
hingga jarak kami semakin dekat, sebuah bunyi nyaring yang memekakkan telinga datang memecah sunyi yang menyelimuti
dor!
"Zu"
teriakan Louis adalah hal terakhir yang mampu di tangkap oleh daun telinga ku
...******...
...*...
...*...
...*...
aku terdiam dalam keterkejutan yang membuat tubuh ku mendadak kaku, badan ku oleng seketika dan terhuyung hingga membuat tubuh ku perlahan terjengkang ke belakang dan siap menghantam tanah
Louis bergerak dengan cepat ke arah ku, tangannya terulur untuk menangkap kepala ku yang akan menghantam batu
dia mendekap ku di dadanya tepat sebelum kepala ku membentur batu dengan keras, tekanan yang cukup kuat membuat ku yakin jika tangan Louis lah yang menghantam batu itu dengan keras
dalam dekapannya yang hangat Louis mengguncang pelan tubuh ku untuk menarik kesadaran ku yang hampir tenggelam di telan kegelapan
"Zu, hi, bangun Zu"
tangannya dengan pelan menepuk pipi ku lembut, suaranya yang terdengar serak di telinga ku tak mampu membangunkan aku dari rasa lelah yang membelenggu tubuh ku
walau kesadaran ku sudah di ambang batas aku masih dapat merasakan rasa nyeri yang tajam muncul perlahan-lahan di lengan kiri ku
bau anyir cairan kental berwarna merah memenuhi indra penciuman ku dengan samar
tubuh ku lelah, terlalu lelah hanya untuk menghentikan Louis yang masih saja mengguncang tubuh ku, guncangan itu membuat ku pusing dan mual
suara serak Louis yang memenuhi Indra pendengaran ku alih-alih membuat ku tenang, malah membuat kepala belakang ku semakin berdenyut nyeri
"Zu, please don't sleep"
"no, don't close your eyes"
"open it, Zu"
dan masih banyak lagi perkataan Louis yang terus memenuhi Indra pendengaran ku yang perlahan-lahan mulai menangkap suara dengan samar
"where's the ambulance....?"
teriakan samar Louis merupakan suara terakhir yang mampu ditangkap oleh gendang telinga ku yang berdenging nyaring sebelum lelah yang menggerogoti tubuh ku menelan kesadaran ku dan menggeret ku ke alam mimpi yang tenang
...******...
aku tidak lagi mengingat apa yang terjadi setelahnya, yang ku tau saat ini tubuh ku terasa remuk, nyeri dan kebas muncul di beberapa tempat
aku bahkan tidak bisa merasakan pergerakan tubuh ku
suara bising tangisan anak kecil memenuhi indra pendengaran ku bersamaan dengan suara lembut seorang wanita yang tengah berusaha menenangkannya
"Mommy"
"Mommy"
"no, wanna with Mommy"
"honey, little Mommy is sleep, you can see her later, eeemmmm?"
"no, with Mommy"
"sleep with Mommy"
entah kenapa mereka mencegah anak itu untuk tinggal atau hanya untuk sekedar tidur di samping ibunya yang sedang tertidur....?
mendengar tangis pilunya membuat jantung ku berdegup gelisah, tak bisa ku pungkiri jika aku tidak menyukai tangis itu menggema di telinga ku, aku ingin menghentikannya tapi tak satupun dari suara ku yang merambat membawa bunyi yang hanya menggema dalam benak
tangisnya terlalu menyakitkan, tangis pilu penuh kerinduan yang dengan keras kepala ia suarakan, namun sepertinya orang dewasa yang ada di sekitarnya seakan tuli dan malah memaksanya untuk meninggalkan sang ibu yang dirindukannya
entah apa yang terjadi, apakah ibunya sedang sakit parah hingga mereka mencoba memisahkan ibu dan anak itu....? atau ada kemungkinan yang lebih mengerikan dibalik larangan mereka....?
aku yang mendengar tangis pilu itu tak lagi sanggup memikirkan kemungkinan terburuk yang melintas di benak ku, mungkin keluarganya juga begitu, entahlah
lebih baik aku mencoba untuk terbangun dari tidur panjang ku, tubuh ku sudah mulai terasa pegal dan haus menggerogoti tenggorokan ku hingga terasa perih
perpaduan pegal, haus dan nyeri adalah hal terburuk yang bisa dirasakan oleh indra ku yang mulai bisa bekerja perlahan-lahan sebagaimana mestinya
aku mencoba membuka kelopak mata ku yang sangat sulit untuk ku angkat, aku merasa sudah berusaha dengan sangat keras untuk membuka kelopak mata ku, tapi anehnya tak satupun dari kilasan potret atau gambar yang di tangkap oleh lensa mata ku
perlahan aku merasakan pergerakan kecil yang memeluk tubuh ku, aku yakin dapat merasakannya dengan sangat baik sesuatu menimpa dada ku dan membelitnya dengan lembut
bahkan aku mendengar tangisan tertahan yang lirih menggema di telinga aku menggantikan tangis pilu yang tadi ku dengar
"stop crying, okay"
suara lembut seorang wanita yang mencoba menenangkannya juga ikut memenuhi gendang telinga ku
aku terdiam dalam diam ku saat mendengar suara lembut sang ibu yang mencoba menenangkan si buah hati
betapa sempurnanya Allah menciptakan rasa kasih sayang dan perasaan lembut seorang ibu, hingga dengan itu ia mampu mendidik sang buah hati tanpa melibatkan amarah
tak heran jika Rasulullah mengatakan jika surga itu berada di bawah telapak kaki ibu
"Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya."
mau tak mau aku juga membayangkan bagaimana kelak kehidupan ku ke depan, apakah aku masih bisa melihat masa depan.....?
bisakah aku menjadi kuat dan penuh kesabaran dalam menghadapi sikap keras kepala buah hati ku nanti.....?
tapi saat mengingat setiap kilasan kejadian beberapa hari terakhir membuat ku mengenyahkan semua kenangan indah yang tadi sempat singgah
tidak ada gunanya menghayal terlalu jauh, saat kaki ku saja belum bisa menapak sempurna, atau mata ku yang belum tentu terbuka hari esok, aku juga tidak yakin dengan keadaan ku saat ini
'ya Allah hanya padamu hamba menyerahkan segala urusan dan keinginan hamba'
aku menghela nafas dalam diam, mencoba menikmati pelukan hangat sesuatu yang membelit dada ku, entah siapa pelakunya...?
"he's sleep....?"
suara berat seorang laki-laki bertanya entah pada siapa menyapa pendengaran ku, entah milik siapa....?
suara ini belum pernah ku dengar sebelumnya, walau suara Louis juga berat dengan aksen British yang sama-sama kental, aku yakin suara ini bukan milik Louis
"yeah, he's sleeping after we let him lie down with Zu"
mendengar nama ku di sebut membuat ku kembali memikirkan siapa gerangan anak kecil yang tadi menangis....?
Elio kah....?
kembali aku berusaha untuk membuka mata ku, atau hanya sekedar untuk menggerakkan salah satu dari anggota tubuh ku yang paling memungkinkan untuk ku gerakkan
aku mencoba untuk menggeser jari ku dengan susah payah setelah usaha ku untuk membuka kelopak mata gagal ku lakukan
"omg, she's wake up"
sepertinya aku berhasil menggerakkan jari ku, Alhamdulillah akhirnya aku sudah semakin dekat dengan alam sadar ku, Alhamdulillah
"hi, honey"
hal pertama yang menyapa Indra penglihatan ku saat pertama kali aku berhasil membuka mata setelah beberapa kali kegagalan yang ku jumpai sebelumnya adalah senyum hangat Mommy yang mengembang sempurna, tatapan teduhnya dan sentuhan hangat yang membelai pipi ku
"ha..u..s"
dengan susah paya aku mengeluarkan satu kata itu melewati tenggorokan ku yang kering dan perih
Mommy dengan cepat menuangkan segelas air untukku dan membantu ku untuk meminumnya
pergerakan ku sedikit terganggu dengan adanya sesuatu yang menimpa tubuh ku
saat aku melirik ke arah perut ku yang tertindih, ternyata mahluk kecil menggemaskan tengah bergelung manja dengan mata tertutup dan nafas yang berhembus teratur
Elio tidur dengan nyenyak dengan tangan dan kaki yang memeluk tubuh ku bagai guling
ternyata suara tangis tadi berasal dari batita menggemaskan ini
aku kembali menyandarkan tubuh ku dengan bantuan Mommy setelah berhasil meneguk hampir setengah dari air yang berada di dalam gelas
mata ku dengan awas meneliti setiap penjuru ruangan dan siapa saja yang berada di ruangan ini
hampir semua anggota keluarga Louis yang ku kenal ada di sini bahkan aku melihat wajah baru yang belum pernah ku temui sebelumnya, wajahnya yang tegas sangat mirip dengan Daddy bahkan postur tubuhnya juga sangat mirip, seandainya perbedaan usia diantara keduanya tidak tampak dari garis wajah dan warna rambut yang berbeda warna, mungkin aku akan mengira jika dia adalah kembaran Daddy
selebar apapun aku melepas lapang pandang ku, tetap saja potret Louis tidak ku jumpai di kamar ini
entah kemana dia pergi, mungkin ada urusan penting dengan Daddy....? karena Daddy juga tidak ku jumpai keberadaannya dari sejak aku bangun tadi
"Louis sedang mengurus sesuatu, sebentar lagi dia kemari"
Mommy yang mungkin menangkap perubahan dari raut wajah ku mencoba menenangkan
aku mencoba untuk mengukir senyum dengan pergerakan yang kaku entah bagaimana ekspresi yang terbentuk di wajah ku, aku hanya berharap ekspresi ku tidak terlalu mengerikan di mata Mommy
"tidurlah lagi, biar Mommy panggilkan dokter"
aku hanya terdiam mengiyakan, otot wajah ku masih terlalu sulit untuk ku gerakkan, mungkin efek biusnya masih belum hilang
aku melirik pada Elisa yang tersenyum penuh haru pada ku, kelegaan tampak terpancar dari wajahnya yang cantik, sosok yang mirip Daddy versi muda menemaninya yang sudah kembali duduk di atas sofa dengan tangan yang melingkari pinggang Elisa dengan posesif
'siapa laki-laki ini....?'
'mengapa dia memperlakukan Elisa dengan sangat mesra...?'
bahkan sangat berbeda jauh dengan bagaimana interaksi Louis terhadap Elisa yang tapak kaku dan canggung
pertanyaan itu bergelut dalam benak, hingga aku terpaksa menghentikannya saat Mommy datang dengan seorang dokter wanita
dokter itu mendekat dan mulai menutup tirai pemeriksaan sebelum memulai menanyakan beberapa pertanyaan yang ku jawab dengan terbata-bata, bibir ku seperti robot yang bergerak dengan kaku
beberapa pemeriksaan kecil di lakukan pada bagian luka yang menghiasi tubuh ku
aku sempat melirik ngeri saat melihat banyaknya perban yang melilit tubuh ku, perban itu menghiasi lengan kiri, kanan ku dan satu perban cukup panjang di bagian engkel kiri, bahkan ibu jari ku juga terbungkus perban, aku sudah seperti di mumi hidup-hidup
ya Allah sebanyak inikah luka yang menghiasi tubuh ku....? oh, pusing!
"it's ok, everything is fine, your wound Will heal soon, don't forget to take care your nutriton and don't get stess, ok. also don't do some work that you can't handle it, that's it"
aku bernafas lega saat mendengarkan penjelasan dokter Allegra, setidaknya tidak ada luka yang serius walau aku cukup kaget saat mengetahui jika lengan kiri ku terkena tembakan peluru
Alhamdulillah peluru itu melesat cukup jauh dari jantung ku , jika sedikit saja peluru itu bergeser ke bagian tengah mungkin aku hanya tinggal nama hari ini
"take some rest more"
dokter Allegra pamit undur diri sebelum membuka kembali membuka tirai dan berlalu setelah menunduk hormat pada Daddy yang sedang duduk berbincang di atas sofa, bersama Elisa dan laki-laki yang mirip dengan Daddy
"she's fine"
Mommy tersenyum saat mengatakan hal itu pada Louis
dia ada di sana, di dekat pintu dengan penampilan yang sedikit berantakan, dengan rambut yang tidak bersisir, kemeja yang lengannya di gulung tinggi serta wajah kusam yang kaku, sangat bukan gaya Louis!
dia berdiri di dekat pintu dengan jarak yang sangat jauh dari tempat ku berbaring
aku sangat tidak menyukai bagaimana Louis menatap ku saat ini, sorot mata tajam yang menatap ku dengan kobaran amarah yang tampak jelas menghiasi wajahnya yang kaku
aku bahkan dapat melihat tangan Louis yang mengepal kuat seakan dia tengah menahan gejolak amarah yang menguasai dirinya
aku yakin masih berusaha tampak tenang dengan sikap diamnya yang meresahkan hati ku
aku menunduk karena tatapan tajamnya mengikis habis semua keberanian yang ku punya
tangan ku bergerak dengan pelan mendekap Elio yang masih tertidur nyenyak di samping ku untuk menenangkan diri ku yang sedikit bergetar karena rasa takut
aku tau aku salah, tapi ini bukan keinginan ku untuk menyusahkan Louis dan keluarganya untuk mencari ku, yang di culik entah untuk alasan apa...?
aku terdiam dalam jeda yang panjang, perlahan tapi pasti genangan kristal bening membanjiri pelupuk mata ku yang mulai terasa panas
aku tidak tau harus berbuat apa, selain berpasrah pada kenyataan pahit saat melihat amarah itu berkobar di matanya yang menyorot tajam
dua tangan hangat menyentuh pundak ku, aku tidak sadar jika Mommy dan Elisa sudah berpindah memeluk ku
"Louis, come here, she's need you"
suara lembut Mommy yang meminta Louis mendekat semakin membuat mata ku panas, aku yakin sebentar lagi kristal bening itu akan membanjiri pipi ku
terdapat jeda cukup panjang sebelum suara Daddy yang tegas memecah keheningan yang tercipta di ruangan ini
"Louis, it's ok she's fine"
Daddy mencoba meyakinkan Louis yang masih memaku di dekat pintu
aku tidak bisa menebak apa yang membuatnya mematung cukup lama hingga Mommy dan Daddy harus meyakinkannya
aku tidak masalah jika Louis memarahi ku, aku cukup tau diri jika apa yang ku katakan sebelum kejadian ini memang cukup konyol
tapi saat melihatnya menatap ku dengan sorot marah dan tubuh yang bergeming kaku, jujur itu justru membuat rasa bersalah ku semakin besar dan tentu saja rasa takut juga menguasai benak ku yang di penuhi dengan ratapan maaf yang tidak mampu ku ucapkan melalui lisan ku yang bergetar
aku mendengar langkah kaki yang melangkah pelan, sayangnya langkah kaki itu tidak mendekat ke arah ku
aku mencoba memberanikan diri untuk menatap ke depan, dan yang aku lihat sungguh menghujam hati ku dengan nyeri tajam yang menyakitkan
aku melihat punggung Louis yang semakin langkah itu bertambah, semakin menjauh dari tempat ku berbaring
dia meninggalkan ku tanpa mengatakan sepatah katapun
aku tak lagi mampu membendung tangis ku yang sejak tadi ku tahan, tubuh ku berguncang hebat dan tangis itu pecah memenuhi ruangan yang semula sepi dan semakin ramai saat tangis Elio juga saling bersautan dengan tangis ku yang menggema lirih
"Mommy"
"Daddy"
...~TBC~...