Thaha

Thaha
need you 3




...~**🐪**~...


...**...


...*...


saat malam menyapa sunyi akan datang memeluknya, menjadi teman setia yang akan selalu mengiring langkah malam menuju fajar


mata yang terpejam terasa berat untuk terbuka, denyutan lembut menggedor kepala ku yang tengah terbaring di atas peraduan, badan ku terasa sakit, walau malam sebelumnya juga sakit, namun malam ini sakitnya seakan bertambah. suhu panas yang mengusik tidur ku, tak jua beranjak walau kini mata ku tengah berjuang untuk terbuka


tangan ku terangkat untuk memastikan kondisi badan ku yang menghangat, sepertinya demam ingin menjadi kawan ku saat ini


aku menunduk melihat pada bayi gembul ku yang masih tertidur dengan bibir mungilnya yang masih sibuk menyusu. walaupun tak ada air susu di sana. aku menjauhkan tubuhku dengan perlahan agar Elio tak terganggu


setelah ku pastikan Elio kembali terlelap, kini tangan ku mencari telfon genggam yang seingat ku, aku letakkan sedikit agak jauh di samping atas tempat tidur


saat aku mendapatkannya aku melirik pada jam digital yang terpampang di layar


jam 12 : 27


waktu yang tidak sopan untuk mengganggu tidur nyenyak dan waktu istirahat


mau bagaimana lagi, aku tidak punya banyak pertimbangan, kepala ku terlalu pusing untuk hanya sekedar bergeser dari tempat tidur


tangan ku dengan cepat men-dial nomer kak Abyan, untuk memintanya membawa Elio tidur di kamarnya. aku tidak cukup berani membiarkan Elio untuk tetap bersamaku, sedangkan kondisi ku sedang tidak baik-baik saja


" hallo assalamualaikum Zu, ada apa....?" suara kak Abyan terdengar seperti suara khas bangun tidur


"wa'alaikum salam kak, bisa tolong bawa Elio untuk tidur dengan kakak malam ini, sepertinya Zu demam"


aku tak menunggu lebih lama setelah kak Abyan mengiyakan, terdengar ketukan pada pintu.


aku meminta kak Abyan untuk masuk setelah memastikan penampilan ku rapi dan baik-baik saja


" Zu demam....? mau kakak antar ke dokter Azura....?" kak Abyan bertanya dengan tangan yang sibuk menggendong Elio dan memastikan Elio tidak terbangun


"tidak usa kak, Zu hanya takut Elio akan tertular demam jika terus disini bersama Zu"


"baiklah, nanti jika butuh apa-apa langsung panggil kakak, kakak tidurkan Elio dulu, pintunya kakak buka, ok....?" aku hanya berdehem mengiyakan


kak Abyan telah menghilang di balik pintu, tak lama kembali lagi dengan membawa baskom berisi air juga sapu tangan kecil


sebuah benda basah menyentuh dan menyelimuti dahi ku, rasanya luar biasa nyaman, walau tidak bisa mengurangi pusing pada kepala ku, tapi cukup membantu mengurangi rasa tidak nyaman akibat panas


"Zu mau minum obat"


"tidak dulu kak, tapi apa boleh Zu minta tolong untuk konsul dengan dokter Azura, apa Zu boleh minum obat penurun panas atau tidak, jika boleh tolong tanyakan obat apa yang aman"


aku tak lagi mendengarkan jawaban dari kak Abyan, mata ku tidak cukup kuat untuk sekedar melihat dimana kak Abyan berada saat ini, tapi yang pasti kak Abyan masih berada di dekat ku


suara kak Abyan yang tengah berbicara dengan Dokter Azura terdengar samar-samar menyapa gendang telinga ku, walau tak begitu jelas tapi aku masih bisa mendengar jika kak Abyan menanyakan tentang hubungan demam dan virus yang tengah meraja lela saat ini


saat mendengar itu, membuat ku sedikit takut, takut jika memang aku terjangkit, bagaimana dengan Elio....? dia sejak tadi tidur bersama ku. semoga tidak ada apa-apa


aku belum ada keinginan untuk kembali menjadi penghuni ruang rawat inap. tidak tidak untuk saat ini. sudah cukup kejadian beberapa waktu lalu. aku sedikit trauma dengan rumah sakit. sungguh


"Zu, Dokter Azura akan datang besok pagi, sekalian untu swab dan juga untuk pemeriksaan perkembangan terapi Zu, untuk malam ini cukup di kompres dulu. Zu istirahat ya, kakak panggilkan Absyar untuk temani Zu. atau mau kakak panggilkan ibu....?"


"Absyar saja cukup kak"


"em"


aku butuh mengistirahatkan tubuh ku, entah ini pengaruh hormon atau yang lain aku tidak tau, hanya satu harapan ku saat ini, semoga demam ku tidak ada kaitannya dengan virus yang saat ini beredar


aku tidak lagi mendengar suara kak Abyan tapi tak berselang lama suara Absyar manggil beberapa kali. aku tidak menanggapi karena aku tau jika Absyar hanya ingin memastikan jika aku telah terlelap


walau pada kenyataanya angan ku tengah berkelana jauh merindukan dia yang jauh disana


aku tidak menyadari jika pipi ku telah basah oleh air mata, bayangan Louis terus bergantung di pelupuk mata


entah sejak kapan aku mulai merasakan rasa rindu yang dulu tidak pernah ku rasakan semendalam ini.


mungkin akibat hormon....?


adakah hubungannya....?


atau hormon hanya alibi.....?


entahlah, yang pasti saat ini aku sangat ingin Louis ada di sini, menemaniku, dan membantu ku menghilangkan rasa sakit yang saat ini tengah menyelimuti tubuh ku


semakin lama isak tangis yang semula pelan kini semakin keras, aku berusaha kuat agar tangis ku tak terdengar Absyar yang mungkin saja telah tertidur di atas sofa


"hey, Bi kenapa nangis.....? mana yang sakit....?" suara Louis terdengar menyapa gendang telinga ku. bahkan aku dapat merasakan dengan nyata sapuan lembut Langan Louis menyelimuti pucuk kepala ku. sangat khas Louis


aroma yang selalu menyapa Indra penciuman ku saat berada di sekitar Louis terasa akrab kembali menyapa malam ini


apakah aku sudah mulai terjebak dalam khayalan ku.....?


aku benar-benar merasakan kehadiran Louis di samping ku


rebah di samping ku dan memeluk ku dengan lembut


aku tidak bisa lagi membendung tangis yang dengan susah payah ku tahan


"By, kangen. Hubby pulangnya kapan....? badan Zu sakit semua by"


seperti biasa aku akan menumpahkan segala keluh kesah ku pada Louis, sejak terapi hormon beberapa saat lalu aku semakin mudah mengungkapkan apa yang mengganjal di hati ku pada Louis


"mana yang sakit....? mau di kompres.....?" Louis sudah hendak beranjak dari samping ku


dan dengan cepat tangan ku mengencangkan dekapan tangan Louis yang mendekap ku


"jangan pergi by, Hubby disini sama Zu"


sepertinya benar apa yang sering ku dengar dari teman-teman, jika demam sering membuat kita berhalusinasi. aku bahkan bisa merasakan dengan nyata kehadiran Louis di dekat ku.


walau aku otak ku menolak, sepertinya alam bawah sadar ku mengiyakan setiap imajinasi yang muncul akibat kekacauan yang terjadi dalam benak ku


kenyataan yang tergerus oleh indahnya imajinasi alam mimpi membuat ku lupa dengan rasa sakit yang sejak tadi mengganggu


buaian alam mimpi semakin menenggelamkan aku pada keindahan semu yang saat ini menyelimuti


...~**TBC**~...


...**...


...*...