
"Daddy not biting you...?" (Daddy tidak menggigit mu....?)
"nop"
aku dengan mantap menggeleng
...******...
...*...
...*...
...*...
Setelah Elio melihat ku menggelengkan kepala yang menandakan jika Louis tidak bermaksud menyakiti ku
dan dia sudah memahami jika Louis tidak sungguh-sungguh menggigit ku, kami hanya bercanda
aku dapat melihat raut wajahnya yang mulai kembali sendu, tapi tidak ada tanda-tanda jika Elio akan menangis
"Mommy"
terdapat jeda yang cukup panjang sebelum Elio kembali melanjutkan kalimatnya dengan suara lirih
"Daddy"
dia berbisik lirih dengan mata yang mengintip malu-malu pada Louis
entah Elio merasa takut karena sudah menepis tangan Louis tadi atau mungkin saat ini Elio tengah merasa bersalah
"why....?"
aku mencoba mengorek sedikit tentang perasaan apa kiranya yang melingkupi benaknya
"Daddy"
tidak ada kata apapun yang keluar dari bibir mungilnya kecuali kata "Daddy"
dari sikapnya yang malu-malu, aku seakan bisa memahami jika saat ini Elio tengah di landa kebingungan dan takut
takut jika Daddy-nya tidak lagi mau berteman dengan-nya
takut Daddy-nya akan memarahinya jika dia mencoba untuk mendekat
di lain sisi, dia sangat ingin untuk kembali bermain bersama Louis
"want to say sorry, to Daddy...?" (mau tidak bilang maaf sama Daddy.....?)
sebuah anggukan kecil malu-malu kurasakan di dada ku, saat Elio menggerakkan kepalanya dengan pelan
"Can we talk boy....?" (bisa kita bicara Nak...?)
Louis mendekat setelah meletakkan kembali telfon pintarnya di atas meja
Elio mengangkat kepalanya untuk menatap ku, seakan dia tengah meminta persetujuan dan dukungan dari ku
mungkin dia butuh penyemangat
sumpah rasanya sudah kayak mau berangkat perang melawan musuh, lucu sekali anak ini
"go"
aku mengangguk dengan pasti, berharap bisa menumbuhkan keberanian dalam dirinya
walaupun aku bukan ibu kandungnya, tapi selama anak ini berada dalam pengasuhan ku dan Louis kami akan mengusahakan sebaik mungkin dalam menjaga dan membentuk karakter dan kepribadian-nya
dia seorang laki-laki, yang nantinya akan menjadi laki-laki dewasa, kami ingin mengajarkan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sejak dini, agar kelak dia menjadi laki-laki yang bertanggung jawab
dan Alhamdulillaah, aku sangat bersyukur karena Louis mampu menjadi partner yang baik untuk ku, mungkin sejak awal Louis selalu mengajarkan tanggung jawab pada Elio
tapi ada satu peran yang tidak bisa Louis berikan untuk Elio, kasih sayang dan kelembutan seorang ibu, peran yang sangat penting untuk melengkapi sikap tegasnya, agar ia kelak bisa menempatkan perannya dengan baik
satu hal yang membuat ku penasaran bagaimana Louis mendidik Elio sebelum ini
apakah dia akan membiarkan Elio menangis sampai tenang dengan sendirinya seperti tadi, baru kemudian menggendong dan memberinya pengertian setelah Elio tenang...?
aku menatap iba pada nasib Elio jika hal itu benar-benar terjadi, aku hanya berharap semoga saja kejadian tadi adalah kejadian kali pertama Elio tantrum di hadapan Louis
aku yakin Louis punya pemikiran dan cara sendiri dalam menghadapi Elio, sama seperti halnya aku
aku berharap peran ku dalam kehidupan mereka bisa melengkapi kekosongan yang selama ini dibiarkan menganga tanpa ada yang mengisi
berharap kami bisa saling memberikan kebutuhan Elio dengan lengkap dan tepat, kelembutan dari peran seorang ibu dan ketegasan dan keberanian dari peran seorang ayah
walau aku sangat memahami jika Elio sudah mendapatkan itu semua dari kedua orang tuanya
dengan lembut Louis membantu Elio untuk turun dari atas tempat tidur
hingga mereka sampai di kursi samping yang sedikit jauh dari tempat ku berbaring, walau di dekat mereka ada penghalang yang membuat kami seolah terpisah, tapi aku masih bisa melihat mereka dengan jelas, bahkan aku masih bisa mendengar perkataan mereka dengan sangat jelas
aku tau Louis membawa Elio pada tempat yang agak jauh dan sedikit terhalang dari pandangan ku untuk menjaga privasi diantara mereka agar mereka lebih leluasa untuk berbincang
dengan itu juga Louis berusaha menjaga harga diri Elio, agar batita itu tidak merasa malu saat harus di nasehati di depan orang lain
anak kecil tentu juga punya rasa malu!
aku tersenyum bangga dengan hal itu, karena mengetahui fakta jika laki-laki ini lah yang nantinya akan mendidik para jagoan ku untuk menjadi pribadi yang ta'at dan bertanggung jawab, para jagoan yang akan menerapkan dan mengemban Islam dalam diri mereka
walau aku dapat mendengar perkataan mereka dengan sangat jelas, akan tetapi aku tidak bisa memahami perkataan mereka satupun
mereka menggunakan bahasa Italia
ini sungguh tidak adil!, padahal aku ingin sedikit menguping pembicaraan mereka
Louis memang benar-benar!
di sana mereka tengah berbincang dengan serius, aku dapat melihat dengan jelas jika Elio saat ini tengah berusaha keras menahan tangisnya, dia mengangguk dua kali, mungkin sebagai tanda jika ia memahami maksud Louis
setelahnya Elio turun dari kursi dan mendekat pada Louis yang duduk di hadapannya, tangannya dengan ragu menggapai tangan Louis
"Sorry Daddy, I was wrong, I love you" (maaf Daddy, aku salah, aku mencintai mu)
Louis dengan lembut mengangkat Elio ke atas pangkuannya dan memeluknya
tangannya dengan konstan memberi sapuan lembut pada punggung kecil Elio, sedangkan batita menggemaskan itu merebahkan kepalanya di atas pundak Louis
"I love you more baby, I love you more" (aku lebih mencintai mu sayang, aku lebih mencintai mu)
aku tersenyum haru melihat mereka saling mengungkap cinta, setelah mereka berbaikan
Louis berdiri dengan Elio yang tetap berada dalam gendongannya, kakinya melangkah mendekat ke arah ku yang tersenyum lebar menyambut mereka
"Mommy"
Elio berpaling dan mengulurkan tangannya meminta ku untuk merengkuhnya, dengan cepat aku menyambutnya, belum sempat Elio berpindah pada pangkuan ku, pintu kamar di ketuk dari luar
"Eexcuse me, time for injection" (permisi waktunya untuk suntik obat)
"Come in"
seorang Nurse masuk setelah di persilahkan oleh Louis
Louis hendak melanjutkan untuk memindahkan Elio ke atas pangkuan ku, tapi dengan kencang Elio memeluk lehernya dan menggelengkan kepalanya
"no Daddy, with Daddy" (tidak Daddy, dengan Daddy saja)
"are you afraid....?" (kamu takut)
"no"
Elio kembali menggeleng, walaupun dia berkata jika dia tidak takut, tapi kepala mungilnya malah semakin dalam bersembunyi di ceruk leher Louis
"ooowww ok, it's ok, you can stay with Mommy" (oooww ok, tidak apa, kamu bisa disini dengan Mommy)
Louis masih bersikeras untuk menurunkan Elio dari gendongannya sedangkan Elio dengan keras kepala tetap mengencangkan pelukannya
"no, Daddy take care of Mommy" (tidak, Daddy saya yang menjaga Mommy)
"you say, you want to be with Mommy before"(tadi kamu bilang, kamu mau bersama Mommy)
ya Allah, sepertinya jiwa jail Louis kembali lagi, dan kali ini yang menjadi korbannya adalah si malang Elio
"no, no, no Daddy not now" (tidak, tidak, tidak Daddy tidak sekarang)
Elio masih bersikeras untuk tetap dalam gendongan Louis, bahkan saat ini kakinya melingkar sempurna di dada Louis
"why...?" (kenapa...?)
astagfirullah, saat ini aku benar-benar ingin tertawa lepas, tapi aku coba untuk menahannya, sedangkan kakak Nurse yang melihat tingkah mereka sudah tertawa lirih
"nooooo Daddy move, Daddy move" (tidak Daddy pindah, Daddy pindah)
Elio semakin gencar meminta Louis untuk menjauh dari tempat tidur saat Louis dengan sengaja membalik tubuhnya hingga Elio dapat melihat saat kakak Nurse mengangkat tinggi jarum suntik yang di pegang ya untuk memastikan jika di dalam sana tidak ada gelembung anginnya
"ok, ok, ok we move" (ok, ok, ok kita pindah)
Louis mengatakan hal itu dengan bibir yang mengukir senyum lebar, merasa puas karena sudah berhasil menjaili Elio
ya Allah ya rob, bisa gitu
...~TBC~...