
hari berlalu dengan cepat, hari ini Elio dan paman Ale sudah diperkenankan untuk pulang, aku mendapatkan kabar itu dari Louis setelah visit dokter tadi pagi
aku bahkan belum pernah berjumpa dan belum sempat menjenguk paman Ale
berbeda dengan paman Ale yang sudah keluar dari rumah sakit, Elio malah menolak untuk pulang, padahal dia sudah boleh pulang dari sejak hari pertama dimana dia dibawa ke rumah sakit, yang artinya tidak perlu rawat inap
dahi dan lututnya yang terluka kini luka itu sudah mengering, tidak cukup parah memang, tak heran jika dia masih bisa bertingkah jail pada Louis dan Leo
hanya saja Elio selalu menolak untuk berdekatan dengan Nurse ataupun dokter, sekalipun mereka datang untuk memeriksa ku dan bukan untuk memeriksa Elio, mungkin dia sedikit mengalami trauma
dan hari ini juga aku sudah bisa menggunakan salah satu tangan ku dengan leluasa, walau pada bekas luka tembakan itu masih lumayan sakit jika di gerakkan, tapi setidaknya aku tidak lagi di bungkus seperti mumi yang penuh dengan perban
aku melirik pada Louis yang sibuk menerima panggilan sejak tadi, sedangkan Elio mengekor di sampingnya seperti terserang penyakit lengket tiba-tiba
sejak bangun tidur sikapnya mulai aneh, walau sebelumnya Elio memang paling dekat dengan Louis, tapi tak pernah se lengket ini
Elio bahkan menolak untuk mandi walau mata hari sudah hampir menuju puncak
aku menatap aneh pada tingkah Elio saat ini, dia dengan kuat memegang kain celana Louis dengan tangan mungilnya, dan mengikuti gerakan Louis yang bergerak ke nana dan ke kiri mengambil beberapa berkas di meja dan membacanya dalam posisi berdiri
dan Elio mengikuti semua gerakan itu dengan tangan yang masih mencengkram kain celana Louis dengan kuat, tanpa suara dan tanpa protes
aku hampir tertawa saat Louis duduk dan dengan cepat Elio memanjat dalam pangkuannya, tangannya ia lingkarkan sempurna di leher Louis, Elio bahkan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di pundak Louis, tanpa bersuara dan tanpa mengganggu kegiatan menelfon Louis
bahkan dia bergelantung bagai anak monyet saat Louis berdiri kembali dari duduknya, aku yakin Elio akan meluncur dengan sempurna jika Louis tidak menyangga tubuhnya dengan sigap
ada apa dengan Elio.....?
pertanyaan itu terus melintas dalam benak ku sejak tadi
Louis mendekat dan menyerahkan telepon genggamnya pada ku sedang tangan kirinya masih setia menggendong Elio yang bahkan tidak ada niatan untuk menengok kearah ku
aneh sekali
ada apa sebenarnya dengan Elio.....?
aku menatap bingung pada Louis yang masih mengulurkan tangannya dan telepon itu masih di sana
"kak Abyan"
Louis memberi tahu
Astagfirullah haladzim, aku melupakan kak Abyan yang mungkin masih menunggu berita dari ku setelah sebelumnya aku meminta bantuan yang tidak masuk akal padanya
aku menerima telepon genggam itu dan mulai menyapa kakak ku yang mungkin akan membanjiri telinga ku dengan ceramah panjang
sedangkan Louis kembali duduk di sofa dengan Elio yang masih bergelantungan bagai anak monyet tak mau lepas dari induknya, tapi tetap membiarkan Louis kembali berkutat dengan berkas dan tablet nya tanpa bersuara
sedangkan aku disini berdo'a semoga saja kak Abyan tidak mengeluarkan jurus itu, Karena kadang kak Abyan kalau khawatir bicaranya sedikit lebih panjang dari biasanya dan aku harus mulai memberi sapuan lembut pada daun telinga ku agar dia sedikit bersabar
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, kak"
dengan takut-takut aku memulai menyapa
"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, Zu Alhamdulillah akhirnya bisa juga kakak hubungi Zu, telfon Zu mati dan belum aktif sampai sekarang, jadi kakak putuskan untuk menelfon Louis"
hhhuuufffftt
terdengar helaan nafas panjang di sebrang sana
aku tau ini belum berakhir, jadi aku putuskan untuk diam terlebih dahulu sampai kak Abyan selesai dengan kekhawatirannya
"Zu tau kakak sangat khawatir dengan keadaan Zu, setelah Zu tiba-tiba telfon kakak dan bilang minta di jemput, di Itali.....? terus setelahnya Zu tidak ada kabar.....? bahkan kakak sudah akan memesan tiket untuk pergi ke sana, untung kakak bisa dapat nomer Louis dari Rama tanpa membuat Rama dan ibu khawatir"
panjang juga muqoddimahnya kali ini
"kan kakak sudah bilang jika sudah di bicarakan dengan Louis Zu kabari kakak, bukannya kakak mau ikut campur, kakak cuma takut Zu ada apa-apa di sana, kita tida ada kerabat yang bisa diminta tolong kalau ada apa-apa dengan Zu di sana, sedangkan Zu mengenal Louis saja baru, kalian belum lama mengenal dan menikah, kalau Zu hilang bagaimana......? bukannya kakak buruk sangka dengan Louis, tidak, tapi Zu harus ingat dunia kita saat ini tidak sama dengan saat zaman Islam berkuasa
diaman seorang muslim mendapat jaminan penuh atas keselamatan dan kehormatan mereka, sekarang nyawa bagai tak ada harga Zu, Zu harus ingat itu, pembunuhan, perampokan, dan kejahatan yang lain akan sangat mudah kita temui saat ini
jangan terlalu polos Zu, setidaknya kalau mau berfikiran polos tau tempat dong Zu, Astagfirullah, Zu ada di negara orang sekarang kalau Zu ilang, nggak ada jaminan bakal pulang....... bla....bla.....bla....."
aku bahkan harus mengusap telinga ku berkali-kali untuk memberikan dukungan untuk telinga ku yang tertekuk layu
"eeemmm, kak, pertama Zu minta maaf karena sudah buat kakak khawatir"
aku dengan hati-hati memulai berharap tidak memancing hasrat ceramah kak Abyan yang selalu lebih bersemangat jika sudah menyangkut hal yang mengusik kekhawatirannya
"Zu tidak ada maksud untuk buat kakak khawatir tapi mau bagaimana lagi, hp Zu hilang"
"ko' bisa.....? gimana ceritanya Hp bisa hilang segala Zu.....?
"ya berarti sudah bukan rizki Zu kak"
sabar
aku tidak bohong dengan itu, hp dan barang berharga ku hilang tak bersisa, masih untung nyawa ku juga tidak ikut melayang
walau sepenuhnya aku tidak jujur pada kak Abyan bagaimana prosesnya hingga hp itu bisa hilang
hhhuuufffftt
kembali aku mendengar hembusan nafas berat di sebrang sana
aku hanya berharap jika Louis belum membocorkan pada kak Abyan tentang musibah yang menimpa ku
"terus sekarang keadaan Zu bagaiamana.....? sudah tenang....?"
aku yakin jika yang dimaksud adalah masalah ku dengan Louis tentang permintaan ku ya waktu itu
"sudah dan ternyata itu cuma salah paham aja, hehehe"
aku mencoba memberikan senyum lebar ku walau aku tau kak Abyan tidak bisa melihat ku, aku tidak cukup gila untuk melakukan panggilan video dengan kondisi ku yang terbaring cantik di atas tempat tidur rumah sakit
bisa-bisa aku di jemput paksa!
"tapi sudah di bicarakan kan dengan Louis.....?"
"sudah dong, dan Alhamdulillaah semuanya sudah clear, sudah jelas, sejelas air yang ada di kolam ikan"
"masih butek dong!, orang kolamnya uda pada lumutan"
"hihihi, enggak kak Zu serius, sudah clear masalahnya"
"ya sudah kalau gitu, kakak mau lanjut hafalan, jangan lupa kalau ada apa-apa kakak di hubungi"
"siap komandan"
"kakak bukan tentara Zu, kakak dosen"
"ow, ok ok ok, siap ustadz"
"terserah Zu lah, yang penting Zu senang aja udah"
"Zu tutu ya kak, semangat hafalannya, Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh"
"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, hati-hati di sana"
aku tertawa dengan kepasrahan kak Abyan, aku memang tidak pernah tau rasanya punya kakak perempuan yang bisa ku ajak untuk curhat
tapi memiliki kak Abyan setidaknya sedikit mengurangi keinginan itu
walau kak Abyan tidak bisa di ajak belanja atau ke tempat perawatan bersama
tapi dengan adanya kak Abyan aku bisa ketempat-tempat itu tanpa khawatir karena akan selalu ada yang menemaniku dan menunggu ku, tentu kak Abyan akan menunggu di tempat makan
entah itu bisa di katakan menemani atau tidak....?
...~TBC~...