Thaha

Thaha
Salah paham 3



dia sudah hendak kembali mengambilkan air untuk ku sebelum tangan ku menghentikan langkahnya


"it's ok, can we talk.......?"aku tidak bisa menunda lagi, aku takut jika aku berniat menunda lebih lama akan semakin memudarkan keberanian ku untuk menjalankan keputusan ini


"eeemmm, ok" dia duduk di dekat ku tangannya dengan sigap membantuku saat aku kembali membetulkan posisi punggungku yang sudah mulai kebas


"I'm really not sure where to start it, But first, let's me introduce myself, my name is Zu, this the first time we meet, it's pleased to see you, may I know, what's your name...?" aku mencoba berbicara dengan suara ku yang masih lirih dan sedikit serak


ku julurkan tangan ku padanya mencoba seramah mungkin dan sehati-hati mungkin dalam memulai pembicaraan yang pastinya akan menguras sedikit kesabaran ini, jujur aku sangat takut mengatakan sesuatu yang akan menyinggung perasaan nya, aku juga takut aku akan terbawa perasaan dan malah menyebabkan suasana menjadi kacau balau


"oh, Don't be so polite, just think that I'm your sister, ok, aren't we sisters now .....? you are Louis wife by the way, ha ha ha, my name is Elisa, Elisabeth, Elio's mother" dia menerima uluran tangan ku dengan hangat dan hati-hati


dengan gerakan pelan aku menarik tangannya dan mengumpulkannya di tangan ku, merengkuhnya dalam sapuan hangat yang ku harapkan dapat menenagkannya dari kata-kata ku yang mungkin akan sedikit membuatnya tidak nyaman, aku berharap hanya sedikit ketidak nyamanan yang akan dia rasakan olehnya walau aku juga tau bahwa sepertinya itu akan sedikit sulit


'semoga saja tidak ada drama yang lebih mengerikan dari hanya sekedar tamparan mungkin.....? kalau bisa jangan di tampar juga'


walaupun saat aku memberanikan diri untuk membahas ini aku juga sudah menyiapkan diri ku dengan semua kemungkinan yang ada, termasuk opsi bahwa aku mungkin saja pulang ke Indonesia dengan meminta bantuan orang tua ku, tidak mungkin kan aku pulang sendiri.....? aku bahkan tidak memiliki uang walau hanya selembar rupiah saat ini


walau sebenarnya aku sangat bingung bagaimana caranya, aku bahkan tidak tau dimana posisi tepatnya tempat aku berpijak saat ini....?, mungkin aku bisa menggali informasi dari Elisa, atau aku juga bisa meminta bantuannya jika dia bersedia membantu ku tentu saja


"I just want to apologize, for accidentally hurting you and Elio, but I promise everything will be return soon, as before, before Zu came into your life" aku berkata dengan yakin walau sebenarnya aku tidak begitu yakin mampu mengembalikan semuanya pada keadaan semula, sesuatu yang sudah rusak dan pecah tidak akan mampu kembali utuh seperti sebelumnya, walau demikian aku selalu meyakini bahwa aku kan baik-baik saja setelah ini, walau bagaimanapun selama ada Allah di sisi ku maka bagi ku semuanya akan baik-baik saja, begitu dengan mereka, aku yakin mereka akan baik-baik saja


sedih itu pasti, sangat manusiawi bukan.....?, menangis dikala sedih.....? air mata yang akan menjadi teman ku setelah ini.......? akupun tau akan hal itu, dan aku tidak dapat memungkiri bahkan saat semua itu belum benar-benar terjadi saja hati ku sudah sesakit dan serapuh ini, aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya tapi yang pasti tidak pernah ada niat sedikitpun di hati ku untuk merenggut kebahagiaan orang lain apalagi sampai menyakiti hati orang lain, karena sampai kapanpun aku juga tidak akan rela jika ada orang yang ingin merenggut kebahagiaan ku


"what do you mean by that Zu, why you apologize.....?" raut kebingungan itu tampak jelas tergambar di wajahnya bahkan aku dapat melihat betapa dalamnya lekukan di dahinya saat dia menggerakkan alisnya dan mengumpulkannya di tenga dahi


sesaat setelah menatap ku dengan intens tangannya dengan hati-hati terjulur untuk memeriksa tubuh ku, menggerakkan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja, Elisa dengan wajah khawatir yang terpancar jelas dan ekspresi wajahnya yang berganti-ganti tidak sedikitpun mengurangi kadar kecantikannya, bukankah dia sangat serasi dengan Louis yang tampan.....? tak heran Elio bisa setampan itu


"are you hurt somewhere.....?" aku kembali menggenggam tangannya yang masih berusaha memeriksa tubuh ku yang baik-baik saja


aku kembali dengan gerakan pelan dan hati-hati menjulurkan tangan ku untuk merengkuh tangan Elisa dalam genggaman ku dan kembali melanjutkan peekataan ku yang sempat tertunda


"Elisa, Zu tidak ada sedikitpun maksud untuk membuat Elisa mau membagi kasih, Zu benar-benar tidak tahu jika Louis sudah memiliki Elisa dan Elio, Zu minta maaf" kali ini aku tidak menggunakan bahasa Inggris, melainkan tetap menggunakan bahasa Indonesia, aku terlalu malu untuk mengatakan hal itu pada Elisa, terlalu malu mengetahui jika Elisa akan memahami rasa sakit yang dengan rapat ku sembunyikan, aku bahkan harus berusaha sangat keras agar bening kristal yang selalu menemani pelupuk mata ku beberapa waktu ini tidak tertumpah atau bahkan hanya sekedar mengintip malu-malu di ujung pelupuk mata, tidak, Zu tidak mau, Zu hanya ingin perpisahan yang manis bukan perpisahan yang menyedikan, Zu hanya ingin mereka melihat senyum Zu yang mengembang dengan ikhlas bukan tangis dan wajah murung Zu yang akan sangat mengganggu pandangan mereka


bukankah saat kita menjumpai saudara kita disunnahkan menampakkan wajah yang berseri-seri, tersenyum pada saudara kita itu adalah shodaqoh


“Senyummu di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu“ (HR. Tirmidzi)


"I'm sorry, can you say it in English....?, I can not speak Indonesia" dia berkata dengan senyum canggung yang mengembang sempurna, bahkan aku bisa melihat deretan giginya yang tertata rapi dan terawat, mungkin dia merasa tidak enak hati mengakui fakta bahwa dia tidak menguasai bahasa Indonesia


"it's ok, it's nothing, where is everyone.....?" aku bertanya untuk memastikan bahwa pendengaran ku saat aku tertidur memang bukan hanya sekedar ilusi ku semata


"they are in hospital, including Louis, our uncle get some accident this morning, so they are going to check his condition and of course to know who's the criminal is, they need Louis to check it, it's ok I'm with you, you can tell me anything you need" perkataan Elisa seakan mengkonfirmasi bahwa apa yang aku dengar saat aku tertidur bukanlah khayalan atau ilusi ku semata, tapi aku memang mendengar itu semua


"Elisa, can you tell me where are we now.....? Louis didn't tell me about it, and you know I passed out when we got here" aku memberinya senyuman canggung saat mengatakan kalimat terakhir ku, entah apa yang mereka fikirkan tentang itu, aku sendiri juga bingung bagaimana aku bisa langsung pingsan saat mendengar ada seorang anak yang memanggil Louis Daddy....?


"we are in my parents mansion,on a small island in the south of italy, but you can't find it in map" aku kembali tersenyum malu saat Elisa mengatakan kalimat terakhirnya, seakan dia telah mengetahui bahwa aku pasti akan mengeceknya di map yang ada di aplikasi handphone setelah ini, ngomong-ngomong tentang handphone, dimana handphone ku.....?


" I think we are in the capital of Italy, no, we are not" aku sudah menduga sebelumnya bahwa tidak mungkin kita berada di daratan utama, mana mungkin aku akan melihat marcusuar saat kita berada di tengah ibu kota.....?


"so we are in island, I want to know how beautiful the sunset is?" aku tidak berbohong tentang itu, tentu saja, aku juga ingin melihat betapa indahnya pemandangan matahari terbenam di tempat ini, karena setau ku, saat kita berada di pulau yang ukurannya kecil kita bisa melihat dua keindahan matahari, saat terbit dan terbenamnya, atau 3 mungkin, jika ada yang menganggap matahari terik di siang bolong juga termasuk sesuatu yang menakjubkan....? karena aku pribadi tidak bisa menikmati keindahan itu, aku hanya akan melihat bulatan hitam yang menggantung di angkasa karena mata ku yang terlalu silau, atau mungkin itu adalah warna asli matahari, si bintang hitam....?


"we can go to see it, if you're strong enough to go around with that little leg" Elisa menirik kaki ku yang masih tersembunyi di balik selimut dengan senyum jailnya, dengan tanpa sadar mata ku juga ikut melirik pada kaki ku, bahkan aku sempat berfikir 'apakah kaki ku memang sekecil itu......?' aku rasa tidak, walau aku tidak setinggi Elisa tapi aku juga tidak merasa terlalu pendek, apalagi untuk ukuran orang Indonesia dan gadis Asia, yang ukurannya memang tidak sebongsor gadis Eropa, tinggi badan ku tidak sependek itu hingga harus mengakui perkataan Elisa bahwa kakiku kecil, hey aku bukan penderita busung lapar!


"I think this little leg is strong enough to walk around this afternoon, how about it....?" aku menatap Elisa dengan mata yang memancar penuh harap, aku sudah membulatkan tekat untuk segera menyelesaikan masalah ini dengan baik dan segera mengembalikan kekacauan ini pada keadaan semula dan aku berharap Elisa bisa membantu ku untuk itu


"sure, I Will be your private guide this afternoon"