
...**~🦋~**...
...**...
...*...
Sunyi, sepi melingkupi tiap helai udara yang berhembus sayup-sayup menyapu bulu roma, aku menatap pada kejauhan yang menggambarkan indahnya kemerlap lampu yang menyerupai taburan bintang di angkasa yang bersinar redup
langit malam terbentang dengan kegelapan yang menyelimuti seluruh bagian bumi yang tak tertimpa sinar sang mentari
melihat betapa indah Allah menciptakan lukisan yang luar biasa, membuatku berkali-kali merapal rasa syukur. bersyukur dengan setiap kejadian yang Allah gariskan atas hidup ku, pertemuan ku dengan Louis, kejadian mengerikan yang semakin mendekatkan ku kepada Allah dan setiap detik yang ku lalui di tempat yang belum pernah ku jajaki sebelumnya
betapa cepatnya malam datang, dan betapa cepatnya siang berganti, aku bahkan tak pernah tau apa yang akan terjadi di detik-detik berikutnya. tapi yang pasti aku akan tetap bersyukur dengan apa yang Allah gariskan untuk ku
karena sejatinya Allah maha tau yang terbaik untuk ku, ku gantungkan setiap harapan, asa dan mimpi ku di tangan Allah dan apapun hasil dari pemeriksaan nanti, yang ku perlukan hanya satu, ikhlas menerima, walau jika ditanya apakah aku tidak sedih....? bisa jadi nanti saat aku menerima vonis dari dokter aku akan sedih, marah, kecewa dan sejuta perasaan lain
wajar, itu manusiawi.
tapi ingatlah jika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda jika sabar itu pada pukulan pertama, bukan setelahnya
"Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah .Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama”
(HR. Bukhori I/430 no.1223, Muslim II/637 no.926 dan Abu Daud)
jadi apapun nanti hasilnya aku akan dengan ikhlas menerimanya in sya Allah.
aku tengah terhanyut dalam dzikir saat sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatian ku, awalnya aku berfikir jika itu Louis, tapi untuk apa Louis mengetuk pintu kamar....? atau bodyguard Daddy yang datang.....?
dengan pelan aku melangkah menuju pintu, beruntung aku tidak di pasang infus tadi, jadi aku masih bisa bergerak bebas
saat pintu terbuka di depan ku berdiri 3 orang laki-laki dengan tinggi di atas rata-rata orang Asia, dia menyapa dengan hormat sebelum memulai menyampaikan maksud kedatangannya
" may I help you...?'" aku bertanya dengan sopan, walau jantung ku berdegup kencang, khawatir, takut dan waspada saat ini tengah menyelimuti benak ku
"good evening Mrs. we are officers from Indonesian foreign ministry"
(selamat malam nyonya. kita petugas dari kementerian luar negeri Indonesia yang ada di Italia)
Seorang dari mereka mulai menjelaskan mewakili yang lain
saat mendengar hal itu, aku merasakan kejanggalan yang sedikit tidak wajar
Bagaimana mungkin petugas kementrian luar negeri Indonesia, saat menghadapi rakyatnya sendiri yang sudah pasti bisa berbahasa Indonesia malah menggunakan bahasa asing....?
bukan kah ini sedikit aneh ?
"we received a report to pick up Indonesian citizens on behalf of Atiya Az-Zuhruf
for the repatriation of the name concerned as a form of protection from the Indonesian state in connection with the current unstable condition of Italy"
(Kami menerima laporan penjemputan WNI atas nama Atiya Az-Zuhruf
untuk pemulangan nama yang bersangkutan sebagai bentuk perlindungan dari negara Indonesia sehubungan dengan kondisi Italia yang tidak stabil saat ini)
dia kembali melanjutkan, walau aku melihat keanehan itu dengan jelas, bukan berarti aku akan langsung menuduh mereka tanpa bukti, atau melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas di lakukan di area rumah sakit, marah marah mungkin..?
"May i know who gave you the report....?"
(bolehkah saya mengetahui siapa yang memberi laporan...?)
aku mencoba menghadapi mereka dengan tenang, sebisa mungkin mengulur waktu menunggu hingga Louis datang
"one of the citizens of Indonesia, part of your family"
(salah seorang warga Indonesia yang mengatas namakan saudara anda)
'salah satu dari keluarga ku ...? yang benar saja' aku membatin
hal yang sangat tidak mungkin terjadi, pasalnya semua keluarga Louis saat ini tengah berada di tengah-tengah pesta, yang sudah pasti mereka tengah sibuk-sibuknya saat ini
keluarga ku ...?
sangat tidak mungkin, Rama dan ibuk tau jika aku bersama Louis, jadi sangat kecil kemungkinan orang tua ku akan meminta bantuan kementrian luar negri, sedangkan mereka bisa langsung menghubungi Louis
saat aku memikirkan hal tersebut satu hal yang terlintas di benak ku, jika mereka bukan bagian dari lembaga kementerian, atau mereka bagian dari komplotan yang pernah menculik ku beberapa waktu lalu....?
"May I see the official letter...?"
(apa boleh saya melihat surat resminya)
dengan suara bergetar yang tidak bisa ku tutupi aku mencoba serasional mungkin untuk menghindari mereka, walau aku tampak tenang saat ini, tidak dengan benak ku yang terus merapal do'a meminta pertolongan Allah, dan berharap Louis akan segera kembali
dengan awas mata ku mengikuti setiap pergerakan mereka yang tengah berdiri tegap di hadapan ku, aku mencoba meneliti setiap gerakan mereka, takut-takut bukannya mengeluarkan surat resmi, mereka malah mengeluarkan senjata
bukannya aku su'udzon dengan mereka, perlu di ingat jika saat ini kita berada di negara bebas, bebas melakukan apapun sesuka hati, termasuk memiliki senjata untuk mereka yang mampu membelinya
uang bukan segalanya
tapi segalanya lancar dengan uang
ingat rumusnya
saat ini tergantung seberapa banyak uang yang kamu miliki, semakin banyak uang mu, maka semakin besar kekuasaan yang kamu miliki
itu adalah sifat dasar kapitalis, semua berpusat pada uang, uang dan uang
apa kabar nyawa ku....? mungkin beberapa detik ke depan aku tidak bisa memprediksi apakah nyawa ku masih di tempatnya atau sudah berpindah....?
na'udhu billah min dzalik
hanya pada Allah aku berserah dan berpasrah
saat aku hendak menerima sebuah surat yang mereka keluarkan dari dalam sebuah tas hitam, suara Elio menginterupsi kami
"Mommy...?"
mendengar itu, detak jantung ku semakin menggila, rasa takut itu semakin menerkam benak. bukan ketakutan akan keselamatan ku sendiri, tapi takut jika terjadi sesuatu dengan Elio
kadang kita tidak takut jika cobaan itu menimpa kita, tapi akan sangat menakutkan jika hal mengerikan itu menimpa keluarga atau orang-orang yang kita sayangi, sakitnya bisa berkali-kali lipat.
"a moment, please"
aku meminta izin untuk menghampiri Elio, sengaja aku tidak mengizinkan mereka untuk masuk, bukan karena tidak sopan, selain rasa takut yang bergelayut dalam benak, di ruangan ini juga sedang tidak ada Louis, jadi tidak sepantasnya aku menerima tamu laki-laki, selain untuk berjaga-jaga takut ada hal yang tidak di inginkan, itu juga untuk menjaga kita agar terhindar dari fitnah
di sana, di atas tempat tidur Elio sudah duduk dengan tangan yang melambai kearah ku, meminta ku untuk menggendongnya
aku tersenyum lembut menenangkan dan mengangkatnya ke dalam rengkuhan ku, segera setelah mendapat posisi yang nyaman Elio merebahkan kembali kepalanya di pundak ku dan melanjutkan untuk tidur
setelah memastikan posisi Elio nyaman aku kembali menemui 3 orang yang dengan sitia menunggu di depan pintu.
salah seorang dari mereka menyodorkan kembali surat yang tertera lambang negara dan juga bendera negara yang tertata rapi menghiasi bagian atas surat
ku baca dengan seksama, memastikan disetiap ditail kata per kata, mencoba mencari cela ada tidaknya kejanggalan dalam surat tersebut
saat aku tengah meneliti dan membaca surat itu, seorang wanita dengan perawakan khas orang Asia tenggara datang menghampiri kami
dia memperkenalkan dirinya sama seperti tiga laki-laki yang masih setia di depan ku, setelah dia menyapa dan memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia yang fasih, wanita yang baru ku tau bernama Ayudia, dia menjelaskan dengan penjelasan yang lebih mudah ku terima, walau aku masih bingung tentang orang yang memberi laporan, entah dia siapa, keluarga ku yang mana juga aku kurang paham
setelah memahami situasinya, aku meminta untuk berangkat saat aku berpamitan dengan Louis dan menjelaskan kondisi ku yang baru saja kehilangan surat dan beberapa barang berharga pasca kejadian kemaren
tapi sayangnya mereka tidak mengizinkan dan tetap meminta ku untuk mengikuti mereka. mereka beralasan jika pesawat yang akan membawaku pulang sebentar lagi akan terbang menuju kampung halaman
sekeras apapun aku mencoba menjelaskan jawabannya tetap sama. aku tetap harus ikut dengan mereka saat ini juga
saat ini aku tengah di lema, aku tidak hafal nomer Louis dan tidak tau harus menitipkan Elio pada siapa....?
akhirnya mau tak mau aku meminjam HP milik Ayudia untuk menghubungi ibuk untuk memberitahukan kondisi ku dan juga meminta tolong pada ibuk untuk menghubungi Louis.
Alhamdulillah setidaknya selalu ada jalan terbaik dalam setiap masalah
sekarang yang harus ku pikirkan adalah Elio, bagaimana dengan bayi gembul ini....?
...~**TBC**~...
...**...
...*...