Thaha

Thaha
Elio In Action



...******...


...*...


...*...


...*...


"bagaimana kak Abyan....?"


Louis kembali mendekat setelah aku selesai berbincang dengan kak Abyan


hhhuuufffftt jadi kangen Kak Abyan sama Absyar, apa kabar Absyar.....?


"biasa, lagi sensi karena kemaren Zu minta jemput ke sini tapi habis itu tak ada kabar"


UPS!!,


sepertinya aku salah bicara barusan


tanpa sadar aku memukul bibir ku pelan karena sudah lancang membocorkan rahasia


aku melihat Louis yang saat ini tengah memandang ku dengan sorot mata tajamnya dengan tatapan memelas


kenapa pula aku lupa....?!


"hihihi"


aku tersenyum kikuk dengan bibir yang ku paksakan membentuk garis senyum


" jelaskan!"


alamak!, ini dramanya nggak akan buka teater lagi kan....? bisa runyam kalau sudah buka


"jadi gini....."


aku mencoba menjelaskan bagaimana ceritanya aku bisa meminta kak Abyan menjemput ku ke Italia dengan bahasa yang sudah ku poles sebaik dan selembut mungkin agar tidak menyenggol ego Louis yang sepertinya terserempet barusan


hhuufffttt


Louis membuang nafas berat


entah berapa kali telinga ku mendengar helaan nafas berat hari ini, dan penyebabnya adalah aku.....? astagfirullah


dia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, tangannya meraup Elio yang masih bergelantungan di lehernya dan merayunya agar mau duduk di kasur bersama ku


"noooo with Daddy"


bukannya menurut Elio malah semakin mengeratkan pelukannya di leher Louis


"ok, ok, with Daddy don't cry"


Louis mencoba kembali menenangkannya dengan memberi sapuan lembut di punggungnya


"Elio, want to eat banana with Mommy....?"


aku mencoba merayu Elio siapa tau kali ini berhasil


"no Mommy, with Daddy"


Elio menolak dan malah semakin dalam menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Louis


"kenapa dengan Elio.....?"


aku bertanya pada Louis dalam suara lirih


"lagi manja"


Louis juga membalasnya dalam suara yang tak kalah lirih dari suara ku


"balik lagi sama masalah tadi, jangan mengalihkan topik"


oh-ho, ketahuan juga ternyata motif terselubung ku


"aku tidak mengalihkan, cuma aneh dengan sikap Elio hari ini, takut dia demam atau apa"


alasan yang tidak sepenuhnya alasan, karena aku memang khawatir dengan kondisi Elio, tapi juga ada motif untuk mengalihkan topik


tidak murni mengalihkan


ini yang namanya sekali tepuk, dua, tiga nyamuk mati


"dia tidak apa-apa, insyaAllah.......Zu lain kali apapun yang menjadi beban pikiran Zu, apalagi tentang rumah tangga kita, Zu langsung kasih tau aku, kita coba diskusikan dulu, komunikasi terbuka di antara kita itu penting, jangan menyamping, tapi kalau masalah yang kita hadapi nanti tidak menemukan titik terang, baru kita hadirkan pihak yang mampu membantu kita menyelesaikan, jangan di ulang lagi ya"


Louis meraih tangan ku yang tidak menggenggam telfon genggamnya untuk Louis genggam


"Zu tau ini teguran untuk kita berdua, pengingat untuk kita agar kedepannya tidak di ulang lagi"


saat Louis mengatakan seperti itu, seakan kesalahan itu adalah kesalahan aku dan dia, dan itu membuat ku entah mengapa sedikit senang karena dia tidak menitik beratkan masalah itu pada ku sepenuhnya, dia tidak menghakimi ku, walau sudah jelas akulah pelaku utamanya


bagaimana pun aku sangat bersyukur karena Allah menjadikan Louis sebagai pelengkap hidup ku, dia mampu melihat bahwa kadang kesalahan itu terjadi di sebabkan oleh dua belah pihak bukan sepihak saja


seperti saat ini, kesalahfahaman ini terjadi karena kita berdua yang belum bisa berkomunikasi dengan baik, Louis yang belum menceritakan tentang keluarganya dan aku yang sibuk berpersepsi dan berprasangka sesukanya tanpa mau mendiskusikannya dengan Louis


aku mendekatkan tangannya yang menggenggam tangan ku untuk ku labuhkan kecupan ringan sebagai tanda maaf


"aku juga minta maaf belum bisa menjaga Zu dengan baik"


Louis juga melakukan hal yang sama sebagai mana yang ku lakukan sebelumnya


"sebentar lagi Dzuhur, kita jama'ah, butuh bantuan tayammum....?"


Louis menawarkan sebelum berdiri dari kasur


"tidak usah, Zu bisa sendiri, insyaAllah, terus Elio bagaimana, dia belum mandi dari pagi"


"aku mandikan dia dulu"


"bisa....?"


bukannya aku meremehkan cuma sepertinya hari ini akan sedikit sulit melakukan hal itu, mengingat sikap Elio yang masih bergelantungan seperti itu dan tidak mau di turunkan dari gendongan Louis


"entah"


"semangat Daddy"


aku mencoba untuk memberi semangat dengan hati yang sedikit cemas dan sedikit ngeri


Louis beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan aku yang kembali sibuk mempersiapkan diri untuk sholat berjamaah


aku membuka Al-Qur'an yang ada pada hp canggih milik Louis, maklum hp ku tergeletak entah dimana juga aku tidak tau, aku hanya berdo'a semoga bukan orang jahat yang menemukannya


"Zo, tolong"


Louis keluar dari kamar mandi saat aku tengah tenggelam dan hanyut dalam bait-bait indah lafadz-lafadz Al-Qur'an dengan kondisi yang mengenaskan


sekujur tubuhnya basah dengan baju yang masih lengkap seperti saat sebelum masuk tadi, hanya yang berbeda, rambutnya berantakan dengan busa sabun dan Elio yang tak lagi memakai pakaiannya dengan posisi yang sama, masih bergelantung di dalam dekapan Louis


tangan kanan Louis tengah kerepotan untuk menutupi tubuh mungil Elio dengan handuk sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mendekap Elio agar tidak terjatuh


"ya Allah, ini kenapa bisa basah semu....? habis nyemplung dimana.....? shower-nya rusak....?"


"tolongin dulu"


aku juga bingung mau menolong bagaimana, lukaku memang sudah mulai mengering, tapi untuk menggendong Elio dan turun dari tempat tidur....? aku tidak yakin bisa berdiri dengan tegak, bisa-bisa aku malah ngesot kesananya


"nggak bisa ke sana, bawa kesini anaknya, nggak apa-apa basah nanti minta tolong kakak perawatnya saja untuk panggilkan petugas kebersihan"


mau tidak mau, Louis mendekat kearah tempat tidur dengan meninggalkan genangan air di lantai yang cukup banyak, persis seperti orang yang baru di guyur hujan lebat dengan butiran airnya yang besar-besar


"Elio, baby, with Mommy ok, Daddy want to take shower" (Elio, sayang, dengan Mommy ok, Daddy mau mandi dulu)


Louis menurunkan Elio dengan cepat dan berlari menuju kamar mandi meninggalkan Elio yang kini tengah menangis di pangkuan ku dan terus memanggil Louis yang telah menghilang di balik pintu kamar mandi


untung tidak terpeleset dia tadi


kalau sampai terpeleset, makin lama kita nanti di rumah sakitnya


"baby, don't cry, Daddy Will be back soon, ok, it's ok baby" (sayang, jangan nangis Daddy nanti balik ko', ok, tidak apa-apa sayang)


aku mencoba menenangkan Elio yang masih saja betah menangis, tidak seperti biasanya Elio betah sekali menangis walau dia sedang bersama ku, biasanya dia akan berangsur-angsur tenang jika sudah ku peluk, tapi ini....? sepertinya memang ada yang salah dengan Elio


"uuuuaaaaaa.....Daddy...... uuuaa.....Daddy"


tangisnya bukan semakin lirih malah semakin kencang dan bertambah kencang, aku takut itu malah akan merusak pita suaranya nanti


Louis keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih baik, walau tidak bisa di katakan rapi, dia keluar dengan kemeja pendek sebelah karena kancing yang salah jalur


aku sekuat tenaga mencoba untuk mengabaikan hal itu, sebelum dia mendekat dan merengkuh Elio


tidak baik menertawakan orang yang sedang kesusahan


Elio dengan cepat berdiri dari pangkuan ku dan melompat ke arah Louis yang sudah berdiri di tepi tempat tidur


jantung ku berpacu kencang karena terkejut dengan tingkah Elio yang sedikit berbahaya


"Astagfirullah haladzim"


"ya Allah"


aku dan Louis sama sama berseru terkejut


"duduk sini"


aku menepuk tempat kosong di sisi tempat tidur dan meminta Louis untuk duduk di sana


aku mencoba membenarkan letak kancing bajunya yang salah jalur


kadang menjadi orang tua butuh tenaga dan kesabaran lebih, apalagi untuk menghadapi anak seusia Elio


"terimakasih"


"terimakasih kembali"


...~TBC~...