Thaha

Thaha
hospital romance.....?



"tapi jika Zu meminta seperti yang kemaren siang, ingatlah sampai Allah yang menetapkan takdir di antara kita aku akan tetap berusaha sekuat yang aku mampu untuk menjaga dan membimbing Zu in sya Allah, hingga nanti Allah pertemukan kita di surganya yang abadi"


tak dapat dipungkiri jika hati ku penuh dengan bunga yang bermekaran, rasa bahagia yang menyelubungi kami seakan menjadikan ingatan tentang kejadian mengerikan yang sempat kurasakan tadi memudar terselubung kebahagiaan yang Louis taburkan pada hati ku yang perih


"Zu janji itu yang terakhir kalinya, terimakasih sudah mau memaafkan Zu"


...******...


...*...


...*...


...*...


Allahu Akbar...... Allahu Akbar.......


Alarm di hp Louis berbunyi nyaring menginterupsi perbincangan hangat di antara kami berdua


"tiga puluh menit lagi memasuki Adzan subuh, mau sholat jama'ah...?"


Louis bertanya pada ku setelah mendengar alarmnya berbunyi


di sini waktu sudah memasuki jam dua lebih empat puluh lima menit, sedangkan adzan subuh akan berkumandang di jam tiga lebih lima belas atau enam belas waktu Itali


sangat berbeda dengan Indonesia tentu saja, di sini kami hanya bisa mengandalkan pengatur waktu sholat yang ada di hp agar kita bisa melaksanakan sholat tepat waktu, aku belum pernah mendengar kumandang adzan di sini, berbeda dengan Indonesia yang akan mudah menjumpai dan mendengar kumandang adzan hampir di setiap kotanya


perbedaan waktu antar negara bukanlah persoalan, karena Allah sudah memberikan banyak kemudahan tergantung kita apakah kita akan memanfaatkan setiap kemudahan yang sudah Allah sediakan untuk beribadah kepada Allah ataukah kita menggunakan setiap kemudahan yang ada untuk bermaksiat kepada Allah


Islam adalah agama yang jelas, hanya ada dua pilihan bagi manusia, ta'at atau kah maksiat


layaknya hitam dan putih, tidak ada yang abu-abu, di dalam Islam semua sudah ada aturannya, ada porsi dan kadarnya masing-masing, bukankah Islam adalah agama yang lengkap.....?


"mau, Zu mau tayammum, tapi tangannya agak susah kalau di angkat tinggi"


akhirnya ada juga teman yang bisa ku ajak untuk mendiskusikan soal yang sejak tadi bergelut di benak ku tanpa ada penyelesaian


"sebentar, aku pindahkan Elio dulu"


Louis mengangkat Elio yang terlelap di pangkuan ku


tapi sebelum Louis mengangkatnya dia berbisik pada Elio


"thank you baby to take care your Mommy, Daddy proud of you, I love you to the moon in back"


sebuah kecupan dalam Louis sematkan di pucuk kepala Elio sebelum menjauhkan Elio dari pangkuan ku


awalnya aku mengira jika Elio akan menolak sebagaimana sebelumnya


nyatanya dengan mudah Elio pasrah dan tetap tertidur dengan nyenyak walau Louis memindahkannya dan meletakkannya di atas tempat tidur mini yang tepat berada di samping kasur ku, bersebelahan dengan tempat Leo dan Leora tidur


setelahnya, Louis membantu ku untuk tayammum dan mengganti Khimar yang ku kenakan tadi dengan Khimar baru yang dia ambil dari dalam tas yang tersimpan rapi di dalam lemari khusus pasien


mungkin dia khawatir jika Khimar yang ku gunakan sebelumnya terkena tumpahan sesuatu, atau Louis takut jika Khimar ku terkena air liur atau ingus Elio saat menangis tadi....? bisa jadi


tentu saja aku tidak mengenali Khimar yang di ambilnya karena itu Khimar yang mungkin baru dibeli, entah oleh Mommy atau Elisa...?


entahlah aku tidak membawa pakaian apapun dari Indonesia kecuali apa yang melekat pada ku pada malam aku di bawa oleh Louis, di sini mereka sudah menyiapkan pakaian yang sangat pas dengan ukuran ku, aku sangat bersyukur dan berterimakasih untuk itu


"aku ambil wudhu dulu, tunggu sebentar"


Louis beranjak menuju kamar mandi dan meninggalkan aku yang sudah rapi dan siap untuk melakukan sholat subuh


aku termenung memikirkan setiap kejadian yang telah berlalu, semua kejadian yang memberi ku banyak pelajaran hidup, hikmah yang terkandung dalam setiap kejadian yang kita lalui membuat ku selalu mengagumi bagaimana Allah begitu luar biasanya mendidik hambanya


menuntun hambanya yang beriman pada jalan takwa dalam meniti tangga demi tangga ujian kehidupan yang membentang dalam kehidupannya


begitupun bagi mereka yang tidak beriman, mereka akan berguguran di setiap Titian tangga yang dipijaki-nya dan malah memilih untuk berpaling dari rahmatnya


sejatinya manusialah yang menjauh, bukan Allah yang tidak menyayangi-nya


"sudah siap...?"


pertanyaan Louis menarik ku dari lamunan yang tadi sempat melalang buana


"sebentar"


"Leo bangun, sholat subuh"


Leo terbangun dengan mata sembab yang masih belum sepenuhnya terbuka, duduk sebentar di tepi tempat tidur sebelum beranjak menuju kamar mandi


kami sholat dalam khusu' dengan Louis sebagai imam, dengan gerakan yang ku mampu aku mencoba mengikuti setiap gerakan sholat dengan sempurna, sakit bukanlah alasan untuk ku absen dalam sholat


karena sejatinya dengan sholat aku mampu bersabar menghadapi cobaan sakit yang sedang menimpa ku, dengan sholat aku bisa mengadukan ketidak berdayaan ku pada Rab ku


lantunan ayat yang di baca oleh Louis mengantarkan ketenangan yang menghiasi suasana subuh yang sunyi


sayang aku tidak bisa menikmati udara segar pagi hari yang merupakan rizki dari Allah


do'a yang terlantun menjadi saksi betapa lemahnya kami dihadapan Allah, Rab semesta alam, Allah-lah satu-satunya illah tempat kita memohon dan meminta, tempat kita bergantung dan tempat kita mencurahkan segala ketidak berdayaan yang membelenggu


setelah kami mengerjakan sholat, Leo berpamitan untuk mencari sarapan untuk Leora, Louis dan tentu untuk Leo sendiri


sedangkan untuk ku, rumah sakit sudah menyiapkan sarapan khusus sesuai dengan diet harian yang di butuhkan oleh tubuh ku


kami tidak membangunkan Leora yang masih tertidur nyenyak, begitupun dengan Elio


tapi batita menggemaskan itu terbangun saat aku dan Louis tengah membaca Al-Qur'an


"Daddy, Mommy"


Elio duduk beberapa saat dan menjulurkan tangannya meminta untuk di gendong


Louis merengkuhnya dan seperti sudah terbiasa dengan itu, Louis membacakan do'a bangun tidur untuk Elio dan anehnya batita itu juga meniru dan mengikutinya


Louis mengajaknya untuk duduk bersama ku di atas tempat tidur


"Mommy"


dengan cepat Elio merangkak dan memanjat kedalam pangkuan ku


"no, no sit here"


Louis mencoba untuk mengangkatnya dan menjauhkan Elio dari pangkuan ku, namun batita itu dengan kencang mencengkram Khimar ku


"astagfirullah haladzim, eh"


aku cukup terkejut dengan tindakan Elio yang mencengkram kuat Khimar yang aku kenakan, hingga hampir saja Khimar itu terlepas


"no, with Mommy"


Elio bersikukuh, bahkan dia mencoba menepis tangan besar Louis dengan tangannya yang mini


"tidak apa, biar dia sama Zu, boleh....?"


dengan lembut aku meminta izin agar Louis membiarkan Elio tetap berada di atas pangkuan ku


"dia berat, kaki Zu belum sembuh, just sit here ok....?"


Louis coba menepuk tempat kosong di atas ranjang untuk menarik perhatian Elio yang malah menggeleng kuat


"no"


"tidak apa, Elio tidak terlalu berat"


aku mencoba untuk menjadi penengah antara paman dan keponakan yang tengah bersitegang untuk mempertahankan keinginan mereka masing-masing


"ya sudah"


Louis membuang nafas berat seakan dia telah kalah dalam pertarungan sengit


"sudah, tidak ada salahnya mengala"


aku tersenyum geli melihat bagaimana Elio dengan berani menjulurkan lidahnya untuk mengejek Louis


setelahnya tangan Louis dengan penuh perhatian membetulkan posisi Elio dan juga Khimar ku yang tidak lagi simetris


...~TBC~...