampakkan giginya yang tertata rapi
aku mengalihkan pandangan ku dari pemandangan yang sedikit mencubit ujung hati ku, beralih pada deretan garpu dan sendok dengan berbagai ukuran di atas meja
seorang pelayan datang dengan hidangan sepotong daging yang beraroma sangat nikmat, dengan was-was aku memandang daging di hadapan ku itu
banyak pertanyaan berkeliaran dalam benak ku, tapi yang paling mendominasi adalah pertanyaan 'apakah aku harus memakannya atau tidak.....?'
melihat ku yang masih memandang makanan ku Leora beranjak dan duduk di samping ku menggantikan tempat yang sebelumnya sempat di tempati Louis
"kak Zu, tidak makan....?" dengan aksen yang lucu Leora berusaha keras untuk bisa mengucapkan kata itu dengan lancar
aku hampir menyemburkan tawa ku saat mendengar bagaimana Leora mengucapkan kata-kata itu
"ini daging apa....?" aku berbisik pada Leora dengan suara yang sangat lirih
"don't worry, that's Halal, special request from my brother" aku tidak tau bagaimana Leora bisa memahami kekhawatiran ku, mungkin mereka sudah terbiasa dengan gaya hidup Louis yang baru....? bisa jadi
hanya yang menjadi masalah saat ini adalah bagaimana aku akan memakannya, terlalu banyak garpu di depan ku dan aku bingung mau menggunakan yang mana, aku melirik pada setiap anggota yang tengah menyantap hidangan dengan tenang, bahkan Louis tengah sibuk menyuapi Elio
aku membuang nafas dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya, sebelum menggunakan salah satu garpu yang menurutku nyaman untuk ku genggam tentu ukurannya adalah yang paling besar di antara yang lain, dengan pelan aku menusuk daging itu dan memakannya, mengabaikan Mommy yang berusaha keras menahan tawa
Leo bahkan sudah tertawa dengan suara nyaring, jangan tanya bagaimana Leora dan Elisa, tentu saja mereka sama seperti Leo, tertawa tanpa beban!!
"Zu, you can cut that's meat, with this one" Mommy mengangkat salah satu pisau dan menggoyangkannya
"this more practice" aku menampakkan senyum lebar ku sambil kembali menggigit daging yang ku pegang
"sepertinya ada yang butuh kelas tambahan disini" Mommy berkata dengan riang seperti orang yang sedang menanti sesuatu yang menyenangkan
oh no!
aku seperti mencium sesuatu yang mengerikan akan ku alami