Thaha

Thaha
hujan pembawa rindu



...*****...


...*...


...**...


tidak lama waktu berselang setelah Louis menutup panggilan, sosok pemuda tampan yang memiliki garis wajah mirip dengan Louis berjalan mendekat kearah kami, entah mengapa aku merasa saat Leo keluar dari mobil tadi aku seakan melihat pemeran utama dalam drama-drama romantis yang pernah beberapa kali ku tonton


mobil sport yang hanya bisa di tumpangi 2 orang dengan pintu yang membuka keatas bukan lagi ke samping, stelan tuxedo yang telah kehilangan dasi dan dua kancing atas kemeja yang sudah di lepas, rambut yang sedikit acak-acakan di dukung dengan tampilan tinggi semampai dan berat badan proporsional. tentu akan membuat orang yang berlalu lalang menoleh dua kali.


pria idaman yang sengaja di tampakkan oleh peradaban saat ini, dimana segala sesuatunya di ukur dengan segala bentuk kenikmatan jasadiyah semata, di ukur dengan kenikmatan fisik, kenikmatan materi, akhlak tidak lagi menjadi tolak ukur, apalagi agama.


bukankah di dalam Islam akhlak dan agama menjadi tolak ukur utama saat kita mencari pasangan hidup....?


ketampanan, harta kekayaan, kedudukan sosial dan nasab menjadi urutan kesekian


bukannya tidak boleh menikahi seseorang karena rupa, boleh-boleh saja, bahkan jika itu adalah hal yang membuat kita untuk condong atau suka dengan seseorang sebagai pemanis dalam rumah tangga, itu tidak menjadi masalah.


bukankah kita saat mau menikah harus tau dulu dengan calon kita, waktu nadhor atau melihat calon pasangan agar tidak seperti membeli kucing dalam karung.


tetapi hal itu dipilih setelah kita memastikan jika pilihan kita akhlak dan agamanya baik. bukankah begitu....?


tak heran Renata sangat menggilai Leo, tapi sayang setampan apapun Leo dia tidak akan bisa menggeser posisi Louis sebagai seorang yang paling tampan setelah Rama, maaf saja Louis masih di urutan kedua setelah menggeser posisi kak Abyan dan Absyar di urutan sebelumnya, belum lagi masih ada si gemoy Elio. mungkin Leo akan menjadi orang kesekian di antara deretan panjang orang-orang yang mendapat predikat tampan di hati ku


"Assalamualaikum" Leo menyapa lebih dulu


"wa'alaikum salam warohmatullah" aku dan Louis menjawab bersamaan


"so....?" Leo bertanya pada Louis yang tengah mencoba melepas lilitan tangan Elio pada lehernya


"can you help me to look after Elio tonight...?"


(bisakah kamu membantuku untuk menjaga Elio malam ini?)


Louis masih mencoba menenangkan Elio yang tengah bergerak gelisah saat Louis mencoba melepaskan tangannya dari leher Louis, tangan Louis dengan lembut kembali mengusap punggung mungil Elio, melihat hal itu tangan ku dengan spontan mengelus tangan Elio yang berjarak dekat dengan tempat ku berdiri di samping Louis


"ok, where are you guys going, what if he cries and looking for you...?"


(ok, memangnya kalian akan pergi kemana, bagaimana jika dia menangis dan mencari mu....?)


"I need to take Zu to the hospital for check up"


(aku harus membawa Zu ke rumah sakit untuk periksa)


"check up....? at night....? are you kidding me ? Which hospital...? "


(periksa? malam hari? kamu bercanda? rumah sakit mana?)


Leo seperti tidak percaya dengan perkataan Louis, lagipula mana ada orang yang akan percaya jika kita akan pergi untuk melakukan pemeriksaan di malam hari....? tanpa ada kondisi darurat....? aku bahkan saat ini tengah berdiri tepat di depan Leo dengan kondisi tidak kurang suatu apapun


jadi wajar jika Leo tidak percaya


"bener, kita tidak sedang bercanda, kak Zu butuh untuk check up setelah tadi sempat drop waktu di pesawat" kali ini aku yang menjawab pertanyaan Leo


dan setelah aku mengatakan hal tersebut, aku tidak lagi melihat tatapan Leo yang sempat melihat Louis dengan tatapan curiga beberapa saat yang lalu


"your hands" Louis meminta Leo untuk membuka tangannya untuk memindahkan Elio dalam dekapan Leo


"kita akan ke rumah sakitnya Lucas" Louis melanjutkan dan dengan pelan memindahkan Elio ke dalam dekapan Leo


si gemoy Elio bergerak gelisah dalam dekapan Leo sebelum dengan perlahan dia membuka mata dan menatap pada Leo


saat Elio menyadari jika yang berada di depannya bukan lagi Louis dia mulai bergerak gelisah dan perlahan terdengar suara tangis yang lirih sebelum kemudian bertambah lantang


"Mo...mm...my... wuaaaaa, Mommy, Mommy, uuuuaaaa"


"bab...." gerakan ku yang hendak merengkuh Elio terhalang oleh tangan Louis yang mencoba menahan tangan ku


aku awalnya berfikir jika Louis akan kembali menggendong Elio,akan tetapi dia malah menarik tangan ku untuk sedikit menjauh dan menghindar dari pandangan Elio


awalnya aku sedikit bingung, namun saat melihat gelengan lembur dari Louis aku menjadi paham, jika Louis ingin melihat dulu apakah Elio akan tenang setelah beberapa saat atau masih tetap menangis


"noooooo, Mommy, uuuuaaaa i want Mommy, nooo lele,.....noooo..... Mommy"


Elio masih menangis dan mencoba menjauhkan wajah Leo dengan mendorong tangan mungilnya sekuat tenaga, tubuhnya bergerak dengan gelisah meminta Leo menurunkannya


"ok, i call your Mommy, Don't cry ok"


(ok, aku telfon Mommy mu, jangan menangis, ok)


Leo dengan susah paya mencoba memegang Elio yang tengah menangis dan menggeliat dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya mencoba menghubungi seseorang yang entah siapa?


"hello Elisa,....... oh God!, Elio!!!... astaghfirullah "


Leo terpaksa menghentikan perkataannya saat hp yang semula ada di antara telinga dan pundaknya harus terpental dan berakhir mengenaskan di atas lantai, dengan suara Elisa yang terdengar samar-samar memanggil nama Leo dan menanyakan apakah Leo baik-baik saja


" nooo Mommy....nooo.... Mommy, i want Mommy aaaa Mommy uuuuaaaa"


Elio tetap menangis dan membuat Leo semakin kelimpungan


"astaghfirullah, Elio I am trying to call your Mommy, and you smash my phone, hold on!"


(astagfirullah, Elio, aku sedang mencoba untuk menghubungi ibu mu, dan kamu malah menepis ponsel ku, sebentar!)


Leo kini tengah berjuang untuk menyelamatkan hp nya yang tergeletak dengan mengenaskan dan mencoba mengambilnya dengan satu tangan


"no Mommy Eli, Mommy..uuuuuaaaa.... Mommy......"


"hello Leo..... Leo...,"


"what happen....?"


suara Elisa yang terdengar dari sebrang tergantikan oleh suara samar Luca yang bertanya pada Elisa di sebrang sana


"by...." aku kembali memanggil Louis dan menggerakkan tangannya dengan pelan, berharap Louis mau mengizinkan ku untuk menenangkan Elio


"hi baby, it's ok, Don't cry, Mommy's here"


(hi, sayang, tidak apa-apa, jangan menangis, Mommy di sini)


dan saat aku melihat anggukan samar dari Louis dengan cepat aku mendekat pada Elio dan merengkuhnya dalam dekapan ku, awalnya Elio menolak namun saat melihat jika itu adalah aku, dia dengan cepat berpindah memeluk ku


"Mommy.... uuuuaaaa Mommy uuuuaaaa"


"it's ok baby Mommy's here Don't cry ok"


(Tidak apa-apa sayang, Mommy disini jangan menangis ok)


tangan ku dengan konstan memberi usapan lembut pada punggung Elio, mencoba mendekapnya senyaman mungkin


Elio tak lagi memberontak, ia menyandarkan kepalanya di pundak ku dan dengan tangan yang membelit leher ku


selang beberapa waktu, dia tak lagi menangis kencang, hanya menyisakan tangisan lirih yang berganti dengan segukan pelan


" my phone....." ujung mata ku melirik pada Leo yang menimang hp nya dengan tatapan sedih, hal itu terlihat sedikit lucu bagi ku, bukannya apa, ekspresi nya saat ini betul-betul tidak cocok dengan perawakannya yang tinggi besar, sangat-sangat kontras


"hello brother, sorry. your son smash my phone, so I can't hear your, oh by the way, can you give me a new one...? i think it's broken"


(helo kak, maaf. putramu baru saja menepis ponsel ku, jadi aku tidak bisa mendengar mu, oh ngomong-ngomong, bisakah kamu membelikan ku ponsel baru? aku pikir ini rusak)


..................


"it's ok, Elio's fine"


(tidak apa-apa, Elio baik-baik saja)


................


"he sleep just now and wake up, but now, he's fine"


(dia baru saja tidur dan terbangun, tapi sekarang sudah baik-baik saja)


.................


"it's ok, just take your time, and anjoy"


(tidak apa-apa, nikmati waktu mu dan bersenang-senang lah)


........…..........


"oh, Don't forget to send me my new phone. ok. ok ......bye"


(dan jangan lupa kirimkan telfon baruku. ok ok ......dada)


Leo mengakhiri panggilannya dan berbalik menghadap Louis


"if, i am not your own brother, i Will think that he was your son, i mean, your biological son, you know, he's more love you guys, than........."


(jika kamu bukan kakak kandung ku, aku akan mengira jika Elio adalah anak mu, maksudku anak kandung mu, Elio lebih dekat dengan kalian, daripada.....)


"Leo...." suara tegas Louis terdengar sedikit mengerikan di telinga ku, karena jarang sekali aku mendengar Louis menggunakan nada seperti itu


"ok, ok...."


Leo mengangkat tangan tanda menyerah sebelum kemudian berpamitan untuk pulang dan meninggalkan kami bertiga


tapi jika di pikir lagi, apa iya Elio lebih dekat dengan kami.....?


...*****...


...*...


...**...


...~*TBC*~...