Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 78~



Sabtu malam, di Hotel StarX.


Para pengunjung antusias mengunjungi lelang jam tangan yang diadakan oleh perusahaan Darwin Wilson di Ballroom A. Madeline hadir di sana, penampilannya begitu cantik memukau sebagai model utama yang memamerkan jam tangan berhiaskan berlian di acara itu. Beberapa wartawan terlihat sibuk mendokumentasikan setiap detail acara itu.


Konferensi pers yang Leon adakan ada di Ballroom B, terletak di lantai yang sama dengan Ballroom A. Para wartawan yang diundang juga sudah memenuhi ruangan di sana.


“Ahhh, aku harus kembali ke parkiran, handphone ku tertinggal di mobil.” Ucap Jerry pada Bianca.


“Ngg… hati-hati.” Pesan Bianca yang merasa asing berada sendirian di sana.


Bianca yang sendirian berniat menuju ballroom B di mana nanti Leon akan mengadakan konferensi pers. Dengan perlahan Bianca melangkahkan kakinya yang menggunakan heels 5 centi. Bianca mengikuti tanda panah yang menunjukkan lokasi Ballroom B berada setelah belokan di depannya.


“Heiii Bianca Sallen..,” Sapa seorang pria saat Bianca baru saja melewati ballroom A. Bianca menoleh melihat orang yang memanggilnya.


“Tuan Dar…winnn…,” Sapa Bianca dengan suara tercekik kaget melihat Darwin Wilson Junior berada di hadapannya.


“Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini, kau menghadiri acara lelangku?” Tanya Darwin dengan mata berbinar sambil memperhatikan Bianca dari atas ke bawah. Wanita itu tampak elegan menggunakan gaun pendek dengan motif lengan sabrina, menampilkan bahunya yang putih.


“Tidak, aku ke sini karena…”


“Kau menipuku heh?” Tanya Darwin curiga, suaranya mendadak dingin dan dengan cepat mendorong Bianca ke dinding membuat Bianca meringis sakit karena perlakuan kasar itu.


“Lepaskan! Aku menipumu apa hah?” Berontak Bianca sambil melihat sekitarnya yang apesnya tidak ada siapapun yang lewat untuk dimintai tolong.


“Kau tidak hamil...” Desis Darwin menatap tajam dan kesal pada perut Bianca yang masih rata dan sama sekali tidak melonggarkan cengkraman tangannya.


Mata Bianca melebar terbelalak kaget, ternyata Darwin masih membahas pertemuan mereka yang sudah berlalu hampir sebulan itu.


“Aku… aku…” Ucap Bianca kebingungan harus menjawab apa.


“Ahhhh…,” Tiba-tiba Darwin menyeret Bianca dengan kasar untuk mengikuti langkahnya.


“Lepaskan… Heii… Lepaskann…!!” Ronta Bianca sambil memukul tangan Darwin yang memegang kencang pergelangan tangannya.


Darwin menuju ke kamarnya yang ternyata selantai dengan Ballroom.


“Aku tidak hamil saat itu, tapi aku sungguh hamil sekarang…!” Teriak Bianca panik tapi tidak digubris oleh Darwin.


Pria itu membuka dengan kasar pintu kamar hotelnya, mendorong Bianca masuk dan memperkuat cengkraman tangannya, menarik wanita itu ke dekapannya dan mencoba mencium bibir Bianca yang sedang terus meronta dan menolak.


Bianca menutup rapat bibirnya dan merasa geli yang tak tertahankan karena brewok pria itu terus menyusuri wajahnya. Tangan Bianca terus bergerak dengan sekuat tenaga menahan tubuh Darwin yang berusaha menguasainya.


Pyarrrr…


Sebuah tamparan berhasil dilayangkan ke pipi brewok milik Darwin. Pria itu terdiam, tidak menyangka akan mendapatkan tamparan panas dan kuat dari wanita keras kepala di hadapannya.


“Kau berani menamparku?” Tanya Darwin menatap tajam dan terasa mengerikan.


“Apa kau gila? Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sadar?” Tanya Bianca berteriak marah.


“Kau sedang berusaha memperkos* wanita hamil!!”


“Tapi kau tidak hamil, kau menipuku!” Elak Darwin ikut berteriak.


“Aku tidak hamil saat itu, tapi aku sungguh, sungguh…., benar-benar hamil sekarang!” Teriak Bianca geram dengan tangan menutupi perutnya berusaha melindungi janinnya.


Bianca terus berusaha melakukan perlawanan, ia berjongkok dan menarik balik tubuh Darwin, tapi tidak berhasil, justru ia tidak berdaya terseret dan terjatuh duduk di lantai. Darwin tidak memberi ampun, pria itu sungguh gila. Ia terus menyeret Bianca meski wanita itu mengaku hamil dan berlinang air mata.


Bianca merasakan nyeri tak tertahankan di bagian bawah tubuhnya.


“Hentikan, ku mohon…, sakitt… hentikan…,” Rintih Bianca menahan nyeri di sekujur tubuhnya.


Tangannya terasa sangat sakit karena Darwin terus menariknya dengan kuat, kaki dan pahanya pun terasa pedih karena terseret di lantai, dan sekarang ia merasakan perutnya mulas, kram, nyeri. Lengkap sudah penderitaan ia malam itu.


Bianca merasakan tenaganya melemah, tubuhnya lunglai tak berdaya, kesadarannya terasa samar-samar dengan air mata tersisa mengalir di pipinya.


“Heii, kau pingsan? Heii… Sadarlah! Apa ini??? Oh My God, Kau berdarah!!” Teriak Darwin yang panik sayup-sayup terdengar di telinga Bianca.


***


Leon tampak tampan menghadiri Konferensi pers yang sengaja ia adakan bertepatan dengan acara perlelangan dari perusahaan keluarga Wilson.


“Selamat malam dan terima kasih atas kehadiran para rekan wartawan yang sudah meluangkan waktunya. Tanpa menunda waktu, mari kita dengarkan pernyataan langsung yang ingin disampaikan oleh Mr. Leon Gerald Demaind.” Sapa Calvin membuka acara konferensi pers itu.


Leon berjalan menaiki panggung dan berdiri dengan tegak, matanya sesekali melihat ke arah pintu ballroom, menanti Bianca yang sedari tadi belum terlihat batang hidungnya.


“Saya Leon Gerald Demaind, ingin memberikan pernyataan yang sah, benar dan sesungguhnya mengenai berita yang tersebar di media berita ataupun media sosial lainnya. Saya dan Madeline, sama sekali tidak memiliki hubungan khusus atau special seperti yang diberitakan. Pertemuan kami di salah satu hotel di Singapore, itu murni pertemuan yang tidak disengaja. Saya sedang dinas kerja bersama dua asisten saya, dan ternyata Madeline Wilson juga menginap di sana. Madeline menyapa saya karena ternyata kamar kami bersebelahan dan itu hanya obrolan biasa, tidak ada kejadian atau hubungan lebih lanjut setelah itu. Saya tegaskan, hubungan dan komunikasi kami hanyalah sebatas rekan kenalan, tidak lebih.”


“Dan saya juga ingin menyampaikan suatu berita penting di sini, bahwa saya sudah menikah sah secara hukum.” Lanjut Leon berhasil memancing riuh para wartawan yang kaget dan heboh dengan berita yang mereka dengar barusan.


“Siapa istri anda Mr. Leon?”


“Dari kalangan mana? Apa pekerjaannya?”


“Mana istri anda Mr. Leon, kenapa tidak ditampilkan?


“Kenapa tidak ada perayaan pernikahan?”


“Kapan kalian menikah?”


Rentetan pertanyaan terdengar gaduh berebutan di lontarkan para wartawan yang tidak sabar.


“Istri saya hanyalah orang biasa. Seharusnya dia sudah di sini sekarang, tapi sepertinya masih belum tiba.” Jawab Leon menoleh pada Calvin yang menggelengkan kepalanya tidak tahu di mana keberadaan Bianca sekarang.


Calvin tiba-tiba naik ke panggung, berbisik di telinga Leon menyampaikan pesan yang baru saja ia terima dari panggilan telfon. Ekspresi Leon yang seketika berubah menjadi tegang dan serius tampak menunjukkan bahwa sesuatu telah terjadi.


.


.


.


.


.


To Be Continue~