
...~**🌧️**~...
...**...
...*...
"Zu......., eemmm.....perutnya masih sakit....?" Louis bertanya dengan hati-hati
walau aku merasa sedikit bingung dengan perubahan topik yang tiba-tiba, belum lagi dengan pertanyaan Louis yang terkesan sangat hati-hati membuat ku menatap Louis dengan kerutan di dahi yang sangat dalam, tak urung aku mengikuti arah pembicaraannya, walau aku menanggapinya dengan sebuah pertanyaan juga
ini namanya jurus tidak mau menjawab
"Hubby tau darimana kalau perut Zu sakit....?
"Zu, walaupun kita terpisah jarak yang cukup jauh, bukan berarti aku akan lepas tanggung jawab atas Zu, tentu aku akan mengusahakan yang terbaik untuk menjaga Zu"
"oe oe... so sweet"
"anak ini" ibu yang duduk di sampingku, seketika menghentikan kegiatannya menata barang di atas lemari kecil yang terletak di samping tempat tidur, dan dengan gerakan gemas memberi cubitan lembut pada pipi ku
"iya loh Bu, pak su-nya Zu, so sweet banget, ayangnya ibu kalah so sweet, ngiri ya....?"
"nggak tu" ibu mengatakan dengan acuh, seraya berjalan menuju sofa
aku baru sadar jika kamar ini memiliki perabotan yang cukup lengkap, ukuran yang cukup luas, dan yang pasti bukan tempat yang akan di datangi oleh keluarga ku, dan tentunya kamar yang akan sangat jauh berbeda dengan kamar rumah sakit yang selalu ku lihat, saat menjenguk teman atau saudara ku saat mereka mendapat ujian sakit
aku menfokuskan kembali atensi ku pada Louis yang menatap ku dengan senyum tipisnya
"Alhamdulillah, melihat Zu yang sudah menjali ibu, berarti perutnya sudah tidak sakit lagi" Louis berbicara dengan senyum tipis yang selalu membayang di bibirnya, tapi entah mengapa sorot matanya seperti memancarkan sesuatu yang berbeda
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, hubby jangan khawatir, disini ada ibu, Rama dan saudara Zu, mereka juga lagi di usir dari negara tempat mereka belajar, hihihi" aku tertawa di ujung kata-kata ku, mengingat jika kak Abyan dan Absyar tidak akan punya senjata untuk mengejek ku
"Albi....."
suara Louis terdengar lebih lembut saat memanggil ku
"iya"
"eemmm, kalau seandainya ada orang yang menitipkan sebuah barang pada Albi, dan setelah beberapa hari orang itu datang lagi untuk mengambil barang titipannya, apa Albi akan mengikhlaskan barang titipan itu....?"
aku sedikit aneh dengan pertanyaan yang Louis tanyakan, bukannya apa, seharusnya jawabannya sudah sangat jelas iya kan....?
"bagaimana apanya.....? ya di kembalikan dong Hubby, masak Zu tahan, itukan bukan milik Zu" aku menggerakkan kepala ku ke kiri dan ke kanan, tak lupa dengan senyum dan tawa kecil yang membuat Louis yang berada di sebrang sana juga ikut tersenyum kecil
" Albi....., Allah telah menitipkan karunianya kepada kita beberapa waktu lalu, tapi kemaren waktu Albi pulang ke Indonesia Allah ambil kembali..."
aku mencoba mencerna perkataan Louis dengan otak ku yang tiba-tiba kosong, yang terngiang di kepala ku hanya kata "Allah telah mengambil kembali titipannya"
"Zu....." suara Louis kembali terdengar, mencoba menarik kesadaran ku yang tiba-tiba terkunci dalam benak
"sayang......"
saat kesadaran itu menghantam benak ku, tanpa sadar butiran kristal bening perlahan mengalir membelah pipi ku yang semula kering
aku menangis dalam diam tanpa suara
"Zu, sayang....." entah sejak kapan ibu yang awalnya duduk di sofa kini telah berada di samping ku, memeluk ku dan mencoba menenangkan aku yang tetap mematung
di layar tampak Louis juga terpejam, mencoba menahan air mata yang sayangnya sudah mengalir dan tidak dapat terbendung lagi
"hi, honey what what's going on....?"
Mommy yang baru saja masuk ke area ruang tamu terkejut melihat keadaan Louis
dia berjalan ke arah Louis dengan tergesa dan mencoba menanyakan keadaan Louis, saat mata Mommy menatap pada layar, bukan. lebih tepatnya menatap kearah ku yang juga tengah mematung dalam dekapan ibu. dan dengan air mata yang masih mengalir deras. Mommy tak lagi bertanya.
"it's ok honey, it's ok"
Mommy membawa Louis dalam dekapannya seraya menatap kearah ku. dan dengan kata-kata lembutnya mencoba menenangkan kami berdua, walau nyatanya Mommy sendiripun ikut menangis dalam diam
" ibu, Louis titip istri dan anak Louis, sayang jangan terlalu lama bersedih, ikhlaskan. apa yang menjadi milik kita insyaAllah akan Allah kembalikan pada kita"
setelah mengatakan hal itu, layar yang semula menampakkan wajah Louis dan Mommy kini berganti menampilkan gambar keluarga yang ibu jadikan wallpaper HP-nya
baru setelah wajah Louis tak lagi tampak, suara tangis ku pecah, menangis dalam dekapan ibu, dengan berulang kali berucap "inna lilahi wa Inna ilaihi Raji'un" tanpa sadar sejak tadi aku mencoba untuk tidak terlalu histeris, mencoba untuk mengikhlaskan apa yang sudah Allah tetapkan untuk ku. karena sejatinya apa yang kita miliki saat ini semua adalah milik Allah, sedangkan kita hanya memiliki hak pakai, hak pinjam, bukan hak milik.
"ya Allah, anak Zu Bu" aku tak dapat lagi membendung tangis ku, walau aku mencoba sekuat tenaga, tak urung kesedihan yang teramat ini melanda ku
"sabar sayang, Allah sudah mengatur yang terbaik untuk Zu"
"Zu bahkan tidak pernah tau kalau dia ada ibu, Zu tidak tau ibu, ya Allah"
walau aku mencoba untuk menahan rasa sakit dan sedih yang tiba-tiba mendera, penyesalan yang terus menggerogoti, pengandaian yang terus berputar-putar dalam benak
andai aku tau lebih awal
andai aku tau jika dia telah tumbuh di dalam perut ku
andai aku bisa lebih berhati-hati
andai....
andai....
dan andai andai yang lain
sungguh aku telah mencoba untuk mengikhlaskannya, mencoba untuk menerima dengan dada yang lapang
tapi, tak semudah itu untuk menjadi ikhlas
"ibu tau Zu sedih, tapi Zu harus tetap ingat sayang, apa yang terjadi pada Zu, bukan berarti Allah tidak sayang Zu, mungkin ini yang terbaik untuk Zu dan juga Louis
kemaren dokter menyampaikan pada kami, jika keguguran yang Zu alami, akibat benturan yang terjadi sebelumnya, stres dan juga tubuh Zu yang mengalami kelelahan membuat calon baby tidak bisa melekat dengan sempurna pada diding rahim Zu yang sedang terluka,
seandainya baby bisa bertahan, baby tidak akan bisa berkembang dengan sempurna sayang. bukankah Allah maha baik, Ingat Zu, Allah maha mengetahui apa-apa yang tersembunyi, Allah menyayangi setiap hambanya tanpa pamrih sayang, tapi kadang kita yang terlalu egois dan terlalu memaksakan kehendak kita"
"Louis yang mendengarkan itu juga sama seperti Zu, terpukul, sedih. tapi Zu lihat kan tadi Louis mencoba untuk tetap tegar, tenang, dan tersenyum. Zu juga harus begitu, Zu juga harus sabar sayang"
aku semakin menangis mendengar bagaimana kondisi bayi yang belum sempat ku lihat, Bahakan tidak pernah aku ketahui keberadaannya
"sabar sayang"
"Bu, Zu mau ketemu Elio" entah mengapa saat ini aku sangat membutuhkan Elio, aku ingin memeluknya
"Zu harus tenang jika ingin segera bertemu Elio, harus berusaha untuk cepat sembuh"
"eeemmm, Bu Zu ingin istirahat boleh.....?"
aku tidak ingin ibu semakin bersedih dengan kondisi ku, aku akan mencoba untuk mengikhlaskannya walau sudah dapat dipastikan jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakannya
ibu membantu ku untuk berbaring dengan perlahan
"istirahat ya sayang, Jangan terlalu stress, Ingat, ikhlaskan apa yang sudah Allah tetapkan, insyaAllah Allah akan ganti dengan yang lebih baik"
ibu memberi sapuan dan ciuman lembut pada pucuk kepala ku sebelum meninggalkan ku dan kembali duduk di sofa
aku kembali beristighfar mencoba untuk mengikhlaskannya, dan menerima setiap qoda' yang Allah tetapkan dengan hati yang lapang
aku sibuk dengan benak ku yang terus berputar pada kondisi yang sama hingga tak menyadari seseorang yang masuk ke dalam ruangan, dia berbicara pada ibu sebentar dan kembali keluar setelah selesai dengan urusannya
aku mencoba terpejam, mencoba menenangkan hati yang baru saja terserang badai kesedihan cukup dahsyat
...~**TBC**~...
...**...
...*...