
aku dan Louis tengah duduk di salah satu restoran mewah dan berkelas yang ada di tengah kota, lalu lalang para pengunjung tampak lenggang dan teratur, tidak seperti toko pinggir jalan langganan ku yang selalu ramai oleh pelanggan, di samping makanannya yang enak, harga yang murah menjadi pertimbangan lain bagi para pembeli untuk berkunjung ke tempat itu
aku yakin yang datang ketempat ini adalah orang-orang berduit yang memiliki kelebihan uang yang lebih dari cukup untuk membeli makan siang dengan harga yang tak masuk akal
ibarat kata mereka makan sekali saja harganya sama dengan makanan anak kost selama sebulan penuh atau bahkan masih sisa banyak
pemandangan dari kemewahan tempat ini bagai angin lalu yang melintas tanpa makna, bagaimana bisa aku menikmati atau mengagumi keindahan yang sangat luar biasa ini jika benak ku di penuhi dengan setiap kata yang berdesakan satu sama lain hingga membuat ku bingung bagaimana aku akan mengatakannya pada Louis nanti....?
aku mencoba memupuk keberanian yang tampak layu dan bersembunyi di balik laci yang tersimpan di sudut benak ku
sebelum aku membuka pembicaraan sembari menunggu pesanan kami datang, aku melirik pada Louis yang tengah sibuk mengotak atik smartphone nya dengan ekor mata ku, tangan ku meremas tas selempang kecil yang memuat semua barang-barang kesayangan ku, aku memang sudah menyiapkan semuanya, lagi pula barang yang harus ku bawa tidaklah banyak, hanya tas Selempang kecil dengan barang yang memang sudah ada di dalamnya, tidak ada satupun barang di rumah itu yang aku bawa, aku tidak mengambil sesuatu yang bukan milik ku, walau ada satu hal yang akan menjadi "bukan milik ku" sebentar lagi yang ku coba simpan rapat, aku tau aku salah menyimpan nama Louis dan menguncinya di hati ku, mau bagaimanapun sebentar lagi dia tak lagi halal bagi cinta ku untuk mendekapnya di balik selubung rasa yang bersemayam di dalam lubuk hati ku
seorang pelayan datang menghidangkan pesanan kami, tentu saja Louis yang memesannya tidak mungkin aku kan...?
"Buon appetito" dia mengucapkan kata itu yang di balas Louis dengan kata "Grazie" sebelum dia beranjak dari tempat kami duduk
walau aku tidak bisa berbicara bahasa Itali sepertinya aku mampu menebak apa arti dari kata tersebut, dia mempersilahkan kami untuk menikmati hidangannya, bukan begitu....? seperti yang biasa dilakukan oleh pramusaji kebanyakan, mungkin ini yang dinamakan 'memahami bahasa perlu kebiasaan'
"butuh bantuan.....?" Louis sudah hendak beranjak untuk menggeser kursinya mendekat ke arah ku, tapi aku menolaknya dengan halus melalui gelengan kepala
aku masih bisa makan dengan cukup baik jika menu yang ku hadapi adalah spaghetti, mungkin akan berbeda jika menu yang tersaji adalah daging steak yang harus menggunakan pisau dan garpu untuk memakannya, kadang aku bingung dengan kebanyakan orang yang makan harus dengan bantuan garpu, pisau atau sendok, padahal Allah sudah memberikan tangan yang multifungsi untuk membantu kita menyantap hidangan, bukankah makan dengan tangan rasanya lebih enak....?
aku tersenyum saat Louis menatap ku dengan khawatir....? mungkin dia takut aku akan bertingkah seperti semalam saat kami makan bersama keluarganya.....? atau mungkin yang lain....? entahlah
'apakah cara makan ku semalam semengerikan itu....?' aku membatin dalam hati
walau hati ku terasa bagai di siram air lemon tanpa gula, ku paksakan bibir ku tersenyum dalam diam, membiarkannya menatap ku dengan setiap pemikiran yang bergelung dalam benaknya, dengan santai aku menyantap suapan spaghetti di hadapan ku, hingga getaran dari benda pipih yang ia letakkan di sampingnya menarik perhatian ku, Louis mengangkatnya dan berbicara dengan orang yang berada di sebrang sana dengan menggunakan bahasa Italia seperti biasa
ya Allah aku seperti batita yang belum bisa berbicara, bahkan Elio saja bisa memahami mereka dengan sangat baik
tanpa sadar aku membuang nafas dengan sangat pelan, mencoba menghalau rasa yang membuat dada ku sedikit sesak
"Zu, kita ke rumah sakit sekarang ya.....?, Elio masuk rumah sakit, dia jatuh saat mencari kita" Louis mengatakan hal itu dengan pelan dan hati-hati, seakan dia berusaha keras untuk menjaga perasaan ku
aku bukan merasa keberatan jika kita harus menghentikan apa yang aku katakan pada Louis saat mengajaknya ke kota, seperti makan, melihat betapa indahnya kota ini dan banyak hal yang kami rencanakan sebelumnya, walau hati ku berat untuk memutus keinginan ku yang berharap dapat mengulur waktu lebih lama untuk bersamanya sebelum aku pergi meninggalkannya di kota ini bersama cinta Dan kenangan indah yang coba ku rangkai
dari kejadian ini aku semakin menyadari, betapa manusia hanya bisa berusaha, dan merencanakan segala sesuatu dengan baik, tapi dia bukanlah penentu akhirnya, akan ada kejutan takdir yang selalu menanti di tengah perjalanan panjangnya
dan itu yang membuat dunia terasa indah, bukan begitu....?
mengingat hal itu di benak ku membuat hati ku lebih ikhlas dalam menjalani setiap tapak kehidupan dengan selalu bertawakal kepada Allah dalam setiap ikhtiar dan usaha yang tengah ku jalani
aku memberanikan diri untuk menggenggam tangannya dalam rengkuhan tangan ku sembari menguatkan hati ku jika inilah saatnya, untuk melepas semua rasa yang merantai dada dengan sangat kencang, dan belajar melepas rasa manis yang hadir di hati bersama kehadiran Louis
"boleh Zu bicara sebentar, hanya sebentar, setelah itu, silahkan jika ingin pergi, Zu tidak akan menghalangi" dengan nada lembut dan hati-hati aku memulai, tak ingin membuatnya mengenang kenangan buruk tentang aku untuk yang terakhir kalinya
"boleh.....?" aku kembali meminta, walau sebenarnya aku tau jika Louis sangat ingin menemui Elio saat ini
'ya Allah maaf kan Zu, bukannya Zu ingin menghalangi Louis untuk melakukan tanggung jawabnya, Zu justru ingin mengurangi beban tanggung jawab Louis dan mengembalikan kebahagiaan keluarga kecilnya' aku merapal do'a dalam hati, meminta keteguhan hati pada dzat yang memegang hati ku
"Zu, kenapa....? apa tidak bisa dibicarakan nanti....?" aku dengan jelas dapat merasakan kegelisahan di raut wajahnya, mungkin dia khawatir dengan keadaan Elio, orang tua mana yang tidak khawatir jika buah hatinya sedang sakit.....?
"tidak bisa, Zu mau bicara penting, hanya sebentar, Zu janji tidak lama" aku membuang nafas pelan sebelum memulai, mungkin ini akan sedikit mengejutkannya, tapi aku juga yakin dia akan dengan mudah menanganinya
"eeemmmm,.....Louis, boleh Zu minta Louis untuk melepaskan Zu....?" aku pikir saat mengatakannya tidak akan sesakit ini, tapi nyatanya sangat menyakitkan, aku bahkan harus berusaha keras untuk membuat suara ku tetap stabil dan air mata ku tetap tertahan di balik kelopak mata ku
diam
dia diam
sunyi yang menyapa membawa angin dingin yang membuat ku merinding dan pendingin ruangan memperburuk keadaan, aku tidak terlalu suka kesunyian yang menyelimuti kami saat ini
aku melirik pada Louis yang terdiam mematung, menatap ku dengan tajam dengan mata elangnya yang membulat sempurna, tangannya terasa mengencang dan kaku di bawah telapak tangan ku, seakan dia mencoba menahan setiap rasa yang siap meledak saat ini juga
aku mendengar hembusan nafas berat yang berhembus samar bersamaan dengan tangan Louis yang mulai rileks di bawah telapak tangan ku
" apa Zu sadar dengan apa yang Zu katakan.....?" suaranya dingin dan menusuk, aku bahkan bergidik ngeri saat mendengarnya, belum pernah aku mendengar Louis yang berbicara sedingin itu pada ku
aku sudah menyiapkan hati ku dengan apapun kemungkinan yang akan terjadi hari ini, apapun!, aku sudah bersiap menanggungnya, bahkan saat kemungkinan terburuknya adalah Louis meninggalkan ku di tempat ini, aku berharap saat itu datang aku lebih kuat dari perkiraan ku
"Zu, aku tidak pernah berfikir, kata itu akan keluar dari bibir Zu sampai ajal datang menjemput, tapi hari ini aku mendengarnya dengan sangat tiba-tiba, boleh tau apa alasannya....?"
yang paling aku benci dari sikap dan kemampuan dasar laki-laki adalah, mereka mahluk Allah yang sudah Allah sertakan qadar logis di atas wanita, dan aku benci saat harus mengatakan alasannya, karena apa.....? karena aku harus mengingat bahwa aku adalah alasan dari hati wanita dan seorang anak kecil yang terluka
"Zu, hanya tidak bisa berada di posisi ini, Zu sudah mencoba, tapi Zu tidak bisa, ini terlalu sulit" aku sudah berusaha keras untuk membuat suara ku tidak bergetar, namun sayangnya gagal, aku bahkan dapat merasakan bening embun yang menutupi pandangan ku saat ini
"apa yang terlalu sulit....? karena keluarga ku berbeda keyakinan dengan kita....?"
aku tau Louis tengah berusaha untuk tenang, dan aku bersyukur untuk itu
"no" aku menggigit bibir ku dengan kuat, dan berusaha dengan keras untuk tidak menutup mata ku yang sebentar lagi akan mengeluarkan air mata
"kekayaan Daddy.....?" dia kembali bertanya dengan suara pelan, namun aku dengan jelas dapat mendengar nada kebingungan yang kental
"atau sikap ku yang dingin....?" dengan jelas aku mendengar suaranya yang terbata-bata walau dia mengatakannya dengan suara yang lirih, apa Louis takut jika aku meminta berpisah dengannya dikarenakan sikapnya yang kaku dan cuek.....?
aku hampir mengukir senyum dalam tangis ku saat aku memikirkan ketakutan Louis tentang itu
aku sudah tidak lagi sanggup menjawabnya, pipi ku sudah memanas, bahkan air mata ku sudah berada di ujung peluk mata, satu kedipan saja aku yakin air mata itu akan meluncur dengan bebas, jadi ku putuskan untuk menggelengkan kepala ku dengan pelan
"so why.....? tell. me. why....?" Louis menekan setiap kata yang dia ucapkan seakan menyalurkan rasa sesak di dadanya dalam setiap kata itu
"Zu tau poligami di bolehkan dalam Islam, dan Zu tidak bisa melarang apa yang sudah Allah perbolehkan, tapi.....Zu tau batas Zu sampai mana, dan Zu tidak bisa, walau Zu sudah mencoba, tolong lepaskan Zu, ini terlalu menyakitkan, dan Zu tidak sanggup, Zu tidak sanggup, tolong Zu, Zu mohon" aku sudah tidak sanggup menahannya lagi, air mata ku meluncur dengan derasnya, bersamaan dengan kata-kata yang meluncur terbatah-batah dari bibir ku yang bergetar hebat
"poligami....?, Astaghfirullah, Zu darimana datangnya semua pemikiran itu Zu.....?" Louis berkata dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya, aku bahkan mendengar nafas leganya berhembus pelan
bagaimana dia malah merasa tenang saat mendengar alasan ku, apa dia menganggap itu semua hanya permasalahan kecil....?
ya Allah padahal aku sudah mencoba menahan tangis ku, dan dengan mendengar nada suara Louis yang tampak lebih tenang malah membuat air mata ku mengalir semakin deras
aku terdiam mencoba menghentikan tangis ku yang malah semakin menjadi-jadi, aku tidak berani mengeluarkan suara ku, aku yakin aku tidak akan mampu mengatakan satu katapun dengan baik saat ini
Louis membuang nafas dengan cukup keras, sebelum melanjutkan perkataannya
"kita bicarakan nanti, sekarang kita ke rumah sakit dulu, ok"
aku tidak beranjak sedikitpun dan tetap memaku di tempat duduk ku, walaupun dengan jelas aku mendengar Louis berdiri dan menggeser kursinya, mungkin dia akan pergi dan meninggalkan ku di sini....?
aku berfikir dalam benak ku, 'apakah ini tidak akan berakhir dengan damai....?'
otak ku berfikir keras tentang apa yang akan ku lakukan selanjutnya, langkah kaki Louis terdengar lebih keras di telinga ku, aku tidak mau ambil pusing lagi, apakah aku akan sendiri disini, di tinggalkan atau apapun yang akan terjadi setelah ini, biarlah, apakah ini berakhir baik atau malah akan berakhir mengerikan, terserahlah!, aku hanya harus memastikan semuanya berakhir, itu saja
"ayo kita ke rumah sakit" tangannya yang terulur mencoba menggenggam tangan ku yang berada di atas tangannya, aku tetap bergeming bahkan saat Louis menarik tangan ku dengan lembut tak sedikit pun menggoyahkan tubuh ku yang terpaku di atas kursi
"Zu ingat apa yang aku katakan saat khitbah....? pikirkan tentang itu, Zu boleh tunggu sini sampai sedikit tenang, aku tunggu di mobil, ok, don't be long, Elio's looking for you" aku merasakan sapuan lembut di pucuk kepala ku dan kecupan ringan yang Louis tanamkan di sana
aku tetap menunduk dan terdiam tanpa menanggapi
langkahnya semakin lama, semakin menjauh meninggalkan ku yang masih mencoba menenangkan hati ku yang semakin detik bertambah semakin sesak
berulangkali aku mencoba menghembuskan nafas berat mencoba menghilangkan bongkahan besar tak kasat mata yang menekan dada ku, aku semakin bingung dengan apa yang harus ku lakukan
apakah aku akan kembali bersama Louis dan melihat semua itu lagi....? pemandangan menyakitkan dari seorang anak yang mengharapkan kasih sayang lengkap dari orang tuanya, apakah aku akan setega itu....?
'ya Allah Zu tidak sanggup, bantu Zu ya Allah, Astaghfirullah' aku meratap dalam hati meminta pertolongan pada satu-satunya dzat yang mampu menolong ku dari setiap kesulitan hidup yang aku hadapi
kembali aku membuang nafas dengan keras, dan menghapus air mata ku dengan punggung tangan ku, hampir saja aku menggunakan ujung khimar ku untuk menghapus air nata ku, tapi saat ku ingat bahwa saat ini aku berada di tempat yang tidak biasa, sepertinya aku harus mengulurkan niat ku
merasa sedikit lebih tenang, aku melangkah meninggalkan tempat ku duduk dan berjalan menuju parkiran, aku akan memintanya lagi nanti, tidak, aku masih belum menyerah dengan keinginanku, aku tidak ingin rasa marah dan jengkel ini terlampiaskan pada hal yang salah, walau aku berulang kali merapal istighfar, tapi hati ku masih saja merasa kesal
langkah ku sudah semakin dekat dengan Louis yang berdiri di sebrang sana, menyandar pada kap samping mobil, sebelum sebuah mobil Van menghalangi pandangan ku dan dengan cepat seorang laki-laki keluar dari pintu penumpang, mendekap ku dengan dengan kain yang menutupi mulut dan hidung ku, aku mencoba menahan nafas dan meronta semampu ku, berteriak memanggil nama Louis dalam teriakan tertahan, tapi dengan perlahan kabut hitam menghalangi pandangan ku, dan tubuh ku perlahan-lahan kehilangan Energi
di tengah kesadaran ku yang terbatas aku coba untuk berfikir positif di tengah kepanikan yang menyerang ku
'inikah jawabannya, apakah aku akan berpisah dengan Louis dengan cara ini.....?'