Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 62~



Leon menarik tangan Bianca menuju mobilnya. Mendorong masuk tubuh istrinya ke dalam kursi penumpang.


Bianca masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Karena kebodohanya sendiri, ia menyerahkan dirinya menikahi Leon. Seharusnya ia memaksa untuk membaca dokumen tadi.


"Papa dan Mama belum setuju, ini tidak termasuk pernikahan yang sah, dan kita tidak merayakan apapun." Protes Bianca saat sudah berada di dalam mobil.


"Aku tidak butuh perayaan. Aku juga tidak butuh persetujuan Papa Mama, mereka tidak bisa berbuat apapun karena kita sudah menikah sekarang." Jawab Leon santai seakan pernikahan mereka tidak bermasalah.


Tunggu..., tadi Leon bilang ia tidak butuh perayaan. Artinya mereka tidak akan mengadakan pesta dan pernikahan apa ini, bahkan mereka menikah tanpa gaun pengantin?


Bianca meringis membayangkannya, bagaimanapun juga, ia sama seperti wanita lainnya yang ingin menggunakan gaun pengantin.


"Apa kau menyesal sekarang? Semua sudah terlambat." Ucap Leon yang melihat Bianca terdiam.


Bianca tidak tahu harus berekspresi bagaimana, ia merasa marah, kesal dan kecewa pada dirinya sendiri.


"Kau sedang bercanda kan, dokumen tadi pasti palsu."


"Hehh, terserah kau ingin bilang apa. Kau juga bisa mengecek keasliannya. Dan oh ya, kau masih bekerja untuk ku."


"Apa? Aku sudah mengajukan resign." Protes Bianca kaget.


"Aku menolaknya."


"Arggggghhh...," Teriak Bianca kesal.


Ia merasa sangat murka, bisa-bisanya hidupnya diatur oleh Leon. Tapi mungkin ini adalah bentuk balas budi yang harus ia lakukan demi membalas kebaikan keluarga Demaind yang sudah merawat dan membiayainya.


Bianca mengikuti langkah kaki Leon yang cepat dan panjang. Pria itu bergegas masuk ke ruangan kerjanya. Calvin yang sudah menunggu mereka pun ikut memasuki ruangan.


"Ini jadwal perjalanan bisnis anda dalam dua bulan ke depan. Saya akan segera memesan tiket, apa Mrs. Bianca juga akan ikut?" Tanya Calvin dengan sopan.


Leon melihat jadwal yang disodorkan Calvin di hadapannya dan melihat dengan teliti.


"Agak padat. Hmm.., yaa, Dia akan ikut, belikan juga tiket untuknya." Jawab Leon sambil menekankan kata Dia yang ia maksud adalah Bianca.


"Baik..."


"Dan satu lagi, panggil dia seperti biasa. Dia ikut perjalanan bisnisku pun sebagai asisten, sama sepertimu." Tambah Leon mendapat plototan tajam dan kaget dari Bianca.


Yang benar saja, Leon tidak ingin mengakui dirinya sebagai istrinya di depan umum???


Hmm..., tapi ada baiknya juga, Bianca masih bisa bersikap bebas dan seperti biasa di luar tanpa memperdulikan statusnya sebagai istri Leon, toh, Leon juga tidak mengakuinya sebagai istri di depan umum.


Bianca tersenyum dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba ia merasa senang dan memiliki semangat hidup.


"Hmm, apa ada yang bisa aku bantu sekarang?" Tanya Bianca bersemangat.


Leon menoleh, mengernyit heran melihat perubahan suasana hati Bianca yang berubah dalam sekejap.


"Apakah menikah denganku membuatmu begitu bahagia?" Tanya Leon merasa bangga. Bianca tersenyum menanggapi.


"Tentu saja aku merasa sangaaaaatt bahagia bisa menikahi Mr. Leon Gerald Demaind, salah satu orang terkaya di kota ini. Bagaimana mungkin aku yang seorang yatim piatu tidak merasa bangga bisa menjadi istrimu?" Puji Bianca tersenyum manis.


"Kemarilah...," Panggil Leon menggerakan jarinya menyuruh Bianca mendekatinya. Bianca pun berjalan menghampirinya dengan terus memasangkan wajah tersenyum.


Saat Bianca hanya tinggal satu langkah di hadapannya, Leon menarik istrinya duduk di pangkuannya, membuat Bianca terkesiap kaget. Badannya mendadak kaku dan menegang.


"Relaks sayang..., kita sudah suami istri sekarang. Kamu tidak perlu merasa canggung lagi." Rayu Leon mengusapkan jarinya ke wajah Bianca, menyusuri rahang wajah, menuruni lehernya yang bergidik merasakan sentuhan jari Leon.


Bianca semakin meremang saat tangan Leon yang satunya menyentuh dan menyusuri tulang punggungnya dengan lembut, membuat tubuhnya meliuk tegang di pangkuan Leon.


Leon mengecup pelan leher Bianca, menghirup aroma di sekitar leher istrinya yang menjadi hal kesukaannya. Tangan Bianca spontan mendorong pelan dada Leon yang kekar, menolak halus kegiatan yang Leon lakukan sekarang.


"Jangannnn..., kita sedang di kantor." Tegur Bianca pelan tidak ingin memancing emosi Leon.


Leon tersenyum miring, mendengarnya tidak merasa itu penolakan, melainkan ajakan halus dari wanita yang baru saja ia nikahi dalam satu jam yang lalu.


"Heii, apa yang kau lakukan?" Tanya Bianca kaget saat Leon tiba-tiba saja menggendong Bianca dan berdiri, berjalan menuju kamar tidur satu-satunya yang terletak di sisi kiri ruangan di kantor itu. Tak lupa Leon mengunci pintu dari dalam saat memasuki kamar itu.


Bianca mengernyitkan keningnya, ia bukannya tidak mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai pasangan suami istri yang baru menikah, tapi bukan ini yang ia inginkan.


"Aku rasa kau masih punya banyak pekerjaan, dan ini kantor Leon. Bagaimana jika... mmmm... Jika...mmmm....tunggu dulu Leon, mmmmm...." Ucapan penolakan Bianca terputus dan hanya bisa ia gumamkan dalam pikiran saja, karena Leon sudah menyerangnya dengan ciuman yang kasar dan bersemangat.


"Aku tidak peduli ini di mana, yang penting denganmu." Bisik Leon dan mengecup mesra pipi Bianca, begitu menikmati aktivitas pagi yang begitu terasa panas itu.


Bianca tidak melakukan perlawanan meski pikirannya menolak, ia tahu akan percuma melawan Leon, ia tidak akan menang.


Bianca bangun setelah tertidur selama hampir 3 jam. Ia merentangkan kedua tangannya, beberapa anggota tubuhnya terasa pegal, ia membuka mata dengan perlahan, melihat sekelilingnya, ruangan asing ini adalah... yang ia ingat Leon yang membawanya ke sana, kemudian Leon mencium bibirnya dengan ganas dan ...


"Ahh, Shiiit!!" Umpat Bianca kesal pada dirinya sendiri karena ternyata tubuhnya menikmati apa yang dia dan Leon lakukan beberapa jam yang lalu.


"Kau bodoh sekali Bianca!!" Umpatnya lagi setelah melihat tubuhnya masih belum menggunakan sehelai benang satupun.


Bianca beranjak memungut pakaiannya dan menuju kamar mandi, ia harus merapikan diri, tidak mungkin keluar dengan penampilan berantakan seperti ini.


Setelahnya, samar-samar Bianca dapat mendengar suara di balik pintu. Leon sedang berbincang dengan beberapa orang, seperti suara Jerry, Kimora dan terdengar satu lagi suara wanita.


Suara langkah kaki mereka terdengar menjauhi ruangan kerja Leon, sepertinya mereka sudah keluar dari ruangan itu. Bianca membuka pintu dengan sangat pelan, berharap tebakannya benar.


"Bianca, apa yang kau lakukan?" Tanya seseorang yang sepertinya sudah menunggu kemunculan Bianca dari balik pintu itu, siapa lagi jika bukan Calvin dengan membawa beberapa bungkus makanan, sepertinya Leon yang menyuruhnya.


"Ahh, kau Calvin, menggagetkan ku saja." Jawab Bianca tersipu malu dan salah tingkah, memikirkan mungkin Calvin mencurigai kemunculannya dari kamar tidur itu.


"Mr. Leon bilang kau tidur dan meminta ku menyiapkan makanan sebelum kau bangun, ini, ku letakkan di mejamu ya." Jawab Calvin bersikap seperti biasa.


"Terima kasih Calv, aku lapar sekali." Bianca tersenyum lega karena Calvin sepertinya tidak menaruh curiga padanya.


"Hmm, Oh ya, mungkin kau sudah dengar, dalam dua bulan ini Mr. Leon akan menghadiri banyak pertemuan, baik itu meeting, dinas keluar ataupun pesta. Ia memintamu untuk ikut, jadwalnya sudah ku letakkan di mejamu."


"Ya ya, aku tahu." Jawab Bianca menggangguk-anggukan kepalanya.


"Bersiaplah untuk nanti malam...,"


"Apa? Nanti malam? Ada apa?"


"Kalian harus menghadiri pesta ulang tahun Tuan Darwin."


"Siapa itu?"


"Kau tidak tahu?" Tanya Calvin heran. Bianca menggelengkan kepalanya.


"Apa dia penting?" Tanyanya dengan polos.


"Kau tahu jam tangan merk D&W?"


"Ya..."


"Dia pemiliknya."


"Oh My God! Aku harus menghadiri pesta orang kaya itu?" Tanya Bianca tidak percaya.


Yang ia rasakan bukanlah perasaan senang atau bahagia bisa menghadiri dan melihat bahkan bertemu langsung dengan orang-orang kaya, tapi ia khawatir ia akan membuat malu dirinya sendiri karena bukan berasal dari kalangan kelas atas, tentu cara pakaiannya, tingkah lakunya harus menyesuaikan para high class people di sana.


.


.


.


.


.


To Be Continue~