Thaha

Thaha
Kegilaan yang haqiqi



sinar mata hari yang merambat menembus dinding kaca pesawat membuat tidur nyenyak ku terusik, aku mencoba memalingkan wajah ku ke arah yang berlawanan dengan arah cahaya matahari yang menyilaukan mata, mencoba menghindari sorotan langsung sinar matahari yang menerpa wajah ku, aku masih butuh untuk istirahat, bukan karena aku malas tapi kerena aku butuh


tidur ba'da subuh membuat kepala ku berat dan tidak nyamanan, aku berharap ini adalah kali terakhir aku bergadang semalaman, aku perlu memenuhi hak tubuhku, karena tubuh ini bukan lah milik ku, tapi milik Allah sedangkan aku hanya memiliki hak pakai atas tubuh ini, intinya tubuhku butuh istirahat, butuh tidur saat ini, jam ini, dan detik ini juga sayangnya sinar mata hari yang cerah ini menghalangi niat ku, Astaghfirullah


aku kembali menaikkan selimut untuk menutupi wajah ku melanjutkan niat untuk kembali tidur, tapi niat ini harus kembali tertunda untuk yang kesekian kalinya saat sebuah tangan menghalangi tangan ku dan malah menurunkan kembali selimut yang ku genggam, ok ini sudah mulai sedikit menyebalkan


'Allahu Akbar, nggak tau apa orang lagi ngantuk....?' aku memaki dalam hati, ingin rasanya memaki langsung tapi takut dosa, taukan bagaimana rasanya di ganggu pas lagi ngantuk-ngantuknya setelah semalaman tidak tidur, 'rasanya ingin mencak-mencak aja langsung' tensi darah naik nih, seperti itu perasaan yang aku rasakan saat ini


untung suami sendiri, coba orang lain.....?


"bangun, jangan tidur lagi, satu jam lagi kita landing, ayo mandi dulu, habis itu makan" Louis dengan suara lembutnya kembali mengusik ketenangan tidur siang ku, dan saat mendengar kata landing membuat ku dengan cepat membuka mata


"masih ngantuk tapi, memangnya sekarang kita dimana......?" aku bertanya dengan penuh rasa penasaran, sudah sejak semalam aku bertanya dan Louis selalu merahasiakannya


"rumah Daddy, Itali" Louis berkata dengan santai tanpa tau efek dari perkataannya pada ku


ini ceritanya kita akan mengunjungi mertua ku tercinta sedangkan kondisiku yang bahkan tidak bisa di katakan baik-baik saja, Astaghfirullah, tukar tambah juga nih suami!


dengan cepat aku menyingkap selimut dan meloncat turun dari ranjang dengan tergesa-gesa dan hal itu sukses membuat tubuh ku oleng dan hampir saja berciuman mesra dengan lantai pesawat


"subhanallah Zu, hati-hati" Louis membantuku berdiri dan menopang tubuhku agar tidak kembali oleng dengan pasrah aku menyandarkan sepenuhnya beban tubuhku pada Louis, aku merasakan tubuh ku lemas tanpa tenaga, sepertinya aku lebih butuh makan daripada mandi


"tubuh ku lemas" aku mengadu padanya dengan nada merengek, bahkan aku hampir menangis karenanya, kaki ku gemetar karena kehabisan energi bahkan hanya sekedar untuk menopang tubuhku


Louis dengan sigap membantu ku dan membawaku dalam gendongannya menuju kamar mandi, baru kali ini aku sangat bersyukur memiliki tubuh kurus, bukan berarti aku tidak bersyukur memiliki tubuh seperti ini, aku selalu mensyukuri nikmat Allah ini, tubuh yang lengkap dan sehat, Alhamdulillah, tapi kadang ada masa dimana aku berharap memiliki tubuh yang sedikit berisi agar tidak terlalu terlihat seperti anak sekolah menengah pertama, apa lagi saat mengisi kajian aku malah terlihat layaknya anak kecil yang mencoba mengajari orang dewasa, kadang itu terasa lucu, kadang juga sedikit menyebalkan


lamunan ku tentang indahnya pemandangan bumi yang terlihat dari ketinggian harus terhenti saat tangan besar Louis menggenggam tangan ku dan menuntun ku menuju pintu pesawat, mengetahui kita akan segera sampai di tujuan membuat perut ku mules seketika, aku tahu Mommy dan Daddy sangat baik dan mau menerimaku dengan tangan terbuka serta pelukan hangat, bahkan adik Louis juga begitu, tapi yang membuat ku degdegan dan sedikit takut adalah keluarga besarnya, Nenek, Tante, Paman, dan yang lain..? di tambah dengan fakta bahwa aku tidak bisa berbahasa Italia...? bahasa Roma...? aku bahkan tidak bisa membedakan bahasa spanyol, Itali dan portugis, di telingaku mereka terdengar sama, jadi bagaimana nasib ku nanti....?


"Albi, rileks ok" tangan besar Louis yang menyelimuti tangan ku memberi sapuan lembut pada punggung tangan ku yang terbuka, seakan ia ingin memberikan ketenangan pada ku, menyampaikan dalam diam bahwa semuanya akan baik-baik saja selam ada dia di samping ku


hal itu sedikit membuat ku tenang, tapi tidak setelah kami turun dari pesawat yang ternyata mendarat tepat di atas helipad yang menghampar luas, menyajikan hamparan hijau yang menyejukkan mata dengan pohon-pohon rindang yang kokoh berjejer rapi di kanan kirinya, lapangan yang sangat luas bahkan berkali-kali lipat dari lapangan sepakbola, mata ku terbelalak ngeri melihat sesuatu yang saat ini ada di depan mata ku, aku bahkan hampir menjatuhkan rahang ku dari saking terkejutnya, baru kali ini aku percaya tentang orang kaya dan kegilaannya, ini yang di sebut "kegilaan haqiqi"


tepat di depan mata ku kini berdiri bangunan megah sebuah rumah, bukan, ini bukan rumah nama ada rumah sebesar dan semegah ini, mansion....? ini sepertinya juga bukan mansion di mata ku ini lebih terlihat seperti istana, bangunan yang berderet rapi menjulang langit dengan atap kokoh yang selaras antara satu bangunan dengan bangunan yang lain, mereka bahkan membangun gapura yang tiang-tiang penyangganya berdiri dengan congkak, sangat mencerminkan kewibawahan, kemegahan, kemewahan dan kesombongan tentu saja!


lutut ku bergetar karena rasa takut yang mencengkram benak dan hati ku semakin lama semakin besar, tidak aku tidak lagi takut karena akan menghadapi keluarga besar Louis, aku lebih takut saat mengetahui tentang besarnya tanggung jawab yang akan di pikul Louis, bagaimana dia akan menjelaskan pada keluarganya tentang Islam dan hukum kepemilikan, bagaimana dia akan menjelaskan pada keluarganya tentang kewajiban lain yang ada di dalam Islam, tentang zakat dan lainnya, itupun kalau mereka Islam, walau sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin


ya Allah bagaimana mungkin musibah ini jatuh tepat di pundak suami ku....? walau aku sebenarnya sudah menduga jika keluarga Louis akan sangat berbeda dengan keluarga ku tapi aku tidak pernah menduga kondisinya akan sekacau dan segila ini, pulau yang harusnya menjadi milik umum mereka miliki secara pribadi.....? semua ini....? "gila" hanya kata ini yang terlintas di benakku untuk mewakili semua yang tersaji di hadapan ku


"Zu, are you okay...?" Louis bertanya dengan nada pelan saat melihat kondisi ku yang tidak baik-baik saja, bagaimana aku bisa baik-baik saja jika melihat hal yang menakutkan tersaji dengan gamblang di depan mata ku....? ini bahkan lebih mengerikan dari pada menghadapi orang sombong yang suka pamer harta, setidaknya harta mereka adalah aset yang memang boleh dimiliki secara pribadi menurut sudut pandang Islam, tapi orang kaya yang diam, dia adalah orang kaya yang sesungguhnya, mereka bermain di balik layar, mereka tidak peduli dengan aturan, dengan pajak dan kewajiban lain yang harus mereka tunaikan, harta mereka tidak tercatat di dalam berkas-berkas negara, mereka memiliki sistem mereka sendiri, tidak heran mereka mampu menguasai aset-aset yang bahkan harusnya menjadi hak umum, dan yang lebih gila lagi mereka mampu mengintervensi kebijakan sebuah negara, ada bahkan dari sebagian mereka yang membuat aturan dalam perundang-undangan sebuah negara, apalagi di bidang ekonomi dan politik dan ini adalah hal yang paling aku takutkan akan di lakukan oleh keluarga Louis


"no, I'm not" aku menggelengkan kepala ku pelan, aku sudah tidak punya tenaga bahkan hanya untuk memberitahu Louis tentang ketakutan ku, tangan ku dengan erat menggenggam tangan Louis seakan meminta pertolongan agar Louis membawaku pergi dari sini detik ini juga


"it's ok, I'm with you" entah Louis memahami ketakutan ku yang sesungguhnya atau dia hanya mencoba menenangkan ku kerena menganggap jika aku sedang ketakutan dan nervous untuk berjumpa dengan keluarganya....? entahlah


kami melangkah mendekat pada keluarga Louis yang sudah menunggu kedatangan kami, namun aku menghentikan langkah ku bahkan sebelum kita melangkah hingga setengah perjalanan, saat seorang anak laki-laki yang menggemaskan berlari kencang kearah kami dan memanggil Louis dengan sebutan Daddy


"Daddy,... Daddy,..... Daddy"


mendengar itu lutut ku langsung lemas dan aku bahkan merasakan tubuh ku yang kehilangan energi seketika, tubuhku limbung sebelum kemudian membentur sesuatu yang keras dan hangat, aku terjatuh dan Louis menangkap ku dalam dekapannya sebelum tubuhku membentur lantai, pandangan ku memburam menampakkan kilasan Louis yang memanggil nama ku dengan panik, baru kali ini aku melihat perubahan pada ekspresi wajahnya, dan aku tidak suka perubahan itu, aku lebih suka melihat wajah Louis yang tanpa ekspresi seperti biasanya dari pada harus melihatnya seperti ini, pandangan ku terus memburam sebelum kemudian benar-benar menghitam dan gelap, aku terjatuh pada kegelapan yang sunyi dan sepi