Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 43~



Meski kamar hotel VIP itu luas, memiliki sofa dan ruang untuk menambah tempat tidur, tetap saja Bianca tidak bisa kabur untuk tidak tidur bersama Leon.


“Leonnnn...., lepaskan, kamu berat….,” Protes Bianca saat terbangun dengan posisi kaki dan tangan Leon memeluk tubuhnya.


“Hanya begini, sebentar sajaa…,” Pinta Leon yang sudah bangun sedari tadi dengan lembut dan mempererat pelukannya.


Ia sengaja membenamkan kepalanya ke leher Bianca, menghirup aroma alami tubuh gadis itu membuat dia merasa tenang.


"Leon..., sesak...," Protes Bianca lagi. Leon melonggarkan pelukannya. Dengan bertumpu pada sikunya ia menatap wajah Bianca yang terlihat seperti bayi baru bangun tidur.


"Bagaimana wajahmu? Masih sakit?" Tanyanya penuh perhatian. Bianca menggerak-gerakkan pipinya, menyentuhnya dengan hati-hati.


"Masih sedikit sakit. Bagaimana dengan tanganmu?"


"Luka di tanganku tidaklah seberapa, tidak sebanding dengan apa yang sudah kau alami." Jawab Leon sambil memperlihatkan tangannya yang menyisakan merah gelap.


"Hoekk... Hoeekk...," Bianca mendadak mual setelah mendengar ucapan Leon.


"Apa maksudmu? Apa ucapanku begitu menjijikan?" Protes Leon tidak terima.


Bianca segera beranjak dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi.


"Hoekkksss... Hoeekkss...,"


"Kamu benar-benar muntah? Ku kira kau mengolokku. Haisshh..." Ucap Leon panik saat melihat Bianca muntah di kloset kamar mandi.


Sekitar 10 menit Bianca merasa mual dan memuntahkan air di kamar mandi.


"Aku tidak sempat makan semalam, mungkin asam lambungku kambuh." Ucap Bianca saat sudah tenang.


"Mau ke dokter?" Tawar Leon dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Bianca.


Bianca sudah merasa membaik saat meminum teh dan memakan roti yang tadi Leon pesan untuk antarkan ke kamarnya.


"Oh ya, Apa Darren akan baik-baik saja?" Tanya Bianca di sela makannya.


"Kau masih mengkhawatirkannya? Paling bocah itu hanya gegar otak atau patah tulang." Jawab Leon dengan cuek.


"Apa?? Apa separah itu??" Tanya Bianca terkesiap panik dan khawatir.


"Jika dia sampai patah tulang, apa kabar dengan tanganku ini, mungkin sudah remuk." Sindir Leon kesal.


"Aku bertanya bersungguh-sungguh, apa dia akan baik-baik saja, karena kemarin kau memukulnya berkali-kali dan dia langsung terkapar."


"Cihh...! Dia saja yang terlalu lemah. Sudah, tidak usah dipikirkan, dia sudah sadar semalam dan baik-baik saja." Jawab Leon malas membahas Darren. Bianca menghela nafas lega, setidaknya Darren tidak koma atau cacat karena keributan kemarin.


Bianca sudah selesai mandi dan bersiap pulang, Leon juga sudah membereskan kopernya, siang itu mereka akan check out dari hotel. Karena tidak punya baju lain, Bianca juga terpaksa menggunakan gaun yang kemarin.


“Kamu yakin mau menggunakan itu? Aku bisa meminta orang membawakan baju baru.” Tawar Leon.


“Tidak apa-apa, lagipula aku sudah akan pulang.” Tolak Bianca halus, Leon berdecak kesal mendengarnya.


“Ada apa? Apa aku terlihat sangat jelek?” Tanya Bianca yang mengira Leon tidak suka ia menggunakan gaun itu karena terlihat memalukan dan jelek, namun sebaliknya Leon tidak suka karena Bianca tampak terlalu cantik dan menarik perhatian karena gaun itu.


Potongan bahu yang terbuka sebelah dan belahan paha yang agak tinggi membuat siapapun akan melirik padanya. Leon melemparkan salah satu jasnya kepada Bianca.


“Pakai ini untuk menutupinya.” Ucap Leon mengusap wajahnya gusar, Bianca pun menurut, ia menggunakan jas yang kebesaran itu dan membuatnya terlihat sangat mungil.


“Ya ampun, kenapa dia bisa begitu imut?” Batin Leon gemas dan kesal karena ia masih harus menahan diri untuk tidak menyentuh Bianca, gadis itu masih butuh pemulihan.


"Sudahh, ayo kita pulang." Ajak Bianca dengan ceria.


~ ~ ~


"Aku hanya bisa mengantarmu di sini, aku masih harus bertemu Kimora." Ucap Leon yang mengantar Bianca pulang di depan lobby apartemennya.


Mendengar Leon menyebut Kimora, hati Bianca mendadak sedih dan kesal.


"Baiklah, terima kasih. Ini jasmu." Jawab Bianca dengan cepat dan cuek. Ia segera turun dari mobil Leon.


"Jaga dirimu, jika sakit hubungi aku." Pesan Leon tapi tidak dipedulikan Bianca. Gadis itu berjalan masuk ke gedung apartemennya tanpa menoleh ke belakang.


"Kenapa dia?" Tanya Leon kesal melihat Bianca yang langsung pergi tanpa memperdulikannya.


Bianca menghentak-hentakkan kakinya masuk ke kamar. Tiba-tiba dia ingin menangis.


"Ada apa ini? Kenapa aku sensitif sekali? Kenapa mau menangis terus?" Ucap Bianca sedih. Ia sendiri bingung kenapa dia merasa sedih setelah mendengar Leon akan bertemu Kimora.


"Sepertinya aku butuh tidur yang lama...," Lanjut Bianca mengusap air matanya.


~ ~ ~


Leon tiba di gedung apartemennya dan berjalan menaiki lift menuju sebuah kamar, ia menekan bell apartemen dan Kimora muncul dibaliknya.


“Akhirnya kau datang, apa yang terjadi semalam? Jerry bilang kau ribut.” Sapa Kimora menyambut Leon.


“Hal kecil, hanya bertemu dengan beberapa orang brengs*k. Oh ya, mengenai proyek kerjasama, aku juga meminta Jerry yang mengurusnya, kau tidak masalah kan?” Tanya Leon memastikan.


“Tidak, aku suka jika dia yang menanganinya.” Jawab Kimora tidak keberatan.


“Ayo, masuklah, tim ku sudah menunggu.” Ajak Kimora menuju ruang kerjanya, terdapat sebuah laptop yang sudah menyala dengan tampilan beberapa orang Jepang yang sedang online dan siap melakukan rapat melalui panggilan video, ternyata Leon ke sana untuk bekerja.


Leon keluar dari apartemen Kimora saat hari sudah mulai gelap dan berjalan ke kamarnya yang berjarak dua kamar dari kamar Kimora.


Ia butuh mandi dan tidur untuk menyegarkan badannya. Tapi ia juga ingin menemui gadis itu.


Setelah mandi dan makan malam, Leon mengendarai mobilnya menuju apartemen Bianca. Dengan kunci cadangan ia membuka pintu, kamar itu gelap, sepertinya sang pemilik sudah terlelap, hanya menyisakan lampu kuning yang redup.


Leon melangkah dengan perlahan, menghampiri kasur di mana Bianca tertidur dengan nyenyak tanpa menyadari kehadirannya. Ia menatap wajah yang ia rindukan dengan seksama, memperhatikan setiap detail bentuk wajah itu, ingin mengusapnya tapi tak ingin mengganggu tidurnya.


Leon berjalan menuju meja makan dan meletakkan beberapa bungkus buah segar yang baru ia beli saat perjalanan ke sana.


Tangannya mengapai beberapa strips obat yang berisi pil putih di meja. Karena penasaran, Leon memotret obat itu dan mengirimkan fotonya kepada salah satu teman dokternya.


Ini obat pencegah kehamilan, loe yang minum bro? Haha, LOL!


- Sean -


Pesan itu langsung dibalas temannya, Sean, dan Leon kaget membaca jawabannya. Pikiran dan perasaan Leon tiba-tiba memanas. Apa yang sudah Bianca lakukan? Untuk apa Bianca meminum obat ini dan dari mana dia mendapatkannya?


.


.


.


.


.


To Be Continue~