
...**Takdir 2**...
...*...
...*...
...*...
kami sudah sampai di tempat acara, sebuah hotel mewah yang terletak di pusat kota, pemandangan kota yang indah dan penuh dengan hiasan lampu dalam berbagai bentuk dan ukuran, mampu memanjakan mata yang merindukan gemerlap bintang
bangunan kokoh dengan pilar-pilar penyangga yang kokoh, lukisan dan ukiran yang menunjukkan kilasan kejayaan masa Romawi kuno bertebaran menghiasi hampir seluruh bagian hotel.
Daddy dan yang lainnya melangkah lebih dulu, meninggalkan aku, Louis dan Elio yang kini sudah terbangun. dia menyandarkan kepalanya pada pundak Louis sedang tangannya membelit lehernya
kami mengikuti mereka untuk masuk kedalam hotel setelah beberapa saat berlalu, tangan Louis yang tidak memegang Elio masih setia membelit pinggang ku, menggiring ku mengambil jalur dan tempat yang berbeda dengan anggota keluarga yang lain
Louis membawa ku untuk duduk di tempat duduk paling belakang yang terletak di pojok ruangan, sedangkan yang lain duduk di deretan paling depan
mata ku dengan rasa penasaran yang tinggi menjelajah setiap orang yang ada di dalam ruangan, memperhatikan sikap dan cara berpakaian mereka yang sangat berbeda dengan ku
aku tidak pernah menyangka jika apa yang pernah aku lihat di dalam pemberitaan atau film, tentang kehidupan kelas atas akan ku jumpai di sini.
walau tidak ada media yang meliput akan tetapi tidak mengurangi sedikitpun dari kemewahan dan kemegahan pesta yang saat ini di gelar
aku bahkan seakan mengenang kembali ingatan masa kecilku tentang pesta dansa yang sering di tampilkan di film kartun yang bertemakan kerajaan
perayaan pesta yang tentunya sangat berbeda dengan pesta yang pernah aku datangi di tempat kelahiran ku
walau sebenarnya tidak terlalu berbeda juga dari beberapa segi, sama-sama memamerkan kekayaan, kecantikan, ketampanan dan kedudukan yang dibalut dengan serangkaian sikap yang mereka anggap paling elegan, padahal pada intinya sama. pesta hanya sebagai ajang pamer dan mencari kolega bisnis, bukankah begitu....?
serangkaian acara ternyata sudah lebih dulu dimulai bahkan sebelum kami sekeluarga bergabung, EO dan orang-orang yang terlibat dalam memeriahkan acara sudah merangkai sedemikian rupa setiap pertunjukan dan rangkaian acara yang telah tersusun rapi.
kini tiba giliran Daddy naik keatas penggung yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga indah dan ornamen yang sangat elegant
aku tidak bisa terlalu fokus untuk mendengarkan sambutan dan perkataan Daddy, saat ini aku tenga sibuk untuk menyuapi Elio makanan ringan yang Louis bawakan tadi. entah kapan dia mempersiapkannya.
acara kembali berganti, kini Luca dan Elisa tengah berdiri menjadi pusat perhatian setiap tamu yang hadir, acara pertukaran cincin terjadi dengan hikmat, riuh tepuk tangan menggema di dalam ruangan yang kini tengah mengalun alunan musik romantis.
"Zu, kita keluar sekarang" Louis mencoba menggendong Elio yang tengah protes dalam dekapannya. Elio sempat menolak beberapa kali dan bersikukuh untuk menghabiskan makanan yang dimakannya.
tapi pada akhirnya dia harus menyerah dengan janji Louis yang akan membelikannya dua cup ice cream coklat
aku tidak banyak protes dan hanya mengikuti Louis, walau sangat di sayangkan karena aku belum makan apapun, tapi bagaimana lagi, kondisi pesta sudah mulai tidak kondusif.
acara utamanya sudah selesai, tukar cincin sudah dilakukan, yang tersisa dari acara hanya serangkaian acara hiburan yang sejatinya sangat di tunggu oleh para tamu, acara makan-makan, dansa dan basa-basi bisnis dengan kolega dan jangan lupa satu hal yang penting. ajang pamer.
jadi, untuk apa tetap di tempat...? bukankah lebih baik keluar, sebenarnya boleh saja kita mendatangi pesta atau undangan asal didalam pesta tersebut tidak ada unsur maksiat didalamnya, dan jika kita menjumpai yang tidak sesuai dengan hukum Syara' bukankah sebaiknya kita pergi dari tempat itu....?
“Apabila kamu diundang walimah maka datangilah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
"akan tetapi hendaklah tidak menghadirkan sebuah kemungkaran di dalamnya, seperti menyediakan khamar, berbaurnya laki-laki dan perempuan, memasang gambar-gambar manusia dan atau hewan-hewan sebagai hiasan temboknya"
jadi saat acara intinya sudah selesai memisahkan diri dari acara adalah hal terbaik yang bisa di lakukan
kami melangkah pergi setelah memberi lambaian pada Elisa dan juga Luca, yang mereka balas dengan senyum lebar. sudut mata ku juga menangkap gambaran Leo yang berpamitan pada Mommy dan Daddy setelah sebelumnya memeluk Luca dan ber-tos ria dengan Elisa
walau aku dan Louis keluar dari tempat acara tak sedikitpun mengurangi kadar kebahagiaan yang tengah meliputi mereka.
aku hanya berharap mereka tidak keberatan dengan fakta bahwa anak mereka juga ikut bersama kami
"jadi kemana kita akan pergi...?" aku bertanya pada Louis saat sudah memasuki area depan hotel
"kita cari makan dulu"
mobil yang sebelumnya berada di tempat parkir, kini mendekat ke arah kami yang tengah menunggu di dekat pintu, seorang pemuda petugas valet datang dan memberikan kunci mobil pada Louis
Louis mengendara sendiri, membawa ku dan juga Elio mengitari pusat kota Roma yang disinari sorot lampu dari gedung-gedung dengan tampilan klasik, penuh dengan hiasan pahatan patung dan pernak pernik lainnya.
walau pada dasarnya sedikit seram menurut ku, bukannya apa, aku seringkali takut dengan patung-patung yang menyerupai manusia ataupun hewan. takut aja gitu, tiba-tiba bergerak. kan tidak lucu.
belum lagi di dalam Islam memang ada larangan khusus tentang gambar dan pahatan seperti itu
"Barangsiapa yang melukis gambar, pasti akan disiksa oleh Allah sampai ia mampu meniupkan ruh ke dalam gambar-gambar tersebut. Padahal ia tidak akan mampu meniupkan ruh tersebut selamanya."
"Kalau kamu masih membandel, silakan kamu menggambar pepohonan dan segala sesuatu yang tidak bernyawa." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
tapi aku juga tidak bisa memungkiri fakta, bahwa saat ini kita bukanlah berada dalam negara Islam, jadi ya wajar jika mereka tidak menerapkan aturan Islam.
"Daddy, hug" Elio yang awalnya anteng duduk dalam pangkuan ku, kini memiringkan tubuhnya ingin berpindah pada Louis yang tengah sibuk memegang kemudi
"eh, Baby don't do that, it's dangerous, Daddy is driving"
(eh, sayang jangan seperti itu, itu berbahaya, Daddy sedang mengemudi)
aku mencoba untuk kembali merengkuh Elio dalam dekapan ku, dan mencoba menenangkannya yang sudah mulai rewel
"tidak apa Zu, tolong bantu Elio kemari. come here baby" salah satu tangan Louis terulur meminta Elio untuk mendekat
"hati-hati" aku membantu memindahkan Elio untuk duduk di pangkuan Louis yang tengah mengemudi. satu tangannya memegang kemudi sedang tangan lainnya mencoba menahan tubuh Elio agar duduk dengan nyaman
aku kembali menegakkan tubuhku dan kembali fokus pada pemandangan kota yang tersaji di depan ku, mata ku sempat menangkap pemberitaan yang terpampang di layar besar sebuah gedung yang dekat dengan lampu merah, karena rasa penasaran aku menanyakan tentang berita tersebut kepada Louis
"by, hubby tau tentang berita itu....? tangan ku menunjuk pada layar besar di depan kami
"iya, media tengah ramai membicarakan tentang itu beberapa hari belakangan, kabarnya virus itu tidak hanya menyebar di satu wilayah itu saja, bahkan tidak hanya ada di Cina tapi beberapa negara sudah mulai terjangkit"
Louis mulai menjelaskan tentang virus yang dikabarkan banyak memakan korban jiwa, tipe virus baru yang membuat gempar cina, tidak hanya Cina tapi beberapa negara yang juga mulai terjangkit
aku tidak terlalu update akhir-akhir ini, bagaimana mau update, orang pegang HP saja jarang, baru juga pegang itu HP sudah hilang
walau di dalam pemberitaan tampak sangat mengerikan kejadiannya, sepertinya belum memiliki dampak yang berarti bagi masyarakat yang ada di negara ini, mereka masih bisa bebas menikmati setiap kegiatan malam sebagaimana bisanya. aku juga tidak berharap negara ini atau negara manapun akan bernasib sama seperti Cina, itu terlalu mengerikan
memang benar kata sebagian orang, saat musibah itu menimpa orang yang tidak kita kenal, hati kita tidak akan pernah merasakan kengeriannya, tapi saat musibah itu menimpa circle terdekat kita, barulah kita akan menyadari dan merasakan sakitnya
"ok, sudah sampai, kita makan disini bagaimana?"
kita berhenti di sebuah restoran dengan konsep outdoor yang sangat indah, jangan bayangkan jika Louis akan membawa kami untuk makan malam romantis ditempat mewah, karena itu tidak akan terjadi malam ini.
tapi tempat ini tidak terlalu buruk untuk menghabiskan awal malam sambil menikmati keindahan kota Roma yang penuh sejarah
yuk menjelajah
...***...
...~TBC~...