
Bianca berdiri di depan cermin kamar mandi, melihat beberapa tubuhnya yang meninggalkan bekas merah sisa kegiatan kemarin malam.
Semalam ia terlena dengan buaian Leon yang mematikan, ciuman di kolam itu, terasa begitu menyenangkan dan bergair*h.
Ia bisa mengingat dengan jelas Leon menariknya keluar dari kolam dan mengusap tubuhnya dengan handuk.
“Pakai ini, tutupi badanmu.” Ucap Leon perhatian menyelimuti tubuh Bianca dengan handuk.
Dengan lembut Leon meraih dan menggengam tangan Bianca, menuntunnya menuju lift dan pergi ke kamarnya, tanpa sedetikpun melepaskan genggaman itu. Bianca terkesima dengan perlakuan Leon yang hangat dan lembut itu, seakan terasa penuh cinta dan kasih sayang.
“Kunci kamarmu?” Tanya Leon saat mereka sudah berada di depan pintu.
“Ahh ya, ini,” Ucap Bianca sambil merogoh kunci kamar dari saku celananya. Leon menerima kunci itu, membukakan pintu kamar dan segera menguncinya kembali saat mereka sudah berada di dalam.
“Brrr… Hatchiii…,”
“Kau bodoh heh? Berenang malam hari?” Omel Leon dan mengetuk lembut kepala Bianca dan menariknya ke dalam pelukannya.
“Biar ku hangatkan…,” Bisik Leon lalu melanjutkan ciuman mereka yang tertunda. Bianca tidak menolak, bahkan tidak melawan saat Leon melakukan lebih dari itu.
Bianca memoleskan lipstick pink ke bibirnya yang kecil, melangkah dengan ceria menuju lantai atas di mana kamar Leon berada. Tadi pagi Leon sudah meninggalkan kamarnya sebelum ia bangun, jadi ia belum bertemu secara pribadi dengan suaminya itu, toh sekalian mereka memang harus pergi bersama bertemu client pagi hari ini.
Senyum Bianca yang tadinya merekah seketika menjadi kaku dan kikuk saat melihat Leon dan Madeline berjalan bersebelahan di lorong yang sama.
“Jadi, semalam dia ke kamar ku, karena ada Madeline di kamarnya? Hehhh…” Decih Bianca mendadak kesal dan marah.
***
“Aku akan makan siang bersama Mr. Edward dan makan malam bersama Madeline, aku baru tahu ternyata ia juga terlibat di proyek ini. Kau dan Bianca aturlah makan siang dan malam kalian sendiri, oke?” Ucap Leon pada Calvin dan Bianca seusai keluar dari ruang rapat di sebuah kantor milik Mr. Edward.
“Baiklah, kami akan kembali ke hotel terlebih dahulu.” Pamit Calvin sopan, sedangkan Bianca hanya menatap kesal dan berbalik pergi, Leon hanya menggeleng melihat kelakuan Bianca yang terlihat kekanak-kanakan di matanya itu.
Malam menjelang, Bianca sedang merapikan pakaiannya ke dalam tas, besok mereka sudah akan berangkat ke Thailand.
Gerakan Bianca terhenti saat ia melihat sebuah testpack yang diberikan Dokter Nick melalui pramugari di pesawat.
Ia seketika menghitung bulanannya, seharusnya ia akan mendapatkannya dalam minggu ini.
Ting Tong... Ting Tongg..
Suara bell mengagetkannya. Bianca melemparkan secara asal testpack itu ke dalam tasnya dan segera menuju pintu dan membukanya setelah memastikan Leon yang berkunjung.
"Ada apa?" Tanya Bianca ketus.
"Kau kenapa lagi heh? Kenapa sedari pagi ketus dan marah-marah?"
"Bukannya kita memang selalu begini?"
"Semalam tidak. Kau berperilaku lembut dan menikmatinya. Jangan bilang kau ingin mengatakan semalam juga kesalahan, karena kau tidak minum wine."
"Itu kesalahan. Kesalahan karena aku mengikuti naluri yang salah. Lupakanlah, lagian tidak berarti apa-apa bagi kita berdua, hanya saling memuaskan kan?" Jawab Bianca membuat Leon kehilangan harga diri.
Tidak berarti apa-apa? Saling memuaskan? Wow!! Wanita ini sungguh pintar mengobrak abrikkan perasaannya.
"Kau pikir kita hanya sebatas saling memuaskan?" Tanya Leon kesal.
"Yup! Tapi aku bingung, kenapa kau masih mencariku, padahal sedang ada Madeline di tempatmu. Apa kau segitu tidak mau ruginya? 1 wanita tidak cukup??" Tanya Bianca terus terang namun terdengar kasar.
"Madeline tidak di tempat ku!" Bela Leon geram.
"Terserah apa katamu! Sekarang aku mengerti apa yang kau sebut aku hanya asistenmu, dan sekarang aku sudah paham tugasku di sini, hanya untuk melayanimu."
"Jadi, kau akan melayaniku?" Tanya Leon menantang.
"Sudah sampai sejauh ini, apalagi yang bisa ku elakkan?" Jawab Bianca pasrah dan mencoba menerima kenyataan, karena ia juga lelah berusaha terus menghindar dari Leon.
"Baiklah, layani aku sekarang, lakukan tugasmu asistenku...," Desis Leon di telinga Bianca, membuatnya meremang dan seketika menyesal berkata demikian.
"Tidak sekarang." Jawab Bianca panik dan asal.
"Besok kita harus berangkat kan, kau juga pasti lelah." Lanjut Bianca terburu-buru mencari pembelaan.
"Iya, aku lelah, dan karena itu aku ingin dilayani. Aku bossmu, kau tidak berhak menolak perintahku." Ucap Leon lalu melangkah duduk di tepi ranjang.
Bianca menggigit bibirnya, jantungnya berdegup kencang. Bianca melihat Leon tersenyum miring meremehkan dirinya yang masih terdiam kaku.
"Akan aku lakukan, kau siap-siap." Ucap Bianca bermaksud mengancam tapi justru terdengar seperti memberi aba-aba.
Leon melebarkan senyumnya, terkikik kecil melihat kekikukan Bianca yang terlihat polos dan manis di depannya.
Cuppp...
Leon terdiam takjub. Bianca baru saja menciumnya dengan menutup rapat matanya dan mengumpulkan keberanian.
"Hanya itu yang bisa kau lakukan?" Tanya Leon meremehkan usaha Bianca.
Dengan wajah merona malu, Bianca bergerak mendekatkan tubuhnya, menduduki paha dan mengapit pinggang Leon dengan kedua kakinya.
Bianca kembali mengecup pelan bibir Leon. Leon dapat merasakan tubuh Bianca yang gemetaran dan gugup.
Tak ingin terlalu lama mensia-siakan peluang, Leon merangkulkan tangannya ke pinggang dan tengkuk Bianca, membalas kecupan itu dengan lembut dan penuh perasaan, ingin memberikan kenyamanan pada istri kecilnya.
Bianca bergerak semakin menuntut, ia ingin lebih. Rasa gugupnya sekarang justru berganti menjadi gair@h yang menggebu. Ia menjadi lupa diri.
Aroma tubuh Leon dan sentuhan kulit mereka membuat dia bersemangat. Bianca kehilangan kendalinya, ia bahkan membusungkan dadanya, melekukkan pinggangnya supaya pinggulnya menekan ke bawah.
Leon membalikkan dan membaringkan tubuh Bianca dengan cepat.
"Kau tahu apa yang sedang kau lakukan? Jangan katakan ini kesalahan lagi." Ucap Leon memperingati Bianca yang terengah-engah di bawahnya.
Bianca tidak menjawab, malah menarik wajah Leon dan kembali ******* bibirnya. Tentu saja ini artinya lampu hijau dari wanita kepada sang pria untuk terus memacu kencang gasnya. 🔥🔥
Jiwa Bianca bergejolak, pikirannya berkata untuk berhenti, tapi perasaan dan tubuhnya berkata lain.
"Shi*t, jangan menyesal Bianca!" Batin Bianca pada dirinya sendiri lalu memejamkan matanya melanjutkan apa yang tubuhnya butuhkan.
"Pelan-pelan, sakit...," Rintih Bianca yang tiba-tiba merasa tidak nyaman dengan perut bagian bawahnya saat Leon memasukinya.
"Are u OK?" Tanya Leon memastikan. Bianca menggangukkan kepalanya, tetap ingin melanjutkannya.
.
.
.
.
.
To Be Continue~