Thaha

Thaha
Yang Penting Halal



malam ini aku mencoba untuk membantu Mommy dan sedikit berbagi ilmu bagaimana mengolah makanan halal pada Berta, walaupun aku yakin Mommy sudah pernah mengajarinya


Alhamdulillahnya Mommy tidak keberatan dengan itu


walau aku tidak bisa masak masakan seenak dan secantik yang ada di restoran, tapi setidaknya makanan ku bisa di makan dan yang penting halal


untuk makanan halal, Mommy sebenarnya sudah banyak mempelajari hal itu, memiliki anak yang lama tinggal di Indonesia dengan statusnya yang seorang Muslim, memaksa Mommy untuk mau tidak mau belajar banyak hal tentang masakan Indonesia terutama masakan halalnya, apa lagi bahasa....?


hal yang paling di butuhkan untuk berkomunikasi dengan guru atau untuk keperluan saat ada kegiatan kampus Louis tentu saja


bahkan Mommy menyediakan daging halal yang di belinya khusus di toko Asia yang terletak di tengah kota, dengan harga yang lebih mahal dari harga daging bisanya, tentu saja!


apa yang kalian harapkan dari kota besar, dengan mayoritas penduduk non muslim, sudah barang tentu makanan halal disini sedikit langka, dan harganya pasti jauh lebih mahal


bahkan harga 2 potong tahu saja bisa mencapai 60.000 lebih, padahal di Indonesia uang sebanyak itu bisa mendapatkan 60 potong tahu, atau bahkan bisa membeli 1/2 kg daging sapi, atau 2 kg ayam....?


untuk sayur kangkung yang biasa kita makan hari-hari karena harganya yang murah satu ikatnya 2.000 disini kalian hanya akan mendapatkan itu jika kalian punya uang 35.000


intinya, Mahal!


aroma masakan menguat di seluruh penjuru dapur, memanjakan Indra penciuman ku dan mengundang gerak usus untuk bersorak dan berdemo agar segera bersua dengan zat-zat yang telah di rindukannya


saat Berta membuka bungkus santan dan memasukkannya kedalam panci yang sudah berisi rebusan daging dan bumbu, membuat perut ku seketika meronta ingin mengeluarkan isinya dengan paksa


aku berlari menuju kamar mandi yang berada di dekat Raung tamu, kamar mandi terdekat, sembari menutup mulut ku dengan tangan, berharap aku bisa mencapai kamar mandi dengan selamat


beruntung perut ku kosong, hingga membuat ku bisa dengan selamat sampai di kamar mandi yang jaraknya membuat ku ingin memaki siapapun yang mendesign rumah ini dengan luas yang tidak di perkirakan dengan benar, Astaghfirullah haladzim


'maafkan Zu ya Allah, bukannya Zu tidak sabar, hanya saja jarak yang terlalu jauh, sedangkan perut ku dengan tidak sabar ingin mengeluarkan isi yang ada di dalam nya membuat kesabaran ku tiba-tiba merosot pada titik minus'


'maaf pak arsitek, bukan meragukan kemampuan bapak, hanya saja bisa tidak rumahnya jangan terlalu luas....? susah ini larinya!'


"Albi...? are you ok.....?"


Louis datang mengagetkan aku yang tengah merosot lemas di samping closet karena perut ku yang terus meronta sedangkan di dalam sana hanya bersisa asam lambung dan gelembung udara....?


aku tidak menanggapi, karena serangan itu kembali datang


dengan cepat aku mencoba mengeluarkan isi perut ku, tidak ada yang keluar, leher ku sampai perih dan pahit luar biasa


Louis membantu mengurut tengkuk ku dari dalam Khimar yang ku kenakan, sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk memberi sapuan lembut di area perut


air mata ku sampai mengalir, bukan karena aku menangis, tapi karena tekanan dari perut yang terlalu di paksakan, di tambah rasa pahit yang memperburuk keadaan


tangan ku bahkan sudah ingin menyentuh refleks muntah yang berada di langit-langit mulut seandainya Louis tidak menghentikan ku


"jangan di keruk"


"biar....cepat.... muntah"


dengan terbata-bata aku mencoba menjawab, walau rasanya sangat sulit


"tunggu sebentar, jangan di keruk, ingat!"


dia berlari keluar kamar mandi setelah mengatakan itu, entah kemana perginya, aku tidak tau, sekarang aku hanya berfokus bagaimana cara menghilangkan rasa mual yang tiba-tiba menyerang ku tanpa ampun


sepertinya masuk angin karena belum makan sejak tadi siang


atau mungkin mabuk lautnya datang lagi....? mungkin belum tuntas....?


kayak hutang, yang waktu ngutang mintanya kontan, tapi pas bayar mintanya nyicil


entahlah


"Oh My God, Zu, are you ok....?"


"oh God"


"Mommy"


aku terkejut dengan kedatangan Mommy, Elisa dan Elio yang berseru sedikit lebih keras dari yang seharusnya


mungkin mereka terkejut dengan keadaan ku yang kembali merosot di samping closet menunggu serang selanjutnya, entah mengapa aku sangat yakin jika ini masih belum berakhir


"Mommy"


Elio mendekat dan hendak memeluk ku, tapi Elisa menghalanginya dan membawanya dalam gendongannya


"no, honey, little Mommy's can't carry you right now, she's not well" (tidak, sayang, little Mommy tidak bisa menggendong mu saat ini, dia sedang tidak enak bada)


Mommy membantu ku untuk berdiri dan membantu ku untuk duduk di atas closet setelah memencet tombol untuk menyiram dan menutup penutupnya


tentu saja setelah aku selesai berkumur-kumur dan membersihkan bibir ku


aku duduk di sana dengan bertumpu pada Mommy yang tengah berdiri menyangga tubuh ku yang tengah lemas


" sudah lebih baik....? kita pindah ke ruang tamu dulu"


Louis kembali datang dan mengangkat ku dalam gendongannya untuk menuju ruang keluarga


di atas meja sudah ada secangkir teh lemon hangat dan setoples permen, mungkin itu permen untuk Elio....?


ya Allah bagaimana bisa aku masih sempat berfikir itu permen punya siapa....?


"minum dulu"


Mommy membantu ku untuk meminum teh lemon yang sudah Louis siapkan


mana bisa aku meminumnya dengan tangan ku yang bergetar....? sepertinya aku benar-benar kelaparan!


atau kalian akan susah sendiri nantinya


dokter masih belum punya diagnosa untuk penyakit masuk angin!


"sudah lebih baik.....?"


"sepertinya, terimakasih, maaf Zu selalu merepotkan kalian"


"tidak apa kita kan keluarga, jadi tidak ada yang namanya merepotkan, kalau ada kesusahan kita tanggung sama-sama, bukankah itu gunanya keluarga.....?"


aku dengan cepat memeluk Mommy, menyuarakan segala bentuk terimakasih ku padanya lewat pelukan itu


"Mommy"


suara lirih Elio mengalihkan perhatian ku, batita menggemaskan itu kini tengah menatap ke arah ku dengan mata berkaca-kaca, mungkin dia khawatir.....?


"kemari"


aku mengulurkan tangan ku untuk menyambutnya, dengan cepat Elio berpindah dalam rengkuhan ku


bibir ku memberikan kecupan lembut pada pelipisnya berharap akan sedikit mengurangi kekhawatirannya, itupun kalau batita bisa mengartikan perasaan itu....?


aroma bayi yang menguar dari tubuh Elio menghantarkan rasa nyaman pada perut ku yang sudah mulai tenang


" Mommy lanjut masak dulu ya"


Mommy berpamitan untuk menyelesaikan masakan yang tadi kita masak, walaupun aku yakin Berta dengan yang lainnya akan melanjutkan hingga masakan itu matang


"oh ya, Elisa help me to call dokter Mel, ok...?" (oh ya, Elisa tolong bantu aku untuk menelfon dokter Mel, ok...?)


Mommy berpesan pada Elisa sebelum benar-benar pergi ke dapur


"tidak perlu mi, Zu sudah lebih baik, ini cuma masuk angin atau efek mabuk laut, it's ok I'm totally fine"


"are you sure....?"


Elisa bertanya memastikan, Hp nya kembali ia masukkan kedalam saku baju setelah mendapat anggukan dari ku


"biar Louis yang menghubungi dokter Mel jika nanti Zu kembali muntah"


setelah Mommy mendengar perkataan Louis, Mommy melenggang kembali ke dapur dan Elisa yang kembali melanjutkan memilih pakaian dan aksesoris seperti yang di lakukan Mommy tadi sore


dia duduk di sofa singgel yang berada di samping ku setelah memastikan jika Elio ingin duduk bersamanya atau tidak, dan gelengan halus dari Elio sebagai jawaban


"yakin sudah tidak apa-apa....?"


Louis kembali bertanya, mungkin untuk memastikan apakah aku butuh dokter atau tidak


"yakin, sepertinya aku memang tidak pernah bisa bersahabat dengan kapal laut"


aku membuang nafas berat, pasrah dengan kondisi ku yang akan selalu mabuk laut tiap kali naik kapal


"kenapa tidak bilang kalau sering mabuk laut....?"


"aku pikir kapal kecil tidak jadi masalah, siapa sangka malah lebih parah"


"ya Allah, lain kali kalau memang tidak biasa dengan sesuatu atau apapun itu, Zu bilang, aku hanya tidak mau Zu terlalu memaksakan diri"


"in sya Allah, maaf Zu sudah buat semuanya khawatir, gimana tadi lihat Zu kayak gitu....?"


"kaget lah, masak senang"


"bukan itu maksud Zu mah, khawatir nggak....?"


"khawatir lah pasti, istri satu-satunya gimana nggak khawatir"


"soalnya ekspresinya datar-datar saja tuh"


"kalau itu, no comment, sudah begitu dari sananya, mau gimana...?"


"walau ekspresi ku tetap tak berubah bukan berarti aku tak khawatir, aku khawatir tentu saja, apa lagi lihat Zu yang glesotan di ubin kamar mandi tadi"


"ya Allah, glesotan, itu bukan glesotan, tapi emang nggak ada tenaga untuk jongkok"


"iya deh, iya"


"ayo makan"


Luca datang dan meminta kami untuk bergabung dengan Mommy dan Daddy yang sudah menunggu di meja makan


Luca menghampiri Elisa dan merangkulnya menuju meja makan, sedangkan Louis menggendong Elio setelah aku menolak bantuannya saat hendak membantuku


ya kali aku di papah, sudah kayak apa aja


masih muda ini, belum renta, ya Allah


tapi Zu sangat bersyukur karena Louis yang selalu bersikap manis walau ekspresi wajah nya pahit


astagfirullah haladzim


maafkan Zu ya Allah, Zu nggak ada maksud menghina


hanya mencoba jujur dengan keadaan


...~TBC~...