Thaha

Thaha
Aneh




...******...


...*...


...*...


...*...


"Mommiiiiiiiiyyyy"


Elio masuk dan berlari ke arah kami yang hendak keluar kamar dengan hanya menggunakan pempers


"ya Allah, ini kenapa belum pakai baju....?"


Elio berlari hendak memeluk ku namun terhalang oleh Louis yang sudah menangkapnya lebih dulu


"no, with Daddy, not Mommy"


Louis menahan tubuh Elio yang menggeliat


" sorry, Signore, Signora, I try to stop him, but Elio....."


seorang laki-laki yang bertugas untuk menjaga Elio dengan takut-takut berkata pada Louis yang coba menutupi tubuh Elio dengan handuk yang tadi Elio geret saat masuk


aku bahkan bisa mendengar suaranya sedikit bergetar


"it's ok, can you please help me to get Elio's clothes and equipment in his room....? thank you" (tidak apa-apa. bisa tolong ambilkan pakaian dan peralatan Elio di kamarnya....? terimakasih"


Louis dengan cepat memintanya untuk mengambilkan keperluan Elio dan membawa Elio untuk duduk di atas kasur


dengan pelan Louis mencoba memberitahu Elio jika dia tidak boleh berlarian tanpa menggunakan pakaian, bahkan dia menjelaskan tentang "malu" dengan bahasa yang sederhana yang dapat Elio pahami


aku hanya tersenyum melihatnya, melihat Elio yang menganggukkan kepalanya dengan tangan yang mencoba membuka kancing suit Louis yang hanya terpasang di bagian atas


dan Louis yang dengan sabar menghadapi Elio yang entah mendengarkan atau tidak penjelasannya


"eexcuse me, Signora"


Berta berdiri di ambang pintu dengan tas perlengkapan Elio dan satu set baju suit hitam yang senada dengan baju yang di kenakan oleh Louis


kemana perginya pengasuh Elio tadi.....?


aku berjalan mendekat pada Berta yang sepertinya takut untuk memberikan benda-benda itu pada ku yang berada di samping Louis


"thank you, Berta"


aku membantu Louis yang tengah kelimpungan menghadapi Elio yang sejak tadi menolak untuk memakai suit yang di siapkan untuknya, apalagi saat kami mencoba merayunya untuk memakai dasi kupu-kupu yang lucu


ya Allah sepertinya hari ini kita membutuhkan stok kesabaran yang lebih banyak


"I don't want it, I can't breathe Daddy"


Elio masih berusaha menolak tangan Louis yang masih sabar mencoba merayu Elio


"tidak usah di paksa kalau memang dia tidak mau, nanti coba Zu yang bujuk"


aku mencoba meminta dasi lucu itu pada Louis yang menatap Elio dengan wajah datarnya


hhhuuufffftt


aku tersenyum saat melihat Louis harus pasrah dan memberikan dasi itu pada ku


"ok, let's go"


aku sudah bersiap akan menggendong Elio dalam rengkuhan ku, tapi sekali lagi Louis menangkap tubuh Elio lebih dulu hingga Elio protes dengan bahasa Itali-nya yang terdengar lucu di telinga ku, bahkan bibirnya maju beberapa centimeter, jangan lupakan tatapannya yang menatap penuh permusuhan pada Louis


bukannya terlihat seram, malah terlihat menggemaskan di mata ku


"jangan gendong Elio dulu, ok"


Louis berkata dengan lembut, tangannya seperti biasa bertengger manis memberi sapuan halus di pucuk kepala ku


"ih, jangan nanti Khimarnya menceng, ya Allah"


sepertinya kondisi ku yang tampak lemas dan sering muntah masih membuatnya khawatir


aku sendiri juga bingung, kenapa belum hilang juga efek mabuk lautnya, aku bahkan kadang masih seperti mencium aroma solar yang selalu membayang di hidung ku


"eeemmmm"


aku mengangguk dengan bibir dan hidung yang mengernyit, niat hati ingin mengejek Louis yang terkadang sedikit berlebihan


"good"


dengan jail Louis membawa jari telunjuknya untuk memberi sapuan halus di atas batang hidung ku


'tau yang hidungnya mancung, hidung ku pesek'


aku membatin


entah kenapa aku merasa sedikit sebal dengan perlakuan Louis yang sedikit mendiskriminasi hidung imut ku


"iiiihhhh"


aku melangkah lebih dulu meninggalkan Louis menuju pintu samping yang akan menghubungkan langsung dengan halaman luas tempat pesawat pribadi milik Daddy terparkir rapi



ada apa dengan ku.....?


aku kembali berbalik mendatangi Louis yang berada beberapa langkah di belakang ku, mata ku sudah mulai berembun karena rasa bersalah yang tiba-tiba muncul


aku kembali menghentikan langkah ku dua langkah dari tempat Louis berdiri, ada rasa menyesal yang terselubung rasa takut tengah mencubit dada ku


aku mematung di sana dengan kepala tertunduk dalam


aku ingin menangis


"ada apa...? Zu...?.......Albi....?"


"Mommy"


aku mendengar dengan jelas suara Louis yang bingung dengan tingkah ku, bahkan Elio juga


"hi, ada apa...?"


Louis mendekat dan berhenti tepat di depan ku, tangannya terjulur untuk mengangkat dagu ku yang tertekuk dalam


"maaf"


suara ku tercekat di tenggorokan, hingga yang terdengar hanya suara lirih yang mendengung pelan


"tidak apa"


Louis mencoba menenangkan aku dalam dekapannya, tangan mungil Elio ikut serta merangkul leher ku


mendapat perlakuan hangat dari mereka bukan malah membuat ku tenang, entah bagaimana ceritanya aku malah semakin terisak dalam tangis hingga membuat Louis kelimpungan apalagi dengan Elio yang juga ikut menangis


"sudah ya nangisnya, sudah cantik begini masak nangis"


"Zu kenapa....?"


Mommy datang bersama Daddy, Luca dan Elisa berjalan di belakang Mommy


mereka serentak menatap Louis dengan tatapan yang menuntut penjelasan


"I don't know"


aku dapat merasakan pundak Louis yang terangkat saat dia mengedikkan bahunya


ya Allah kenapa malah jadi begini...?


aku mencoba berdiri tegak dan menghapus air mata ku yang masih saja mengalir sesaat setelah aku melepaskan rangkulan tangan ku di leher Louis


aku menjulurkan tangan ku untuk menghapus air mata Elio yang masih mengalir sama seperti ku


"it's ok baby, don't cry"


"Zu, are you ok....?"


Mommy dan Elisa mendekat dan mencoba memeriksa keadaan ku, Mommy bahkan merentangkan kedua tangan ku untuk memastikan tidak ada yang sakit di sekitar bekas lukaku yang sudah mengering atau bahkan mungkin sudah sembuh...?


"tidak apa-apa mi, Zo ok"


"are you sure....?"


kali ini Elisa yang bertanya memastikan


dia tampak cantik dengan dress putih yang indah, persis seperti seorang putri di negri dongeng, atau dia memang seorang putri....?


aku bahkan mengira jika Elisa seperti pengantin yang akan menuju tempat resepsi


tapi bukannya hari ini adalah hari pertunangan mereka....?


dia memang seorang pengantin wanita


bagaimana mungkin aku melupakan fakta itu.....?


walau aku merasa tabu, dengan kondisi Elisa dan Luca yang memiliki Elio disaat mereka belum menikah, sepertinya aku melupakan fakta bahwa saat ini kita tengah hidup di dunia modern yang tengah di atur oleh sistem sekuler yang rusak, sistem yang tidak lagi menggunakan aturan dan hukum agama sebagai aturan umum


sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sistem yang menjadikan banyak kebebasan terumbar tanpa aturan, sistem yang menghalalkan hawa nafsu manusia memimpin pola pikir masyarakat, hingga banyak di antara mereka yang melupakan fungsi utama akal


karena bagi mereka semua kebutuhan dan keinginan harus terpenuhi, tanpa lagi pandang bulu, apakah baik atau buruk, apakah hal itu halal atau haram


"let's go, they are waiting for us"(ayo, mereka menunggu kita)


suara Daddy mengintrupsi agar kami bergegas menuju tempat acara


sepertinya aku harus bersiap dengan rasa pusing yang akan menimpa kepala ku sebentar lagi


"ayo"


Louis menggenggam tangan ku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tangah menggendong Elio


aku mencoba meyakinkan diri ku bahwa semuanya akan baik-baik saja, aku mencoba meresapi kehangatan yang melingkupi tangan ku, kehangatan yang menjanjikan ketenangan dan keamanan


kehangatan tangan Louis yang berangsur-angsur menghilangkan rasa takut dan was-was yang melingkupi ku


...~TBC~...