
...~**š**~...
...**...
...*...
malam dengan sejuta ketenangan, suasana gelap membuat banyak makhluk bumi lebih memilih kembali untuk beristirahat di peraduan, sedangkan binatang-binatang pengiring malam mulai terbangun, untuk membuat melodi pengantar tidur yang mampu membuai siapapun yang mendengarnya. alunan melodi yang mampu menghipnotis. dengan indahnya harmoni nada yang membuat setiap sel saraf yang semula tegang menjadi rileks, mengantarkan kantuk yang sudah melambai menyambut mimpi indah di pulau kapuk
maha baik Allah yang telah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya, dan yang pasti sangat tepat untuk setiap kebutuhan makhluknya.
..."Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikanĀ untukmu malamĀ dan siang, agar kamu beristirahat pada malamĀ hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya."...
...(QS. Al-Qashash:73)...
namun saat ini sangat banyak manusia yang malah menjadikan malam hari sebagai waktu untuk mencari Rahmat dan sebagian Rizki yang Allah sediakan untuk makhluknya, bahkan tidak jarang juga banyak diantara mereka yang mencari kesenangan pada malam hari
bukan hal yang asing memang, apalagi di daerah perkotaan yang tidak pernah sepi dan tidak pernah tidur, semakin malam malah akan semakin ramai, kodisi kemiskinan yang meradang menjadikan mereka tak punya waktu untuk beristirahat
tuntutan gaya hidup yang sangat jauh dari gaya hidup Islam menjadikan mereka lebih berfokus pada kenikmatan jasadiyah semata, menjadikan materi sebagai tolak ukur.
dan tentu jika materi dijadikan sebagai tolak ukur kesenangan hidup, siapa yang kaya dia yang akan dianggap bahagia. sedangkan untuk menjadi kaya bukanlah perkara mudah, butuh bekerja lebih banyak dari pada yang lain, butuh berkorban lebih besar dari yang lain, termasuk tak lagi menjadikan malam sebagai waktu istirahat
bukan berarti Islam tidak memperbolehkan untuk menjadi orang kaya, tentu saja boleh. dan bahkan itu lebih baik, asal kekayaan yang kita dapat kita dapatkan dengan cara yang benar dan di belanjakan di jalan yang benar. seperti Abu bakar, Utsman bin Affan atau seperti Abdurrahman bin auf misalkan.
belum lagi, berbicara tentang kesenangan hidup, kesenangan yang tidak lagi mengindahkan malam dan siang, bukan hanya menafikan peran malam dan siang, bahkan aturan Allah yang lainpun ia langgar
tak lagi memperdulikan halal ataupun haram, itulah realita hidup di sistem kapitalis sekuler saat ini, sangat jauh dari Islam, dan saat kita menjauh dari Islam tentu akan banyak mendatangkan mudharat yang lebih besar
dalam masalah kesehatan misal, saat kita tak lagi berpatokan pada peranan siang dan malam yang Allah tetapkan akan memudahkan kita menderita berbagai macam penyakit, insomnia, stress kurang tidur juga bisa menyebabkan banyak gangguan pada sistem tubuh dan masih banyak lagi yang lain
itu hanya sebagian kecil
sama seperti yang lain, yang menjadikan malam sebagai waktu istirahat, begitupun keluarga ku, pada awal malam adalah waktu yang paling tepat untuk kumpul keluarga, lebih tepatnya setelah sholat isya'. waktu yang paling aku tunggu-tunggu karena kami akan berbincang sebentar hingga menjelang jam sembilan malam
walau tak selalunya seperti itu, adakalanya kami menuntaskan apa yang belum terselesaikan pada saat siang.
mengingat itu, Zu jadi teringat pelanggaran yang sudah Zu lakukan hingga akhirnya Zu bisa bertemu Louis. tak terasa waktu berlalu cukup lama dari kejadian itu
mengingat betapa tidak masuk akalnya benang Allah saling terjalin membuat ku mengembangkan senyum yang mengintip malu-malu di sudut bibir
"ayo senyum-senyum sendiri" ibu yang sejak tadi duduk di sofa yang terletak tepat di belakang ku, menyadarkan aku dari kenangan masa lalu yang selalu membuat ku geleng-geleng kepala
"ih, ibu..., orang Zu senyum karena filmnya juga, adek belum keluar Bu....?" aku mencoba mengalihkan fokus itu yang menatapku dengan tatapan menyelidik
"orang filmnya nggak ada yang lucu, dari mananya coba yang membuat Zu tersenyum....?" aku melupakan fakta bahwa film yang ku tonton sekarang adalah film dokumenter tentang hewan
"ya lucu lah, itu anak singanya cute gitu"
"pinter ya ngeles, bo'ong dosa loh"
"astagfirullah, ibu gak boleh ngomong gitu, ya maaf, tadi Zu ngelamun sebentar, oh iya ibu nanti lama nggak di rumah Khola, jangan lupa Zu titip salam untuk Khola dan mbak Diaz, sampaikan maaf Zu belum bisa njenguk"
tadi pagi anak mbak Diaz anak Khola yang pertama baru saja lahiran, jadi malam ini ibu berencana untuk menjenguk dengan di antar Absyar
"ayo Bu, adek sudah siap" Absyar berjalan mendekat dengan penampilan yang sudah rapi
"Abys, where are you going....?"
(abys. mau kemana.....?)
Elio yang tengah sibuk menggambar di sebelah ku, menatap Absyar dengan tatapan ingin tau
"naik berm-berm, mau ikut....?" Absyar mendekati Elio yang sudah melepaskan pensil gambar yang ia pegang dan duduk menghadap Absyar
"berm-berm, Icut" mendengar kata berm-berm langsung menarik minat Elio, bahkan kini Elio sudah bergelayut manja dalam dekapan Absyar
entah sejak kapan Elio menjadi penggila motor, dia bahkan bisa berlari kencang saat mendengar bunyi motor, apalagi motor milik Absyar
"malam sayang, naik berm-berm nya besok ya....?" aku mencoba melepas genggaman Elio yang cukup erat pada leher Absyar
paham jika Elio belum mengerti bahasa Indonesia akhirnya aku coba untuk mengulangnya dalam bahasa Inggris
"it's night, tomorrow Mommy Will take you to ride motorcycle, ok....?"
(sekarang malam, besok Mommy akan ajak Elio naik motor, ok.....?")
"Ndak'o, Mommy Ndak'o Icut....Icut....Abys....Icut" Elio malah semakin kencang memeluk leher Absyar hingga membuat Absyar terbatuk-batuk
"Uda Zu, biarkan saja, toh tidak akan lama, kasian tuh om-nya sampa ke cekek"
"ya sudah kakak Ambil jaket dan masker dulu" aku melangkah setelah pamit pada ibu untuk mengambil masker dan jaket Elio
dengan cepat aku kembali setelah mendapat barang yang ku cari, Elio sudah bersemangat untuk memasang jaket dan juga maskernya
"jangan di buka oke, don't take it off, get it....?" aku kembali mengingatkan Elio yang sudah ingin melepas masker yang baru beberapa detik aku pasang
setelahnya aku mengantar mereka menuju halaman rumah dengan Elio yang sudah berpindah dalam gendongan Absyar
saat Absyar akan menaiki motor yang biasa ku pakai Elio dengan cepat menggeleng ribut, dia malah meminta Absyar untuk menaiki motor milik Absyar, yang merupakan motor khas laki-laki, Honda CBR hitam kesayangan Absyar.
"nggak bisa baby, nanti Uti-nya sakit pinggang loh" Absyar mencoba merayu Elio untuk mau menggunakan motor beat milik ku
saat mendengar perkataan Absyar dengan tidak sopan aku malah membayangkan betapa lucunya ibu saat berada di boncengan saat Absyar mengendarai motornya
ya Allah bukannya tidak sopan, tapi demi apapun itu terlihat sedikit lucu, nenek-nenek naik motor gede...? pasti akan sangat keren. hihihi
"Ndak'o, Abys, Ndak'o...... that Abys....that" Elio masih bersikeras untuk meminta Absyar berganti motor
"ya sudah, Elio dengan Mommy, tidak ikut Uti, Uti Will get backache baby, if ride that motorcycle" aku mencoba meyakinkan Elio
iya kali ibu-ibu jubahan naik motor Maco begini,.....?
"sembarang kalau ngomong, ibu masih muda tau" ibu yang tidak terima malah memberi tepukan lembut pada punggung ku
"iya Zu tau, ibunya Zu masih sangat muda, cantik, istri kesayangan Rama pokoknya, tapi masak emak-emak jubahan naiknya beginian.....? kan kiyowooooo"
saat aku hendak mengambil Elio dari gendongan Absyar terdengar bunyi panggilan masuk pada benda pipih canggih yang sejak tadi bergelung di dalam saku
saat ku lihat terpampang nama Louis pada panggilan masuk
meninggalkan Absyar dan ibu yang tengah membujuk Elio untuk menaiki motor metik ku, dengan cepat aku mengangkat panggilan Louis. wajah lelah Louis terpampang di dalam layar.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, by nelfonnya nanti lagi ya, anaknya lagi ribut mau naik motor"
"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, naik motor....?" Bukannya mematikan panggilan Louis malah ingin melihat langsung
akhirnya mau tak mau aku mengarahkan kamera pada Elio yang masih berdebat ngotot dengan Absyar
"bisa gitu....? memangnya mereka mau kemana....? katanya Indonesia lagi PPKM....?"
"ke rumah khola, gang sebelah. PPKM, tapi masih level 1 untuk Surabaya"
kembali pada Elio yang sekarang akhirnya mau untuk menggunakan motor yang metik setelah ibu mengatakan tidak akan pergi jika Elio tidak mau untuk menggunakan motor yang beat
akhirnya, berakhir juga perdebatan tentang motor
"Salim dulu sama Mommy" ibu meminta Elio untuk berpamitan sebelum berangkat, Elio belum terbiasa dengan itu. jadi aku lebih dulu mencontohkan dengan menyalami ibu, baru kemudian Elio mencium tangan ku bonus cium di pipi
"say, hi with Daddy" aku mengarahkan kamera untuk menyorot Elio
"iiyykum Daddy, Abys go....go Abys" Elio hanya menyapa Louis sambil lalu, dan meminta Absyar untuk menyalakan motor
"Elio say bye to Daddy, kiss by" aku masih menyorot kamera untuk tetap fokus pada Elio
"Daddy bye-bye" dia melambai saat Absyar sudah mulai menjalankan motor setelah mengucapkan salam yang di ikuti oleh Elio
"berangkat dulu kak, Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh"
"iiyykum Mommy" tak lupa dengan kiss bye dengan suara yang lumayan nyaring, aku yakin Louis bisa mendengarnya
"hati-hati dek, bawa motor nya. wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh"
aku kembali masuk kedalam rumah dengan fokus yang sudah berpindah pada Louis, rencana untuk mematikan sambungan sebelumnya, hanya sebatas ucapan Tampa realisasi
mari melepas rindu dengan pak suami yang masih betah di Italia sana
...~**TBC**~...
...**...
...*...