
...******...
...*...
...*...
...*...
malam ini adalah malam yang sudah Mommy janjikan beberapa hari yang lalu, acara makan malam yang katanya hanya di datangi oleh keluarga besar Mommy dan Daddy, tapi entah mengapa aku tidak begitu yakin jika orang yang datang akan sedikit jumlahnya
kenapa pula aku harus belajar cara makan ala-ala kemaren dan juga belajar memadu padankan pakaian, toh pakaian yang ku pakai semuanya jilbab, yang artinya hanya satu jenis tapi banyak warna dan variasi, jika yang akan di undang hanya keluarga inti saja, tapi ngomong-ngomong memangnya cara makan ku terlalu aneh apa bagaimana....?
padahal mereka belum pernah melihat ku makan menggunakan tangan
itu adalah cara makan ternikmat di dunia!
sudah sejak sore tadi Mommy dan Elisa sibuk di dalam kamar mereka masing-masing dengan penata rias yang sengaja Mommy datangkan dari salon milik Mommy yang ada di kota, tidak banyak hanya dua orang, satu untuk Mommy dan satu lagi untuk Elisa, sedangkan aku.....?
tentu saja aku menolak saat Mommy menawarkan jasa itu, bahkan aku menolak saat dengan murah hatinya Berta menawarkan diri untuk membantu ku
tapi bukan berarti Mommy menyerah begitu saja dengan keinginannya untuk menjadikan aku boneka dalam permainan Dress up malam ini, Mommy bahkan meminta Belle untuk menyiapkan baju yang akan ku kenakan malam ini dari kemaren saat Belle menjadi guru bermain bongkar pasang di kamar ku
saat ini aku tengah berdiri memandangi baju yang tampak seperti tengah merayu ku untuk memakainya
baju dress panjang warna hitam bertabur hiasan dari batuan-batuan indah dan manik-manik yang indah, mengkilap bagai lampu-lampu kecil saat tertimpa cahaya
aku yakin itu pasti sangat berat, dan ribet!
pandangan ku beralih pada high heels yang tadi hampir membuat ku cidera seandainya Louis tidak menangkap tubuh ku yang oleng dan hampir berciuman dengan lantai tadi sore
aku secara spontan melemparnya secara asal sesaat setelah aku berhasil melepasnya dari kaki ku
aku menatap miris pada benda yang saat ini tergeletak tak berdaya di bawa lemari itu
ya Allah bagaimana aku harus memakainya....?
bukannya menjadi cantik, bisa-bisa aku kembali mematahkan kaki ku
belum lagi, dengan kenyataan tentang tidak bolehnya wanita berjalan sambil mengetuk-ngetukkan tumitnya
tadi saja saat aku mencoba berjalan dengan berpegangan pada lemari aku masih bisa mendengar bunyinya di setiap ketukan kaki ku, padahal aku berjalan di atas karpet
entahlah aku pusing!
boleh tidak, aku tidak ikut saja...?
seandainya aku bisa kabur malam ini, itu akan lebih baik
hhuuuufffffttt
aku membuang nafas dengan berat, berharap semua kebingungan ini berlalu seiring hembusan nafas yang keluar dari saluran nafas ku
dunia wanita memang tak sesederhana yang terlihat!
aku heran bagaimana mana bisa hal mengerikan seperti itu menjadi idola para perempuan dan bahkan mereka memiliki koleksi yang sangat banyak dengan tinggi yang tidak manusiawi
"masih belum ganti baju...?"
suara Louis yang menyapa gendang telinga ku, kembali membawa khayalan ku yang sempat melalang buana tadi kembali ke dunia nyata
ternyata dia sudah siap, Louis bahkan sudah selesai mengenakan suit hitam yang membalut tubuhnya dengan sangat sempurna
dia berdiri tepat di depan ku yang tengah duduk di atas kursi
"boleh tidak malam ini Zu tidak ikut....?"
aku menatapnya dengan pandangan memohon, berharap Louis mau mengabulkan permintaan ku kali ini
"kenapa Zu tidak mau ikut....? ini hanya acara makan malam keluarga, Mommy dan Daddy ingin mengenalkan Zu pada keluarga kita yang lain"
Louis mendekap ku dalam rengkuhannya dan memberi sapuan lembut di atas kepala ku, seakan ia ingin menenangkan kegelisahan yang masih saja menyelimuti hati ku
"yakin hanya makan malam....? kenapa tidak di rumah saja....? kenapa harus pakai baju itu juga, terus itu"
aku menunjuk pada high heels yang tergeletak tak bersalah
aku seperti sedang mengadukan pada Louis untuk menyingkirkan benda itu
Louis melirik pada arah yang ku tunjuk, tatapannya jatuh pada high heels yang tengah tergeletak mengenaskan akibat ulah ku
"sebenarnya, malam ini malam pertunangan Elisa dan Luca juga"
"hah....?"
aku melepaskan pelukan tangan louis yang membelit kepala ku dan menatapnya untuk mencari jawaban melalui tatapan matanya yang tentu saja sulit di baca
entahlah, aku yang terlalu tidak peka, atau Louis yang ekspresinya terlalu datar....?
"beneran"
"kok bisa, bukannya mereka sudah menikah, kenapa tunangan lagi....?
Louis tersenyum dengan sangat tipis dan memberikan sapuan di dahi ku yang berkerut dalam
hhhuuufffftt
aku kembali membuang nafas dalam dan kembali menjatuhkan kepala ku untuk bersandar pada perut Louis yang masih setia berdiri di depan ku
"Zu tidak mau pakai baju itu....?"
aku mengangguk dengan pasti dalam posisi yang masih mendekap Louis
"sepatu itu juga....?"
aku kembali mengangguk dengan antusias
"perhiasan itu juga"
tangan ku terangkat dan menunjuk pada deretan perhiasan yang tertata rapi di atas meja panjang yang berada di tengah ruangan
"ok, tidak usah pakai itu, pakai yang Zu suka saja, berdiri, aku bantu pilih kan"
aku berdiri dan mengekor di belakang Louis yang berjalan menuju deretan baju gamis casual yang lebih sesuai dengan keinginan ku
"pilih ini atau ini....?
Louis menunjukkan dua dress dengan merek yang sama
"itu yang navy bukannya pendek ya...?"
aku menunjuk pada baju navy yang berada di tangan kirinya.....?
"sepertinya asisten Mommy salah meletakkan ini, ganti dengan yang ini bagaimana...?"
"sebentar tunggu disini"
aku mengambil salah satu baju yang berada di urutan depan, membawanya keruang ganti meninggalkan Louis yang kembali meletakkan dua dress yang berada di tangannya
sepertinya dress ini tidak terlalu buruk untuk di pakai ke acara formal, sepertinya
aku keluar dengan dress putih simpel dan Khimar sewarna coklat susu yang menutupi rambut hingga dada
"yang ini bagaimana....?"
aku bertanya pada Louis yang sudah duduk di kursi dengan dua sandal warna putih di sampingnya dan juga tas kecil yang sangat lucu
"cantik, pilih ini"
Louis mengangkat dua sandal putih itu ke arah ku
dengan cepat aku memilih flat shoes yang memiliki pita cantik di sampingnya
Louis berdiri dan menuntun ku untuk duduk, dengan telaten dia mengambil sepatu itu dari tangan ku dan memasangnya di kaki ku yang sudah terbalut kaos kaki sewarna kulit
"terimakasih, padahal aku masih bisa memasangnya sendiri"
"tak apa biar cepat, ayo"
Louis menggenggam tangan ku yang kanan sedangkan tangan ku yang kiri ku gunakan untuk meraup tas yang sudah di siapkan Louis tadi, entah untuk apa aku membawa tas ini, padahal isinya juga kosong
begini lebih nyaman, simpel, mudah, dan yang pasti aku tidak harus takut tubuhku cidera karena menggunakan gaun dan alas kaki yang sudah seperti mainan Erang di kampung halaman ibu
dan yang lebih penting dari semuanya adalah ini lebih sesuai dengan hukum Syara', Aku suka dan Allah pun ridho dengan itu
ini lebih baik
...~TBC~...