
...*****...
...*...
...**...
saat ini mobil yang kami tumpangi tengah membelah jalan kota Roma, suasana yang semula ramai dengan lantunan musik pengiring, meliuk dan berdansa dengan udara malam yang temaram, kini berganti sunyi dan senyap, menyisakan lampu-lampu yang berpedar indah menghiasi tepian jalan
" kenapa tempat ini sangat sunyi....? apa orang-orang di tempat ini pergi mengunjungi tempat tadi...?" aku bertanya pada Louis yang tengah fokus pada jalan di depan sebelum kemudian Louis menepi ke bahu jalan
"kenapa berhenti....?" aku bertanya dengan bingung
"aku lupa untuk membeli sesuatu, Zu tunggu disini sebentar, tidak akan lama. jangan keluar dari mobil" Louis tidak menjawab pertanyaan ku yang yang sebelumnya, dia keluar setelah memberi sapuan lembut di pucuk kepala ku yang ku respon dengan anggukan ringan tanda mengiakan
dengan awas ekor mata ku mengikuti setiap pergerakan Louis yang ternyata menuju apotik tepat di samping mobil, aku baru menyadari jika kita berhenti di depan apotik, bukannya apa, tulisan yang terpampang di plakat toko adalah tulisan yang tidak bisa ku baca ditambah dengan suasana toko yang terhalang plataran luas sebagai tempat parkir
wajar bukan....? negri asing, tempat asing dengan nuansa yang juga asing. dan untungnya bukan dengan orang asing
tak berapa lama Louis kembali dengan kantong kecil di tangan kirinya berjalan melewati depan mobil sebelum kembali masuk dan duduk di kursi kemudi
"beli apa ...?" rasa ingin tau yang menggelitik benak ku membuat ku mau tak mau menyuarakan suara dan bisikan yang sejak tadi mendesak ingin keluar
"beli masker, sekarang itali sedang tidak baik-baik saja, jadi untuk jaga-jaga kita pakai masker, tadi aku lupa membawanya dari rumah, jadi beli deh " Louis menjelaskan dengan tangan yang sibuk mengambil masker untuk di pasangkan pada ku dan juga Elio
"karena virus yang tadi?" aku kembali bertanya untuk memastikan
"iya, karena kita memasuki tempat yang jumlah kasusnya sedikit lebih banyak dari tempat lain, jadi kita harus menggunakan masker, untuk perlindungan. dan kenapa tempat ini sepi...?, mungkin masyarakat di daerah ini sudah mulai membatasi untuk tidak banyak berinteraksi dan beraktivitas, walau tidak semua tempat melakukan hal yang sama"
mendengar perkataan Louis membuat alam bawah sadar ku bekerja otomatis, dengan cepat tangan ku merengkuh tubuh Elio, reflek alami untuk melindungi.
"it's ok. everything Will be fine"
(tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja)
mungkin Louis melihat pergerakan ku dan sorot kekhawatiran yang tidak dapat ku tutupi
"Elio bagaimana?" aku bertanya dengan suara yang sedikit tersendat.
takut jika Elio yang masih sangat rentan akan mengalami hal yang menyakitkan, walau aku tidak mengetahui separah apa virus ini saat menyerang sistem kekebalan tubuh kita
virus yang sekarang beredar kasusnya hampir sama dengan penyakit thaun di zaman Kholifah Umar bin Khattab
membayangkan hal itu membuat ku berfikir, jika pada zaman itu saja, yang segala sesuatu dan segala permasalahan di selesaikan dengan Islam, dengan penyelesaian yang sempurna tanpa dampak merugikan baik bagi manusia ataupun alam sekitar. penyelesaian dan penanganan masalah yang luar biasa bagus dan pengkajian yang mendalam tentang penyakit itu saja masih banyak korban jiwa yang berjatuhan
apa kabar kondisi sekarang?
jika di masa itu, dimana nyawa setiap individu sangat berharga dan terjamin keselamatan dan kesejahteraan-nya saja masih banyak yang tumbang menjadi korban, bagaimana dengan kondisi sekarang....?
zaman dimana orang-orang sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri, zaman yang tidak lagi melihat kesusahan orang lain, zaman dimana seorang muslim tidak lagi memikirkan kondisi muslim yang lain, dan zaman dimana jiwa dan nyawa tidak lagi mendapat keamanan dan penjagaan
dari sang pemimpin, aku tidak akan heran jika akan sangat banyak korban yang berjatuhan
hal itu yang membuat ku semakin takut dengan kondisi Elio, walau aku juga khawatir dengan kondisi Louis dan keluarga ku yang lain, tapi daya tahan tubuh batita jauh lebih rentan dari orang dewasa
"Elio akan baik-baik saja, kita akan menggunakan jalur khusus, jangan khawatir"
walau aku tidak begitu memahami jalur khusus seperti apa yang di maksud oleh Louis, tapi aku yakin jika Louis tidak akan pernah menempatkan kita pada posisi yang berbahaya. yang aku tau, bahwa Louis akan memastikan kita berdua dalam kondisi aman dan baik-baik saja.
Sapuan konstan dari tangan Louis menghantarkan perasaan hangat yang dengan perlahan membalut hati ku yang semula gelisah dan dengan perlahan menjadi tenang
perjalanan yang kami tempuh tidak memakan waktu yang lama untuk sampai di rumah sakit, rumah sakit yang sama dengan yang terakhir kali aku tempati
perjalanan berlangsung sunyi, hanya sapuan lembut dari tangan Louis yang tidak memegang kemudi yang menghantarkan kehangatan dan perasaan tenang tanpa perlu banyak bicara
walaupun lorong yang kami lalui sangat sepi tapi aku masih bisa mendengar riuh para pengunjung saat melewati salah satu lorong yang mungkin berjarak sangat dekat dengan pintu samping UGD/IRD/ER.
mendengar riuh suara yang saling bersautan membuat ku mengetatkan genggaman pada tangan Louis yang sejak tadi ku genggam
suara tangisan yang saling bersautan dengan suara jerit kesakitan, ditambah dengan derit dari berakar dan sirine ambulan sebagai backsound membuat suasana lorong sedikit mencekam bagi ku
aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi di IRD/ ER saat ini, pasti lebih mengerikan daripada di lorong ini yang hanya bisa mendengar bunyi bisingnya tanpa melihat secara langsung
kami berjalan menuju ruangan VVIP yang sudah di sediakan khusus untuk keluarga kami. aku menyusur langkah demi langkah melewati setiap bilik yang sepi dan sunyi hanya bertemankan bunyi alat bantu penopang kehidupan yang dengan izin Allah menjadi wasilah datangnya kesembuhan
perjalanan terasa lama dan sedikit menegangkan, suasana rumah sakit yang selalu ramai akan lalu lalang saat siang hari, kini berubah sunyi, hanya ada beberapa perawat yang bertugas dan tetap standby di balik nurse station yang selalu siaga 24 jam. sedangkan di sepanjang lorong sangat sepi dan sunyi.
kami telah sampai di ruang rawat, ruangan yang sama dengan yang ku tempati sebelumnya. seorang perawat wanita yang ku tau bernama Angel, dari name tag yang tersemat di dada kirinya membantu ku untuk menyiapkan pakaian pasien
setelahnya dokter Alice menanyakan beberapa hal untuk pemeriksaan awal dan mencatatnya di kertas catatan medis
setelah melakukan serangkaian pemeriksaan umum kini berganti dengan pengambilan sampel darah yang sering membuat tenggorokan ku kering saat melihat betapa panjang jarum yang akan menembus kulit ku
"by.." aku memanggil Louis untuk mendekat Louis baru saja menidurkan Elio di ranjang khusus, ranjang yang juga sudah di gunakan Elio sebelumnya
Louis mendekat dan membawaku dalam pelukannya, dengan spontan aku menyembunyikan wajah ku dalam dekapan Louis, dan dengan erat menggenggam punggung kemeja yang Louis kenakan
sapuan konstan dan kata-kata menenangkan dari Louis sama sekali tidak membuat ku tenang, apa lagi saat sapuan dining kertas Alkohol menyapa kulit
"istighfar Albi" Louis kembali mengingatkan saat tangan ku dengan kencang menarik kemejanya
lantunan istighfar terus mengalir dari lasan ku, detik yang berdenting terasa sangat lama, apalagi saat jarum suntik yang luar biasa tajam menembus pembuluh darah ku.
"done, are you ok Mrs. Ferrero...?" dokter Alice bertanya dengan suara yang sedikit berger
aku dengan perlahan melepaskan genggaman ku pada kemeja Louis dan berbalik menghadap dokter Alice
saat aku menatapnya membuat ku memahami mengapa suara dokter Alice sedikit bergetar, ternyata suami ku menyeramkan itu beberapa orang
"sure, is it done...?" aku bertanya setelah memberinya senyuman menenangkan
"by..... duduk sini" aku meminta Louis untuk duduk di dekat ku, berharap dengan itu postur Louis tidak terlalu mengintimidasi dokter Alice. karena pada dasarnya tatapan Louis sejak tadi hanya tertuju pada ku, dan dia terlalu sibuk menenangkan aku yang tegang.
jadi dapat di simpulkan bahwa keberadaan Louis dengan nama Ferrero di belakang namanya saja sudah sangat membuat orang ketakutan di buatnya. ini tidak ada kaitannya dengan Louis yang dengan sengaja menatap orang lain dengan tatapan tajam untuk mengintimidasi
atensiku kembali pada dokter Alice yang menjelaskan tentang kondisi ku
"yes, we just need to check your blood sampel, and we will be sure about your condition" dokter Alice menjelaskan dengan nada yang lebih tenang
"ok, thank you very much dokter Alice and nurse Angel"
setelahnya mereka berpamitan meninggalkan kami bertiga
tapi tak berapa lama Louis izin untuk pergi ke minimarket yang terletak di samping gedung utama rumah sakit untuk membeli beberapa keperluan Elio sambil menunggu bodyguard Daddy mengantarkan keperluan Elio dari rumah
dan tinggallah aku berdua dengan si gembul Elio yang tengah mengarungi lautan mimpi menuju pulau kapuk dengan sejuta fantasi
...*****...
...***...
...**...
...*...
...~*TBC*~...