
"dan yang paling membuat ku tertantang saat dia memberi ku pertanyaan di setiap diskusi yang kami lakukan, seperti, darimana kita berasal.....?, untuk apa kita hidup di dunia ini.....?, dan apa yang terjadi saat kita sudah mati nanti"
"terus, Hubby jawabnya apa....? Zu penasaran"
...******...
...*...
...*...
...*...
"ya jawab sebisa dan semampunya"
dengan cuek Louis menjawab dengan perkataan yang membuat tensi darah ku naik
"iiihhh, jawabnya pinter banget, makin sayang deh, I love you"
dari saking jengkelnya, sekali lagi aku mendongakkan muka ku dan dengan cepat memberi gigitan pada tempat yang bisa ku jangkau, yang tentu saja hanya sebatas dagu
kali ini aku benar-benar menggigitnya hingga membuat Louis mengadu kesakitan
"Astagfirullah haladzim, sakit nggak giginya...?"
bukannya mengkhawatirkan nasib dagunya yang menjadi korban kegemasan ku, Louis malah mengkhawatirkan gigi ku yang menjadi pelaku kejahatan
"coba sini ku lihat"
aku seakan mampu membaca maksud terselubungnya, dengan cepat aku mencoba memundurkan kepala ku, tapi apa hendak di kata, leher ku tak sepanjang jerapah
dengan mudah mudah Louis merengkuh dan mendekatkan wajah ku ke arahnya sebelum kemudian memberi gigitan di dagu ku yang membuat dagu ku terasa geli
"hihihi, Astagfirullah, ampun Zu nyerah, Zu nyerah"
derai tawa ku menggema mengisi keheningan yang melingkupi kamar ini
aku mencoba menetralkan nafas ku yang tersenggal-senggal saat Louis sudah menghentikan aksinya
tangan Louis dengan lembut membetulkan letak Khimar ku yang sudah tidak rapi lagi, dia juga menghapus butir keringat yang mulai mengintip di balik kulit pelipis ku
"masih mau lanjut ceritanya....?"
"Ma...u"
aku mencoba berbicara setelah nafas ku mulai teratur
"baiklah,...... waktu itu aku menjawab sesuai dengan fakta ilmiah yang ada, seperti pertanyaan dari mana kita berasal,....? waktu itu, ya aku menjawab jika manusia berasal dari materi yang sudah ada, ****** dan ovum kemudian berubah menjadi bentuk lain, janin dan begitu seterusnya"
"Zu kira akan menjawab kalau manusia berasal dari revolusi kera....?"
aku kembali terkikik geli saat membayangkan jika orang se rasional Louis bisa percaya dengan teori itu
padahal jika di fikirkan kembali, sangat mustahil jika kera akan berevolusi menjadi manusia, walaupun bentuknya sama
buktinya sampai sekarang tak ada satupun dari kera yang berubah menjadi manusia, jangankan jadi manusia, sampai sekarang aku tak pernah menjumpai ada satupun kera yang berubah menjadi jenis primata yang lain, simpanse mungkin...? atau gorila...?
"enggak lah, aku juga mikir-mikir kalau mau jawab "
"kirain"
aku mengulum senyum geli saat melihat ekspresi juteknya, karena tidak ada perbedaan yang tampak nyata dari ekspresi wajahnya, masih datar!
"terus teman Hubby bilang apa setelah mendengar jawaban itu...?"
"dia mulai menjelaskan tentang kebenaran penciptaan, siapa itu sang pencipta dan siapa itu makhluk, dia menjelaskan jika sang pencipta itu wajib memiliki sifat dan bentuk yang berbeda dengan mahluk, sedangkan apa saja yang mampu dirasa oleh panca Indra kita adalah mahluk, setiap yang bisa dilihat, yang bisa dicium, yang bisa dirasa, yang bisa didengar itu semua makhluk, termasuk di dalamnya malaikat dan jin, itu mahluk bagi sang pencipta"
"aku sempat bertanya waktu itu, bagaimana mungkin Tuhan yang tak terlihat itu bisa di sebut tuhan...?"
"dan dengan tidak terima aku bertanya 'kenapa bisa...?', dia dengan tenang menjawab jika apa yang mampu dilihat oleh mata, maka akan mudah bagi mahluk untuk menemukan kelemahannya, sedangkan tuhan itu tidak memiliki kelemahan, mampu dilihat oleh mata manusia yang terbatas saja adalah sebuah kelemahan itu sendiri"
"setelah mendengar itu aku semakin tertarik dengan Islam karena dia tidak hanya mampu menyampaikan penjelasan itu sesuai logika, bahkan dalil yang dia sampaikan semuanya sangat masuk akal"
"terus Hubby memutuskan untuk masuk Islam setelahnya....?"
aku mencoba menebak
"tidak, yang membuat ku masuk Islam waktu itu bukan hanya karena itu, walau itu merupakan faktor pendorong terbesar aku masuk Islam"
aku bertambah penasaran dengan faktor pendorong yang lain, yang menyebabkan Louis mau menyambut hidayah Allah
karena sejatinya dengan faktor yang tadi Louis ceritakan saja sudah mampu menjawab setiap keresahan dan kerancuan untuk menemukan kebenaran Islam
"ada lagi, jangan bilang karena perempuan....?"
aku mencoba menerka walau sebenarnya hal itu seperti tidak mungkin, mengingat sifat Louis yang seperti batu berjalan, cuek, cool dan pendiam
"ia dan tidak"
gimana itu maksutnya....?
aku menatapnya dengan tatapan penuh tanya yang terpancar jelas di wajah ku
"Zu ingat tuju tahun lalu di gra*edia....?"
jelas aku semakin bingung dengan arah pembicaraan ini, kenapa aku yang harus mengingat kejadian tujuh tahun silam....?
"yang mana....?"
"waktu Zu beli buku Sirah Nabawiyah"
aku mencoba mengingat kisah tuju tahun silam saat aku meminta Absyar untuk menemani ku membeli buku Sirah Nabawiyah, saat itu adalah kali pertama aku diminta untuk menjadi pemateri di kajian remaja
aku membutuhkan satu buku yang akan ku jadikan kenang-kenangan untuk adik-adik yang sudah berkenan hadir dan menjadi peserta teraktif dalam kajian
"ingat tidak, waktu Zu mengembalikan dompet yang Zu tidak sengaja temukan, dompet yang tidak sengaja terjatuh dari kantong jaket seorang pemuda asing....?"
aku mencoba mengingat kejadian tuju tahun lalu saat aku tak sengaja menemukan sebuah dompet yang terjatuh dari saku jaket seorang laki-laki, dengan cepat aku memungut dompet itu dan mengejar pemuda yang menjatuhkannya
tangan ku menarik ujung jaketnya hingga membuat pemuda itu berhenti
"aku masih ingat waktu itu, Zu mengembalikan dompet itu dengan tangan yang masih memegang ujung jaket ku dan wajah yang tertunduk dalam"
Louis mencoba menjelaskan kejadian yang sudah mulai memudar dalam ingatan ku
"setelah aku mengambil dompet yang Zu ulurkan, tanpa berkata-kata lagi Zu langsung pergi begitu saja, tanpa melihat ke arah ku dan bahkan mungkin Zu tidak lagi mendengar ungkapan terimakasih yang aku ucapkan, Zu ingat....?"
"jadi pemuda itu, Hubby....?"
aku bertanya memastikan, ingatan tentang hari itu sudah memudah dalam ingatan ku bahkan sebagian besarnya sudah banyak yang ku lupakan
"ia, dan jika Zu masih ingat laki-laki yang ada di samping ku waktu itu, dia Sam, laki-laki yang aku bilang tadi"
"Sam yang itu....?"
aku bertanya untuk memastikan jika memang sekertaris Louis lah Sam yang di maksud
"iya, Sam yang itu"
aku cukup kaget saat Louis mengatakan jika laki-laki itu adalah Sam, sekertaris Louis atau juga bisa di bilang sahabat Louis....?
tapi ngomong-ngomong awet juga pertemanan mereka ya
...~TBC~...