
...~**🌪️**~...
...**...
...*...
matahari tidak terlalu jauh meninggalkan tempat peraduannya semalam, saat Sam datang untuk menjemput ku dan juga ibu, dia datang dengan seorang wanita yang ternyata adalah asistennya. seorang sekretaris memiliki asisten....? aku tidak paham bagaimana konsepnya, tapi yang aku tahu memang demikian, saat dia memperkenalkan diri
Maida adalah gadis yang cekatan, dia tidak se-kaku Sam, tapi juga tidak se-ramah dokter Azura, Maida lebih pendiam tapi sangat gesit dalam menangani situasi
saat ini Sam tengah mengurus administrasi untuk bisa KRS (keluar rumah sakit) hari ini
ibu bersama Maida mengemasi beberapa barang, sedangkan aku menyempatkan diri untuk menghubungi Louis, namun sayangnya kembali tak mendapat jawaban, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Elisa. lumayan hanya sekedar untuk membunuh waktu
tak butuh waktu lama saat sambungan sudah terhubung, Elisa langsung mengangkatnya pada deringan ke tiga
"hi, Zu...?" suara Elisa terdengar ceria dan bersemangat
"Hi, how are you....?"
(hi, apa kabar....?)
"good, how's there...?"
(baik, bagaimana keadaan disana....?)
"not bad, I'm getting ready to discharge"
(tidak terlalu buruk, sekarang aku tengah bersiap untuk keluar dari rumah sakit)
"that's good, pleased to hear it, how's Elio....? is he being a good boy.....?"
(itu bagus, senang mendengarnya, bagaimana dengan Elio, apa dia menjadi anak baik....?)
"of course he is, eeemmm Elisa, do you know where Louis is....?"
(tentu saja, eemm Elisa apakah kamu mengetahui dimana Louis berada....?)
walau aku hanya mengetahui kabar Elio dari ibu, aku sangat yakin jika baby gembul ku saat ini sedang dalam kondisi baik-baik saja
"Louis, he's..." Elisa suda hendak menunjuk pada lantai dua, saat suara Louis yang saling bersautan dengan suara Daddy menggema hingga aku mampu mendengarnya dengan sangat jelas
beruntung mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris, walau sesekali menggunakan bahasa Italia, dan saat mereka menggunakan bahasa itu, tentu aku tidak akan memahaminya
aku dengan jelas dapat mendengar bagaimana keras kepalanya Louis yang memaksa untuk pulang ke Indonesia, tapi Daddy mencegahnya
bukan karena Daddy ingin menahan Louis lebih lama di Italia, tapi jika Louis pulang saat ini, situasinya akan sangat merugikan bagi Louis
"You can't, you will be banned if you force your way into Indonesia this time. Non fate nulla di stupido!!"
(tidak, kamu akan di blacklist jika memaksa masuk ke Indonesia, di situasi saat ini. Jangan lakukan hal bodoh)
aku hanya memahami sebagian dari percakapan mereka sedangkan sisanya, aku menyerah
"but, Zu and Elio need me, Dad"
(tapi, Zu dan Elio membutuhkan ku, Dad)
"Non fare lo stupido e cerca di capire. E quello stupido gioco che loro facevano l'altra sera. calm down ok...?"
(Jangan terlalu bodoh.Cobalah untuk mengerti. Hanya permainan bodoh yang mereka mainkan tadi malam. tenang ok...?)
aku tidak tau apa yang sedang terjadi di sana, tapi yang pasti, kondisi mereka yang tampak tenang tak mampu menggambarkan situasi sesungguhnya dari kondisi yang ada
saat aku mendengar suara Louis yang sedikit bergetar, aku bisa menyimpulkan jika Louis saat ini tengah takut, marah dan juga jengkel.
aku tak bisa mengetahui keadaan Louis lebih lanjut saat Luca datang dan meminta Elisa untuk mematikan sambungan, aku sangat paham dengan situasi saat ini, yang sangat tidak mendukung untuk ku dan juga Louis. atau bahkan untuk keluarga Ferrero. mengingat kejadian-kejadian belakangan yang membayangi kami bagai mimpi buruk yang saling bersusulan
"Zu, sudah siap....?" suara ibu menyadarkan ku dari lamunan dan menarik kesadaran ku yang sempat berkelana mencoba menggapai dia yang tengah tidak baik-baik saja disana
"sudah"
Mai masuk di susul Sam dan seorang perawat, untuk memeriksa kelengkapan dokumen dan juga melepas setiap peralatan medis yang melekat pada tubuh ku
perjalanan terasa lenggang tidak sepadat hari-hari biasa, entah kerena kondisi Surabaya yang tengah PPKM atau karena banyak dari kantor dan sekolah yang mulai libur....?
saat aku kembali memiliki benda pipih canggih yang di gandrungi oleh semua penduduk bumi yang memiliki akal, membuat ku tidak terlalu tertinggal banyak informasi, bahkan dengan perlahan aku kembali bisa menghubungi teman-teman kajian, sudah terlalu lama rasanya aku tidak berkumpul dengan mereka
rindu....?
jangan di tanya
aku sangat merindukan saat-saat berkumpul di taman-taman surga dengan teman-teman yang Sholehah
menyampaikan Islam dan sharing dengan teman-teman baru
lama bernostalgia membuat ku tidak sadar jika kami kini tengah memasuki pekarangan rumah
ibu turun lebih dulu yang di susul Mai untuk membantu ku turun, padahal aku sudah baik-baik saja
aku belum melihat keberadaan Rama dan yang lainnya, saat ibu tengah membuka pintu rumah, hal pertama yang tersaji di depan ku adalah Elio yang berlari dengan tubuh tertutup handuk sambil berteriak "Ndak'O, Abys.... aaaaa... Ndak'o" sedang di belakangnya ada Absyar yang tengah menenteng baju Elio
sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan.....?
"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" ibu bahkan harus mengulang salam hingga tiga kali, baru kedua orang beda usia yang saling berkejaran itu berhenti
saat Elio menatap kearah ku, dia berteriak lantang dan memutar arah berlari kearah ku
" Mommmmmmyyyyyy"
"don't run, baby" aku menyambutnya yang tengah merentangkan kedua tangan mungilnya melepas handuk yang semula menutup tubuhnya, hingga hanya menyisakan Pampers dengan gambar singa di bagian depan
astagfirullah
dengan pelan aku membawa tubuh gempal Elio dalam gendongan ku, tapi aku tidak mungkin tidak menggendongnya. walau sempat mendapat protes dari Absyar
"Mommy, Ndak'o" kembali Elio mengulang kata itu beberapa kali, apalagi saat melihat Absyar yang berjalan semakin dekat kearah kami
"Ndak'o, Ndak'o, Mommy Ndak'o" kepala Elio menggeleng ribut dan mencoba menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ku
Ndak'o.....?
apa maksudnya
Ndak....? tidak....? lalu O-nya....?
"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, Rama, Abang. kakak sudah datang" Absyar mencium tangan ibu bergantian dengan tangan ku, dan melipat kedua tangannya saat memberi salam pada Mai
"dek, kenapa Elio sering bilang, Ndak'o....? apa maksudnya....?" aku bertanya hanya untuk memastikan
ekor mataku menangkap gambaran Rama dan juga kak Abyan yang masuk area ruang tamu, sedangkan disisi lain aku masih menunggu penjelasan Absyar
"itu loh kak, kemaren kan Elio nangis terus. mau ketemu kak Zu, jadinya adek bawa jalan-jalan ke taman kompleks, terus waktu kita lagi jajan, ada pelanggan yang waktu di tanya sama penjualnya selalu menjawab Ndak'o saat tidak mau. eh waktu sampai rumah malah Elio selalu bilang Ndak'o Ndak'o"
aku menggeleng takjub. saat Rama sudah dekat aku mencium tangan Rama bergantian dengan kak Abyan. begitupun dengan ibu
"Zu sehat...?" kak Abyan bertanya lebih dulu
"Alhamdulillah, Zu sudah lebih baik kak"
"duduk dulu nak Mai" ibu meminta Mai untuk setidaknya minum dulu sebelum pamit, sedangkan aku pamit menuju kamar untuk memakaikan Elio baju yang di ikuti oleh Absyar
sedangkan Rama dan kak Abyan kembali ke dapur untuk melanjutkan masakan yang sempat mereka tinggal
entah masakan seperti apa yang mereka buat, aku hanya berharap semoga bisa dimakan, bukannya apa, Rama dan kak Abyan seperti bermusuhan dengan dapur dan kompor, setidak bisa-tidak bisanya orang memasak pasti mereka bisa masak mie, sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Rama dan kak Abyan, kalau tidak gosong, mie-nya akan sangat lembek atau bahkan setengah matang. bagian bawah matang, bagian atasnya mentah
intinya mereka tidak bisa masak. atau mungkin bisa. masak air!
...~**TBC**~...
...**...
...*...