
...~**🍅**~...
...**...
...*...
aku mencoba membuka mata ku saat mendengar seseorang memanggil dan menepuk pipi ku, kerumunan dan bising suara saling bersautan di dekat ku, tapi anehnya aku tidak bisa membuka mata ku, bahkan tidak sepatah katapun dari suara ku yang keluar
aku tidak bisa menggunakan Indra ku dengan benar, yang bisa ku rasakan saat ini hanya rasa pening yang membuat kepalaku terasa ingin pecah, seluruh tubuh ku terasa lemas dan terasa kebas di bagian perut hingga ujung kaki
aku mencoba untuk menggerakkan bibir ku untuk menanyakan keberadaan Elio, tapi rasanya sangat sulit. badan ku seakan tidak memiliki daya, bahkan hanya sekedar untuk membuka bibir yang masih setia terkunci
aku dapat merasakan tubuh ku terangkat sebelum kembali terbanting dengan sedikit keras pada sebuah matras, setelahnya aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi, selain kehampaan dan kegelapan
*****
entah berapa lama waktu berlalu, tapi lambat laun aku kembali bisa merasakan kebas di seluruh tubuhku dan dengan pelan aku bisa merasakan kembali sistem syaraf ku, yang dengan perlahan bekerja walau sangat lambat
"Zu, sayang" hal pertama yang ku lihat adalah gambaran wajah ibu, yang beberapa hari hanya bisa ku lihat lewat layar persegi canggih
"Bu" aku dengan perlahan menggerakkan bibir ku, walau yang keluar adalah suara serak yang terdengar sangat mengerikan. aku sangat bersyukur karena Allah dengan kemurahannya masih memberiku kesempatan untuk merasakan kembali Indra ku, yang beberapa saat lalu sempat hilang
"iya sayang, Zu haus....? mau minum....?" suara lembut ibu menghantarkan ketenangan yang dengan perlahan menendang jauh kegundahan yang sejak tadi memeluk benak
"Elio...?" bagaimana kabar bayi gembul ku, apa dia baik-baik saja.....? jika disini ada ibu di sampingku, berarti Elio sudah melewati perjalanan yang sangat panjang, dan dalam beberapa jam aku sama sekali tidak menemaninya. kecuali tubuh ku yang teronggok tanpa bisa melakukan apapun
"Rama menjaganya di rumah setelah dokter memeriksanya, dan dia sekarang aman, Zu tenang ya sayang, tidak perlu memikirkan apa-apa dulu, semuanya baik-baik saja. tak perlu khawatir"
"Bu, Zu belum sholat, jam berapa sekarang.....?" aku ingat dengan sangat jelas jika aku tengah menunggu waktu sholat subuh sebelum tertidur
"Zu sholatnya di sini saja sayang, ibu bantu untuk tayammum"
aku sangat bersyukur Allah menganugerahkan ibu terbaik untuk ku, dari beliau aku mengetahui bahwa Allah adalah dzat yang patut untuk di sembah, memahamkan banyak hal tentang kesempurnaan dan kemuliaan Islam, tentang aturan hidup yang telah Allah sediakan untuk kita makhluknya, yang diberi keistimewaan akal untuk menimbang segala hal
darinya Allah lindungi segala keburukan yang akan terjadi pada kita, menutup setiap jalan yang akan merusak kebahagiaan kita sebagai anak yang Allah titipkan dalam pengasuhannya
betapa sempurnanya Allah menciptakan setiap makhluknya dengan peran yang telah Allah sesuaikan kadarnya
namun sekarang sangat banyak manusia yang mencoba melanggar tiap aturan yang Allah tetapkan, menyalahi setiap peran yang Allah berikan, ibu yang harusnya melindungi malah menyakiti, anak yang seharusnya menghormati malah menjadi durhaka.
tak heran hal itu terjadi, saat ini aturan Allah tidak lagi di gunakan, hukum Allah banyak yang di campakkan, digantikan dengan hukum yang manusia buat sendiri, hukum Allah yang sempurna di ganti dengan hukum yang datangnya dari kecerdasan manusia yang terbatas
dan saat aturan Allah kita tinggalkan tentu kesempitan hidup, kerusakan dan keburukan yang akan kita rasakan, itu sudah menjadi konsekuensi dari pembangkangan yang kita lakukan
tentu saja hal itu tidak hanya terjadi dalam kehidupan kita di dunia ini, tapi nanti di akhirat pun kita akan jumpai kesengsaraan yang tiada akhir
dan bagaimana aku tidak bersyukur, saat Allah memberikan kemudahan bagi ku untuk mempelajari setiap hukum yang Allah tetapkan untuk ku, untuk kita semua makhluknya.....? di tambah dengan bonus kasih sayang dan cinta dari kedua orang tua ku......?
"sekarang Zu istirahat lagi ya, biar cepat sembuh"
setelah ibu selai membantu ku untuk melaksanakan kewajiban ku, ibu meminta ku untuk kembali beristirahat
tapi aku sudah merasa cukup dengan tidur panjang ku yang memakan waktu cukup lama
"Bu, Zu baru bangun, masak tidur lagi, Zu boleh tanya bagaimana Zu bisa sampai di rumah sakit, Zu sama sekali tidak ingat"
aku cukup penasaran dengan cerita beberapa jam yang ku lewatkan begitu saja tanpa mengetahui apa-apa
" kemaren ibu dapat telfon dari Louis kalau Zu akan pulang ke Indonesia, Louis juga menceritakan tentang kejadian di rumah sakit saat Zu di jemput paksa.
saat mendengar kabar itu, Rama dan ibu mencoba mencari informasi lebih lanjut tentang penjemputan WNI yang berada di luar negri, dan beruntungnya kita mendapatkan informasi dengan cepat, karena kakak dan adik juga pulang bersamaan dengan kepulangan Zu
tapi kakak dan Adik sampai lebih dulu dari pada Zu, dan yang membuat ibu bersyukur saat tau jika pesawat yang menjemput kalian akan langsung mendarat di Surabaya, karena bandara internasional di Jakarta dan Bali di tutup sementara
jadi saat kak Abyan mencari tau informasi tentang pesawat yang Zu tumpangi, kak Abyan langsung menelfon ibu.
ibu sudah sampai di bandara saat ambulan datang, tapi waktu itu ibu tidak memiliki pemikiran apapun tentang anak ibu yang akan menjadi penumpangnya. jadi Rama dan ibu langsung menuju tempat kedatangan. tapi saat Zu tidak juga keluar dari gerbang kedatangan, kita mencari informasi dan mendapat kabar jika salah seorang penumpang harus dilarikan ke rumah sakit. dan di sini Zu sekarang, di rumah sakit"
aku mendengarkan setiap penjelasan ibu dengan seksama, dan muncul satu pertanyaan dalam benak ku tentang penyebabnya
"sayang,....." ibu sudah hendak menjawab saat dering telepon mengalihkan perhatiannya
"Louis nelfon, Zu mau bicara dengan Louis.....?"
saat mendengarkan nama Louis aku dengan antusias mengangguk, sungguh aku sangat ingin mendengar suaranya dan aku sangat ingin mengetahui keadaannya
"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" aku menyapanya dengan senyum yang mengembang sempurna
"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, Albi suda bangun....?" Louis bertanya dengan senyum tipisnya yang sangat langka
aku belum menjawab pertanyaan Louis, bukan karena aku tidak mendengarnya. tapi mata ku tengah fokus meneliti wajah Louis yang tidak baik-baik saja, di sudut bibir dan pelipisnya terdapat tanda luka dan lebam yang cukup parah
"by, itu wajahnya kenapa....?" aku bertanya dengan tatapan curiga
"kenapa memang.....?" Louis balik bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya
"ko' nggak ganteng lagi, habis nggelundung di mana....?" walau aku khawatir dengan keadaan Louis yang sepertinya juga tidak baik-baik saja, tapi aku tidak ingin kekhawatiran ku merusak momen kita saat ini
di tambah, mengingat kenyataan jika kita saat ini terpisah jarak yang cukup jauh. jika boleh jujur, saat ini aku sangat-sangat ingin menangis dan mengadu pada Louis, aku sangat ingin Louis ada disini di samping ku
"ow, berarti selama ini aku ganteng dong....?" sudut bibir Louis semakin tertarik kebelakang hingga menampakkan gigi putihnya yang menyumbul dengan malu-malu
"eeemmmm dikit"
aku mengangkat jari telunjuk dan juga ibu jari tangan kanan ku untuk ku tunjukkan di depan layar setelah mendekatkan keduanya
"dikit apa banyak....?"
Louis bertanya dengan kedipan mata yang membuat ku sedikit geli
ya Allah, aku baru tau jika Louis juga bisa bersikap genit, agak sedikit geli memang saat Louis melakukan hal itu, sangat berbeda dengan imagenya yang terbangun selama ini
"banyak,...ih genit banget, ko' jadi geli lihatnya..... udah dong" aku tersenyum cukup lebar hingga tanpa sadar menutup wajah ku dengan kedua tangan
sudah lama rasanya aku tidak tertawa dengan sangat lebar
"cantik"
suara Louis menghentikan aku yang tengah asik tertawa, karena mengingat ekspresi wajah Louis yang membuat ku tak henti-hentinya menarik bibir ku, membentuk sebuah lengkungan yang indah
"hah....?"
terbersit sedikit pemikiran untuk membalas kejailan Louis tadi
aku dengan gerakan pelan mengangkat tangan kanan ku, dan mengibaskannya di bawa telinga ku yang tertutup Khimar instan berwarna navy
"baru sadar kalau Zu, cantik.....? Zu perempuan loh, cantik itu pasti, masak ganteng..... he hem"
di sebrang sana Louis tersenyum dengan sangat indah, akhirnya aku bisa melihat senyum indahnya yang mengembang, dan itu aku adalah penyebabnya. sekarang aku bisa sedikit lega, akhirnya aku bisa melihat jika Louis mulai menerima kehadiran ku
"iya, istriku yang paling cantik"
"gombal banget"
aku melihat Louis yang hanya tersenyum kecil sebelum kemudian memanggil ku dengan tatapan matanya yang teduh
"Zu......., eemmm perutnya masih sakit....?"
...~*TBC*~...
...**...
...*...
..."Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari per ingatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, "Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.”...
...(QS. THAHA: 123-126)...