
"Mommy, sleep"
Elio yang berada di pangkuan Leo menjulurkan tangannya ke arah ku
aku menatap dan meminta persetujuan dari Elisa, aku takut menyinggung perasaan ibu kandung Elio yang harusnya lebih berhak untuk menerima uluran tangan mungil itu
"Mommy"
Elio dengan tidak sabar kembali memanggil ku, dengan mata yang sudah mulai sayu dan bibir yang melengkung siap menangis
siang ini Elisa datang sendiri untuk membawakan beberapa makanan dan baju ganti untuk kami yang ada di sini
sedangkan Mommy harus ke butik miliknya, Daddy dan Luca juga harus bekerja di kantor mereka masing-masing
Louis....?
dia tengah sibuk melakukan meeting conference dengan para kolega yang di dampingi oleh Sam dari sejak selesai sarapan dan drama yang dilakoninya dengan Elio dan Leora pagi tadi
Elisa merengkuh Elio dalam dekapannya hingga membuat batita menggemaskan itu meronta dan menangis kencang
"uuuuaaaaa Mommy, nooo, uuuaaaa with Mommy uuuaaa"
"ok, ok, don't cry baby"
Elisa mencoba menenangkannya sembari berjalan mendekat kearah ku
dengan cepat tangan Elio terjulur meminta ku untuk mendekapnya
aku menyambutnya semampu yang tangan ku bisa, walau rasa nyerinya sudah bisa ku tahan, tapi karena tangan ku harus menggunakan perban membuat ku agak kesulitan untuk bergerak, apalagi yang sebelah kiri ditambah dengan selang infus yang membatasi gerak tangan ku, itu lebih dari sekedar sedikit menganggu
dengan cepat tangisnya berangsur-angsur melirih saat tangan ku dengan konstan memberi sapuan hangat di punggungnya
"sorry"
aku meminta maaf dengan tulus pada Elisa, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, aku juga tidak bisa memaksa Elio untuk menjauhi ku
aku sebenarnya juga cukup bingung mengapa batita menggemaskan ini bisa langsung akrab dengan ku
tapi mau bagaimanapun aku cukup faham, sedikit atau banyak pasti Elisa merasakan kesedihan saat melihat bagaimana Elio yang lebih memilih untuk bersama ku apalagi jika mengingat kejadian kemaren
hhuufff
"it's ok, you are also he's Mom"
dia tersenyum hangat, mungkin dia sedang mencoba untuk menenangkan aku yang masih merasa tidak enak hati
"later, I Will tell you my story, and maybe after that you Will understand why Elio being like this"
"Sure, anytime, you can tell me anytime"
aku menyanggupi untuk mendengarkan ceritanya, kapanpun Elisa siap untuk bercerita
bunyi ringtone HP memecah keheningan singkat yang tercipta di ruangan yang sebelumnya ramai dengan tangisan Elio
ternyata bunyi tersebut berasal dari HP Elisa yang berada di atas sofa
dia mengangkatnya dan berbicara sebentar dengan orang yang berada di sebrang sana dengan bahasa Italia sebelum berpamitan untuk berangkat ke restoran miliknya
setelah Elisa pergi, Leo dan Leora juga berpamitan
ruangan kembali sepi meninggalkan suara Louis yang sedang memberi arahan pada Sam sesekali
Elio sudah berlayar ke pulau mimpi mengarungi indahnya dunia fantasi yang tercipta oleh imajinasinya yang tinggi
suasana sepi dengan di temani irama dari nafas Elio yang teratur membuat mata ku sayu karena kantuk sudah mulai menyapa
aku mencoba menggeser punggungku untuk mendapatkan posisi yang sesuai
sepertinya tidur bukanlah hal yang buruk untuk di lakukan
aku mencoba memejamkan mata ku untuk menjemput mimpi dan juga menghemat energi agar bisa di gunakan untuk proses penyembuhan
alasan!
******
sayup-sayup aku merasakan sentuhan hangat tangan besar yang membelai pucuk kepala ku, aku juga tidak lagi merasakan berat tubuh Elio yang tadi rebah di pangkuan ku
dengan perlahan aku membuka mata dan menemukan Louis yang tengah berbaring di samping ku, tangannya dengan lembut memberi sapuan lembut pada pucuk kepala dan pelipis ku
"Assalamualaikum, Albi"
dia berbisik lirih
"wa'alaikum salam warohmatullah"
setelah menjawab salamnya aku terdiam untuk membaca sebait do'a yang selalu terlantun di setiap mata ini terbuka
"kenapa sudah bangun....?"
Louis bertanya dengan posisi yang masih sama
"jam berapa...?"
bukannya tidak sopan, tapi aku juga bingung jika ditanya kenapa aku sudah bangun, karena ya memang sudah waktunya bangun
"baru jam dua siang"
aku mencoba menggeser posisi ku agar setidaknya bisa menghadap Louis, tapi apa daya tangan ku tidak bisa di ajak kompromi
akhirnya aku harus pasrah dengan posisi tidur terlentang
"Elio....?"
aku bertanya tentang mahluk mungil menggemaskan yang menjadi pelipur lara dikala sepi menyapa
"dia masih tidur"
Louis menggerakkan dagunya menunjuk pada tempat tidur mini yang kini di tempati Elio, dia tengah tertidur dengan posisi yang sukses membuat ku tertawa
dia tidur hanya mengenakan baju dan popok dengan tangan yang dia letakkan di pinggul seolah dia mencoba untuk menepuk-nepuk bokong gembulnya, entah kemana perginya celana yang Elio kenakan tadi
"bisa gitu....?"
"dia tadi terbangun karena popoknya penuh, waktu mau di pakaikan celana, celananya malah di buang"
aku terkikik geli saat Louis menceritakan kemana perginya celana yang di kenakan oleh batita menggemaskan itu, aku yakin Elio pasti bersikeras untuk tidak memakai celananya kembali, mungkin juga mereka sempat bersitegang tadi
Elio VS Louis
pasti menggemaskan
"gimana tadi rapatnya....?"
sudah lama rasanya kita tidak menghabiskan waktu untuk lebih mengenal satu sama lain
jujur saja masih banyak hal yang belum ku tahu dan belum ku pahami tentang Louis termasuk bagaimana bisa dia memeluk Islam
"baik, semuanya berjalan lancar"
aku memang tidak terlalu paham tentang bisnis, tapi setidaknya aku ingin berbagi suka dan duka dalam setiap langkah yang dia ambil, agar aku bisa memposisikan diri dan bisa menjadi tempat Louis untuk bersandar
"alhamdulillaah, eeemmm kira-kira sampai kapan kita akan berada di rumah Daddy....?"
aku bertanya bukan karena tidak suka berada di sini, aku hanya ingin mengatur jadwal kajian ku dengan ustadzah yang menggantikan aku mengisi kajian di kampus
"Zu, tidak suka di sini....?"
Louis bertanya dengan suara yang lirih dan nada yang tenang
"suka, tapi Zu mau atur jadwal ustadzah yang bantu Zu isi kajian di kampus"
tangan ku bergerak untuk menggenggam tangan nya dan menepuknya pelan
"tunggu sampai situasi di sini kembali stabil, ok...?"
Louis kembali melakukan sebuah kecupan ringan di pelipis ku
"situasi di sini....?"
"eeemm, kasus yang menimpa uncle Ale, penculikan Zu, dan masalah di perusahaan Daddy"
aku memang tidak terlalu memahami apa yang terjadi di sini, tapi aku yakin jika kasus ini bukanlah kasus biasa, hingga mengharuskan Louis dan yang berada jauh di Indonesia harus kembali ke sini dalam jangka waktu yang lumayan lama
aku saja hampir satu Minggu berada di sini
"bagaimana kabar uncle Ale....?"
aku baru teringat jika paman Louis juga tengah dirawat di rumah sakit ini
"uncle Ale sudah pulang, dan Alhamdulillah, tidak ada masalah yang serius, setelah keluar dari sini, aku akan kenalkan Zu dengan uncle Ale dan keluarga yang lain"
"apa tidak apa-apa....?"
rasa khawatir itu kembali melingkupi hati ku yang semula tenang, aku tau akan sulit untuk menerima orang baru dalam hidup kita, apalagi dengan banyaknya perbedaan yang cukup banyak antara gaya hidup ku dan gaya hidup mereka
perbedaan yang sangat banyak ini bisa menjadi jarak yang membentang di antara aku dan keluarganya jika aku tidak pandai dalam menempatkan diri dan bergaul dengan mereka
"tidak apa, tenanglah, mereka akan menerima Zu seperti Mommy, Daddy dan yang lainnya menerima Zu"
"semoga saja"
tangan Louis yang semula berada dalam genggaman tangan ku ini berganti menggenggam tangan ku dan menepuknya dengan perlahan
mungkin dia dapat melihat dan merasakan kekhawatiran yang tengah melingkupi benak ku
"mau dengar cerita tidak...?"
"tentang apa....?"
aku tau jika Louis tengah bermaksud untuk menghilangkan kegelisahan dan kekhawatiran yang mendera ku dengan mengalihkan fokus ku pada cerita yang akan dia dongengkan
"tentang bagaimana aku bisa mengenal Islam"
akhirnya tanpa aku yang meminta lebih dulu, Louis dengan senang hati mau berbagi kisa itu, Alhamdulillah
"boleh"
...~TBC~...