Thaha

Thaha
there's no milk



"Baby, look. Mommy's gonna let you do it, just like Aunt Diaz's baby did. I said there is no milk yet. But, Mommy promises that if you are patient, in a few days there will be a milk. like Aunt Diaz's. is Elio patient enough to wait .....?" (Baby, dengar. Mommy akan membiarkan Elio untuk melakukannya. seperti yang dilakukan bayinya anti Diaz. tapi Mommy bilang lebih dulu, jika disana belum ada susu. tapi, Mommy janji jika Elio bersabar. dalam beberapa hari akan ada susu disana. seperti milik anti Diaz. apa Elio cukup sabar untuk menunggu....?)


...****************...



...~**🐅**~...


...**...


...*...


aku membuang nafas pelan setelah mengatakan hal itu, sunyi pagi menjadikan suara nafas ku yang pelan dapat terdengar jelas oleh telinga ku yang tanpa penutup


di depan ku Elio mengerjap beberapa kali sebelum binar matanya berganti dengan ketidak sabaran dan kegembiraan


"Is Elio patient enough to wait .....?" (apa Elio sabar menunggu....?)


aku kembali bertanya saat Elio tak juga menjawab pertanyaan ku


"Daddy...?" Elio bertanya dengan ragu-ragu


sekarang aku yang di buat bingung, bukan bingung masalah apa, aku bingung perihal Daddy mana yang Elio maksud. Luca atau Louis....? masalahnya keduanya Elio panggil Daddy sepertinya panggilan itu harus dirubah. Sungguh aku sering bingung jika menyangkut hal ini


"little Daddy or big Daddy....?" aku bertanya untuk memastikan


"this" telunjuk mungil Elio menunjuk tepat di dada ku, mungkin itu kode jika yang Elio maksud adalah Louis. itu hanya perkiraan ku, bisa benar bisa juga salah


"how about we call Daddy, so Elio can ask Daddy first....?"


(Bagaimana kalau kita menelepon Daddy, jadi Elio bisa bertanya pada Daddy dulu...?)


aku kembali mengambil HP ku dan men-dial nomor Louis


"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, By sibuk....?" aku ingin memastikan terlebih dahulu apakah saat ini memungkinkan untuk Louis menerima telepon atau tidak, takutnya dia sudah berangkat bersama Luca


"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, lagi di mobil masih nunggu Luca. ada yang terlupa...?"


"Elio mau minta izin"


"Minta izin, buat apa...? Albi mau bawa Elio untuk pergi nanti.....?"


"tidak, izin masalah semalam. Elio mau sekarang"


"eemm" tak ada tanggapan lebih lanjut dari Louis selain deheman rendah yang terdengar sangat pelan


"say Assalamualaikum to Daddy" aku menggantinya dengan sambungan video agar Elio bisa melihat wajah Louis


" iyykum Deddy...." Elio memulai dengan suaranya yang terdengar lirih, entah takut atau bagaimana aku juga kurang paham


"wa'alaikum salam, ya" walau suara Louis terdengar tegas namun ada nada lembut yang terselip di sana


"può.... io ...?"


(Elio.....boleh....?)


kumat lagi!, tidak bisakah mereka memiliki sedikit saja rasa kasihan pada telinga ku yang selalu gatal saat mendengar bahasa Itali


"I Will aks your Daddy about it, can you wait....?"


(aku akan menanyakan hal itu pada Daddy mu, bisakah Elio sabar...?)


tanpa menunggu lebih lama, Elio mendorong HP ku dengan tangan mungilnya, dan dia memalingkan badannya dengan tangan bersedekap di dada, sebelum kemudian tangan itu berpindah untuk menutupi wajahnya, di ikuti dengan badannya yang rebah tertelungkup di atas kasur


suara tangisnya belum menggema


belum


aku bahkan belum mendengar suara isakan Elio


"Elio, did I say no....? why you mad....? talk to me nicely or i Will say "no""


(Elio, apakah saya mengatakan tidak ....? kenapa Elio marah....? berbicara yang baik dengan Daddy atau Daddy akan mengatakan "tidak"")


Elio mengangkat badannya dan kembali duduk, tapi saat dia membuka tangannya yang menutupi wajahnya sebelumnya tangisnya tak lagi dapat Elio bendung


suara tangisnya menggema memenuhi kamar


"uuuuuaaaaaa, Daddy......no...... Mommy Ndak'o"


"Elio!, did Daddy say "no"....? answer me Elio, don't cry!"


(Elio!, apa Daddy mengatakan tidak...? jawab Daddy Elio, jangan menangis)


ketegasan Louis dalam mendidik Elio tak bisa ku larang, kadang Elio memang membutuhkan itu


"hiks hiks hiks...... no.... hiks hiks hiks"


"why you crying....?"


(kenapa Elio menangis...?)


" hiks...Elio.... hiks.... sad... hiks... Daddy....hiks"


(Elio sedih Daddy)


"i say, that I Will talk to your big Daddy, now, answer me. can you wait....?"


(Daddy bilang, jika Daddy akan meminta izin kepada big Daddy, sekarang, jawab Daddy. bisakah Elio bersabar...?)


"hiks....hiks...Daddy...hiks...how hiks....long....?"


(berapa lama....?)


memang benar menurut buku yang aku baca jika kaki-kaki lebih mudah menerima jika di jabarkan dalam bentuk angka


laki-laki dengan logikanya


"it's not gonna be long, before Mommy meet dokter Azura, Daddy promise"


(nggak akan lama, sebelum Mommy ketemu dokter Azura, Daddy janji)


"o...ok"


"say thank you and Assalamualaikum to Daddy"


(bilang terimakasih dan assalamualaikum pada Daddy)


"thank you Daddy, I love you, iyykum"


"I love you too my little Aslan, be patient ok.... wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh"


"hallo Bi, Luca is here, i gotta go. assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh"


"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh"


"come here" aku merentangkan tangan meminta untuk Elio mendekat dan memelukku


"sabar ok" Elio tak menanggapi dia hanya pasrah memelukku dan menyandarkan kepalanya di pundak ku


aku sangat bersyukur karena Elio mudah untuk di arahkan, walau kadang juga bisa sangat keras kepala seperti tadi malam


"mau minum susu....?" sebuah gelengan tanpa suara yang Elio lakukan sudah cukup sebagai jawaban


setelah membenahi posisi gendongan Elio dan juga Khimar ku. aku membawanya kembali ke dapur untuk menyelesaikan tugas ku yang belum selesai, sebagai asisten koki terhandal di keluarga kami


"idih pagi-pagi udah glendotan kayak anak monyet" Absyar berseloroh saat melihat ku memasuki area dapur dengan Elio yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ku


Elio hanya cuek tak menanggapi, bahkan untuk berpaling memandang Absyar saja rasanya dia enggan


"adek, lisannya sopan sekali ya, ngatain ponakan sendiri kayak monyet. astagfirullah!"


"hehehe, iya maaf. Elio kenapa kak....?" Absyar mendekat untuk menggoda Elio yang sama sekali tidak tertarik untuk bermain ataupun bercanda


"lagi bad mood, jangan di ganggu nanti nangis"


aku menyingkirkan tangan Absyar yang masih anteng menoel pipi gembul Elio


"masih karena masalah semalem...?"


"bukan lagi bad mood sama Louis"


"sini yuk ikut Abys. mau nggak ke taman belakang mancing ikan di kolam....?"


Elio hanya pasrah saja berpindah dalam gendongan Absyar. entah karena tertarik untuk memancing ikan milik Rama atau karena hal lain


"dek sebentar kakak buatkan susu untuk Elio" aku sudah hendak beranjak membuat susu saat suara penolakan Elio menghentikan langkah ku


"Ndak'o Mommy"


"ya sudah Elio main dulu dengan Abys, setelah Mommy bantu Uti kita mandi ok...?"


"ok"


Absyar berjalan dan menghilang di balik pintu belakang, entah bagaimana nasib ikan milik Rama nanti, aku hanya berharap semoga tidak ada yang mati


lagian juga Absyar ada-ada saja, mengajak Elio untuk mancing, tapi di kolam ikan. ikan hias lagi.


...~**TBC**~...


...**...


...*...