
"Shit!!!!"
jantung ku berdetak kencang saat laki-laki itu masuk kembali kedalam mobil dan membanting pintunya dengan keras, dengan gerakan tergesa-gesa dia menginjak pedal gas dalam satu tekanan kuat sehingga membuat mobil itu melesat cepat tanpa memeriksa kembali pada kursi penumpang yang sudah kosong
aku yakin dia tidak sadar telah meninggalkan aku tergeletak dengan tangan dan kaki yang terikat di atas aspal yang dingin dan aku bersyukur untuk itu
angin malam menyerbu tubuh ku yang berbalut pakaian basah, membawa hawa dingin yang membuat tubuh ku menggigil
terangnya lampu jalan membantu ku melihat dengan jelas tempat dimana aku tergeletak dengan mengenaskan saat ini
aku melirik pada tempat yang sebelumnya aku kira adalah jurang, ternyata bukan lah sebuah jurang, akan tetapi hutan lebat dengan batu-batu besar yang membuat bulu kuduk ku merinding
aku mencoba membuka ikatan tangan ku dengan susah paya, tapi hasilnya tak semudah yang di tampilkan oleh film laga yang sering melintas di layar kaca, aku berusaha mencari batu atau apapun benda tajam yang berada di dekat ku, namun hasilnya nihil
'haruskah aku tidur di sini malam ini.....?, menunggu ada warga yang menemukan ku...?'
benak ku berkelana memikirkan setiap kemungkinan buruk yang akan menimpaku, membuat setiap sel saraf yang mengaliri tubuh ku bekerja dengan penuh antisipasi
aku terlentang dengan mengenaskan di atas hamparan tanah yang dingin beratapkan langit malam, hati ku meratap pada langit malam yang hampa dan membiarkan ratapan lirih itu keluar dan bergemuruh dari mulut ku di tengah gelap malam yang sunyi
di tambah dengan gonggongan anjing liar yang semakin memperburuk suasana hati ku yang sudah di ambang batas kewarasan, mereka seakan mengejek dan menertawai ku dari kejauhan, itu sedikit menyebalkan!
bahkan se ekor anjing masih punya tempat hangat untuk berteduh!
tak ingin semakin tenggelam dalam keterpurukan yang melanda, sekali lagi aku mencoba mencari ujung tali dengan jemari ku, berharap bisa menemukan sedikit saja semangat untuk tetap waras dari kegilaan yang menggedor benak dengan kencang
'aku menemukannya!!!!'
batin ku bersorak girang saat telunjukku menemukan ujung tali yang terselip di dalam lilitan tali yang lumayan tebal, dengan kencang aku menariknya dan berusaha kuat untuk tetap menyetabilkan tubuh ku yang menggeliat di atas aspal yang kotor
jalan sepi yang membentang membuat ku dapat bernafas lega walau hanya sedikit, setidaknya itu mengurangi kemungkinan tubuh ku yang akan terlindas oleh kendaraan yang berlalu lalang, tidak lucu kan kalau aku sampai berakhir mengenaskan di jalanan ini setelah banyaknya usaha yang kulakukan.....?
dengan cepat aku mengurai tali yang membalut tangan ku, dan membuangnya sejauh mungkin dari jangkauan ku saat tali itu sudah terlepas sempurna
dengan cepat tangan ku yang sudah terbebas membuka lakban tebal yang menutupi mulut ku dan mengeluarkan setumpuk kain yang memenuhi rongganya yang harusnya kosong
tepat setelah mulut ku terbebas dari kain yang menutupinya, perut ku bergejolak kuat hingga aku harus merelakan sebagian sisa energi ku yang tersimpan baik untuk di keluarkan dengan desakan paksa reflek muntah yang datang tiba-tiba
aku kembali terdiam dalam beberapa saat yang panjang sebelum kemudian tangan ku harus kembali bekerja untuk membuka lilitan tali pada kaki ku yang sudah kebas
sepertinya mereka belum pernah ikut acara Pramuka, bagaimana mereka bisa mengikat kaki seseorang dengan sangat kencang....?, apa mereka tidak tau jika kaki juga memerlukan sirkulasi darah yang baik.....?
mata ku menatap prihatin pada keadaan baju ku yang sudah tidak layak untuk di gunakan
mengenaskan!
hanya kata itu yang melintas di benak ku saat aku melihat betapa mengerikannya penampilan ku malam ini
dengan menggeret kaki ku, aku melangkah menuju perumahan terdekat, hal pertama yang terlintas di benak ku saat ini adalah, aku harus menemukan toilet umum, mungkin di pom terdekat.....?
"bismillah semoga ada" aku merapal do'a dalam setiap langkah yang ditapaki oleh kaki ku yang gemetar
aku berjalan bagai orang sempoyongan yang terkena migrain, dan kelaparan pada saat bersamaan bukanlah perpaduan yang bagus, aku harus beberapa kali terhuyung hampir tersungkur membentur aspal dingin dalam setiap beberapa langkah yang pendek
aku bernafas lega saat kaki ku menapaki pom bensin yang lenggang, tatapan penuh selidik terus mengiring langkah ku hingga aku menghilang di balik pintu toilet
dengan cepat aku membersihkan jilbab dan badan ku yang kotor, walau tidak sepenuhnya noda yang menempel di jilbab ku bisa ku bersihkan dengan baik, tapi aku masih bersyukur setidaknya ini lebih baik dari yang sebelumnya
aku melangkah keluar menuju wastafel terdekat dan meneguk rakus air yang mengalir dari sana, aku sudah tidak lagi peduli apakah air itu penuh kaporit atau tidak, yang penting saat ini adalah bagaimana aku bisa bertahan hidup
kaki ku kembali melangkah meninggalkan pom dan tatapan menyelidik beberapa staf yang masih bekerja di malam hari
aku hendak mencari tempat yang sedikit ramai karena tempat sepi bukanlah pilihan yang bagus, kadang kejahatan terjadi karena adanya peluang yang mereka manfaatkan dengan sangat baik, dan aku tidak ingin bermurah hati dengan menyediakan peluang untuk kejahatan itu menghampiri ku
jauh kaki melangkah hingga aku sampai di dekat tempat makan pinggir jalan yang berada di dekat alun-alun kota....? atau taman kota....? entahlah aku tidak tau apa sebutan yang cocok untuk tempat ini
tempat ini cukup luas dan sesak dengan para pengunjung yang tengah menyantap makanan, atau hanya sekedar untuk menghibur diri menikmati pertunjukan dari para seniman yang sedang mengais rezeki
aku duduk di atas undakan tangga yang sedikit jauh dari kerumunan padat di depan sana
di dekat ku ada beberapa kelompok kecil pemuda pemudi yang tengah berbincang
aku berniat hendak melaksanakan sholat di sini, Alhamdulillah aku sudah berwudhu saat di pom bensin tadi, hanya perlu memastikan jika tempat yang ku tempati ini adalah tempat yang suci
tidak mungkin ada anjing yang akan duduk di tempat ini kan....?
tempat ini sedikit terlalu tinggi untuk di lalui oleh seekor Anjing
aku mencoba berkonsentrasi dalam setiap gerakan sholat yang ku lakukan dalam duduk, aku tidak sanggup jika harus berdiri, kaki ku kebas, aku bahkan sudah tidak lagi dapat merasakan tumit ku saat menapak di atas permukaan tanah, aku takut jika aku sholat dalam posisi berdiri aku akan tersungkur dan akan menyebabkan salah satu bagian dari anggota tubuh ku memar atau bahkan patah
"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh"
alhamdulillaah akhirnya aku bisa menyelesaikan sholat ku yang tertunda, aku memohon pada Allah jalan keluar terbaik dari setiap do'a yang terucap agar ini menjadi kali terakhir aku sholat dalam keadaan seperti ini
aku duduk didalam diam memandang jauh pada kerumunan yang kini ramai dengan datangnya para polisi yang tengah berpatroli
sayup-sayup aku mendengar celotehan para pemuda yang duduknya bisa di katakan lumayan dekat dengan ku
"why there's so many cops around here...?”
"You don't know....? They're looking for someone, if I'm not mistaken, they are looking for the son/daughter of someone who is quite influential in southern Italy"
aku sempat terkejut saat mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris yang cukup lancar, mungkin mereka salah satu dari sekian banyak turis yang ingin menikmati liburan di kota ini....?
"Ferrero family...?, they are totally carzy"
"may be, I'm not sure about that, their family is quite private, isn't it?
"yeah"
aku sudah hendak mengabaikan pembicaraan mereka sebelum aku mendengar nama keluarga Louis masuk dalam pembicaraan mereka
dengan tidak sopan aku mencoba mencuri dengar setiap pembicaraan yang berkaitan dengan keluarga Louis yang tengah mereka perbincangkan
aku mulai berfikir sekaya apa keluarga Ferrero hingga mereka mampu menggerakkan semua polisi untuk turun kejalan untuk mencari seseorang
siapa yang tengah mereka cari...? aku kah....? atau ada salah satu di antara mereka yang tengah di culik sama seperti ku....?
Leo....?
Elisa....?
atau Elio.....?
saat nama Elio melintas di benak ku, rasa khawatir itu datang membanjiri setiap sel tubuh ku
pikiran buruk kini mulai menyerang benak ku dengan bertubi-tubi
bagaimana keadaannya saat ini.....?
apa mereka memperlakukan Elio seburuk mereka memperlakukan aku....?
apakah laki-laki menggemaskan itu saat ini tengah menangis atau tidak......?
apa mereka sudah membuatkan susu untuk nya.....?
tanpa sadar aku menggigit kuku ku hingga bau anyir darah menyebar di rongga mulu ku
aku menatapnya dengan ngeri saat darahnya masih saja mengalir saat ku hisap dan ku ludahkan berulang kali
kaki ku bahkan sudah hendak melangkah untuk mendatangi salah satu polis yang tengah sibuk mencari di tengah kerumunan, tapi aku menghentikan langkah ku saat sebuah kesadaran datang menghantam benak ku
'siapa aku hingga bisa membuat mereka percaya bahwa juga bagian dari keluarga Ferrero....?'
walau seingat ku Louis belum menceraikan aku, iya kan....?
aku kembali melirik penampilan ku dan kuku ku yang mulai kembali mengeluarkan cairan merah yang berbau amis
'mereka tidak akan percaya' aku membisikkan hal itu dengan sendu, ratapan hanya tinggal ratapan dan rindu hanya tinggal rindu
aku membuang nafas dengan keras dan berdo'a dalam hati semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan keselamatan untuk batita mungil itu
sekarang yang haru aku lakukan adalah ikhtiar untuk bisa terlepas dari kesengsaraan yang menyelimuti benang takdir ku malam ini
sabar menjadi sahabat setia dalam setiap langkah mencari jalan untuk bertahan hidup dan Allah menjadi tempat aku bergantung, dan hanya kepadanya lah segala harap ku gantung kan
aku memberanikan diri untuk mendekat pada salah satu toko makanan yang sedikit lenggang, mencoba untuk meminta tolong pada mereka agar kiranya sudi memberiku bantuan untuk menghubungi kak Abyan
"Excuse me, may I borrow your phone to call my brother.....?" aku mencoba berbicara pada satu-satunya pelanggan wanita yang ada di tempat itu
"are you Mrs. Ferrero...?" dia bertanya pada ku dengan penuh keyakinan, seakan dia sudah pernah melihat ku sebelumnya
ketakutan itu kembali mencekam hati ku, takut jika dia adalah salah seorang dari kelompok yang menculik ku
"no, I'm not"
aku mundur dengan pelan dan mencoba untuk menjauh dari tempat wanita itu berdiri dan mencoba memacu kaki ku saat mendengarnya mengatakan "I found her" entah pada siapa...?
kaki ku melangkah memecah kerumunan dan mencoba berlari semampu yang kaki ku bisa
para polisi yang awalnya mencari dengan tenang di tengah kerumunan, tiba-tiba berbalik dan berkerumun mencoba untuk mengejar ku
kaki ku yang semula terseok-seok saat berjalan, kini melaju kencang karena dorongan ketakutan yang menguasai benak, aku coba menyelip di beberapa gang sempit di antara perumahan warga yang disinari lampu jalan yang sedikit redup
aku mencoba bersembunyi di antara tumpukan sampah saat mereka sedikit jauh di belakang ku
nafas ku memburu dengan sanga cepat hingga membuat ku kesusahan untuk menghirup oksigen yang ada
aku bersembunyi di sana cukup lama, baunya sampah sudah tidak lagi terasa di hidung ku yang sepertinya sudah kebas
aku menangis dalam diam, meratapi setiap kejadian yang membuat ku hampir gila
dalam tangis yang sunyi aku mengulang kembali kilas-kilas kejadian beberapa hari yang telah berlalu, bagaimana takdir mempertemukan aku dengan laki-laki tampan bermata hijau yang indah
bagaimana kami bisa saling mengenal satu sama lain melalui selembar kertas elektronik yang tersimpan rapi di dalam telfon genggam ku
hingga aku mengingat jawabannya yang membuat ku yakin untuk melangkah bersamanya
"dengan apa akhi akan membimbing Zu dalam rumah tangga kita kelak, dan apa yang akan akhi berikan untuk Zu dan anak Zu nanti..?" dengan jelas aku mengingat pertanyaan yang ku ajukan saat itu
"Zu, aku tau aku tidaklah sempurna....?, dan jika aku membimbing Zu dengan akal ku yang tidak sempurna ini, tidak ada yang akan kita peroleh selain kegagalan dan kehancuran, aku hanya bisa menyandarkan pada aturan yang sempurna jika menginginkan kebahagiaan bersama Zu, saat mengarungi bahtera rumah tangga kita nanti, dan tidak ada aturan yang sempurna yang ku jumpai selain Islam, dan dengan Islam lah in sya Allah aku akan membimbing dan membingkai kehidupan kita kelak"
Louis berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan
"dan Zu tau kan...?, jika aku tidak memiiki apapun yang berharga yang bisa ku tawarkan pada Zu dan buah hati kita kelak, aku hanya memiliki cinta yang besar untuk Allah dan rasulnya, in sya Allah jika Zu ridho, dengan cinta inilah aku ada menghiasi setiap pemberian yang akan aku usahakan untuk Zu dan anak kita kelak, karena aku tengah berusaha untuk mencintai Zu karena Allah, dan apapun yang kiranya akan memberatkan datangnya rasa cinta ini di hati Zu, in sya Allah, akan ku coba ikhlaskan untuk ku tinggalkan, selama tidak menentang perintah dan syariat Allah, in sya Allah"
jawaban itu kembali terngiang di benak ku, menghantarkan rasa rindu yang mulai menyelimuti benak ku yang kalut
'ya Allah'
dalam dia aku merintih di persembunyian ku yang sunyi
hingga segerombolan orang datang mendekat dengan langkah panjang yang menghentak tanah dengan keras
mereka datang tanpa aba-aba mengejutkan ku yang terlonjak dari lamunan panjang ku
seorang polisi datang mendekat dan mencoba mengulurkan tangan untuk meminta ku mendekat kearahnya
aku masih bergeming dalam diam hingga seorang laki-laki yang ku kenal memecah kerumunan dengan penampilannya yang berantakan
"Louis" aku berbisik lirih dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipi ku
"ya Allah, Alhamdulillah akhirnya" Louis berjalan mendekat dengan lantunan syukur yang terucap dari bibirnya yang bergetar
tangannya terulur dari kejauhan, kakinya melangkah dalam langkah panjang yang cepat
melihatnya yang semakin dekat membuat ku memberanikan diri untuk berdiri dari tempat ku bersembunyi
hingga jarak kami semakin dekat sebuah bunyi nyaring yang memekakkan telinga datang memecah sunyi yang menyelimuti
dor!
"Zu"
teriakan Louis adalah hal terakhir yang mampu di tangkap oleh daun telinga ku