Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 38~



Menjelang malam, tubuh Bianca semakin panas dan demam. Lara terpaksa membawanya ke dokter untuk mendapat perawatan.


"Bagaimana dok teman saya?" Tanya Lara panik pada seorang dokter jaga di rumah sakit. Dokter pria yang terlihat masih muda itu terlihat ragu-ragu setelah mengecek kondisi tubuh Bianca.


"Maaf, apa teman anda sudah menikah?" Tanya dokter itu.


"Belum dok. Ada apa?" Jawab Lara menggelengkan kepalanya.


"Hmm, tidak apa-apa. Dari hasil cek, karena asam lambung yang naik akibat minum kopi saat perut kosong, ditambah sepertinya saudari Bianca mungkin sedang stress atau kurang tidur." Jelas dokter itu dengan singkat kemudian meresepkan obat untuk ditebus. Lara bergegas menuju kasir dan mengurus obat Bianca.


Dokter jaga yang melihat Lara pergi, kembali menghampiri bilik ranjang Bianca yang tertutup tirai. Bianca yang terbaring lemas dan menyadari kehadiran dokter jaga itu segera merespon saat dokter terlihat ingin berbicara dengannya.


"Ada apa dok?" Tanya Bianca lemas.


"Saya rasa ini privacy, jadi saya menunggu teman anda pergi. Dan saya harap anda menjawab dengan jujur." Jawab dokter jaga itu dengan suara pelan. Bianca mengganguk mengiyakan.


"Apa anda belakangan sering mengkonsumsi obat pencegah kehamilan?" Tanya dokter itu penuh selidik.


Bianca terperangah dan terkejut, apa ada masalah dengan rahimnya? Apa dia hamil? Apa dia keguguran? Semua pemikiran itu terlintas di kepalanya, keringat dingin terasa mengalir di sekujur badannya membayangkan apa yang terjadi padanya. Rasa sakit yang masih ia rasakan pada perutnya terasa tidak ada apa-apanya selain rasa panik yang ia rasakan sekarang.


Bianca mengganguk perlahan mengiyakan pertanyaan dokter jaga itu.


"Apa saya hamil?" Tanya Bianca panik.


"Tidak, kami belum memastikannya. Tapi dari ciri-ciri yang anda alami, mual dan nyeri perut bawah, ini karena anda terlalu banyak meminum obat tersebut, ditambah memang asam lambung anda yang sedang tidak baik. Ke depannya, tolong lebih diperhatikan, tidak baik untuk kesehatan anda. Saya bisa merujuk anda ke specialis kandungan jika anda berkenan." Jelas dokter itu dengan sabar dan bijak tanpa menghakimi.


"Tidak usah dok...," Jawab Bianca menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, obat pereda nyeri yang saya resepkan, semoga bisa mengurangi sakitnya. Dan ingat, anda tidak boleh lagi sembarangan meminum obat tersebut." Nasihat dokter dan dijawab anggukan kepala oleh Bianca, setidaknya ia merasa lega, dia tidak hamil dan tidak keguguran. Ia akan merasa sangat berdosa dan tidak tahu harus bagaimana jika kedua hal itu terjadi padanya.


Tak lama dokter pergi, Lara kembali dan bertemu dengan Alex yang sedang berjalan menuju bilik UGD setelah mendapat kabar dari Lara kalau Bianca dibawa ke rumah sakit.


"Alex..." Panggil Lara.


"Hai Lara, bagaimana Bianca? Dia baik-baik saja?" Tanya Alex terlihat khawatir.


"Kata dokter asam lambungnya naik. Oh ya, ada apa dengan wajahmu?" Tanya Lara yang melihat memar pada sisi kiri wajah Alex.


"Ahh, ini, tadi sore tidak sengaja terjatuh, tidak apa-apa." Jawab Alex mengelak dan Lara mempercayainya.


"Lain kali hati-hati, bagaimana kalau kena mata, hidungmu, ishhh... kan berbahaya." Nasihat Lara yang mencemasi Alex.


"Tenang, tidak apa-apa, ayo kita temui Bianca." Jawab Alex segera mengalihkan pembicaraan mengenai memar wajahnya, ia takut Lara akan bertanya terlalu detail.


Malam itu Bianca diizinkan untuk pulang setelah demam dan sakit perutnya mereda. Alex dan Lara mengantarnya pulang ke apartemen saat waktu sudah hampir menjelang tengah malam.


Meskipun tubuh Bianca masih lemas, hidungnya masih bisa mencium aroma rokok dan parfum yang tercium di dalam kamarnya.


Bianca langsung berbalik dan menahan Alex dan Lara untuk masuk lebih dalam.


"Sampai sini saja. Kalian pulanglah...,"


"Aku akan menginap." Ucap Lara yakin.


"Jangan, besok kamu masih ada presentasi kan. Pulanglah...," Tolak Bianca dengan cepat dan juga tidak tega menggangu pekerjaan Lara.


"Bagaimana jika aku saja yang menginap?" Tawar Alex ragu-ragu dan mendapat tatapan kaget dari Bianca dan Lara.


"Tidak, aku sudah membaik, tidak ada yang perlu menginap. Kalian pulanglah..., pleaseee.. pulanglah.. Aku lebih nyaman sendiri." Bujuk Bianca memohon.


"Kau yakin bisa sendiri? Bagaimana jika kau sakit seperti tadi lagi?" Tanya Lara cemas.


"Tidak, aku akan segera menelfon kalian jika merasa ada yang sakit. Aku janjiiiiiii....!" Jawab Bianca yakin dan tersenyum menunjukkan ia sudah membaik.


"Hmm, baiklah, janji ya, hubungi aku tiap kamu terbangun dan memerlukan sesuatu. Kami akan pulang nih...," Pamit Lara yang masih enggan meninggalkan Bianca sendirian.


"Hmm, pergilah... Terima kasih dan maaf sudah merepotkan kalian. Alex, aku titip Lara yahh...," Teriak Bianca saat melihat kedua temannya melangkah keluar dari kamarnya.


Seusai Lara dan Alex pergi, Bianca mendudukkan badannya di ranjang, matanya melirik ke arah balkon yang gelap saat pintunya terbuka dari luar dan menampilkan pelakunya.


"Untuk apa ke sini?" Tanya Bianca tenang pada Leon yang berjalan menghampirinya.


"Bagaimana kau tahu aku ada di sana?" Tanya Leon yang heran Bianca tidak terkejut dengan kehadirannya.


"Bau rokok dan badanmu, dan lagi, walaupun lampunya di matikan, aku bisa melihat dengan jelas kau berdiri di balkon." Jawab Bianca dengan malas. Ia berjalan mengitari ranjang dan ingin mengganti pakaiannya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Leon yang melihat Bianca masih meringis menahan sakit pada perutnya.


"Mungkin kau akan kesal mendengarnya, karena sakit ini belum berhasil membuatku mati." Jawab Bianca sinis. Leon mengernyit, seketika wajahnya terlihat kesal.


"Aku sudah menunggu di sini hampir dua jam, dan kau menjawabku seperti ini?" Tanya Leon kesal.


"Lantas, aku harus berterima kasih padamu karena sudah menunggu selama 2 jam? Apa maumu Leon? Aku capek, aku lelah.... Sungguh...!" Keluh Bianca dengan mata berkaca-kaca.


Ia kesal melihat Leon, benci karena pria itu baik-baik saja. Sedangkan dirinya harus menahan sakit dan menderita karena usaha menyelamatkan dirinya untuk tidak hamil hampir saja mencelakakan dirinya sendiri.


Melihat Bianca yang menatapnya dengan wajah pucat dan mata hampir menangis, membuat Leon melunak.


"Istirahatlah, aku tidak akan menggangumu. Tapi, jangan usir aku." Jawab Leon kemudian memilih duduk di kursi. Bianca menunjukkan wajah malas dan melangkah ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dan mencuci mukanya.


Sebelum tidur, Bianca memakan bubur dan obat yang sudah ia beli tadi. Bianca mematikan lampu kamar dan menyelinap masuk ke dalam selimutnya, tanpa menghiraukan Leon sama sekali yang masih berada di kamarnya. Ia hanya ingin cepat pulih dan berharap sakit perutnya cepat pergi.


Melihat Bianca mulai pulas, Leon ikut menyelinap masuk ke bawah selimut dan mengusap lembut kening Bianca. Bianca mengernyit dan matanya terbuka kecil.


"Enggg...," Bianca menggumam menyadari Leon mengusapnya tapi ia terlalu mengantuk dan lemas untuk menegur.


"Tidurlah..." Bisik Leon lembut dan mengecup pelan bibir gadis yang sudah sekian lama tidak ia sentuh itu dan ikut tertidur di sebelahnya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~