Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 65~



Leon dengan bergantian memeriksa jam tangannya dan pintu ballroom yang sudah tertutup sejak tadi. Wajahnya bertekuk kesal dan cemas.


"Kau menunggu seseorang?" Tanya Jerry yang duduk tak jauh darinya.


"Tidak..., " Jawab Leon singkat.


Calvin baru akan menekan tombol calling saat mereka semua mendengar pintu terbuka dan MC yang menyambut kedatangan Darwin Wilson Junior.


Semua mata para tamu berpusat pada kehadiran Darwin dan seorang wanita cantik dengan dandanan anggun dan tidak berlebihan.


Gaun panjang dengan model tangan sabrina itu membuat kecantikan alami sang wanita terpancar, apalagi kulit putih di bagian pundaknya yang terlihat jelas membuatnya tampak manis dan menarik perhatian para kaum adam.


Wanita itu tersenyum kikuk dan kebingungan, melangkahkan kakinya mengikuti ke mana Darwin menuntunnya.


Leon tidak bisa menutupi kekagetannya. Kaget dengan kehadiran Bianca bersama Darwin, dan kaget dengan penampilan Bianca yang terlihat begitu memukau.


Leon serasa ingin memukul Darwin saat pria itu ingin menjadikan Bianca sebagai pasangannya, dan lagi Madeline muncul di waktu yang sangat tepat untuk dijadikan alasan oleh Darwin untuk bertukar pasangan dengannya.


Leon tidak dapat melepaskan pandangannya dari Bianca yang duduk bersama Darwin. Ingin rasanya ia segera menghampiri mereka dan mematahkan rahang si brewok yang dengan lancangnya menyentuh dan mendekatkan tubuhnya pada Bianca. Tentu saja ia tidak suka, ia juga terpaksa merelakan istrinya menjadi pendamping pria lain, demi melindungi Bianca sendiri.


Bianca berdiri dari kursinya dan dengan beraninya berdebat melawan Darwin, membuat Leon tersenyum kecil, wanitanya benar-benar bisa diandalkan.


Perhatiannya benar-benar telah terpusat pada Bianca, melihat wanitanya melangkah keluar dari ballroom saja sudah membuat hatinya bergetar tidak sabar ingin segera merangkulnya di depan umum.


Leon kembali dibuat kesal saat ia menyadari Darwin juga menatap kepergian Bianca dengan kagum, ditambah Darwin mengakui pada Leon bahwa ia menyukai Bianca, jelas pria itu tertarik pada Bianca dan terang-terangan mengakuinya.


Rasa kesal dan tidak sabar sudah dipuncaknya. Leon meneguk habis winenya dan ikut beranjak dari tempat duduknya.


"Kau mau ke mana Leon?" Tanya Madeline yang tidak ingin jauh dari Leon.


"Aku masih ada urusan. Calv, ayo kita pergi." Ucap Leon dengan tegas.


"Aku akan menghubungimuu...," Ucap Madeline sebelum Leon menjauh.


Leon tersenyum saat jaraknya dengan Bianca sudah tinggal beberapa langkah, akhirnya ia bisa berada dekat dengan istrinya.


"Tunggu, aku akan memesan orang untuk mengantarmu pulang." Ucap Jerry sudah siap menelfon.


"Tidak usah Jerry, dia pulang bersamaku." Ucap Leon dengan cepat merangkul Bianca. Sudah dari tadi ia ingin melakukannya, ingin berada begitu dekat dan menatap dari dekat keindahan istrinya itu.


"Kau gila? Bagaimana jika Darwin melihatmu memeluknya?" Tanya Jerry yang panik.


"Sudah terlanjur, asistenku ini juga sudah menolaknya mentah-mentah, bagaimana aku bisa mengelaknya?" Jawab Leon tersenyum santai.


"Tapi kau jangan memperkeruh, bisa kan?" Omel Jerry.


"Sementara, pindahkan Bianca ke tempat ku." Lanjut Jerry dengan cepat dan mendapat pelototan tajam dari Leon.


"Maksudku tempat kerjaku, kantorku...," Ralatnya lagi dengan cepat.


"Hmm, ada apa? Kenapa aku harus pindah?" Tanya Bianca kebingungan.


"Pria itu, Darwin Wilson Junior, dia dari dulu gila bersaing dan merebut milik orang lain, termasuk ...," Jelas Jerry menunjuk Bianca pada akhir penjelasannya.


"Aku? Kenapa aku diperebutkan? Aku bukan barang."


"Pria itu tidak main-main, dia sudah sering merebut apapun dan siapapun itu dari orang yang dia anggap saingan."


"Apa Leon saingannya?" Tanya Bianca polos.


"Leon saingan bagi semua pengusaha Bianca...,"


"Tidak hanya itu, sepertinya Darwin sudah tertarik padamu."


"APAAA???" Tanya Jerry kaget. Pria itu lebih cemas dan panik dibandingkan Leon.


"Dia mengatakannya padaku sebelum aku keluar."


"Dan kau masih bisa sesantai ini?"


"Aku percaya bisa melindungi milikku. Kecuali dia mengkhianatiku...lagi." Jawab Leon melirik Bianca yang balas menatap kesal padanya.


"Oke, kami pulang dulu, dan... Thanks Jerry." Ucap Leon bersungguh-sungguh.


"Yayaya, aku sudah bilang padamu, aku sudah menganggap Bianca seperti adikku sendiri, aku akan melindunginya." Jawab Jerry tulus.


Leon menarik tangan Bianca menuju lobby hotel. Pria itu sedikit kasar dan tidak sabaran. Kaki Bianca pun sakit mengikuti langkah Leon yang cepat dan panjang.


"Heiii, aku pakai heels. Kalau kau terburu-buru, aku akan pulang sendiri." Protes Bianca kesal.


"Mr. Leon, mobil sudah siap." Lapor Calvin yang entah dari mana sudah dengan sigapnya mempersiapkan mobil Leon di lobby.


"Apa kau mau aku gendong?"


"Tidak usah...," Jawab Bianca menghempaskan cengkraman tangan Leon pada lengannya, dengan perlahan berjalan di lantai yang licin.


Leon tersenyum melihat Bianca yang mengabaikannya, entah kenapa ia selalu merasa semakin wanita itu marah dan kasar padanya, ia justru semakin tertantang untuk mendapatkannya.


"Calv, bisa panggilkan aku taksi?" Tanya Bianca pada Calvin saat Leon sudah menuju mobilnya.


"Lebih baik kau ikut Mr. Leon. Jangan menambah masalah Bianca." Tolak Calvin dengan halus.


"Hufffss..., " Hela Bianca memonyongkan bibirnya, bahkan Calvin sekarang tidak berpihak padanya.


Sepanjang jalan pulang, Bianca menatap jalanan yang masih ramai, sesekali Leon memperhatikannya, ingin rasanya ia menyentuh tangan istrinya, tapi ia urungkan.


Setiba di parkiran apartemen, Bianca turun terlebih dahulu, dengan tangan sibuk mengangkat gaun karena takut ujungnya kotor dia melangkah dengan pelan menuju lift.


Bianca melepaskan heelsnya, merelakskan kakinya yang sakit karena heels.


Leon menghampiri, memperhatikannya Bianca dari atas ke bawah, memasuki lift yang terbuka dengan satu tangan menenteng heels dan tangan satunya memegang gaun, wanita itu tidak meminta bantuannya sama sekali.


Leon membuka pintu apartementnya, dan dengan cepat menarik tubuh Bianca masuk dan memelukannya.


"Arrggggghh...,"


"Kenapa kau berteriak?"


"Kenapa tiba-tiba menarikku?" Protes Bianca kesal karena ia hampir saja terjatuh.


"Apa tidak boleh, istriku?"


"Hehhh! Siapa yang istrimu? Aku asistenmu." Omel Bianca membuat Leon terkekeh, sepertinya sang istri merajuk karena disebut asisten.


"Kenapa kau ikut pulang? Apa kau tidak perlu melakukan pendekatan pada pengusaha lain seperti yang pengusaha lain lakukan di pertemuan acara?" Tanya Bianca sambil melepaskan tangan Leon yang memeluknya.


"Aku bosan. Dan lagi aku tidak perlu mendekati mereka, mereka yang akan datang mendekat padaku dengan sendirinya." Jawab Leon dengan angkuh tanpa melepaskan tatapan matanya yang terus melihat ke manapun Bianca melangkah.


"Aku akan mandi dulu." Ucap Bianca meminta izin dan berbalik menghadap Leon saat akan membuka kamar tidur milik Leon.


Leon melangkah dengan terburu-buru dan menarik Bianca ke dalam pelukannya, dengan kuat mencengkram tengkuk istrinya dan ******* bibir berlipstik pink itu dengan semangat.


"Apa kau menggodaku?" Bisik Leon sembari menarik nafas di sela ciumannya.


Bianca menggeleng kepalanya halus dan gemetar, kewalahan dengan kekuatan Leon yang menyerangnya tiba-tiba.


"Tidak...," Jawab Bianca dengan wajah polos dan bingung, tidak mengerti apa yang Leon maksud dengan menggodanya, membuat Leon yang melihatnya semakin terpancing dan meneguk ludah dengan kasar.


"Kita mandi bersama...," Bisik Leon lagi dan menarik Bianca masuk ke dalam kamarnya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~