Thaha

Thaha
Kram




...******...


...*...


...*...


...*...


aku tidak pernah peduli dengan berapa banyak pesawat atau aset yang dimiliki Daddy atau Louis , tapi saat memasuki pesawat yang akan membawa kami menuju tempat acara aku sangat-sangat yakin jika ini adalah pesawat yang berbeda dengan yang membawa ku saat Louis menculik ku waktu itu


Louis merangkul pinggangku menuju dua sofa yang menghadap televisi, Elio yang memaksa untuk duduk di sana, sepertinya dia ingin menonton kartun kesayangannya


setelah mendudukkan Elio di samping ku Louis beranjak menuju tempat Daddy dan yang lain, mereka duduk di sofa panjang yang saling berhadapan


walau hati sangat ingin bergabung dengan mereka tapi aku tidak bisa melakukannya, mau bagaimana lagi saat ini Elio tengah fokus menonton sedangkan tangannya menggenggam erat tangan ku


mungkin dia tak ingin di tinggal sendiri


sayup-sayup aku dapat mendengar suara Louis yang tengah berdebat dengan Daddy, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas walaupun tak sepenuhnya dapat ku mengerti


Louis berbicara dengan dua bahasa, bahasa Inggris dan Itali, sudah pasti aku tidak memahami percakapan mereka saat menggunakan bahasa Itali


awalnya ku tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan mereka, sebagian besar fokus ku masih tertuju pada film kartun yang di tonton Elio, mencoba memahami apa menariknya film itu....?


akan tetapi saat telinga ku menangkap percakapan mereka yang melibatkan nama ku, di tambah dengan Louis yang memohon dengan suara yang lirih


telinga ku seperti menangkap radar waspada, mau tak mau aku melebarkan daun telinga ku untuk mencuri dengar


ini bukan menguping, salahkan mereka yang tidak berbicara dengan suara lirih, dan jangan lupakan fakta jika telinga tak memiliki penutup


rasa penasaran ku tentu saja terusik


dengan pelan aku berpaling untuk menghadap mereka, mencoba mencari tau dan mencuri dengar pembicaraan itu dengan fokus penuh, walau kenyataan pahit harus menyerang ku, sayang sekali aku tidak bisa menangkap seluruh pembicaraan mereka


sepertinya aku harus lebih serius belajar bahasa Itali


"no, Dad, please not now" (tidak Dad, aku mohon tidak sekarang)


"but everyone will find out, that Zu is your wife, sooner or later" (tapi semua orang akan tetap tau, jika Zu adalah istri mu, cepat atau lambat)


"i know, but please give me some space to think about it, to get better solution, for Zu and Elio, not this night,... dad please" (Louis tahu, tapi tolong beri Louis ruang untuk memikirkannya, untuk mendapatkan solusi yang lebih baik, untuk Zu dan Elio, tidak untuk malam ini,.....aku mohon Dad)


'untuk ku dan Elio....? memangnya aku kenapa....?'


aku bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang tengah mereka perdebatkan....?


hhhuuufffftt


aku mendengar nafas berat Daddy berhembus pelan dan raut wajah Louis yang kembali tenang, walau sebelumnya tetap tampak tenang, tapi tak bisa di pungkiri jika wajah kakunya bertambah kaku beberapa saat lalu


bahkan Mommy yang duduk di samping Daddy memberikan sapuan lembut pada pundak Daddy, hal itu jelas terlihat jika saat ini Mommy tengah mencoba untuk menenangkan Daddy


"ok, but this is the last time, You hid the fact about Zu as your wife as well as Elio, everyone needs to know that Elio is Luca's son" (baiklah, tapi ini adalah kali terakhir, kamu menyembunyikan fakta tentang Zu sebagai istri mu dan juga Elio, semua orang perlu tahu bahwa Elio adalah putra Luca)


'kenapa.....?'


'kenapa Louis tidak ingin orang lain tau jika aku adalah istrinya....?'


sebuah kenyataan pahit yang coba ku kubur setelah sebelumnya menghantui ku saat aku harus memikirkan kemungkinan buruk jika Elio adalah anak Louis dan Elisa, kenyataan pahit itu kembali menghantam ku, kenyataan jika saat ini pernikahan kami belum terdaftar secara legal di pemerintahan Italia


rasa pahit yang datang saat aku memikirkan tentang kemungkinan besar Louis sengaja tidak mendaftarkan pernikahan kami di sini membuat ku tidak nyaman


aku bukannya takut, hanya rasa tidak suka akan fakta jika aku akan ditinggalkan dengan mudah, rasa tidak nyaman yang mencengkram hati ku dengan kuat, yang entah sejak kapan mulai menyerang dan mengusik ketenangan ku


bukannya aku tidak percaya dengan Louis, tidak, aku hanya tidak suka dengan kemungkinan itu, sangat tidak suka!


hingga rasa tidak suka itu semakin mencengkram kuat bahkan aku dapat merasakan perasaan yang tidak nyaman itu juga mencengkram perut ku


ya Allah sepertinya kondisi ku kembali memburuk


apa sekarang aku juga terserang mabuk udara....?


Astagfirullah


tubuh ku lemas tiba-tiba, aku bahkan merasakan hampir seluruh tubuhku bergetar hebat karena mencoba menahan nyeri yang menghantam perut ku


aku mencoba mencari pegangan, hingga tanpa sadar aku mencengkram paha Elio


"Mommy, are you ok...?" (Mommy, apa Mommy baik-baik saja....?)


Elio mengalihkan fokusnya dari kartun yang di tontonnya dan menghadap kepada ku, tangan mungilnya mencoba menggapai wajah ku, tapi gerakan itu tertahan karena tangan ku yang menahan pahanya


"it's ok Mommy, don't be afraid, I'm with you" (tidak apa-apa Mommy, jangan takut, ada Elio di sini bersama Mommy)


seolah melupakan cengkraman tangan ku di pahanya Elio malah berusaha untuk menenangkan aku yang semakin banyak mengeluarkan keringat dingin


aku mencoba untuk memejamkan mata ku, dan berkonsentrasi untuk menetralkan rasa nyeri yang dengan tanpa perasaan menyerang perut ku yang awalnya baik-baik saja


"Daddy!!, Daddy!!, Daddy......mom mom....my..."


suara panik Elio memenuhi gendang telinga ku hingga membuat suaranya berhamburan dan tidak dapat ku tangkap dengan baik, yang ku dengar hanya dengingan panjang yang menusuk tulang pendengaran ku hingga membuat ku pusing


"Mommy... Mommy"


tangan mungil Elio mengguncang lengan ku yang masih mencengkram pahanya, aku tidak bisa merasakan tangan ku, tangan ku kebas, aku bahkan mencoba sekuat tenaga agar aku tidak melukai paha mungil Elio


ya Allah semoga tangan ku tidak terlalu kuat mencengkram paha mungilnya


"ya Allah Zu, hi.... Albi....?"


aku tidak mendengar langkah Louis yang mendekat, entah sejak kapan dia berada di dekat ku, aku dengan samar dapat mengenali suara lembut Louis yang mencoba memanggil ku, suaranya yang samar terdengar kabur di telinga ku, aku mencoba membuka mata ku, tapi harus kembali ku urungkan saat hantaman nyeri itu kembali datang


aku hanya berharap Louis mau menyingkirkan tangan ku dari paha Elio, aku tidak ingin menyakiti paha tak bersalah itu lebih lama


"Zu buka mata sayang,....Zu pusing lagi...?...Zu?"


aku merasakan kedua tangan ku di genggam dengan lembut dan hati-hati, dan sebuah sapuan menenangkan dapat ku rasakan seperti segerombolan semut yang menyelimuti tangan ku, tangan ku masih


kebas


"per...per....perut ku, sak....kit, Allah"


Aku mencoba memberi tahunya semampu ku, tapi sayangnya yang terdengar malah suara ku yang terbata-bata


aku mendengar banyak suara berkerumun di sekitar ku, suara Mommy, Elisa bahkan suara Daddy, tapi sayangnya aku tidak bisa mendengar perkataan mereka dengan jelas, telinga ku berdenging


aku sedikit terkejut saat perut ku yang tengah terserang nyeri merasakan sapuan lembut dari tangan besar Louis dan juga tangan mungil Elio


keduanya dengan konstan memberi sapuan lembut di atas perut ku yang tertutup jilbab


nyaman


sangat nyaman


hingga aku dapat merasakan intensitas nyerinya berangsur-angsur mulai menurun


sapuan lembut mereka di perut ku membuat rasa kram yang semula mencengkram kuat dengan perlahan menjadi rileks, hingga dengan perlahan aku juga dapat merasakan Indra pendengaran ku kembali, bahkan aku dengan pelan dapat merasakan kedua tangan ku yang berada dalam genggam tangan kiri Louis


hhhuuufffftt hhhuuufffftt hhhuuufffftt


aku mencoba untuk menormalkan kembali nafas ku yang semula seperti tercekat, kini dengan pelan aku bisa menetralkannya dan aku bisa kembali menguasai tubuh ku yang semula tak terkontrol


ya Allah, sungguh tubuh ini bukan milik ku, aku hanya meminjamnya saat Allah dengan kasih sayangnya memberikan hak pinjam itu pada ku


maha besar Allah yang telah menciptakan dengan begitu sempurnanya tubuh ini


baru sakit perut saja, rasanya aku sudah tak bisa berbuat apa-apa


ya Allah sungguh segala nikmat ini adalah milik mu, dan engkau maha kuasa memberikan kepada siapa saja yang engkau kehendaki dan engkau berhak mencabut nikmat ini dari siapa saja yang engkau kehendaki


'ya Allah jadikanlah Zu termasuk orang-orang yang pandai bersyukur, Aamiin'


...~TBC~...


..."Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan"...


...QS. Ali 'Imran Ayat 109...