
"Apa?" Mata Bianca seakan ingin melompat keluar karena kaget dengan ucapan Calvin, bagaimana tidak? Ia ditempatkan seruangan dengan Leon, bagaimana ia bisa bernafas dengan tenang?
"Ada apa?" Tanya Calvin santai.
"Kenapa aku harus seruangan dengan Mr. Leon?" Protes Bianca.
"Ini perintah." Jawab Calvin tenang dan pergi meninggalkan Bianca sendiri di ruangan itu.
Wajah Bianca tampak gusar, ia memperhatikan sekeliling ruangan yang tampak mewah, kemarin ia bahkan tidak sempat memperhatikan. Ruangan itu cukup luas dengan meja kerja yang lebar dilengkapi sofa yang tampak nyaman untuk beristirahat.
Bianca menghampiri mejanya yang sudah tertata dengan rapi dan lengkap, terdapat satu set komputer dengan merk terkenal di atasnya, di belakangnya terdapat lukisan dan pemandangan kota yang tampak memukau dilihat dari ketinggian. Di sebrang kiri mejanya, terdapat dispenser dan teko serta beberapa peralatan makan dan minum.
Bianca yang sempat terpesona dengan kemewahan ruang kerja barunyanya pun tersadarkan dari mimpinya, ia mulai merapikan barang-barang di meja barunya sambil menunggu kehadiran Leon.
Satu jam berselang sudah menunjukkan pukul 11 siang lewat 10 menit, Bianca beranjak dari kursinya melewati meja Leon dan bermaksud keluar ruangan dan ke toilet, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara pintu terbuka dari sisi kiri meja Leon.
Ceklek...
Bianca refleks menoleh dan pintu terbuka semakin lebar menampilkan sosok Leon yang melangkah keluar sambil mengencangkan dasinya. Rambut hitamnya tampak berantakan, wajahnya tersirat kelelahan dan tidak cukup tidur.
Bianca mengintip di balik tubuh Leon memperhatikan ruangan yang awalnya ia kira adalah ruangan biasa ternyata terdapat sebuah tempat tidur Queen bed. Melihat dari perawakan Leon yang sedikit kacau, Bianca menebak di dalam ruangan itu terdapat seorang wanita.
Bianca refleks memberi hormat saat sadar akan posisinya.
"Siang Mr. Leon."
"Bukannya kemarin sudah jelas saya katakan, kau menjadi asisten di sini sejak kemarin, kenapa pagi ini masih kerja di tempat lamamu? Itu saja harus Calvin yang mengingatkan." Ucap Leon tidak suka.
"Maaf Mr." Jawab Bianca singkat karena malas berdebat, ia pun berniat melangkah lagi menuju pintu keluar dari ruangan.
"Hmm, mau ke mana kau?" Tanya Leon sambil menyandarkan badannya pada tepi meja.
"Saya ingin ke toilet sebentar."
"Gunakan yang di dalam." Perintah Leon sambil menunjuk pintu tadi. Bianca menyengir dan mengigit bibirnya, bagaimana jika ia bertemu dengan wanita Leon di dalam atau melihat sisa-sisa mereka di dalam. Ekspresi menjijikan terlihat jelas di wajah Bianca.
"Kenapa?" Tanya Leon curiga.
"Tidak, lebih baik saya gunakan yang diluar saja." Tolak Bianca.
"Kau selalu membuatku mengulangi apa yang ku katakan." Geram Leon kesal.
"Bukan begitu, saya hanya... sayaa... Hmm..., maksud saya, bagaimana jika di dalam... hmm... " Bianca ragu takut Leon marah jika perkiraannya meleset.
Leon menjentikkan jarinya ke kepala Bianca, membuat gadis itu meringis.
"Awww! Sakit."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, ini tempat kerja." Tegur Leon tegas.
"Siapa yang berpikir tidak-tidak? Saya hanya tidak nyaman menggunakan kamar mandi pribadi milik Boss." Jawab Bianca mencebik kesal.
"Masuklah, kau boleh menggunakannya, lebih cepat daripada harus pergi keluar." Ucap Leon bijak.
Bianca pun mengikuti saran Leon dan dengan perlahan memasuki ruang tidur pribadi itu. Terdapat tempat tidur, gantungan baju dan rak sepatu serta kamar mandi di dalamnya, simple dan maskulin dengan warna kamar dominan hitam
"Bagaimana? Kau menemukan apa yang kau pikiran tadi di dalam?" Tanya Leon saat Bianca sudah keluar dari kamar tidur itu. Bianca merona merah tersipu malu, Leon tahu apa yang ia pikirkan dan nyatanya ia yang berpikir terlalu jauh.
"Hmm, pesankan steak di restaurant Alan. Calvin sudah tahu menu favoritku, kau tanyakan saja padanya." Jawab Leon cuek.
"Dan lagi, jangan berisik, saya harus menyelesaikan banyak pekerjaan yang tertunda." Leon memperingati dengan gaya angkuhnya.
Bianca mendengus kesal, jika ia tak ingin berisik dan diganggu, kenapa meletakkan mejanya justru seruangan dengannya. Mustahil kantor seluas ini tidak punya space kosong lagi untuk satu orang hingga harus memaksakan berada seruangan dengannya.
Jam makan siang sudah tiba, Bianca sudah menyiapkan makanan untuk Leon yang ia pesan sesuai dengan info dari Calvin, ia menatanya dengan rapi di meja tengah.
"Mr. Leon, sudah saatnya jam makan siang." Ucap Bianca memperingatkan. Leon melihat jam tangannya dan langsung berdiri menuju sofa, keningnya berkerut saat melihat menu yang tersajikan.
"Ada apa?" Tanya Bianca cemas karena melihat perubahan raut wajah Leon yang tampak kurang senang. Apa lagi kali ini? Apa dia salah pesan menu? Kenapa raut wajah Leon tidak senang begitu?
"Kenapa hanya satu? Punyamu mana?" Tanya Leon.
"Saya akan makan di kantin." Jawab Bianca keheranan dengan pertanyaan Leon.
"Besok-besok pesanlah makanan untuk mu juga." Ucap Leon yang terdengar aneh di telinga Bianca. Bianca pun menggangukkan kepalanya dan pamit untuk makan siang di kantin.
Beberapa karyawan melihat Bianca dengan tatapan penuh tanya, ada yang terang-terangan menunjukkan wajah sinis dan tidak suka, beberapa bahkan langsung berbisik-bisik saat melihatnya keluar dari ruang Leon dan berjalan menuju kantin.
Bianca merenungkan apa yang salah dan aneh darinya, dia sadar karyawan lain tidak menyambut kehadirannya.
"Jangan pedulikan mereka." Ucap Calvin yang muncul tiba-tiba dengan senampan makanan duduk di depan Bianca yang sedang makan sendiri.
"Kau tahu apa yang sedang ku pikirkan?"
"Tentu, terlihat di wajahmu. Mereka tidak tahu siapa dirimu, jadi mereka berpikir yang tidak-tidak padamu."
"Maksudmu?"
"Sejak kemarin kau menjadi hot trending topic satu gedung ini, apalagi hari ini kau datang dan seruangan dengan Mr. Leon." Jelas Calvin sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Apa ada yang salah?" Tanya Bianca bingung.
"Pertama, kau memanggil Mr. Leon dengan namanya di depan lobby, dia bahkan tidak marah. Kedua, kau pulang bersama Mr. Leon dan bahkan makan bersama." Bianca terkesiap dengan penjelasan kedua yang diutarakan Calvin, bagaimana hal itu saja diketahui oleh karyawan lain?
"Bagaimana yang lain tahu?" Tanya Bianca sambil berbisik.
"Mr. Leon bisa dibilang seperti superstar di sini, semua mengaguminya, apalagi para wanita, tidak heran banyak yang penasaran dengannya."
Bianca menutup mulutnya terkejut dengan fakta yang diucapkan Calvin. Ia tidak menyangka Leon seperti aktor Korea yang sering diikuti dan dijadikan gosip para fansnya.
"Ketiga..., kau diperlakukan sangat special di sini."
Uhuk... Uhukk...
Bianca tersedak makanannya sendiri mendengar kata special. Entah special apa yang dimaksud oleh Calvin, tapi itu benar-benar bertolak belakang dengan apa yang Bianca alami.
.
.
.
.
.
To be Continue