Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 48~



Jerry dan Alex terpaksa mengantar Bianca kembali ke apartemennya. Selama 2 jam gadis itu menangis sepanjang jalan dan berteriak tidak mau ke dokter, membuat kedua pria itu tidak tega memaksanya. Setiba di apartemen Bianca menangis meringkuk di kasurnya.


“Bagaimana sekarang?” Tanya Alex pada Jerry.


“Biarkan dia tenang dulu. Kita tidak bisa memaksanya.”


“Apa dia akan baik-baik saja?”


“Aku juga tidak tahu…” Jawab Jerry yang juga ragu.


“Kamu pulanglah dulu, aku akan menjaganya.” Lanjut Jerry.


“Aku mana mungkin tenang melihatnya begini, aku juga akan tinggal di sini malam ini.” Putus Alex dengan yakin, Jerry menggangukkan kepalanya setuju.


~ ~ ~


Kimora memanyunkan bibirnya, ia sedang kesal karena liburannya berakhir hanya dengan tiga orang. Baru saja Leon membawa kopernya pergi dan pulang. Pria itu juga kabur dari meja makan tanpa menyentuh makanannya dan menghilang selama 1 jam entah ke mana.


“Kau ke mana saja? Alex dan Jerry sudah membawa Bianca pulang.” Tanya Kimora saat Leon kembali ke kamarnya untuk membereskan kopernya.


“Heii, aku bicara denganmu, apa kau tidak mendengarnya?” Tanya Kimora dengan kesal karena Leon mengabaikannya.


“Aku juga akan pulang.” Jawab Leon dengan dingin.


“Kau juga pulang? Lalu aku bagaimana?” Tanya Kimora kaget, tapi lagi Leon tidak menjawabnya, wajah pria itu terlihat serius dan seperti ada masalah.


“Leon, ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba juga ikut pulang? Heii jawab aku!” Ucap Kimora menaikkan nadanya dan menarik lengan Leon untuk menghadapnya.


“Kimora…, kenapa kau bawel sekali? Aku ingin pulang ya pulang!” Bentak Leon dengan kesal dan melangkahkan kakinya keluar dari penginapan, Kimora dibuat terbengong olehnya, ada apa dengan Leon? Apa perlu dia semarah itu?


Keesokkan paginya…


Jerry terbangun dengan leher sakit karena ia dan Alex tidur di kursi. Ia mengerakkan dan mengusap lehernya yang terasa kaku.


Semalaman mereka berdua terjaga dan setelah memastikan Bianca tertidur karena lelah menangis barulah mereka berani memejamkan mata. Kedua pria itu takut Bianca akan berpikir pendek dan mengambil keputusan yang tidak masuk akal.


“Kau sudah bangun? Kenapa kalian tidak pulang semalam?” Tanya Bianca sambil menyodorkan dua gelas air ke hadapan Jerry dan Alex yang masih terlelap.


Jerry tersentak kaget, sejak kapan Bianca bangun?


“Hmm…, maaf, kami menginap tanpa izinmu, tapi kami hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.” Jelas Jerry dengan hati-hati.


“Aku sudah tidak apa-apa.” Jawab Bianca terlihat sendu dengan mata sembabnya, jelas ia sedang tidak baik-baik saja, otaknya sudah penuh memikirkan keputusan apa yang harus ia lakukan.


“Aku akan menemanimu ke dokter.” Tawar Jerry dengan lembut, seakan ia yang bertanggung jawab dengan gadis itu dan sudah mengganggap Bianca seperti adik perempuannya sendiri.


Bianca menggelengkan kepalanya, ia tidak berani mengeceknya dan jika benar ia hamil, apa yang harus ia lakukan, terlebih lagi itu adalah anak Leon, kakak angkatnya sendiri.


“Tidak, aku belum siap…,” Jawab Bianca dengan lirih, matanya mulai berkaca-kaca lagi.


“Baiklah, aku tidak memaksa. Kalau kamu sudah siap, beritahu aku. Kami akan membantu sebisa kami. Dan, aku mohon padamu, tolong jangan mengambil keputusan sepihak. Apapun hasilnya, jangan gegabah.” Bujuk Jerry dengan lembut dan perhatian.


Bianca tersenyum menanggapinya, ia tahu kedua pria di hadapannya itu sejak semalam takut ia akan bunuh diri atau menggugurkan kandungannya.


“Tenang saja, aku masih berhutang budi pada Papa, jadi aku tidak akan melakukan apa yang kalian pikirkan.”


Jerry lega mendengarnya, ia ikut tersenyum melihat gadis itu tersenyum, artinya ia sudah mulai tenang.


~ ~ ~


Leon tidak tidur semalaman sejak tiba di apartemennya, satu bungkus rokok habis di hisapnya. Bau rokok menyeruak masuk dari balkon apartemennya. Wajahnya berkerut, perasaannya kacau. Terlihat jelas di wajahnya rasa kesal, marah, kecewa dan khawatir jadi satu.


Leon mengambil kunci mobilnya, mengendarai dengan kecepatan tinggi di jalanan pagi hari yang masih lenggang di hari Minggu.


Ia baru berhenti saat tiba di depan sebuah rumah mewah, memarkirkan mobilnya di sebrang gerbang dan mengeluarkan handphonenya menelfon seseorang.


“Aku ada di depan gerbang rumahmu.” Ucap Leon dengan suara rendah dan dingin, terdengar tidak ingin dibantah. Wajahnya yang kurang tidur tidak bisa menutupi aura dinginnya. Tangan Leon satunya memegang setir dengan kencang seakan ingin meremukkannya.


“Aku sedang perjalanan pulang, sedikit lagi aku sampai, kebetulan ada yang ingin ku bicarakan.” Jawab suara pria di sebrang sana, dengan nada sama dinginnya dan mematikan panggilannya.


BUKKKK…


Pukulan kuat langsung melayang melalui kepalan tangan Leon, mendarat dengan kuat ke rahang Alex yang terhuyung ke belakang tidak siap menerima serangan tiba-tiba dari Leon.


“Kau brengs*k!!” Teriak Leon menarik kerah baju Alex.


“Berani sekali kau menghamilinya!” Teriak Leon lagi. Alex mengerutkan keningnya.


“Bagaimana kau tahu Bianca hamil?” Tanya Alex penasaran.


BUKKKK…


Rasa sakit kembali menjalar di rahang dan kepala Alex, meski tenaga Leon tidak sekuat pukulan pertama, tapi tetap saja terasa menyakitkan. Alex meringis menahan rasa sakitnya.


“Kamu kaget aku tahu? Ingin menutupinya heh??” Gertak Leon.


“Siapa yang ingin menutupi? Dan siapa yang menghamili Bianca?” Tanya Alex balik dengan nada tinggi.


Alex sudah kesal dan pusing karena kecapekan dan kurang tidur dan sekarang ia sedang dihajar oleh Leon, tentu saja ia juga tidak terima dan marah.


“Jika bukan kau, siapa lagi, hah???!” Tanya Leon dengan marah.


“Menurutmu…? Siapa lagi yang bisa menghamilinya??” Tanya Alex balik, sama marahnya dan melotot tajam ke mata Leon.


Leon mengernyitkan dahinya, mencari kejujuran di mata Alex yang menatapnya dengan berani Seketika ia menjadi ragu, cengkraman tangannya melemah melepaskan kerah baju Alex.


“Bukan kau yang menghamilinya?” Tanya Leon ragu-ragu. Alex tertawa meremehkan.


“Bagaimana aku bisa menghamilinya jika kami tidak melakukannya?”


“Tapi waktu itu kau mengaku sudah tidur dengannya.” Sergah Leon memastikan.


“Aku hanya menggertakmu. Tidak ada apapun yang terjadi di antara kami. Dia bahkan sudah menolakku sebelum aku mendekatinya." Jawab Alex jujur dengan sorot mata kecewa.


Leon tersentak mendengar jawaban Alex. Wajah dinginnya melunak, ada suatu rasa lega mendengar Bianca bukan hamil anak Alex, tapi…


“Jadi, dia hamil…,”


“Apa kau merasa itu anakmu?” Tanya Alex dengan berani.


“Entahlah, aku tidak yakin…,” Jawab Leon jujur.


“Maksudmu?”


“Tak lama setelah hal itu terjadi, aku menemukan obat pencegah kehamilan di kamarnya. Jadi aku tidak yakin ia hamil anakku atau bukan.” Jawab Leon penuh keraguan dan rasa penasaran.


BUKKKK….


Kali ini giliran Leon yang menerima pukulan dari Alex. Leon menatap kaget Alex yang memukulnya tiba-tiba.


“Apa yang kau lakukan, kau gila hah??” Tanya Leon marah.


“Kau yang gila! Kau jelas-jelas sudah menidurinya dan sekarang bilang dia bukan hamil anakmu?” Tanya Alex kesal.


“Kami hanya sekali melakukannya, lalu untuk apa dia meminum obat itu?” Tanya Leon kebingungan, pikirannya masih kacau dan kalut. Matanya penuh keraguan dan kecemasan. Alex ikut bingung dan ragu dibuatnya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~