
...**Takdir 3**...
...*...
...**...
kami makan malam dengan ditemani suasana indah dan romantis kota Roma, ramainya pengunjung tidak sedikitpun mengganggu kami yang tengah menikmati makan malam romantis? tidak juga, hanya makan malam sederhana yang menyenangkan dan tentu sangat berkesan untuk ku
awalnya kami sedikit kesusahan memilih menu untuk makan malam, bukan karena makanannya yang tidak enak, atau bukan karena harganya yang sangat tidak ramah di kantong, bukan. tapi karena sangat susah mencari makanan halal disini.
kembali lagi, kita kembali dihadapkan pada kondisi yang sulit, sulit untuk menemukan iklim dan suasana yang cocok dengan aturan Islam, jangankan di Roma, di Indonesia saja aku kadang kesusahan mencari makanan halal dan tayyib, aku bahkan pernah terserang rasa takut untuk membeli ayam ataupun daging di pasar, takut jika yang menyembelih tidak mengucapkan nama Allah.
atau aku sempat gagal membeli sushi di salah satu mall di Surabaya karena takut mereka menggunakan mirin yang tidak halal
aku bukannya paranoid, tapi kenyataan yang ada saat ini menjadikan aku harus serba teliti dalam memilah dan memilih segala hal
bukan lagi rahasia jika saat ini, halal dan haram bukan menjadi alasan bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu
bukan begitu?
mari kembali pada kegiatan aku dan Louis yang saat ini telah selesai makan malam.
kami memutuskan untuk tidak langsung kembali, Louis mengajak ku untuk sedikit melepas penat dan menikmati suasana indah yang menyelimuti kami, bayi gembul yang sejak tadi sibuk berkutat dengan makanan dan juga ice cream yang ditagihnya dari Louis, dia kini tenga terlelap dalam gendongan Louis
tangan Louis sejak tadi tak pernah beranjak dari pinggang ku, persis seperti ikat pinggang otomatis yang akan menyesuaikan dengan pergerakan ku
mengingat kondisi ku yang kurang sehat sejak beberapa hari yang lalu, di tambah kejadian tadi di pesawat membuat ku tidak bisa berjalan bebas menjelajah setiap pertunjukan yang sedang berlangsung.
pada dasarnya aku sudah merasa baik-baik saja dan aku yakin aku sudah sehat walau tidak seratus persen, hanya untuk sekedar berjalan dan menjelajah beberapa menit harusnya bukan hal yang susah untuk di lakukan.
tapi berhubung tangan Louis sudah melekat dengan kencang di pinggang ku, menjadikan pergerakan ku yang harusnya bebas menjadi sedikit susah untuk berjalan kesana-kemari
dan mau tidak mau aku harus mengikhlaskan diri ku untuk mengikuti pergerakan Louis yang hanya berjalan beberapa langkah dari tempat kami makan sebelumnya, berpindah menuju kursi yang lebih dekat dengan pertunjukan musik di depan kami
suasana romantis benar-benar menyelimuti setiap insan yang hadir di daerah ini, walau ada di antara mereka yang tidak memiliki pasangan, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati suasana romantis yang tersaji, alunan musik yang lembut mengalun dengan indah, seakan merayu setiap kali melangkah setapak demi setapak merangkai tarian indah yang harmonis
cuaca sejuk menari bersama angin malam yang membelai setiap helai bulu roma yang semula tertidur di balik lembutnya kain yang memeluk tubuh
hingar bingar lampu yang berkelip dengan lembut, kembali menghidupkan malam yang temaram. tak ada lagi sunyi, tak ada lagi sepi. semua berdansa dengan riang menghentakkan kaki yang terbalut alas kaki yang indah
aku melihat di kejauhan sepasang sejoli yang berdansa saling berpelukan di tengah kerumunan, mengayun dengan lembut mengikuti irama musik yang mengalun indah, usia tak lagi menjadi halangan untuk tetap menikmati keromantisan yang ada
saat aku melihat mereka satu hal yang terbersit dalam benak ku, bisakah aku seperti mereka, tetap bersama meski rambut tak lagi hitam....?
tetap saling mengasihi meski cinta mungkin memudar.....?
tetap saling bergandengan tangan, meski badai datang menghantam.....?
aku tak ingin berandai-andai karena ajal tak ada yang tau kapan datang
namun jika Allah izinkan, aku hanya ingin dia satu, sehidup sesurga dengan ku
"Zu, lelah....?" tak sadar jika sejak tadi aku menatap Louis dengan bait do'a tak terucap, hingga tanpa sadar lonjakan lembut itu terjadi akibat terkejut
tangan Louis yang semula berada di pinggang kini berganti mengusap lembut pucuk kepala ku yang tertutup Khimar
"tidak, kita dari tadi duduk, bagaimana mau lelah" aku tersenyum dengan sedikit menggerakkan kepalaku ke kiri dan ke kanan
"sudah larut, kita kembali sekarang...? Zu tidak apa-apa kan....?"
"sudah mau pulang....?" seakan tak rela untuk meninggalkan tempat yang mungkin saja tidak akan pernah lagi aku datangi ini, aku menatap Louis dengan mata memohon, berharap bisa sedikit lebih lama untuk tinggal
apakah kota ini juga sama seperti kota metropolitan lain yang tak pernah tidur....? sejauh apa kemeriahan tempat ini akan berlangsung....? dan masih banyak lagi hal yang ingin aku amati
"eemm" Louis bergumam sebelum kembali melanjutkan "kita tidak pulang ke pulau malam ini, tapi ke rumah sakit" tangan Louis masih dengan konstan mengusap lembut pucuk kepala ku, seakan ingin menenangkan hati ku yang masih saja penasaran
"kenapa ke rumah sakit....? ada saudara yang sakit.....?" aku bertanya dengan sedikit khawatir, ada perasaan tidak suka saat mendengar kata rumah sakit, bukan karena aku membenci rumah sakit, tapi pengalaman sebelumnya membuat ku tidak ingin kembali ke rumah sakit dalam waktu dekat ini. mungkin trauma.....?
"tidak ada, tapi Zu butuh untuk check up, tadi Altey berpesan untuk membawa Zu ke rumah sakit, untuk memastikan"
tatapan lembut Louis membuat ku hampir mengira jika saat ini Louis tengah memohon agar aku mau untuk pergi ke rumah sakit
"bisa Zu tidak pergi....? Zu tidak terlalu suka rumah sakit, boleh.....?" aku menatap Louis dengan puppy eyes andalan ku, berharap jika Louis akan luluh
"no, kita butuh memastikan jika Zu baik-baik saja, dan jika hasilnya bagus besok pagi kita akan kembali ke pulau, ok....?"
sepertinya negosiasi kali ini akan sedikit lebih panjang dari biasanya
"gimana kalau check up nya di rumah Daddy saja.....? atau di tempat lain, penginapan mungkin....?"
aku kembali menawar
"please" aku mengambil tangan Louis yang masih setia di pucuk kepala ku dan menggenggamnya dengan lembut
"tidak bisa, di rumah alatnya tidak selengkap rumah sakit, bersabar ok, hanya untuk malam ini, kalau kondisi Zu baik-baik saja, besok kita pulang, ok....?"
"Elio Bagaimana.....? tidak baik loh bawa baby ke rumah sakit, banyak virus, kuman bakteri yang bertebaran, apalagi tadi di berita ada virus baru. kan kasian Elio"
aku tidak sedang berbohong atau beralibi dengan mengatas namakan Elio, tapi saat ini kondisi rumah sakit sedikit tidak terlalu kondusif untuk anak-anak
"kita bisa panggil salah satu bodyguard Daddy untuk menjemput Elio, atau Leo"
mau tak mau pada akhirnya aku harus bersabar untuk mengunjungi rumah sakit sekali lagi, atau perdebatan ini tidak akan pernah berakhir,aku tau Louis akan mematahkan setiap alibi yang akan aku sampaikan.
haruskan ku ucapkan "hello again" untuk kasur rumah sakit
aku membuang nafas dengan berat sebelum menatap Louis dengan bibir yang ku tekuk siap untuk menangis
"maaf Albi, tapi kita harus pergi"
setelah mengatakan hal itu dan memberi ku pelukan singkat Louis merogoh saku celananya jasnya dan mengeluarkan benda pipih pemangkas jarak yang paling efektif.
sambungan dengan cepat terhubung pada seseorang di sebrang sana yang ternyata adalah Leo
aku menunggu dengan sabar, kembali melirik pada kerumunan di belakang ku yang semakin padat dengan muda mudi yang mulai menikmati pertunjukan musik yang mengalun saling bersautan, dan anehnya walau dengan alat musik yang berbeda dan tempat yang sedikit berjarak antara satu musisi dengan musisi yang lain irama yang mereka hasilkan malah sangat harmonis
gemerlap kehidupan malam
yang semakin menghanyutkan jiwa yang tengah terombang ambing dalam kebingungan, jiwa-jiwa yang mencari kebahagiaan semu. kebahagiaan fana yang tidak akan pernah memuaskan dahaga mereka yang tengah menjerit mencari makna bahagia sejati
...*****...
...*...
...*...
...*...
...~*TBC*~...