Thaha

Thaha
Hujan pembawa rindu 4



...~**🦜**~...


...**...


...*...


setelah melalui perdebatan batin yang luar biasa berat dan menguras perasaan, akhirnya aku memutuskan untuk menekan tombol panggilan darurat yang terhubung langsung dengan nurse station


'lebih baik aku menitipkan Elio pada perawat sampai Louis datang' ini adalah keputusan yang terbaik


tak lama waktu berselang Angel datang mendekat kepada kami yang masih berdiri di luar ruangan


aku mencoba menjelaskan situasi ku saat ini, dan seorang dari laki-laki yang tadi berbicara dengan ku kembali menjelaskan duduk persoalannya kepada Angel dengan menggunakan bahasa Italia


walau awalnya Angel menolak, di samping berkaitan dengan prosedur rumah sakit. ini juga berkaitan dengan Louis dan keluarganya. belum lagi rumah sakit ini adalah milik Luca, sangat wajar jika Angel sangat berhati-hati terhadap salah satu keluarga dari sang pemilik rumah sakit, salah salah pekerjaannya bisa menjadi taruhan


walau aku yakin Louis dan Luca bukan orang yang gegabah dalam mengambil keputusan


melihat wajah kebingungan dan juga khawatir milik Angel membuat ku merasa tidak enak


"nurse, can you help me to call my husband...?" aku meminta tolong pada Angel


dia mengiyakan dan dengan cepat Angel membawa kami menuju nurse station, mengambil benda pilih canggih miliknya dan memberikannya pada ku, bersama dengan rekam medis milik ku yang berisi data pribadi dan juga nomer telepon milik Louis sebagai penanggung jawab ku


aku menunggu beberapa saat sebelum sambungan terhubung, suara Louis terdengar dari sebrang dengan sapan yang sangat dingin, berwibawa dan sedikit menakutkan di telinga ku


"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, by ini Zu" aku mencoba memahami sikap Louis yang sangat dingin, hal yang sangat wajar memang, mengingat nomer yang ku gunakan ini adalah nomer asing yang tidak tersimpan dalam kontaknya


"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, Albi, ada apa sayang, aku masih di minimarket bawah, ada barang yang Albi mau....?" nada suaranya berubah lembut dan hangat sebagaimana nada yang biasa Louis gunakan saat berbicara dengan ku


"eeemmmm, ini....disini.... " aku masih ragu untuk menyampaikan


ada rasa takut dan khawatir yang bergelayut samar-samar menggantung dalam benak


"bi.... Albi...., kenapa ...?"


'bagaimana caranya aku menyampaikan kepada Louis.....?' aku bertanya dalam hati


belum siap....? iya. takut.....? iya. dan banyak lagi perasaan yang kurang menyenangkan yang menari-nari dalam benak ku


"eemmm, disini ada orang dari Kemenlu yang datang untuk menjemput Zu, sepertinya Zu harus kembali sekarang ke Indonesia" aku mengucapkan dengan sepelan dan selembut mungkin, berharap tidak mendapat reaksi yang berlebihan dari Louis


"Albi, ini bercanda kan...?" Louis bertanya memastikan, atau Louis tengah menganggap bahwa aku saat ini tengah mengelabuinya....? tapi untuk apa...? apa untungnya juga....? dosa yang ada.


bercanda boleh, bohong jangan


itu prinsip hidup, Islam juga mengajarkan demikian


"malah di bilang bercanda, seriusan ini by, mau bicara sama orangnya...? tunggu sebentar"


aku memberikan HP dalam genggaman ku pada Ayudia, dan memintanya untuk menjelaskan pada Louis


setelah penjelasan yang cukup panjang lebar, Ayudia mengembalikan HP itu kembali pada ku


"by, tunggu aku sebentar, aku akan segera kembali" terdengar bunyi beberapa barang jatuh dan suara Louis yang tengah berbicara dengan seseorang sebelum kemudian sambungan terputus


aku mengembalikan HP milik Angel dan Angel beralih pada panggilan telfon rumah sakit untuk mengurus beberapa hal, sedangkan aku kembali ke ruang rawat setelah meminta tolong salah seorang rekan sejawat Angel untuk mendampingi dan menjaga Elio, empat orang dari Kemenlu tetap mengawasi setiap pergerakan ku


aku mencoba menurunkan Elio dari dekapan ku dengan perlahan. namun hal yang sama seperti sebelumnya kembali terjadi


bayi gembul ku kembali bangun dan meraung tidak ingin turun dari gendongan ku, tidak hanya itu, tapi Elio juga menarik Khimar yang ku kenakan sebagai pegangan dan berteriak pada rekan Angel yang mencoba menggendongnya


hal itu berulang hingga suara Elio menjadi serik, jadi mau tak mau aku harus mengala dan membiarkan Elio tetap dalam gendongan ku


dan aku terpaksa tetap menggunakan seragam rumah sakit, walau aku masih menggunakan minha di dalam pakaian rumah sakit ku, tapi aku merasa tidak nyama. aku malah terlihat seperti pasien rumah sakit yang melarikan diri dan itu membuatku risih



sepanjang perjalanan mengikuti 4 orang dari kemenlu aku mencoba memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa mengganti jilbab yang ku kenakan, sumpah sangat tidak lucu jika sampai di bandara aku menjadi pusat perhatian karena baju pasien yang ku kenakan


dan tentang permintaan Louis agar aku menunggunya, sayangnya hal itu tidak dapat dikabulkan oleh mereka, jadi mau tidak mau aku meminta rekan Angel untuk menyampaikan kepada Angel untuk menghubungi Louis sekali lagi


selain untuk meminta Louis menemui ku di bandara, juga untuk mengambil bayi gemoy yang sejak tadi bergelayut dalam gendongan ku tanpa mengendorkan sedikitpun cengkeramannya pada leher ku


Elio seakan tau jika dia sebentar lagi akan berpisah dengan ku


perjalanan panjang terasa sangat singkat, aku menghembuskan nafas berat saat kami telah sampai di bandara, mata ku dengan awas memandang kerumunan yang biasanya sangat ramai kini cukup sepi, mungkin karena penerbangan sudah mulai dibatasi....? atau karena saat ini sudah masuk waktu tengah malam dan mendekati dinihari....?


memikirkan itu, aku malah membayangkan sosok kartun yang kabur diri pesta saat jam berdenting tepat di tengah malam


aku mencoba menghibur benak ku yang tengah kalut, walau akhirnya juga gagal


dengan perasaan tak menentu aku menunggu kedatangan Louis yang tak jua tertangkap netra ku yang sejak tadi menjelajah


mereka membawaku menuju jalur keberangkatan internasional, semakin dekat jarak ku dengan ruang tunggu, semakin besar perasaan gelisah yang menggerogoti benak ku


dan dengan panik aku meminta kepada mereka untuk mengizinkan ku menunggu hingga Louis datang, tapi mereka tetap menolak. dan malah meminta ku untuk masuk barisan, di depan ku sudah berbaris panjang wajah-wajah khas negeri ku tercinta dengan kondisi yang sedikit lebih baik dari ku. mungkin mereka memang menginginkan untuk pulang


Belum lagi, ini adalah fasilitas gratis yang di sediakan oleh negara secara langsung


sedangkan aku....?


pulang paksa...?


benak ku bertanya-tanya apakah pemulangan dari negri orang harus se drama ini....?


aku jadi penasaran siapa orang iseng yang melaporkan keberadaan ku di negri ini....?


bukanya Louis waktu menculik ku dia menggunakan pesawat pribadi....?


semakin memikirkan hal itu, semakin membuat ku menghembuskan nafas lelah berulang kali


belum lagi fakta bahwa saat ini aku tengah membawa anak orang, walaupun Elio keponakan Louis, tapi bukan berarti kita bebas membawanya


di tambah dengan kenyataan pahit aku yang tidak bisa menghubungi keluarga ku


'gimana aku pulangnya.....?'


'pesawatnya langsung Surabaya atau Jakarta.....?'


mengingat hal itu membuat air mata ku tanpa sadar mengalir dengan deras, tangan ku memeluk Elio untuk mendapatkan kekuatan, terombang ambing tanpa kejelasan tidak terlalu menakutkan jika aku sendiri yang menanggungnya


tapi hal itu menjadi sangat menakutkan saat membayangkan bagaimana aku bisa membawa Elio dalam situasi yang mengerikan ini....?


seandainya bukan karena keimanan yang merengkuh ku dengan sangat kuat mungkin saat ini aku akan meraung dan meratap, aku bersyukur Allah menguatkan hati ku dengan pasti aku mengingat tentang surat Cinta Allah untuk hambanya.


"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita"


At-Taubah:40


dan aku akan mengingat sebesar apapun masalah ku, Rahmat dan nikmat Allah lebih besar


...~**TBC**~...


...**...


...*...


..."INGATLAH JIKA MASALAH MU SEBESAR KAPAL, MAKA NIKMAT ALLAH SELUAS LAUTAN. DAN JIKA MASALAHMU SETINGGI GUNUNG, MAKA NIKMAT ALLAH SETINGGI DAN SELUAS ANGKASA"...