Thaha

Thaha
Elio In Action.....3




...******...


...*...


...*...


...*...


Aku mengintip dari balik jendela rumah sakit, di luar sana daun-daun menguning bersiap gugur meninggalkan dahan-dahan tinggi untuk di gantikan oleh daun-daun baru di musim semi nanti


pemandangan yang tentu tak pernah ku jumpai di Indonesia, walau aku pernah berjalan mengendarai motor di jalan utama yang padat dan bunga-bunya kuning yang berukuran kecil jatuh bagai salju di musim dingin



atau daun daun kering yang mulai berjatuhan dari pohon-pohon yang semula rindang di tepian jalan saat angin menerpa, hanya saja jumlahnya tak sebanyak pemandangan yang saat ini tersaji di depan ku


atau mungkin karena petugas kebersihan yang telah lebih dulu menyapunya,.....?


entah


mungkin saja, karena mereka yang selalu sigap membersihkan jalan yang membentang di setiap sudut kota


"sudah siap....?"


Louis dan Elio datang dari balik pintu, hari ini adalah hari terakhir aku menjadi penghuni rumah sakit ini, semoga tidak datang-datang lagi kesini dalam keadaan sakit ataupun terluka


aamiin


Alhamdulillah, luka-luka kecil yang menghiasi tubuh ku sudah mengering dan bahkan ada yang sudah mengelupas, tangan dan kaki ku yang awalnya keseleo kini sudah bisa ku gunakan, tulang tangan yang sedikit retak juga sudah bisa ku fungsikan walau masih belum maksimal, menyisakan tangan ku yang terkena tembakan, tangan ini sedikit susah untuk di gunakan jika tidak menggunakan obat pereda nyeri


yang lainnya....? in sya Allah aman


Elio....?


masih sama, dia masih belum mau berjauhan dengan Louis, bahkan tidurpun harus di temani Louis


"sudah, in sya Allah, administrasi-nya....?"


aku bertanya untuk memastikan jika pagi menjelang siang ini kita sudah bisa pulang


"semua sudah di urus, tinggal tunggu Nurse datang untuk membuka gelang tanda pengenalnya"


"dia kenapa....?"


aku mendekat pada Elio yang berada dalam gendongan Louis, mereka tengah duduk di atas tempat tidur setelah Louis memasukkan mainan Elio ke dalam tas



dia tampak lemas dan tidak bersemangat tidak seperti biasanya yang ceria dan manja


tangan ku terulur untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang berada di sekitar bibirnya


kapan dia makannya....?


mungkin tadi saat menunggu di bagian administrasi....?


mungkin saja


"Mommy"


dia memanggil ku dengan suaranya yang lirih, kepalanya mendongak, memandang ku dengan tatapannya yang sayu seakan ingin mengadukan sesuatu lewat tatapan itu


"what's wrong baby....? are you ok....?"


tangan ku berpindah pada dahinya yang tertutup rambut untuk memeriksa suhu tubuhnya, takut dia demam


tidak demam


Elio masih terdiam tanpa menjawab pertanyaan ku, tangan mungilnya meraih tangan ku dan didekapnya


" want to be with Mommy....?" (mau bersama Mommy....?)


"with Daddy"


"Daddy Will carry a lot of stuff, let Mommy carry you until we get to the car okay....? eeemmm...?" ( Daddy akan membawa banyak barang, biarkan Mommy menggendong mu hingga kita sampai di mobil ok....? eeemm...?)


akhirnya setelah beberapa hari Elio selalu menolak berjauhan dari Louis, hari ini dia mau juga ku gendong, Alhamdulillah ada kemajuan


aku memindahkan Elio dalam gendongan ku, membiarkan Louis membawa barang barang kami terlebih dahulu menuju mobil


seorang Nurse masuk kedalam ruangan untuk melepas gelang tanda pengenal yang beberapa hari ini melingkar indah di tangan ku dan untuk menandatangani satu berkas lagi


"Mommy"


Elio sudah siap menangis saat melihat kakak Nurse yang memegang gunting


"it's ok, she come to take off this bracelet" (tak apa, kakak Nurse datang untuk melepas gelang tangan ini)


aku coba untuk menenangkan Elio yang semakin menyusupkan wajahnya di dalam Khimar ku


kakak Nurse memberikan sapuan di punggung Elio yang bersembunyi di balik Khimar


"thank you, say thank you to aunty" (terimakasih, bilang terimakasih pada aunty)


bukannya ikut mengatakan terimakasih Elio mala merengek dan siap untuk menangis


"ssttt,....ssstt.... don't cry" (jangan menangis)


"thank aunty" (terimakasih aunty)


aku mencoba menurunkan suara anak kecil dengan suara pelan, berharap dia tidak tersinggung karena sikap Elio yang malah bersembunyi


"you are welcome, handsome" (terimakasih kembali, tampan)


dia juga membalas dengan suara yang dibuat menyerupai suara anak kecil sebelum berpamitan untuk kembali ke Nurse station


Louis datang bersama Luca setelah kami menunggu beberapa saat


dalam perjalanan pulang banyak hal baru yang kulihat, dari mulai pemandangan musim gugur yang indah juga Elio yang menerima uluran tangan Luca saat Luca menawarkan diri untuk menggendongnya


baru kali ini aku melihat Luca yang berinteraksi dengan Elio


aku tersenyum melihat sikap Elio yang kebali jail, dia duduk di pangkuan Luca yang duduk di kursi penumpang di samping Louis yang tengah menyetir


dia dengan usil memainkan kancing lengan kemeja Luca yang tampak diam membiarkan Elio puas bermain


puas dengan lengan baju Luca, Elio berganti memanjat berdiri dengan bergelayut di leher Luca


aku hanya tersenyum melihat itu, tidak berani tertawa apa lagi bersuara keras


sedangkan Luca yang menjadi korban, hanya pasrah dan mengikuti gerak Elio dengan tangan yang selalu sigap memegang tubuh mungil Elio untuk memastikannya tidak terjatuh


aku melihat ke kiri kanan menikmati arsitektur kota yang dihiasi bangunan-bangunan yang khas, gaya arsitektur Eropa yang khas memanjakan mata yang hanya bisa menatap tembok putih rumah sakit beberapa hari belakangan


bahkan aku menjumpai beberapa bangunan klasik seperi bangunan prasejarah yang mengusung tema masa lalu beberapa kali melintas di tepian jalan


hati ku tergelitik untuk memunculkan keinginan menjelajah di beberapa tempat yang memuat kisah masa lalu dan menjadi saksi sejarah peradaban yang sangat berbeda dan bertentangan dengan peradaban kita, berbeda budaya, beda aturan dan bahkan berbeda bentuk bangunannya


kota ini yang menjadi saksi lahirnya peradaban baru yang menghiasi hari-hari kita saat ini, peradaban kapitalis yang kental dengan budaya Barat, budaya yang kini membentang hampir di seluruh penjuru dunia bahkan sampai masuk ke negri-negri muslim, tak terkecuali Indonesia


"Zu mau jalan-jalan keliling Itali....?"


aku terkejut mendapat pertanyaan itu, bukan karena pertanyaannya tapi lebih pada orang yang bertanya


Luca bertanya dengan bahasa Indonesia yang tidak bisa di katakan bagus, dia bahkan mengucapkan dengan cara yang lebih buruk dari pada Leora


"mau, kalau sudah sehat"


"did you hear that, take her to get romantic honeymoon, while the two of you in a romantic city, if necessary the two of you can go to around Europe" ( kau dengar itu, bawa dia untuk honeymoon romantis, mumpung kalian berdua ada di kota yang romantis, jika perlu kalian berdua bisa keliling Eropa)


aku bergidik ngeri saat mendengar Luca mengatakan itu, apalagi di kalimat terakhirnya


keliling Eropa, aku sudah membayangkan betapa melelahkannya itu semua


jangankan keliling Eropa, mengunjungi seluruh tempat bersejarah di kota Italia saja sudah lebih dari cukup untuk menguras tenaga ku yang harusnya cukup untuk stock satu bulan


ini, keliling Eropa....?


Anda bercanda atau bagaimana.....?


"it's not necessary"


aku sudah hendak menjawab, namun ku urungkan kembali saat mendengar jawaban memuaskan dari Louis


"Why....?"


"no reason"


Louis memang paling jaga dalam memantik kejengkelan, apa lagi kejengkelan saudara laki-lakinya, termasuk Elio


"there's always have a reas....on...Lo...is"


Luca agak kesusahan menuntaskan kata-katanya saat dengan usil tangan mungil Elio menutup bibirnya


"no comment"


perjalanan panjang yang tidak terlalu melelahkan karena selalu di temani tingkah lucu Elio yang sering kali mencoba mengambil perhatian mereka berdua saat mereka berbincang tanpa melibatkannya


mungkin dia cemburu....?


atau hanya usil....?


hanya Elio dan Allah sajalah yang tau


sedangkan aku duduk manis di kursi belakang menonton pertunjukan yang sedang berlangsung di depan ku walau sesekali aku menyelingi dengan memandang pemandangan indah di luar sana


~TBC~