Thaha

Thaha
teman baru



...~**🐙**~...


...**...


...*...


Tangan ku masih sibuk men-dial nomer Louis, sudah sejak tadi pagi aku mencoba menghubunginya, tapi tak satupun dari panggilan ku yang tersambung.


bahkan Mommy dan Elisa pun sama, tak satupun dari mereka yang mengangkat panggilan ku


khawatir......?


tentu saja


walau aku yakin Louis akan baik-baik saja


tapi, ini tak seperti biasanya. sesibuk apapun Louis dia akan tetap memberi kabar, atau dia dengan senang hati akan menerima panggilan ku. bahkan saat kondisi sedang rapat penting sekalipun, Louis akan menerima panggilan ku.


jika memang tidak bisa berbicara dalam waktu yang lama, Louis akan meminta izin untuk mematikan sambungan setelah aku mengetahui keadaannya


atau jika memang tidak bisa memegang Hp sama sekali , dia akan memberitahukan kepada ku lebih dulu, setidaknya Elisa atau Mommy yang akan menggantikan Louis untuk berbincang dengan ku


tapi ini, aku sudah mencoba semuanya, bahkan si kembar juga tidak mengangkat telfon ku


ada apa ini.....?


perasaan gelisah mulai menghantui benak ku, belum lagi mengetahui kondisi Itali yang luar biasa menakutkan, membuat perasaan ku makin tak karuan


walau aku tau Louis dan keluarganya tinggal di pulau terpisah yang jauh dari pusat kota, tapi bukan tidak mungkin penyebaran virusnya akan sampai kesana


di saat aku tengah berkutat dengan rasa cemas di hati ku, suara tangis Elio tiba-tiba menggema, membuat ku yang tengah mencoba menghubungi Louis terperanjat.


dengan gerakan refleks aku berlari dari ruang keluarga menuju taman belakang dimana Elio tengah bermain bersama Absyar


aku sampai di taman belakang dan melihat Elio yang berada dalam gendongan Absyar tengah menangis, di tangannya terdapat beberapa bercak berdarah


aku menghampirinya untuk memastikan tangan Elio tidak memiliki luka yang serius


"sini sama Mommy" aku membawa Elio dalam dekapan ku, tangan ku dengan konstan memberi sapuan lembut berusaha menenangkan Elio yang masih larut dalam tangis


saat tangis Elio sudah mulai mereda, dan Elio sudah lebih tenang


Aku memeriksa tangan Elio yang terdapat goresan luka dan bercak darah


"it's ok, Elio kuat. kita bersihkan lukanya ya...?"


kaki ku melangkah menuju dapur untuk membersihkan tangan Elio yang terluka, dan Absyar yang masih mengekor di belakang ku


mungkin dia masih khawatir dengan keadaan Elio


"kenapa sayang....? tangan Elio kenapa berdarah.....?" Elio masih terdiam


Aku bertanya pada Elio yang kini bersandar nyaman dalam dekapan ku


"Tangan Elio kenapa sayang....?" kembali aku bertanya pada Elio


"datoh, Mommy" Elio menjawab pelan


"sakit....?" aku bukannya tidak tau jika Elio saat ini tengah kesakitan, aku hanya ingin menambah kosakata bahasa Indonesianya yang sangat minim, di tambah pelafalannya yang sangat khas membuat ku harus sering-sering memperkenalkan setiap kata pada Elio


"takit" Elio mengangguk pelan


" tangan Elio kenapa dek....?" setelah mendapat jawaban dari Elio. aku berpaling untuk bertanya pada Absyar yang berada di belakangku, saat aku mencoba membersihkan luka Elio


"tadi Elio mau nangkep kucing kak, eh kucingnya lari, akhirnya Elio hilang keseimbangan. nyungsep deh"


" kucing.....? kita nggak pernah punya kucing dek, darimana datangnya....?" aku sempat bingung untuk beberapa saat, tapi saat mengingat jika bagian samping pintu belakang sangat memungkinkan untuk kucing menyelinap dari sana, aku tidak bertanya lebih jauh



Setelah ku pastikan tidak ada debu ataupun pasir yang menempel pada lukanya, aku membawa Elio untuk duduk di ruang keluarga


"Mommy obati lukanya, jangan nangis. ini akan sakit, Elio sabar ok....? say Allah, if Elio feel the pain, ok.....?"


" hiks.... pain... hiks.... Mommy" Elio mengadu dengan bibir Melengkung, siap untuk menangis kembali


"say Allah Baby, sabar. Elio kuat" aku mencoba untuk menguatkan Elio yang sudah siap untuk menangis


"Allah" bibirnya yang semula melengkung kebawah Elio urungkan, kini bibir mungilnya terus mengucap "Allah" setiap kali nyeri menyapa kulitnya


"good boy"


tangan ku memberi sapuan lembut pada pucuk kepala Elio


setelah selesai membalut luka Elio, dengan perlahan aku membawa tangannya yang sudah tertutup perban untuk ku labuhkan ciuman disana.


beruntung lukanya tidak terlalu dalam, hanya goresan-goresan kecil, tapi karena kulit Elio yang sangat putih menjadikan goresan dan bercak darahnya terlihat lebih jelas


"pintarnya keponakan Abys" tangan Absyar terulur untuk mencubit pipi gembul Elio


sedangkan Elio yang mendapat cubitan gemas dari Absyar seperti biasa akan berteriak "Ndak'o Abys" sebagai kalimat andalannya


aku selalu berusaha untuk membiasakan Elio mengenal kebiasaan ku, mengenalkan bagaimana aku beraktivitas setiap harinya


aku melakukan itu karena aku berharap Elio akan terbiasa dengan aktivitas ku, mengenal bagaimana seharusnya seorang muslim itu menghabiskan setiap detiknya untuk ta'at kepada Allah


menghabiskan setiap detik dari jatah hidup yang Allah pinjamkan untuk beribadah kepada Allah. menjadikan segala bentuk aktivitas bernilai pahala di sisi Allah. dan menjalankan hidup sebagaimana tujuan Allah menciptakan manusia


"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,"


(QS. Az-Zariyat : 56)


bahkan aku coba untuk mengajarkan pada Elio bahwa apapun aktifitas kita haruslah bernilai pahala. sekalipun itu hanya untuk duduk, tidur, dan makan. apalagi aktifitas lain yang lebih dari pada itu, tentu semuanya harus bernilai pahala disisi Allah


"nadi...? mimik Mommy...?" Elio bertanya dengan tatapan memohon yang menggemaskan.


mengabaikan tangan Absyar yang masih menoel-noel pipinya


"boleh. boleh mimiknya sambil ikut Mommy ngaji....?" aku kembali bertanya, mencoba membuat janji dengan Elio agar Elio mulai terbiasa dengan hubungan timbal balik


Elio mengangguk dengan semangat


"masih ingat pesan Mommy....?" aku mulai menanyakan tentang aturan yang sudah aku sepakati dengan Elio saat aku tengah berforum atau tengah mengaji


Elio mengangguk sebagai jawaban


"No cry, don't play on Mommy's phone, don't play toys that can distract Mommy. No scream, ask nicely if I want something, if I'm bored I can play with Abys after asking Mommy's permission"


(tidak menangis, tidak bermain dengan HP Mommy. tidak memainkan mainan yang akan mengganggu mommy.tidak berteriak, bertanya baik-baik saat menginginkan sesuatu, kalau Elio bosan Elio bisa bermain dengan Abys setelah mendapat izin dari Mommy)


Elio mulai mengucapkan aturan yang telah kita sepakati. tidak hanya Elio sebenarnya yang punya peraturan saat aku tengah berforum atau tengah beracara


tapi aku juga punya aturan untuk ku. saat Elio tengah sibuk. seperti aku yang tidak boleh mengganggu saat Elio sedang berada di jam bermainnya. saat Elio belajar. atau saat Elio tengah asik dengan gadget-nya.


Elio boleh bermain HP atau tablet 1 jam dalam satu Minggu tentu dengan pengawasan. hanya untuk memperkenalkan Elio tentang teknologi. tapi Elio lebih sering memanfaatkan waktunya bermain gadget untuk menyusun Lego dan puzzle. padahal Lego dan puzzle yang Elio miliki adalah media untuk Elio belajar. dia tidak terlalu suka bermain gadget


aku boleh masuk untuk ikut bermain bersamanya, meminta perhatiannya atau menanyakan sesuatu pada Elio di waktu bermainnya asalkan Elio sudah memberi izin


Awalnya sangat susah. karena bagi anak-anak setiap waktu adalah waktu bermain, dan setiap tempat adalah wahana bermainnya. tapi seiring berjalannya waktu dengan pembiasaan. sedikit demi sedikit Elio mulai terbiasa. walau harus sering diingatkan dan di ulang-ulang tentang aturannya


"good boy" aku mencium pucuk kepala Elio, sebagai hadiah karena sudah menjadi anak yang baik.


mengkaji Islam, belajar tentang hukum-hukum di dalam Islam adalah aktivitas wajib ku, yang tentu tidak akan aku lewatkan. hanya beberapa waktu lalu saat aku tengah berada di Itali, beberapa kali aku harus izin untuk tidak hadir dalam kajian, bukan karena aku ingin. tapi kondisi kesehatan membuat ku cukup sulit pada saat itu. mengingat tentang Itali membuat ku kembali mengingat Louis


bagaimana kabarnya.....?


sudah bisakah dia di hubungi.....?


atau masih belum bisa....?


apa yang terjadi.....?


walau telinga ku terbuka dengan lebar untuk mendengarkan penjelasan guru ku, tapi tidak dengan benak ku yang kini tengah menjelajah bebas. bertanya-tanya dimanakah kiranya Louis sekarang....?


"ILO, haaaiiii" Sura nyaring milik Egan menggema menggantikan suara ustadzah yang tengah menjelaskan


dia Egan. teman baru Elio yang tidak pernah Elio temui secara langsung. nama aslinya Erdogan Fahmi. entah sejak kapan nama Erdogan bisa berganti menjadi Egan


Elio bahkan lebih parah, dia dengan seenaknya memanggil Erdogan dengan nama "Edan". yang kata orang Jawa Edan artinya "gila", kan jadi tidak enak pada uminya.


sama seperti Elio yang selalu suka-suka mengganti nama orang. Egan juga sama. dia selalu memanggil Elio dengan sebutan ILO.


lidah bayi memang sedikit berbahaya untuk kesehatan perut. terlalu banyak tertawa bisa menyebabkan perut kram


mendengar suara Egan yang melengking mengalahkan suara ustadzah, Elio yang semula tengah menyusu di balik Khimar dengan cepat keluar dari persembunyiannya


dan tangan ku dengan sigap membantunya. juga untuk memastikan agar aurat ku tidak tersingkap


"Mommy, Edan" nada suara Elio meminta izin. dengan tangan Elio menunjuk pada layar yang menampilkan wajah Ustadzah ku


aku tau dia ingin bercengkrama dengan Egan. walau bahasa mereka terdengar seperti bahasa alien yang susah di pahami, entah mengapa Elio dan Egan seperti bisa memahaminya


"nanti, kalau ngajinya sudah selesai boleh...?" aku kembali mengingatkan pada Elio jika sekarang bukan saatnya untuk bermain


"how long....?" Elio mengangkat ke sepuluh jarinya siap menghitung, walau sering salah. apa yang diharapkan dari anak yang masih berusia kurang dari dua tahun


yang pasti Elio bisa memahami, jika jumlah jari yang ditekuk lebih banyak berarti dia membutuhkan waktu lebih lama untuk bersabar


aku menekuk hampir semua jarinya, dan hanya menyisakan satu jari telunjuk


hal itu langsung diangguki oleh Elio


berbeda Elio berbeda dengan Egan, semakin dia tidak mendapat respon dari Elio karena audio ku di matikan, suaranya semakin melengking, hingga ustadzah harus mematikan audio miliknya. padahal kami tinggal sedikit lagi selesai


yup. benar Erdogan atau Egan adalah putra tunggal kak Avi. ustadzah yang mengisi kelas hari ini


...~**TBC**~...


...**...


...*...