Thaha

Thaha
Beautiful



Awalnya aku mengira jika kami akan berjalan kaki menuju tempat pacuan kuda, nyatanya ada kendaraan khusus yang di sediakan di sini untuk mengelilingi beberapa arena yang ada di pulau ini atau kita bisa menunggangi kuda jika medan yang di tempuh cukup sulit untuk di lalui, kendaraan yang ada di sini tampak seperti golf cart dengan ukuran yang berbeda-beda ada yang hanya muat untuk dua orang atau bahkan bisa muat untuk enam orang


aku sudah pernah melihat sekilas bagaimana megahnya rumah ini saat di lihat dari halaman luar saat pertama kali datang dan tentunya sebelum aku tidur cantik selama dua hari penuh, tapi tetap saja saat melihatnya untuk yang kedua kalinya masih saja membuat ku tercengang walau tidak disertai dengan ekspresi takjub atau bahkan sampai menganga lebar dari saking terkesimanya, tidak, malah sebaliknya, mungkin yang akan orang lihat saat melihat ekspresi ku saat ini adalah ekspresi ngeri atau mungkin tidak ada perubahan yang berarti pada ekspresi wajah ku....? sepertinya yang terakhir agak sulit untuk di percaya, walau memang pada kenyataannya aku hanya diam dan meneliti setiap keindahan yang tersaji dan berfikir dalam benak 'kira-kira berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk membuat bangunan semegah ini....? dan berapa kira-kira besaran hutang yang mereka pinjam pada bank untuk mewujudkan ini semua....?, atau seberapa tekun mereka bekerja hingga menghasilkan uang sebanyak itu....?'


dan bagian paling mengerikannya saat aku memikirkan, bagaimana seandainya pemilik utamanya meninggal apa yang akan di wariskan pada generasi selanjutnya....? hutang yang menjadi tanggungannya....? atau pekerjaan yang menggunung untuk membayar perawatan aset yang dimiliknya ..?


kadang memikirkan itu semua membuat ku bergidik ngeri, pantaslah ada kata-kata bijak mengatakan:


"Makin sedikit harta kekayaan yang kamu miliki, makin sedikit pula yang akan kamu pertanggungjawabkan kelak."


aku yang hanya melihatnya saja sudah tidak sanggup membayangkan bagaimana kelanjutannya kelak, apalagi mereka yang punya kekayaan sebanyak ini....? entah lah, oh pusing!


kami telah sampai di tempat pacuan kuda, di arena luas ini tidak hanya ada satu atau dua orang saja akan tetapi di tengah lapangan yang luasnya berkali-kali lipat dari luas lapangan sepak bola yang pernah kulihat di area sekolah ku dulu, ada sekitar lima orang yang tengah memacu kuda tunggangan mereka dan berlomba mencapai finish, di luar arena terdapat beberapa orang yang tengah menyaksikan mereka dengan sangat antusias


mereka tampak luar biasa keren dengan kuda berwarna hitam yang hampir senada tengah melakukan atraksi meloncati pagar kayu dengan derap langkah lebar yang melaju dengan kecepatan penuh, aku bahkan hampir mengira mereka tengah melakukan pertandingan kelas dunia, tidak bisa di pungkiri mereka memang pro dalam bidang itu, kalau aku mungkin sudah terpelanting saat atraksi itu berlangsung


terlalu asik memperhatikan mereka bertanding membuat ku hampir melupakan tujuan utama ku datang ketempat ini, aku mencoba mengedarkan pandangan ku dan mencari keberadaan Elisa yang masih belum ku jumpai, tidak mungkinkan Elisa ada di antara lima orang yang tengah berada di atas kuda yang melaju kencang itu kan.....?


" Mrs. Zu, Mrs. Elisa isn't here, she's in the side area" Berta memberitahu ku saat dia melihat ku yang tampak kebingungan mencari keberadaan Elisa


mengetahui jika Elisa tidak sedang berada di tempat ini aku meminta Berta untuk mengantar ku ke tempat Elisa berada, yang ternyata ada di gedung sebelah yang jaraknya tidak jauh dari pacuan kuda Tempak kami tempat kami tadi, hanya saja tempat ini menghadap arah yang berbeda dengan tempat pacuan kuda


pertama kali aku masuk kedalam ruangan ini aku tidak bisa menutupi lagi rasa terkejut ku, bahkan kan aku sampai menganga tak percaya dengan tempat yang saat ini aku jajaki, aku menatap setiap sudut, cela dan setiap benda yang terpajang dengan rapi di setiap lorong dan lemari kaca besar yang memuat berbagai macam jenis senjata tajam, mulai dari pistol berukuran besar hingga pisau dengan ukuran kecil, tempat ini tak ubahnya barak latihan para militer yang dilengkapi dengan peralatan dan benda-benda canggih yang tertata rapi, aku tidak tau apakah ini merupakan tempat latihan keluarga ataukah ini memang barak yang di sediakan untuk latihan pasukan khusus.....?


jantungku hampir saja melompat keluar dari rongga nya seandainya Allah tidak mendesignnya dengan sangat sempurna, saat mendengar letusan dari sebuah tembakan yang terdengar nyaring di telinga ku, jantung sempat terlonjak kaget sebelum berdetak dengan keras dan cepat, jantungku mulai menggila!


aku melirik pada Berta yang tampak tenang dan tidak terkejut sebagaimana yang di alami jantung ku yang hingga saat ini masih berdetak dengan irama cepat aku bahkan tidak yakin bisa menghitung jumlah detakan yang dihasilkan di setiap detiknya


"that's a real gun....?" aku bertanya dengan suara yang sedikit bergetar dan serak, tenggorokan ku tiba-tiba kering!


"they use rubber bullets" mendengar jawaban Berta membuat ku menghembuskan nafas lega yang ternya sedang ku tahan karena rasa terkejut yang berhasil membuat ku menahan nafas


kami kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda kerena suara tembakan tadi, beruntung jarak antara pintu masuk menuju tempat Elisa latihan tidak cukup jauh hingga kaki ku tidak terlalu menghabiskan banyak energi


"oh, Hi Zu " Elisa menyapa ku dengan pelukan hangat saat dia melihat kedatangan ku


"hi, sorry to interrupt you" aku sedikit merasa tidak enak saat mengganggu latihannya, apa lagi saat dia tampak sangat gembira karena berhasil melesatkan tembakan pada target walau tidak tepat pada sasaran tembak, setidaknya itu cukup bagus jika di bandingkan dengan ku yang mungkin saja akan sangat jauh meleset dari sasaran tembak yang seharusnya


" look Zu, I made it" dia dengan bangga menunjukkan hasil tembakannya pada papan target yang sudah mendekat pada kami, dan aku bisa melihat dengan sangat jelas dimana letak tembakan Elisa yang memang melenceng cukup jauh dari lingkaran besar yang seharusnya menjadi sasaran fokus


"yah, that's great, you are awesome" aku memberikan senyum terbaikku untuk mengapresiasi latihan kerasnya


"ah, I remember, if I promise you, I will take you to see the sunset this afternoon, right.....?, ok let's go"


Elisa dengan semangat menggandeng tangan ku menuju tempat yang dia maksud, meninggalkan kesenangannya pada latihan yang sedikit tidak cocok dengan penampilannya yang terlalu feminim, wanita dengan pistol....? itu sedikit aneh tapi juga keren, jika di gunakan untuk sesuatu yang baik, tentu baik yang ku maksud adalah baik menurut pandangan Islam dan bukan yang lain


kemi kembali menuju rumah utama dengan kembali mengendari golf cart yang di kendarai langsung oleh Elisa, wanita ini penuh dengan kejutan


rumah utama yang awalnya sepi, saat ini terlihat ramai dengan adanya beberapa orang yang tengah berdiri di beberapa tempat, khususnya di daerah pintu masuk dan sekitar rumah, mereka berpakaian senada seperti pasukan tentara khusus dengan persenjataan lengkap yang tersampir rapi di sisi tubuh, aku tidak tau apakah ini adalah hal yang biasa terjadi di sini atau ada tamu khusus yang datang hingga memerlukan penjagaan seketat ini.....?


aku melirik pada Elisa yang tampak biasa saja dengan pemandangan ini, pemandangan yang bagi ku tidak biasa tentu saja, dengan santai Elisa membelokkan golf cart hingga melewati bagian samping rumah dan menuju tepian pantai yang sangat indah dengan semburat jingga yang memanjakan setiap Indra


Elisa memarkirkan golf cart di tepian pantai yang sedikit mengerikan menurut ku, karena tempat ini sedikit berbahaya, tepian pantai yang ku maksud berada tepat dibawah kita saat ini, lebih tepatnya kita berada di atas jurang yang ketinggiannya cukup untuk membuat tulang patah jika ada yang meloncat terjun dari ketinggian ini dengan selamat dan yang lebih membuat ku bergidik ngeri, di tempat ini tidak ada pagar pembatas!, aku yakin tidak akan ada juga orang waras yang mau melewati jurang ini, medannya cukup terjal untuk di lalui, dinding batu tajam menghiasi setiap pijakannya dan batuan besar dengan kerikil runcing menunggu di bawah dengan sangat anggun dan dengan kesabaran tingkat tinggi


aku memalingkan mata ku dari pemandangan yang membuat ku pusing dan mual beralih pada pemandangan indah yang di tampilkan oleh teater yang menggantung di ufuk barat dengan matahari yang memancarkan semburat jingga sebagai artis utamanya, di dukung oleh awan putih yang juga bermimikri mengikuti tarian sinar matahari yang terpencar hampir menghiasi langit yang menjadi payung samudra luas di bawahnya


pemandangan yang sangat indah dengan Allah sebagai pelukisnya, ciptaan Allah yang satu ini memang luar biasa memanjakan mata bagi pecinta dan penikmat senja, sejatinya tidak ada ciptaan Allah yang tidak membuat kita tercengang dengan takjub, lukisan alam, indahnya angkasa yang penuh bintang-bintang, samudra luas yang menampilkan lukisan indah dan Rahasia yang siap memukau siapapun yang menemukan dan melihatnya, tidak ada satupun dari nikmat Allah ini yang bisa ditandingi oleh siapapun, hanya Allah saja yang bisa menciptakan keindahan luar biasa ini, jadi patutlah jika hanya Allah sajalah yang wajib kita sembah karena Allah yang telah menciptakan semua yang ada di dunia ini, termasuk tubuh kita yang luar biasa dengan semua sistem tubuh yang bekerja dengan harmonis, nikmat yang sangat luar biasa


karena sejatinya semua ini adalah milik Allah, semua yang aku nikmati saat ini adalah milik Allah, keindahan senja yang aku nikmati, tanah yang ku pijaki, langit yang menaungi ku bahkan tubuh yang ku pakai untuk bergerak ini pun juga milik Allah


"Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah". (Thaha: 6)