Thaha

Thaha
Salah paham



Aku merasakan tubuhku yang terayun dan terhuyung dalam dekapan hangat yang ku yakini adalah milik Louis, aku bahkan dapat merasakan saat dengan perlahan tubuhku menyentuh benda lembut yang hangat, bagaimana kemudian dengan perlahan tubuhku diselubungi kain lembut sebatas dada, telinga ku samar-samar mendengar teriakan Louis yang berteriak dengan bahasa aneh, mungkin bahasa Italia, aku hanya memahami satu kata "dokter", mungkin saat ini Louis tengah meminta seseorang untuk memanggil seorang dokter, itu hanya asumsi ku, walau bagaimanapun aku tidak memahami sedikit pun perkataan Louis yang cepat dengan bahasa yang sama sekali tidak ku pahami


aku mendengar semuanya dengan jelas dan dapat merasakan sentuhan lembut di kedua tangan ku, suara Mommy yang memanggil nama ku dengan lirih, suara Louis yang mendominasi ruangan dengan teriakannya yang kencang, entah dia berteriak pada siapa.... ?


walau aku dapat merasakan itu semua dan dapat mendengar mereka dengan sangat jelas, mata ku masih enggan untuk terbuka, sudah berulang kali aku mencobanya dan memaksanya untuk terbuka, mencoba berteriak semampuku untuk memanggil Louis dan Mommy, aku ingin memberitahu mereka bahwa aku baik-baik saja, tapi anehnya tak satupun dari panggilan ku yang mereka dengar, suara ku seakan tertahan di tenggorokan dan enggan untuk melesak keluar


setelah beberapa saat berlalu aku merasakan sentuhan yang berbeda pada pergelangan tangan ku, bahkan aku dapat merasakan sebuah tangan mencoba membuka mata ku dan seberkas cahaya tersorot langsung pada mata ku yang di buka dengan paksa, aku dapat melihat seberkas sinar yang masuk dan merambat memburamkan penglihatan ku tapi entah bagaimana sinar itu tampak redup dan tidak cukup terang untuk membuat ku terbangun, aku seakan terkunci di kamar gelap yang kedap suara dan cahaya, sendiri, sunyi tanpa bisa berbuat apa-apa


ruangan kembali sunyi meninggalkan dentingan dan gesekan benda-benda dengan permukaan kayu, mereka semua terdiam seakan mereka tidak ingin mengganggu dokter yang tengah memeriksa keadaan ku


aku tidak lagi merasakan pergerakan dari dokter yang memeriksa ku saat ini dan di gantikan oleh penjelasan dokter yang sedikitpun tidak bisa di pahami oleh telinga ku yang mencoba mencuri dengar, entah apa yang tengah dokter itu katakan pada Louis, aku sempat merasa kesal karena tidak bisa mengerti bahasa mereka, tidak bisakah mereka menggunakan bahasa Indonesia saja....? atau setidaknya menggunakan bahasa Inggris, kenapa harus bahasa Italia....? aku seperti orang yang mengalami gangguan pendengaran tiba-tiba, karena yang terdengar di telinga ku hanya suara tanpa makna, sepertinya aku harus mulai belajar bahasa Italia agar setidaknya aku bisa memahami perkataan mereka, walau aku tidak sepenuhnya bisa berbicara dengan lancar menggunakan bahasa Italia


aku kembali tidak mendengar suara apapun di dekat ku kecuali pergerakan tangan besar yang melingkupi tangan kanan ku, sentuhan hangat yang sejak tadi tak sedikitpun beranjak, tangan itu tetap menggenggam tangan tangan ku dengan lembut, sapuan lembutnya mampu menghantarkan ketenangan namun juga menghantarkan kegelisahan yang turut merambat seakan ingin menyampaikan pesan bahwa sang pemilik tangan hangat itu saat ini tengah di rundung gelisah dan kekhawatiran tanpa tepi


"Zu, dokter bilang Zu baik, tapi kenapa Zu tidak mau bangun...?" hati ku seperti diremas kuat saat mendengar suara lirih milik Louis, suaranya yang bergetar membuat ku semakin tidak tenang, aku ingin terbangun memeluknya dan menenagkannya membisikkan kalimat yang mampu menenangkannya, memberitahukan bahwa aku baik-baik saja, sayangnya aku tidak bisa, tidak untuk saat ini, aku terlalu takut dengan setiap kenyataan yang saat ini tengah menunggu ku, kenyataan yang setiap waktu akan menerkam ku dan menusuk hati ku, menggeret ku pada jurang kesedihan terdalam, tidak!, aku masih belum sanggup untuk itu


"Zu, ingin istirahat....? Zu boleh istirahat tapi, jangan terlalu lama ok" setelah mengatakan itu Louis membantu membuka kerudung yang sejak tadi masih membungkus kepala ku, dia juga membantu membuka jilbab ku, dan membiarkan tubuhku terbungkus baju mihna (baju yang di pakai muslimah di dalam rumah) yang ku kenakan tadi, setelahnya dia kembali membaringkan tubuh ku yang masih tertidur di atas hamparan lembut kain lembut yang hangat


aku dapat merasakan pergerakannya saat Louis beranjak meninggalkan ku, entah kemana Louis akan pergi, ini yang paling ku takutkan saat dia meninggalkan ku dan lebih memilih untuk bercengkrama dengan keluarga kecilnya yang lain, kesedihan itu datang tanpa di undang dan mulai menggerogoti ketenangan ku


aku hanya wanita bisa yang mengharapkan cinta suami ku hanya untuk ku dan buah hati kami nantinya, aku hanya manusia biasa yang akan cemburu, marah dan kecewa saat hati ini terluka, aku hanya wanita egois yang tidak sanggup berbagi dengan wanita lain untuk meraih pahala dari Allah melalui bakti ku pada suami ku, tapi aku juga wanita biasa yang tak mampu menolak qoda' yang telah Allah tetapkan atas ku, aku hanya wanita biasa yang tidak bisa mengharamkan apa yang sudah Allah perbolehkan, aku tidak membenci hukum Allah untuk bermadu, karena Allah sudah memperbolehkannya, bagaimana mungkin wanita biasa sepertiku


akan mengharamkannya, tapi jika aku boleh meminta, aku hanya menginginkan cinta suami ku tak terbagi untuk wanita lain, sama seperti ibunda Khodijah yang tak pernah berbagi cinta, sama seperti sayyidatunah Fatimah yang akan menangis saat suaminya akan berbagi cinta, akupun demi kian, aku tak mengapa hidup sederhana layaknya sayyidatunah Fatimah, asal cinta kasih suami ku membawa ku pada cinta kasihnya Allah, aku tak mengapa harus berkorban baik harta, perasaan, dan juga tenaga asal kasih sayang suamiku membawa ku pada kasih sayang Allah yang akan selalu tercurah pada ku dan akan selalu mengiringi langkah-langkah kami di setiap saatnya, aku tidak ingin jika karena masalah ini rasa kesal dan amarah yang bergemuruh di hati ku mempengaruhi rasa sayang ku, rasa cinta dan penghormatan ku pada suami ku, karena aku sadar aku adalah wanita biasa yang akan senantiasa mendapat godaan dari iblis yang telah bersumpah akan menyesatkan ummat manusia hingga yaumul akhir, jadi bagaimana aku bisa tetap menjaga hati ku, jika amarah itu mengusik ku, bagaimana aku bisa melakukan perintah suami ku dengan ikhlas jika ada di dalam hati ku secuil rasa sakit hati.....? aku takut, takut jika tanpa sengaja aku berbuat yang tak selayaknya, takut untuk berbuat sesuatu untuk suami ku tanpa disertai rasa ikhlas


tapi jika sudah begini......? apa yang bisa ku lakukan selain menerimanya.......?


mencoba berdamai dengan keadaan, di saat hati menginginkan sebaliknya....?


seandainya aku bisa menangis dan mengadu layaknya sayyidatunah Fatimah saat mengadu pada Rasulullah


''Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira maka ia telah membahagiakanku.'' (Al Hadis).


pada siapa aku mengadu, pada Rama...? atau pada ibu....? mereka jauh di sana di Indonesia sedangkan aku disini di Italia, tidak ada tempat aku mengadu kecuali pada dzat yang mendatangkan semua rasa ini untuk ku, hanya pada Allah aku bisa mengadu atas ketidaksanggupan ku, atas pilu hati ku saat ini, karena hanya Allah-lah tempat kita mencurah segala keluh kesah dan hanya Allah-lah yang mampu memberikan jalan keluar terbaik untuk ku


"jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. Ahmad)


aku hanya bisa menangis dalam diam, mencoba menyembuhkan sara sakit yang sejak jadi menghujam hati ku, rasa sakit yang datang sejak aku mendengar ada seorang anak kecil yang memanggil suami ku Daddy, aku ingin menghilangkan rasa yang akan menjerumuskan ku pada lembah kehancuran ku, aku harus ikhlas menerima sega kekurangan dan bersyukur atas segala kelebihannya, menerima segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan hukum syariatnya Allah


aku mencoba berdamai dengan kesedihan ku untuk kembali menguatkan hati ku dan kembali menanamkan di dalam benak ku bahwa hukum Allah adalah yang terbaik, termasuk tentang masalah yang ku hadapi saat ini, aku tidak boleh mengharamkan apa yang sudah Allah perbolehkan, dan tidak perlu bersusah hati dengan itu jika Allah sudah membolehkan suatu perkara berarti sejatinya itu adalah hal yang baik, dan jika Allah mengharamkannya, berarti itu adalah hal yang buruk untuk kita, tak perlu bertanya mengapa....? karena Allah yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk kita


perkara mubah, perkara boleh, tidak akan berubah menjadi haram kecuali ada dalil yang mengharamkannya, hanya saja aku akan lebih senang jika suami ku banyak melakukan amalan Sunnah dan mengurangi amalan mubah, aku tidak perlu berharap Louis akan melakukan amalan wajib, karena bagi seorang muslim amalan wajib keharusan yang memang seharusnya di kerjakan


tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, tinggal pandai-pandai hati Zu ini mengolah bubur yang ada menjadi menu yang enak untuk di santap, bubur ayam mungkin....?


aku kembali merasakan pergerakan di samping ku, sentuhan lembut itu kembali ku rasakan, tangannya kini tak hanya membelai tangan ku yang dingin akan tetapi juga ikut memberi sapuan halus di sekitar mata ku


"kenapa Zu nangis.....? ada kah kiranya khilaf yang aku lakukan tanpa sengaja, hingga menyakiti hati Zu....?" dia berbisik dengan suara lirihnya, nada pedih itu, membuat hati ku semakin nyeri, aku ingin mendekapnya membisikkan kalimat yang mampu menghantarkan ketenangan pada hatinya yang gelisah, namun apalah daya, bahkan untuk menggerakkan tangan ku saja rasanya aku tak sanggup


kecupan ringan dan lembut Louis berikan pada telapak tangan ku yang dingin, aku dapat merasakan bibirnya yang juga bergetar, laki-laki tangguh ini ternyata tak setangguh yang ku kira


ada jeda yang cukup panjang sebelum alunan indah lantunan Al-Qur'an yang terucap dari bibirnya mengalun syahdu, mengantarkan selendang kedamaian dan ketenangan yang mulai merasuk dan menyelimuti hati ku yang gelisah, pelan tapi pasti ketenangan itu datang, hadir dan mengikis segala perih dan pedih yang tadi sempat singgah


melodi indah ini adalah obat dari segala gundah dan resah ku, aku sangat bersyukur Louis membacakan surat cinta Allah ini, dari setiap bait ayat yang Louis bacakan sakan mengantarkan pesan cinta dan kasih sayang Allah yang tidak dapat dilihat oleh mata, air mata ku kembali mengalir saat kembali hati ini merasakan besarnya cinta Allah pada setiap hambanya, kesedihan hanya pernak-pernik dunia yang sejatinya akan di hadapi setiap orang, dengan adanya kesedihan kita mampu merasakan kebahagiaan yang menanti di ujungnya, dan aku yakin jika setelah ini akan ada kebahagiaan yang menanti ku