
...~**🐤**~...
...**...
...*...
aku menarik nafas dengan berat, mencoba mengumpulkan setiap partikel udara yang masuk pada kantong paru-paru ku dan menguncinya untuk sementara waktu
nanti aku akan mengeluarkannya, nanti, nyicil.
"Baby, look, there's no milk in my chest, so you can't drink milk with that way....?" (Baby, tidak ada susu di dada Mommy, jadi Elio tidak bisa minum susu dengan cara itu....?)
"Ndak'o Mommy Ndak'o, this Mommy, this!" Elio masih bersikeras untuk membuka kancing baju ku yang kini sudah kehilangan satu kancing teratasnya
kasihan baju baru ku
"tidak bisa sayang, tidak ada airnya, there's no milk"
"but aunty say, that Mommy Will give his baby milk with that way, like aunty did"
(tapi anti bilang, jika seorang ibu akan memberi susu anaknya dengan cara itu, seperti yang anti lakukan)
"yes, that's true but, Mommy can't to di that"
(iya, itu benar tapi, Mommy tidak bisa melakukannya)
"why....? why Mommy why....?"
aku sudah mencoba menjelaskan kepada Elio dengan bahasa yang lebih sederhana yang kiranya mampu di terima oleh pemikiran Elio yang lebih sederhana. tapi, nyatanya Elio lebih keras kepala dari yang aku bayangkan
tidak mungkin juga aku jelaskan jika aku harus mengandung dulu, melahirkan baru bisa memproduksi ASI. sayangnya anak kecil tidak pernah mau tau, yang mereka tau hanya satu. apapun yang mereka mau harus ada, dan jika tidak. maka tangis adalah senjata andalan mereka
Dengan pelan aku mencoba mengangkat Elio dalam gendongan ku mendekapnya dengan lembut walau tangan Elio selalu menolak
tak apa, tidak semuanya harus di turuti kan....? lagi pula bagaimana caranya bisa memberikan apa yang Elio mau....?
tau ah pusing !
dengan pelan aku mengarahkan kepala Elio untuk bersandar di dada ku, melangkah menuju tempat pakaian untuk mengambil gendongan bayi yang sempat ku lihat sebelumnya
lama aku menimang, entah kerena sudah Lela menangis atau memang sudah mengantuk akhirnya Elio tertidur dengan tangan yang masih menggenggam bagian atas baju ku
saat aku memastikan jika Elio telah lelap dalam tidurnya, aku melangkah mendekati tempat tidur untuk membaringkan Elio, mengambil susu milik Elio yang terlempar ke tepi tempat tidur
walau mata sudah mulai susah untuk di ajak berkompromi, aku harus menundanya untuk terpejam saat melihat panggilan masuk dari Louis yang kembali terdengar, sudah sejak tadi panggilan telepon dari Louis aku abaikan
"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Bi, Elio sudah tidur....?" Louis memulai
"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, sudah, maaf tadi Zu buru-buru mematikan sambungan"
"tidak apa, jadi apa yang anak pintar itu inginkan.....?" ternyata rasa penasaran Louis masih belum selesai
"Elio mau susu" aku menjawab singkat, sedikit aneh sebenarnya untuk membahas hal seperti ini dengan Louis
"sudah di buatkan....?" dengan entengnya Louis malah menanyakan sudah di buatkan atau belum....?
masalahnya susu yang di inginkan oleh Elio tidak bisa dibuat pakai mantra "sim salabim" langsung jadi
"masalahnya susu yang di inginkan Elio bukan susu yang biasa dia minum"
aku mencoba mencari kata teraman untuk menjelaskannya pada Louis
"Elio mau merek baru ...? atau rasa baru....? besok aku coba minta tolong Mai untuk belikan" astagfirullah ini masalahnya susunya tidak di produksi di pabrik manapun, atau tidak di jual dengan bebas, mbak Mai mau cari dimana coba....?
"nggak ada yang jual masalahnya by"
"emang susu apa....?" Louis bertanya bingung
"susu siap saji" aku bingung harus menjawab bagaimana
sungguh ini percakapan terabsurd yang pernah ku lakukan apalagi dengan Louis...?
"oh, setelah ini aku coba hubungi salah satu teman ku, mereka ada yang menjual susu murni, tapi dari malang, mungkin besok pagi hari bisa di kirim"
aku menggaruk kepala ku yang tidak gatal, kenapa jadi panjang ini pembahasan masalah susu, sampai merambat ke malang segala
"by, susu murni yang tidak di jual" aku mencoba menekankan setiap kata dengan teliti, agar Louis bisa menangkap maksud ku
"susu murni tidak di jual...?" entah Louis menanyakan ulang untuk memperjelas, atau dia tengah mencoba mencerna kata itu
"susu murni yang itu....?" entah Louis menangkap maksud ku atau tidak, tapi aku dapat mendengar nada terkejut dalam nada suaranya
"iya susu murni yang itu!"
ya Allah kapan berakhirnya ini masalah susu
astagfirullah
"bukan susu murni Nasional....?"
ini malah merambat ke susu murni Nasional, iya kali ASI di jual keliling. ya Allah ya Karim
"bukan"
panjang nih pembahasan
"Elio minta itu....?"
"iya"
"iya"
"oooohhh, ya sudah, nanti aku izin Luca sama Elisa"
"by....., nggak ada isinya"
ini gimana coba ceritanya, malah pakai segala mau minta izin Luca sama Elisa, ini pak suami sadar atau tidak....?
"kalau nanti sudah dapat izin dari Luca dan juga Elisa, Albi mau tidak....?"
panjang beneran kan ini pembahasan, astagfirullah.
"by, walaupun Zu mau, tetap aja, nggak bisa, kan kosong" antara mau menangis atau berteriak, aku sampai bingung harus memilih yang mana terlebih dahulu, tapi yang pasti aku tidak akan berani untuk meneriaki Louis
takut dosa
neraka panas ya Allah
ada yang dingin sih
tapi tidak mau ya Allah
serem!
"ya nanti kita program" Louis malah dengan entengnya mengatakan hal itu, seakan semuanya bisa di selesaikan dengan hanya menjentikkan jari
tidak semudah itu kawan
"by, umur Elio sudah terlalu besar loh" bukan masalah aku keberatan atau tidak tapi di dalam Islam masalah penyusunan ini memang sudah ada ketetapan dan ketentuannya
sudah ada aturannya
jadi tidak bisa asal!
"belum sayang, Elio masih 1 tahun 8 bulan, masih ada 4 bulan lagi"
belum....? tapi kenapa tinggi badannya seperti anak yang usianya bahkan suda sekitar 4 tahunan....?
"1 tahun 8 bulan....?"
aku tidak bertanya, lebih kepada mencoba mengingat-ingat memori lama dari sejak aku berjumpa dengan Elio
"Albi tidak lupakan kalau Elio....."
"tau, jangan di ingetin!" aku berkata dengan sedikit nada jengkel, aku sudah paham kemana arah pembicaraan Louis akan berlabuh
aku kadang masih sedikit kesal jika Louis mulai membahas tentang tinggi badan, memangnya cuma orang Eropa saja yang badannya tinggi.....?, Asia juga, walau rata-rata mungil-mungil
tapi tetap saja!, apa Louis tidak pernah membaca tentang betapa sensitifnya wanita jika membahas masalah tinggi badan dan umur.....?
hey! itu batas keras
jangan coba-coba!
"nggak maksud ke situ by, sensitif banget istri ku, jadi gimana.....? mumpung masih belum dua tahun, Albi mau.....? nanti kalau Elio dewasa kita tidak akan repot, Elio akan lebih bebas berinteraksi dengan Albi, dan juga anak kita yang perempuan nanti, bagaimana....? "
jika di timbang lebih lanjut, apa yang dikatakan Louis ada benarnya, tidak tapi memang benar, saat Elio balig aku harus membatasi interaksi dengan Elio, walau pada dasarnya Elio adalah keponakan kandung Louis, tapi bukan berarti Elio menjadi mahram ku.
apa memang harus di coba....?
karena saat persusuan yang di lakukan telah memenuhi 2 (dua) syarat makan Elio kedudukannya akan sama seperti anak kandung ku dalam pandangan Syara'. pertama, penyusuan dilakukan ketika usia bayi di bawah dua tahun (dihitung dengan kalender qamariyah). Maka penyusuan kepada anak di atas dua tahun, tak mengakibatkan kemahraman. Kedua, perempuan itu telah menyusui sebanyak 5 (lima) kali susuan pada waktu yang terpisah-pisah. Maka penyusuan yang kurang dari 5 (lima) kali susuan, tak menimbulkan kemahraman
tentu itu berdasarkan firman Allah SWT (yang artinya),”Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”
(QS Al Baqarah : 233).
dan ada pula hadits dari ibunda Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan isteri Abu Hudzaifah untuk menyusui seorang anak bernama Salim sebanyak lima kali susuan (khamsa radha’atin).
(HR Ahmad, 6/201).
"harus kah....?"
"itu berpulang pada keputusan Albi, kalau Albi mau, besok kita buat janji dengan dokter Azura, bagaimana....? coba Albi minta petunjuk Allah dulu, nanti waktu qiyamullail, kalau besok pagi Albi sudah siap dengan jawaban Albi, kita hubungi dokter Azura, ok....?"
"eeemmm" aku hanya berdehem mengiyakan, otak ku saat ini penuh dengan berbagai kemungkinan, positif dan negatifnya berdasarkan timbangan akal ku yang terbatas
"ya sudah Albi, bobok gih, sudah malam, biar nanti bisa bangun untuk qiyamullail, good night la mia anima gemella"
telinga ku sedikit gatal saat mendengar Louis menggunakan bahasa Itali, tidak bisakah Louis berkompromi dengan kosakata Itali milik ku yang hanya paham beberapa kata saja
"eemm, you too, fi Amanillah, assalamualaikum my Aslan" aku mengatakan kalimat terakhir dengan sangat pelan
"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh Mrs.Aslan"
aku tersenyum saat mendengar perkataan Louis yang terakhir, mungkin dia salah mendengar kata "my" yang ku ucapkan
susahlah mari kita akhiri kisah hari ini dan mengisi energi untuk menyambut kisah baru besok pagi
good night everyone, let Allah guide us to our beautiful dream
night night
...~**TBC**~...
...**...
...*...