
aku mendekat dengan langkah ringan berharap dia tidak akan menyadari keberadaan ku, tangan ku semakin erat menggenggam vas bunga yang tadi ku ambil dari kamar, aku sudah bersiap saat jarak kami sudah sangat dekat, tangan kanan ku bahkan sudah mengangkat vas bunga itu tinggi-tinggi, siap untuk menghantamkan vas itu tepat di kepalanya, tentu saja, tempat yang paling vital akan sangat mudah mepumpuhkannya nanti, sedangkan tangan kiri ku terulur menyentuh pundaknya
"hi, Thaha"
dengan gerak lambat dia memalingkan wajahnya, tangan ku suda ku posisikan sedemikian rupa agar tidak terlalu sakit jika aku menghantamkan vas yang aku genggam, keringat dingin bukan sesuatu yang ku suka apa lagi saat menggenggam sesuatu, gampang meleset soalnya
aku menghantam vas itu dengan cepat dan keras tepat di dahinya hingga tangan ku yang memegang vas terasa ngilu luar biasa, aku bahkan bisa merasakan denyutannya yang menusuk tajam, atau ada serpihan kaca yang mungkin menusuk telapak tangan ku....?
sepertinya vas itu pecah saat aku menghantamkannya tadi, tentu saja sebelum vas itu jatuh berkeping keping menghantam lantai
dia berteriak kesakitan dengan tangan memegang pelipisnya yang sedikit berdarah, wajahnya mendongak dengan ekspresi yang masih meringis menahan nyeri, betapa terkejutnya aku saat tau bahwa dia adalah seseorang yang ku kenal
"oh my god, Albi, that was great welcoming to greeting your husband, when he's home"
mata ku membulat sempurna saat mengetahui jika manusia yang ada di depan ku saat ini tak lain dan tak bukan adalah suami ku tercinta yang katanya sedang pulang kampung
innalillah, sepertinya aku membuat kesalahan kali ini
"Astaghfirullah, maaf, maaf, maaf, sakit...? ku kira kamu penculik tadi" aku dengan panik mencoba menyingkirkan tangannya yang masih memegang dahinya yang luka
aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokan ku yang kering, jantung ku sudah berdisko ria karena perasaan takut, terkejut dan juga khawatir
tangan ku dengan cepat memeriksa kondisi dahinya yang menjadi korban salah paham, Astaghfirullah sepertinya benjolnya cukup parah, aku meringis saat melihatnya, tapi aku juga bersyukur karena lukanya tak separah benjolan dahinya yang kini tampak membengkak, sepertinya besok akan lebih besar dari ini, Alhamdulillah-nya vas yang ku gunakan tadi ukurannya masih bisa dibilang cukup kecil, kalau tidak..? aku yakin lukanya pasti butuh untuk di jahit, dan aku akan semakin bersalah jika itu benar terjadi
"sebentar biar ku bersihkan" aku sudah hendak beranjak saat tangan Louis menarik pergelangan tangan ku dengan lembut
"tangan mu juga terluka, kemari" Louis menuntun ku untuk duduk di pangkuannya menggantikan laptop yang telah ia letakkan dia atas meja, aku bahkan tidak terlalu memikirkan bagaimana nasib tangan ku, aku masih cukup terkejut mengetahui fakta jika aku baru saja menghantam kepala suami dengan vas bunga hingga benjol dan bahkan terluka, luar biasa bukan diriku, memang istri yang baik, suami pulang di sambut timpukan vas bunga, Astaghfirullah
"Louis....?" aku memberikan tatapan penuh tanya dengan mata yang memicing
'tidak sopan' aku memaki dalam hati karena sikap ku yang sedikit tidak sopan pada Louis
aku menggeliat tak nyaman dan mencoba untuk turun dari pangkuan Louis
"diam sebentar ok, biar kulihat tangan mu, darahnya cukup banyak" aku tidak lagi meronta dan mencoba untuk tenang membiarkan Louis memeriksa tangan ku
dia menekan sesuatu di samping sofa dan setelahnya gadis cantik dengan tinggi semampai mengenakan pakaian khas seorang pramugari datang menghampiri kami, dia menanyakan apa yang di butuhkan oleh Louis dengan bahasa yang sopan dan sikap profesional saat dia sudah berdiri di dekat kami
"tolong bawakan kotak first-aid dan air mineral untuk kami" Louis mengatakan hal itu dengan tatapan yang masih fokus pada tangan ku, dia masih mencoba membersihkan darah yang ternyata mengalir cukup banyak dengan tisu dan mencoba memeriksa serpihan kaca yang mungkin tertinggal di dalam, sepertinya tangan ku terluka cukup parah, kualat Karna menyambut suami dengan cara yang luar biasa kah....?
aku melirik dengan ekor mata ku pada kakak pramugari yang saat ini sedang terkejut melihat kondisiku dan Louis yang sedang berdarah-darah ria, jelas saja dia terkejut apalagi saat melihat dahi Louis yang benjol cukup parah di tambah tangan ku yang juga tidak lebih baik dari dahi Louis yang tak lagi mulus, entah apa yang dia fikirkan saat ini...? semoga saja bukan sesuatu hal yang aneh
"tuan butuh dokter, untuk membantu mengobati dahi tuan dan tangan nyonya....?" dia tidak bertanya lebih jauh, walau aku sempat melihat rau kebingungan dan penasaran dari wajahnya
" tidak perlu, cukup itu saja, terimakasih"
setelahnya dia pergi tanpa menanyakan apa-apa lagi, sepertinya dia sudah mengetahui sikap Louis yang tidak banyak bicara dan sedikit dingin, dan sudah terbiasa dengan itu, mungkin. tentu saja sikapnya itu tidak berlaku untuk ku
"sakit...?, sepertinya aku harus berfikir ulang saat ingin memberi mu kejutan" tangan Louis masih menekan telapak tangan ku dengan tisu untuk menghentikan pendarahannya
"harusnya, aku lupa memberi tau, jika aku juga menguasai bela diri dan menunggang kuda" awalnya aku hanya ingin menakut-nakuti Louis saja, tapi saat melihat tatapannya yang teduh membuat ku sedikit merasa bersalah dengan itu
"kenapa sudah bangun....?, ini masih jam satu malam waktu Indonesia" perubahan topik yang tak terduga, bukannya baru saja kita membahas masalah kejutannya yang berujung kekerasan....? mungkin begini lebih baik
"kita bukan berada di Indonesia....? memangnya mau kemana, sampai pakai acara culik anak gadis orang" aku mengatakan kalimat terakhir dengan nada jail, walau tidak ada perbedaan sama sekali dengan ekspresi wajahnya, sepertinya aku harus sering mengajarinya cara bercanda, kenapa juga Louis betah sekali dengan ekspresi datarnya......?
"nanti juga akan tau kita akan kemana, masih ingat rupannya kalau masih gadis, kapan mau ganti seratus.....?" Astagfirullah hal-adzim, bisa-bisanya Louis membalas perkataan ku dengan pukulan talak begini
aku dengan cepat menutup bibirnya dengan telapak tangan ku yang baik-baik saja
"ih, mulutnya, mulus banget tanpa ram, malu tau kalau ada yang dengar bagaimana.....?" aku melihat panik pada kakak pramugari yang tengah berjalan ke arah kami dengan menyembunyikan senyum gelinya
"jadi kapan.....? malam ini sudah boleh.....?" Louis malah dengan sengaja melanjutkan perkataannya setelah berhasil menyingkirkan tangan ku yang menutup bibirnya, aku yang panik malah semakin berusaha keras menutup bibirnya yang sepertinya hari ini lupa belajar tentang akhlak
astaghfirullah, kan malu, apa lagi saat kakak pramugari itu menatap ku dengan tatapan geli, dia bahkan semakin melebarkan senyumnya, Allah ya Karim
aku mencoba menyembunyikan wajah ku pada ceruk leher Louis, mencoba menghindari tatapan geli Kakak pramugari itu
'ya Allah Zu malu'
memang benar sih istri itu tidak boleh menolak permintaan suami seperti halnya hadis yang diriwayatkan oleh imam Tirmidzi
"Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi)
tapi kan kita sudah sepakat waktu itu, untuk tidak melakukannya dalam waktu dekat ini, lagian saat ini juga bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini kan.....? di atas pesawat.....? yang benar saja, ini tentu bukan cara yang akan dipilih untuk menghabiskan waktu di atas pesawat sembari menunggu pesawat mendarat di tujuan kan...? bahkan oleh pasangan yang sudah lama menikah sekalipun, apa lagi pasangan baru seperti kami.....?
bukannya suami juga harus pengertian dengan kondisi istri ya, Rasulullah aja pengertian nunggu istrinya, masak Louis nggak bisa sih nunggu sebentar aja, tidak sampai tahunan juga, samapi aku siap aja, In sya Allah tidak akan selama Rasulullah, In sya Allah
“Bahwa Nabi SAW menikah dengan Aisyah ra, ketika Aisyah berusia tujuh tahun dan Aisyah kumpul dengan Nabi SAW ketika beliau berusia sembilan tahun, sementara mainan Aisyah bersamanya, dan Nabi SAW wafat ketika Aisyah berusia delapan belas tahun. (HR. Muslim: 3546)
"ini tuan kotak dan airnya, ada lagi yang bisa saya bantu tuan.....?" dia meletakkan kotak itu di atas meja dengan hati-hati, senyum profesionalnya kembali terpatri di bibirnya dengan anggun
"cukup, kamu boleh kembali" setelah Louis mengatakan itu, aku mendengar langkah kaki menjauh, mungkin dia kembali menghilang entah kemana seperti sebelumnya, mungkin di kabin khusus untuk para staf.....? aku tidak tau
"hi, dia sudah pergi" Louis menepuk punggungku dengan tepukan dan sapuan lembut
aku mengintip dari balik punggung Louis untuk memastikan dia telah benar-benar pergi
"ih, malu tau" aku memukul dada Louis dengan pukulan ringan, dan Louis hanya tertawa karena pukulan ku, aku bahkan sampai tercengang di buatnya karena baru kali ini aku melihat Louis tertawa dengan menapakkan giginya, walau suaranya terdengar lirih, Sunnah Rasulullah sekali bukan bapak suami ini, tertawa tidak terbahak-bahak tapi malu-malu kucing dengan suara lirih, luar biasa bukan......?
"tahan sebentar, mungkin ini akan sedikit perih" Louis kembali fokus pada telapak tangan ku yang terluka, dia mengoles obat luka yang ternyata sedikit perih hingga membuat ku meringis karenanya
"untung tidak terlalu dalam, lain kali ingat untuk memakai sesuatu yang padat dan tidak mudah pecah" perkataannya itu malah terdengar seperti saran yang sedikit mengerikan di telinga ku, seakan kejadian ini akan terulang kembali, memangnya dia berencana untuk menculik ku di lain waktu....?
"ok, akan ku ingat, In sya Allah" walau sebenarnya aku sangat berharap aku tidak akan pernah ada dalam situasi yang mengharuskan aku menggunakan kekerasan, buka kah tidak baik untuk membantah suami........?, jadi iyakan salah
"good girl" tangan nya terulur menyentuh ujung hidungku seperti yang pernah Louis lakukan sebelumnya
kami masih duduk dalam diam, menikmati sunyi di atas awan yang bercengkrama dengan gelap malam dan bintang bintang, aku bahkan masih dalam posisi ku, duduk di atas pangkuan Louis dengan tangan Louis yang melingkar sempurna membelenggu pinggang ku
"jadi, boleh malam ini kita sholat Sunnah yang itu....?" sepertinya kali ini Louis benar-benar serius dengan keinginannya untuk melakukan ibadah yang tidak akan bisa dilakukan oleh para jomblo
aku menarik nafas dalam dan menghembuskanya dengan pelan, mencoba menenangkan diri dan memantapkan hati
'bismillah, apa yang Allah takdirkan terjadi, maka terjadilah'