Thaha

Thaha
Should I say goodbye.....?



Aku terbangun dari tidur singkat ku saat waktu sudah beranjak siang, Elio yang baru tidur saat memasuki waktu sholat subuh masih bergelung dalam hangatnya balutan selimut tipis yang melingkupi tubuh mungilnya, tidur ba'da subuh setelah bergadang semalaman bukanlah kebiasaan ku, tadi aku sudah hendak keluar dari kamar untuk menyiapkan segala keperluan Louis dan tidak memilih untuk ikut bergelung bersama Elio, tapi Louis malah menuntunku untuk kembali berbaring dan bergabung dengan Elio yang baru saja terlelap, dia bahkan memeluk ku dengan erat agar aku tetap pada posisi berbaring bersama mereka, sapuan lembut tangan Louis mengantarkan rasa kantuk yang sebenarnya sudah mengintip di pelupuk mata, aku tertidur setelah mendapat sapuan lembut tangan Louis yang tidak kurang dari sepuluh hitungan


jadi disinilah aku sekarang, baru terbangun saat jarum jam sudah menyentuh angka sembilan


aku kesiangan!!!!


aku sudah hampir meloncat dari tempat tidur saat pergerakan kecil di samping ku menghentikan langkah ku, Elio terbangun dengan mata bulatnya yang mengedip lucu, MasyaAllah gemes


"good morning, baby" aku menyapanya dengan senyum hangat saat melihatnya masih tampak bingung, tangannya terulur meminta ku untuk merengkuhnya dalam gendongan ku


"Mommy" dia bergumam lirih dengan kepala kecilnya yang rebah di pundak ku


"let's go to find your Mommy" aku mencoba berdiri dari tempat tidur dengan membawa Elio dalam gendongan ku, pergerakan yang cukup sulit untuk gerakan olahraga pagi apalagi untuk orang yang tidak terlalu suka olahraga seperti ku, ya Allah sepertinya aku harus mulai belajar untuk mulai menyukai olahraga


aku melangkah dengan Elio yang bergelayut manja dalam dekapan ku, beruntung karena kamar yang aku tempati berada di lantai bawah, ini sangat membantu!, sehingga aku tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk turun tangga


aku menghentikan langkah ku saat kami sudah dekat dengan meja makan, di sana mereka tengah sarapan bersama walau ada beberapa di antara mereka yang piringnya sudah kosong, mereka tetap di sana hanya untuk mengobrol dan berbincang dengan hangat


aku melihat betapa hangat interaksi di antara mereka, bahkan Louis bisa tersenyum seindah itu, di saat aku tidak bisa membuatnya tersenyum dengan lebar, jangankan untuk tersenyum lebar untuk melengkungkan bibirnya saja akan sangat sulit untuk ku lakukan


"did you wanna see beautiful flowers with me...?, let's me take you there" aku melangkah mundur beberapa langkah sebelum berpaling dan membentang jarak dari mereka yang tengah bercengkrama hangat, aku tidak ingin menjadi air dingin yang tiba-tiba hadir di antara hangatnya suasana yang telah tercipta


kaki ku berhenti di tengah taman bunga yang tertata dengan rapi, udara sejuk yang menyapa permukaan kulit ku terasa menyegarkan, bait pesan cinta yang mengalir bersama semilir angin dari Rab yang maha pengasih berbisik lirih pada hati yang sedang gundah


namun demikian aku bersyukur karena setiap kejadian seakan memberi isyarat agar hati ku tetap teguh dalam menghadapi setiap kepedihan yang tengah ku hadapi, akan selalu ada bahagia yang berjalan beriringan dengan setiap pedih yang datang menghampiri


aku menimang Elio yang masih bergelung malas, tangan ku mengusap lembut punggungnya yang tertutup selimut tipis, mahluk menggemaskan yang akan ku rindukan di saat-saat sendiri ku nanti, aku mencondongkan wajah ku untuk melabuhkan kecupan manis di pucuk kepalanya, mata ku terpejam mencoba merekam aroma yang mungkin tidak akan mampir kembali di Indra penciuman ku


saat mengingat perpisahan ku dengan semua yang tersaji saat ini sangat dekat membuat ku berusaha keras untuk menghalau air mata yang selalu siap meluncur bebas dari pelupuk mata


tidak ingin terlalu berlarut dalam suasana yang selalu membuat ku memeluk nestapa, aku mencoba untuk mengalihkannya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat menurut ku, aku bermaksud beranjak untuk membuatkan susu dan sarapan milik Elio, tentu saat aku merasa hati ku sudah ku bentengi dengan sangat aman dari setiap rasa sakit yang sering kali menyusup tanpa di undang


namun kembali ku urungkan niat ku saat ku lihat Elio yang bergerak gelisah dan merengek, dengan refleks alami aku kembali menimangnya dan sedikit bersenandung lirih, aku mencoba menenangkannya dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang sudah ku hafal dengan irama yang lebih soft


ujung mata ku melirik pada seorang asisten rumah tangga yang kebetulan melintas di teras samping, aku mencoba melambaikan tangan ku semampu yang aku bisa dengan pergerakan yang sangat terbatas, beruntung dia bisa memahami maksud ku, tapi yang menjadi masalah saat ini adalah, dengan bahasa apa aku harus berbicara dengan nya, tentu bahasa Italia bukanlah pilihan, secara, aku tidak faham dan tidak tau bagaimana mengucapkannya, aku terus memutar otak sembari menunggunya mendekat


"yes Mrs. may I help you.....?" dia berkata dengan sangat sopan, tanpa sadar aku menghembuskan nafas lega saat ia berbicara dengan bahasa Inggris


"can you help me to make some milk for Elio......?" aku menatapnya dengan mata yang memancar permohonan


"sure" dia mengangguk dengan senyum yang terpancar menghiasi pipinya yang melengkung lebar


"thank you" dengan sangat mudah senyumnya menular pada ku hingga tanpa ku sadari bibir ku juga ikut mengukir lengkungan indah


dia kembali masuk kedalam rumah meninggalkan ku yang masih mengembangkan senyum ku, sikap ramah yang tidak pernah ku bayangkan akan ku jumpai di negri yang baru ku datangi, menghantarkan selimut hangat yang melingkupi relung dada ku


aku tetap terpaku di tempat ku berdiri sambil menimang Elio, aku sempat membayangkan betapa indah kiranya setiap detik yang aku lalui di pulau ini seandainya kondisi dan keadaanya tidak seperti yang ku hadapi, seandainya aku bukan tamu yang tak di harapkan dalam hubungan utuh sebuah keluarga bahagia


aku menghembuskan nafas berat ku, menghilangkan setiap pengandaian dan angan-angan yang malah akan mendorongku pada kubangan rasa sakit yang sudah siap menunggu ku, dan juga untuk apa menghabiskan waktu yang singkat ini hanya untuk bersedih dan meratap....? lebih baik aku mencoba menghadapinya dengan tegar dan yang pasti sesuai dengan syariat Islam, walau hati meratap dan merintih karena terbalut sakit tanpa ujung, hukum syariatnya Allah tidak boleh aku abaikan, dunia hanya untuk persinggahan sakitnya tak akan kekal selamanya


aku juga tak ingin menukar kebahagian akhirat yang sudah ku impikan hanya dengan kesenangan sesaat karena mengabaikan hukum Allah, in sya Allah aku masih memegang mimpi besar ku untuk "bahagia hidup di akhirat kelak" sebagai tujuan akhir ku


tak lama aku dalam posisi ku, aku merasakan seseorang yang tiba-tiba memeluk ku dari belakang, aku sudah hampir menepisnya dengan kasar sesaat sebelum sapaan salam yang sangat familiar hinggap di telinga ku


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Albi" Louis dengan sapaannya yang selalu membuat jantung ku harus bekerja ekstra datang menghampiri tulang pendengaran ku yang semula sunyi


"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh" aku dengan tenang merebahkan kepala ku di dada bidangnya yang melingkupi punggung ku


aku mencoba bermanja dalam sisa waktu yang sangat singkat sebelum lambayan yang menghantarkan rindu itu membentang jarak di antara kita, beginilah waktu mengajari kita untuk lebih dewasa, menjadi lebih sabar dalam setiap kejadian yang akan kita hadapi kedepannya nanti


"aku suka kalau Zu manja" mungkin perkataan Louis terdengar sangat biasa dan sederhana, tapi di telinga ku itu bagai tamparan yang luar biasa keras,


jangan kan untuk intimate time, waktu untuk mengetahui tetang dia yang lebih mendalam lagi belum bisa ku bangun, tak heran jika aku saja tidak mengetahui Louis sudah punya tanggung jawab lain, kejutan yang datang semuanya terlalu tiba-tiba, aku tidak bisa menyalahkan takdir yang dengan baik hati selalu memberiku kejutan luar biasa yang membuat hidup ku penuh warna dan mencicipi berbagai rasa berbeda, tapi karena aku yang belum mempersiapkan dengan matang saat kejutan itu datang, jadi beginilah yang terjadi, padahal Allah sudah memberikan setiap kisi-kisinya dengan sangat terperinci


Al-Qur'an 30 juz sudah turun dengan lengkap, hadis Rasulullah sebagai contoh dan gambaran langsung dari penerapan Al-Qur'anpun sudah lengkap dan sempurna penjelasannya, di dukung dengan rincian tafsir para mufassir.....? apalagi yang kurang sebenarnya, tidak ada!, hanya kadang aku saja yang terlalu malas untuk mempelajari itu semua, atau aku malah menggunakan waktuku untuk terlalu sibuk dengan yang lainnya, hingga aku melupakan hal yang paling penting yang harus ku lakukan, belajar ilmu Islam!, karena sesungguhnya dari sanalah kita mampu mencari jawaban dari setiap permasalah hidup yang kita hadapi


"Zu juga suka di manja, apa lagi sama suami" aku tersenyum saat Louis menarik lembut dagu ku dan mendongakkannya, hingga membuat ku dengan mudah menatap alisnya yang terangkat sebelah


Louis memandang ku dengan tatapan menelisik, aku tau dia sangat bingung dengan sikap ku yang tidak seperti biasanya


jangan kan Louis, aku sendiripun sangat bingung dengan perlakuan ku yang akan sangat menggelikan jika aku melakukannya dalam situasi yang berbeda, too romantic!


"jadi kan yang mau antar Zu ke kota....?" Louis melepaskan tangannya dari dagu ku setelah mengangguk dengan gerakan mantap


dia kembali melingkarkan tangannya di pinggangku dan aku dapat merasakan bibirnya menyentuh khimar yang tengah menutupi kepala dan rambut ku dengan sempurna


"jadi, Zu siap-siap kita berangkat habis ini, ayo!!" Louis sudah hendak menuntun ku untuk masuk ke dalam rumah saat Asisten rumah tangga yang tadi membantu ku membuatkan susu untuk Elio datang dan memberikan susu itu pada ku, tapi tangan Louis mengambilnya lebih dulu


"thank you"dia pergi setelah aku dan Louis mengucapkan terimakasih


"boleh aku memberikannya di sini....?" aku mengulurkan tangan ku untuk meminta botol susu yang di pegang oleh Louis


"kemari" bukannya memberikan botol itu pada ku Louis malah melingkarkan tangannya untuk merangkul ku dan menuntun ku menuju kursi panjang yang terletak di bawah pohon rindang yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami berdiri


dia duduk lebih dulu sebelum menarik ku untuk duduk di sampingnya, aku hanya diam dan mengikuti setiap arahannya, bahkan saat tangannya melingkari pundak ku dan merengkuh ku dari belakang,


dengan lembut Louis menjulurkan tangannya yang tengah merengkuh pundak ku untuk membangunkan Elio yang lelap dalam pulau mimpi yang indah


"hi little Aslan, wake up" dengan jail Louis mencubit lembut pipi putih bersemburat merah yang selalu membuat ku gemas itu


"eeemmm" Elio menggeliat dalam tidurnya, bibirnya Melengkung dan hendak menangis namun urung saat lensa mungilnya menangkap gambar wajah kami


"Daddy, Mommy" dia mengusap lembut kelopak matanya dengan sapuan lembut tangan gembul yang sangat imut di mata ku


"assalamualaikum" dengan pelan aku membisikkan salam pada telinganya dan membacakan do'a bangun tidur, sama seperi yang ku lakukan saat dia bangun sebelum kita berakhir di taman ini


"Hungary....?" Louis bertanya dengan jail pada Elio yang masih setengah sadar, bahkan dia dengan sengaja menggerakkan botol yang berada dalam genggamannya untuk menjaili Elio


aku menahan tangan Louis saat hendak menyuapkan botol itu pada bibir Elio yang sudah terbuka lebar


"dia belum cuci muka dan kumur-kumur" seakan teringat akan sesuatu Louis mengambil benda pipih canggihnya dan meminta entah pada siapa pada orang di sebrang sana untuk membawakan kain kecil dengan air hangat juga segelas air mineral


Berta datang dengan benda-benda yang di pesan oleh Louis tadi bahkan di tangannya ada semangkok bubur buah dan roti yang sudah di potong kecil-kecil


mereka meletakkan di meja yang berada di samping kami sebelum pamit kembali kedalam rumah utama


aku mencoba bersabar untuk membantu Elio dengan kegiatan paginya yang selalu di iringi dengan penolakan dan rengekan, walau tidak memerlukan tenaga yang cukup besar dan waktu yang lama, karena Elio termasuk anak yang tidak terlalu susah untuk melakukan rutinitas pagi, dia merengek saat merasakan air itu masih terlalu dingin di kulitnya, walau sebenarnya air itu cukup hangat di tangan ku


setelah memakan sarapannya dengan manja Elio kembali bermalas-malasan dalam rengkuhan ku, Louis dengan setia membantu setiap aktifitas ku melakukan rutinitas pagi Elio, walau sering di selingi dengan kejailan Louis yang ternyata cukup jail pada Elio, bahkan dia dengan sengaja memercikkan air pada wajah Elio, Khimar dan jilbab ku pun harus menjadi korban dari kejailan Louis karena Elio yang mencoba menghindari serangan air dari Louis dan menyembunyikan wajahnya di dada ku, aku tersenyum dengan betapa manis pagi yang kami lalui saat ini


tapi aku harus menghentikan kegiatan mengasikkan kami, saat ekor mata ku menangkap dua wanita cantik yang tengah tersenyum hangat saat melihat interaksi kami


aku tersenyum kikuk pada Mommy dan Elisa yang saat ini tengah melihat kami dari balik jendela yang terbuka, dengan segera kau membawa Elio dalam gendongan ku dan meninggalkan Louis yang entah menatap ku dengan tatapan bingung atau jalinya, entahlah


aku dengan pelan memberikan Elio pada Elisa, awalnya Elio menolak dan malah mengencangkan pegangannya di leher ku, aku sebenarnya tidak cukup tega untuk merusak pagi Elio dengan tangisan yang selalu meremas hati ku dengan kencang


aku bahkan harus menciumnya berkali-kali dan mengatakan jika aku dan dia harus mandi agar tidak bau


aku berpamitan pada Mommy dan Elisa, untuk ke kamar, tak lupa aku juga berpamitan pada Mommy jika aku akan ke kota hari ini, aku bahkan sempat terbawa susana dengan mendekap Mommy cukup erat saat mengucapkan terimakasih karena mengizinkan ku, walau sebenarnya pelukan itu adalah pelukan selamat tinggal dari ku, melihat kelembutan dan kehangatan mereka membuat ku berfikir, haruskah ku ucapkan selamat tinggal pada mereka.....?