Thaha

Thaha
Elio Still a Baby



...~**🐣**~...


...**...


...*...


Satu jam berlalu dari saat Elio pergi bersama ibu untuk menjenguk kak Diaz, aku masih setia berbicara dengan Louis. walaupun pada kenyataanya tidak sepenuhnya berbincang lebih kepada aku yang bercerita tentang keseharian ku dengan Elio, tentang keluarga ku dan kondisi Surabaya saat ini, walau yang terakhir aku sangat yakin jika Louis sudah mengetahui melalui laporan Sam. intinya Louis yang mendengarkan dan aku yang bercerita


"by, Zu mau tanya dong....?" ada satu hal yang membuat ku tergelitik untuk bertanya, bukannya apa, sebelum kejadian Louis yang menculik ku ke Itali, Louis sangat ingin untuk pindah dan tinggal di rumah milik Louis yang terletak di area perumahan. perumahan tempat dimana kampus yang sering ku gunakan untuk mengisi kajian. tempat pertama kali aku berjumpa dengan Louis.


"eemm, tanya apa.....?" Louis kembali mengalihkan fokusnya yang semula masih sibuk dengan beberapa berkas


"kenapa kamar Zu di rombak, ibu bilang Hubby yang minta....? kan kamar yang sebelumnya masih bagus" bukannya aku tidak menyukai kamar ku yang sekarang, hanya saja aku merasa tidak terlalu perlu untuk merombak semuanya, cukup menambah beberapa perabotan untuk Elio. kurasa itu sudah cukup


"Zu tidak suka...? kalau tidak suka nanti biar Sam cari desain interior yang lebih cocok untuk Zu" bukannya menjawab pertanyaan ku, Louis malah menawarkan untuk di lakukan perombakan yang baru lagi, ini bapak suami memang tidak peka


"bukan tidak suka, Zu suka, cuma kan sayang duitnya"


"tidak apa, agar Zu dan Elio bisa lebih nyaman, in sya Allah kalau hanya untuk itu Alhamdulillah uangnya ada. dan nanti kalau kita pulang kesana tidak perlu membawa barang terlalu banyak"


Louis mengatakan dengan sangat santai seakan itu bukan masalah besar, memang bukan masalah besar, atau mungkin aku saja yang masih belum terbiasa dengan cara pandang Louis....?


"ada yang Zu tidak suka dengan desain atau warnanya....?"


"tidak, Zu suka, tidak masalah dengan warna apapun asal Hubby yang pilihkan"


ya Allah, keluarkan gombalannya, mau bilang apa lagi coba, mau bilang tidak suka, bisa-bisa besok pak tukang sudah menunggu di depan rumah


"gombal banget"


"sama suami sendiri ini, nggak papa dong, ini namanya gombal halal...."


Louis hanya senyum kecil menampakkan sudut bibirnya yang berkedut malu-malu


"Hubby....." aku sudah ingin menanyakan kapan kiranya Louis bisa pulang ke Indonesia, saat telinga ku mendengar suara tangis Elio yang menggema mendekati kamar


"kenapa....?" Louis sudah siap mendengarkan pertanyaan selanjutnya, terbukti dengan tangannya yang memegang pulpen kembali terhenti saat menggores sebuah kertas


"sebentar by, anaknya nangis...."


aku beranjak dari atas kasur mengabaikan pertanyaan Louis yang menanyakan apakah Elio sudah pulang....?


tidak apa-apa kan meninggalkan suami seperti itu...?


hanya sebentar, dari pada anaknya makin heboh, tidak lucu nanti jika tetangga sampai datang kerena suara Elio yang menggelegar


"Mommy....." Elio merentangkan kedua tangannya saat tatapannya melihat kearah ku


dengan cepat aku menyambutnya dan membawa Elio dalam dekapan ku


"kenapa sayang......?" aku bertanya seraya menghapus air matanya yang berlinang


"Mommy....." Elio tak mengatakan apapun kecuali memanggil ku dengan tangis yang tambah membahana


tangannya memeluk leher ku dengan kepala yang bersembunyi di ceruk leher ku


"iya, Mommy disini, what happen....? what do you want baby....? wanna sleep....?"


(......ada apa....? Elio mau apa ...? mau bobok....?)


aku mencoba menawarkan, kadang anak hanya menginginkan perhatian tapi tidak mampu menjelaskannya


itu menurut buku yang ku baca dan juga mencoba mencontoh bagaimana ibu menangani Absyar dulu


Elio masih diam


"Elio kenapa dek....?" aku bertanya pada Absyar ang yang kini tengah duduk di sofa bersama ibu


"nggak tau juga kakak, tadi waktu pulang baik-baik aja, eh pas sampai depan pintu malah nangis kejer"


Absyar juga tampak kebingungan dengan sikap Elio yang tiba-tiba menangis


tangan ku dengan segera mencoba merasakan suhu tubuhnya, takut jika Elio terserang demam


tidak panas


"tadi ibu perhatikan ya kak, Elio jadi pendiam setelah melihat bayinya mbak Diaz, biasanya kan dia cerewet tanya ini itu pas di jalan, tapi dari tadi cuma diam, dan biasanyakan dia selalu minta untuk duduk didepan pas naik motor, eh tadi waktu ibu gendong di belakang dia nurut banget, ibu kira ngantuk, taunya sampai sini malah nangis kejer" ibu yang sedang sibuk menuang minuman kedalam gelas ikut menimpali


aku sedikit heran mendengar penjelas ibu dan juga Absyar, pasalnya tidak ada yang tau penyebab menangisinya Elio yang tiba-tiba


tidak mungkin kan Elio menangis tanpa sebab.....?


"geseran dek"


belum afdhol rasanya jika tidak menjali Absyar


ya Allah, masih sempat-sempatnya untuk terfikir menjali Adek, tapi rasanya memang ada yang kurang kalau tidak menjali Absyar


'maaf ya dek'


"ya Allah kak, di sanakan ada"


"dekat ibu lebih enak"


"samping satunya kan ada kakak ku yang cantik, Abang sama Rama mana kak....?"


"kalian ini, sudah besar masih saja sering rebutan, itu anaknya di perhatiin dulu dong kak, malah ribut sama adek coba"


ibu menggeser duduknya setelah menyanyikan lagi kebangsaan emak-emak


"oe oe, maaf ya sayang, sini mommy lepas dulu masker sama jaketnya, Abang lagi ngezoom, Rama biasa lagi di ruang kerja ngitung keperluan toko"


Elio hanya menurut tanpa protes dengan tangis yang masih belum mereda


"Elio mau apa, eemmm, bilang sama Mommy, want some milk....? Mommy buatkan mau.....?"


aku menggunakan pertanyaan pamungkas yang sangat sulit untuk Elio tolak, kecuali sedang kenyang atau tengah bermain


seperti biasa saat mendengar kata "milk" mata Elio berpedar bahagia


"Mommy buatkan dulu ya" aku sudah akan beranjak menuju dapur dengan membawa Elio dalam gendongan ku


tapi anehnya tangis Elio malah makin lantang


"let me make your milk......eemm....?"


(Mommy buat susu dulu)


aku mencoba merayunya yang malah di tanggapi dengan tangis


maksudnya gimana nih....?


"mau Abys buatkan.....?" Absyar menawarkan diri


yang dibalas Elio dengan Ndak'o andalannya


"Uti buatkan mau....? Uti punya susu coklat di kulkas mau.....?"


ibu menawarkan, dan tumben ibu membolehkan untuk minum air dingin malam hari, biasanya ibu selalu nyanyi lagu kebangsaan jika melihat salah satu dari kami minum air dingin malam hari, alasannya takut gendut, tidak baik untuk kesehatan dan banyak lagi alasan lainnya


ibu beranjak menuju dapur di iringi permintaan Absyar yang juga menginginkan susu coklat dingin, yang tentu saja langsung mendapat ultimatum dari ibu


"baby mau apa....? can you tell me what do you want....?" (bisa Elio beritahu mommy Elio mau apa....?)


aku kembali bertanya, bukannya apa, jika dibiarkan seperti ini suara Elio akan habis, dan tenggorokannya akan sakit


Elio memang sangat kuat jika menangis lama


"wanna meet Daddy, Elio Miss Daddy...?"


(mau ketemu Daddy, Elio rindu Daddy....?)


ya Allah, aku lupa lagi jika meninggalkan panggilan Louis yang masih tersambung, entah bagaimana nasibnya sekarang, masih tersambung atau sudah mati


tak lama ibu datang dengan membawa dua susu dalam botol minum milik Elio, yang satu susu putih milik Elio, tentunya hangat, sedangkan yang lain susu coklat dingin seperti yang ibu janjikan. tapi dengan jumlah yang sedikit, sangat sedikit. tidak sampai seperempat dari botol. yang penting ada. tidak bohong, itu intinya.


tapi Elio malah tidak meliriknya sama sekali


"mungkin Elio ngantuk kali kak" Absyar malah dengan asik berseloroh dengan tatapan mata yang sudah fokus pada acara film yang di tontonnya


dasar si adek, malah mengambil kesempatan dalam kesempitan, padahal waktu sudah jam sembilan, coba kalau disini ada Rama atau kak Abyan pasti sudah di suruh tidur dia


akhirnya aku membawa satu botol yang berisi susu putih milik Elio menuju kamar, tentunya setelah pamit pada ibu, meninggalkan botol satunya yang berisi susu coklat, dan yang membuat ku tersenyum saat Absyar malah ingin meminumnya yang langsung mendapat pukulan mesra dari ibu, di tambah bonus lagu kebangsaan karena adek yang malah asik menonton film padahal waktu sudah menunjukkan jam sembilan lebih


kegaduhan di ruang keluarga hari ini berakhir dengan aku dan Absyar yang sama-sama beranjak menuju kamar, sedangkan ibu, membawa botol susu coklat yang tak tersentuh menuju dapur


...~**TBC**~...


...**...


...*...