Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 20~



Bianca sedang mempersiapkan materi rapat nanti siang dengan Pak Toni dan Calvin saat Leon memasuki ruang kantornya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, pria angkuh itu baru tiba di kantor karena ia terlebih dahulu mengantarkan Rose.


Leon melirik Bianca dengan tajam, pikiran dan perasaannya masih belum tenang memikirkan Bianca dan Alex yang ternyata semakin akrab.


"Mau ke mana kau?" Tanya Leon saat melihat Bianca mendadak berdiri dengan membawa beberapa dokumen.


"Menemui Calvin, ada hal yang tidak ku mengerti dan ingin aku tanyakan." Jawab Bianca jujur.


"Apa itu? Tanyakan padaku." Ucap Leon memerintah.


"Hmm, kau sibuk. Lebih baik aku tanyakan pada Calvin saja." Jawab Bianca menolak membuat Leon hilang kesabaran.


"Aku bilang, TANYAKAN PADAKU! Kemari!" Perintah Leon tak ingin dibantah. Dengan langkah malas Bianca berjalan dan berhenti di depan meja Leon.


"Ini, bagian ini." Tunjuk Bianca pada dokumen yang ia sodorkan pada Leon. Leon mengernyitkan keningnya.


"Mana?" Tanya Leon.


"Ini..." Tunjuk Bianca.


"Aku tidak jelas, kau pindah kemari, bicaralah yang jelas." Perintah Leon menyuruh Bianca untuk berdiri di sampingnya. Bianca menghela nafas dan terpaksa menuruti dengan berpindah ke samping kiri Leon.


"Ini... Bagian ini, aku tidak paham dengan... AHHH!!" Tiba-tiba Leon menarik Bianca ke pangkuannya membuat Bianca menjerit kaget.


"Apa yang kau lakukan??" Tanya Bianca panik dan bergegas ingin bangkit tapi ditahan oleh Leon dengan kedua tangannya yang besar melingkar di pinggangnya. Leon menyeringai tersenyum puas.


"Jangan main-main, lepaskan aku!" Teriak Bianca gugup. Leon justru semakin bersemangat dan mengencangkan pelukan tangannya. Wewangian parfum yang menyatu dengan aroma tubuh serasa menggoda tercium manis di penciuman Bianca.


"Lepaskan Leon! Ini sama sekali tidak lucu." Ucap Bianca dengan geram.


"Kenapa kau panik? Kau gugup heh?" Goda Leon dengan senyum manisnya yang menawan dan menggoda. Bianca terdiam sesaat, kemudian ia justru ikut tersenyum.


"Kau ingin membahas dengan begini?" Tanya Bianca sambil menunjuk posisinya yang duduk di pangkuan Leon. Leon mengernyitkan keningnya menyadari perubahan sikap Bianca yang tak lagi panik.


"Hmm, ya, jika kau tak keberatan." Goda Leon lagi.


"Baiklah, jika kau nyaman, aku pun tidak masalah." Jawaban Bianca ternyata memancing Leon untuk bertindak semakin jauh.


"Benarkah? Tidak masalah bagimu jika begini?" Tanya Leon dengan suaranya yang berat dan seksi berbisik mendekati telinga mungil Bianca, membuat bulu kuduk gadis itu meremang tak karuan. Tak sampai di situ, Bianca justru dibuat semakin kaget saat tangan Leon bergerak merambat ke lengan atas. Biancapun dengan kasar menghempaskan tangan kekar itu saat tiba menyentuh bahunya dan langsung melepaskan diri dengan cepat.


"Hentikan kekonyolanmu! Kau semakin di luar batas Leon! Aku akan membahas ini dengan Calvin. Permisi!" Ucap Bianca tegas dan melangkah keluar ruangan dengan tak lupa membawa serta dokumennya.


Leon menyeringgai puas melihat Bianca yang bergegas keluar ruangan dengan panik dan gugup. Ada suatu perasaan senang karena ia berhasil menggoda adik angkatnya itu.


Bianca berjalan cepat melewati lorong gedung menuju Toilet, ia butuh ruang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang tak karuan. Beruntungnya tidak ada orang di toilet jadi ia bisa dengan leluasa melepaskan emosinya. Bianca memasuki salah satu bilik dan segera menarik nafas panjang.


"Leon sialan, berani-berani ia bermain kotor dan mengerjaiku!" Omel Bianca dengan suara kecil. Ia memijit keningnya dengan kesal.


"Sampai kapan aku harus begini, jika tiap hari bertemu dengannya aku bisa gila. Hidupku tidak akan pernah tenang." Keluh Bianca menggigit bibir bawahnya dan tanpa ia sadari meninggalkan bekas kemerahan.




Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, Bianca baru saja menyelesaikan meetingnya dengan Pak Toni dan Calvin, ia merenggangkan tangannya ke atas untuk merelakskan badannya yang letih.



"Lelah sekali hari ini. Terima kasih Calv, kau sangat membantuku menghadapi Pak Toni yang tidak jelas itu, apalagi dengan kemampuanku yang masih banyak kekurangan ini." Ucap Bianca tersenyum melihat Calvin yang masih merapikan dokumennya.



"Santai saja Bianca. Nanti kau juga bisa menjadi pro seiring jalannya waktu." Jawab Calvin dengan rendah hati, membuat Bianca tersenyum lega mendengarnya.



"Tetap saja, aku akan kewalahan jika tidak ada dirimu. Apalagi kau tahu sendiri, sistem perusahaannya sangat kacau dan banyak yang harus dibenahi."



"Betul sekali, dan karena itu, ini juga adalah tugas dan pekerjaanku karena ke depannya tetap aku yang akan turun tangan mengurusi."



"Eng? Maksudnya?" Tanya Bianca heran.



"Mr. Leon belum memberitahumu?"



"Apa? Dia tidak mengatakan apapun padaku tentang ini." Bianca mengernyitkan keningnya keheranan.



"Ke depannya kau tidak akan mengurusi Perusahaan Pak Toni." Jawab Calvin tegas.



"Benarkah??? Ahh, aku lega mendengarnya. Aku malas menghadapi Pak Toni itu." Jawab Bianca senang mendengarnya.



"Tapi...," Lanjut Calvin ragu.



"Tapi?" Tanya Bianca.



"Kemungkinan besar kau akan menjadi assisten pribadi Mr. Leon. Dan sekarang fokusmu adalah belajar menghadapi sifat dan wataknya yang up and down seperti roller coaster."



"Whatttttt??!!!" Tanya Bianca kaget, Calvin tersenyum geli melihat wajah Bianca yang langsung terlihat murung setelah mendengar pernyataannya.



Bianca beranjak dari tempat duduknya dengan malas-malasan.



"Seharusnya kau tidak usah memberitahuku. Lebih baik aku menghadapi Pak Toni daripada menghadapi Leon yang otaknya tidak normal itu." Omel Bianca kesal pada Calvin.



"Stsss, hati-hati jika terdengar Mr. Leon, kau tahu sendiri sepupu mu itu tidak ada ampunnya." Ucap Calvin mengingatkan.



Bianca mengernyitkan keningnya saat mendengar kata sepupu, ah iya, dia lupa jika ia menyamar sebagai anak bibinya Leon.



"Aku lapar, aku akan ke kantin dulu, kau mau ikut?"



"Tidak, aku harus melaporkan hasil rapat ke Mr. Leon. Kau turunlah, aku yakin cacing di perutmu juga sudah kelaparan karena kau belum makan siang." Bianca tersenyum menanggapi dan melangkah dengan malas menuju lift berniat turun ke kantin.



Baru saja ia menekan tombol turun di hadapannya, terdengar suara Calvin bergema memanggilnya.



"Ada apa, kau mau titip sesuatu?" Tanya Bianca sambil memutarkan badannya menghadap Calvin yang setengah berlari menghampirinya.




"Ahh, jangan sungkan, katakan saja kau mau kubelikan apa?" Cerocos Bianca sok tahu.



"Bukan Bianca. Mr. Leon memintamu kembali ke ruangan. Dan, dia bilang untuk makan siang mu hari ini biarkan dia yang mengurusi."



"APA???" Bianca berteriak kaget karena benar-benar tidak menyangka Leon bahkan berniat ikut campur dengan urusan makannya juga.



"Permainan apa yang kau mainkan Leon?" Tanya Bianca dalam hati.



"Mungkin Mr. Leon menghargai usahamu mempersiapkan meeting tadi, apalagi kau sepupunya." Ucap Calvin tersenyum memberi dukungan positif pada Bianca yang mukanya sudah terlihat masam sedari tadi.



Bukannya terhibur, Bianca malah merasa berang mendengar Calvin berkata demikian.



"Sepupu dari Hongkong!!" Maki Bianca kesal sambil berjalan dengan langkah kesal menuju ruangannya, yang mana adalah ruangan besar milik Leon. Calvin hanya tersenyum geli dan menggelengkan kepala melihat tingkah Bianca yang selalu bertolak belakang dengan Leon.



Tuk tuk tuk tuk tuk tuk...


Derap langkah wedges Bianca terdengar cepat dan terburu-buru menuju ruang kerjanya. Dia lapar, sangat lapar karena meeting tadi siang yang ternyata menyita waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Apalagi belakangan dia fokus dengan pekerjaan dan tidak memperhatikan waktu makannya yang berantakan. Dia merasa lambungnya terguras, bahkan emosinya juga ikut terguras setiap kali berurusan dengan Leon.



"Apa maumu? Bahkan sekarang melarangku untuk makan?" Tanya Bianca emosi bahkan tanpa mengetuk pintu dan langsung menerobos masuk.



Leon mendongakkan kepalanya dan mengernyitkan kening.



"Siapa yang melarangmu untuk makan?"



"Masih lagak bertanya lagi, yah jelas KAU!" Ucap Bianca murka dengan jari telunjuk menunjuk tegas ke arah Leon.



"Aku tidak melarangmu makan, justru aku...,"



"Apalagi? Salahku apa hingga kau berhak mengatur kebutuhan makanku? Hah?" Potong Bianca tanpa mengizinkan Leon berbicara. Leon mengeraskan rahangnya kesal menghadapi sikap Bianca yang marah tanpa sebab.



"Dengarkan aku atau akan ku cium bibir bawelmu itu!" Tegas Leon yang juga berusaha menahan emosinya.



Bukannya semakin tenang, Bianca malah semakin kesal, ia merasa sangat diperbudak oleh Leon.



"Ahhh, aku lupaa, kau tidak akan membiarkan aku hidup dengan tenang dan ingin menjadikan aku budakmu yang selalu menurut perintahmu. Kau pikir aku takut? Kau pikir kau bisa mengendalikan hidupku? JANGAN HARAP!"



Leon berdiri meninggalkan dokumen yang sebelumnya sedang ia baca, matanya tajam menatap Bianca yang berkecak pinggang menantangnya. Pria yang juga diliputi perasaan kesal itu berjalan mengitari mejanya untuk menghampiri gadis kelaparan itu.



Setibanya di hadapan Bianca, tanpa diduga Leon mencakup rahang mungil Bianca dengan satu tangan, membuat gadis itu terkejut dan meronta berusaha melepaskan tangan Leon.



Tapi Leon bukan melepaskan, justru memperkencang cakupannya dan mengarahkan wajah Bianca untuk menoleh ke arah meja yang terletak di tengah ruangan. Mata Bianca terbelalak saat menyadari terdapat 1 set makanan lengkap dengan buah-buahan dan minuman segar.



Belum melepaskan cakupan tangannya, Leon mengarahkan kembali wajah Bianca ke wajahnya sehingga hanya berjarak beberapa centi. Ia menatap mata Bianca dengan geram.



"Gunakan mulutmu untuk bertanya, bukan untuk memprotes... cup.."



Bianca menepuk-nepuk bahu Leon, berusaha mendorong pria gagah itu untuk melepaskan ciuman tiba-tiba yang diluncurkan Leon.



Ciuman itu berlangsung singkat tapi terasa lebih mendalam dibandingkan ciuman sebelumnya.



"Arrggh. Apa yang kau lakukan??" Marah Bianca saat Leon melepaskannya, tangannya terangkat ingin menampar pria kurang ajar di hadapannya, tapi dengan gesit ditangkap oleh Leon.



"Aku sudah bilang akan ku cium bibir bawelmu." Ucap Leon santai.



"Argghhh! Memang kau pikir semua masalah selesai dengan ciuman? Aku bukan Rose mu yang akan luluh dengan ciuman brengsekmu itu!" Ucapan Bianca berhasil memancing emosi Leon. Ia tidak terima ciumannya dianggap brengsek.



Leon merangkulkan tangannya ke pinggang Bianca dan semakin gadis itu berontak semakin ia mengencangkan pelukannya. Leon justru tersenyum senang saat melihat Bianca memberontak dalam pelukannya.



"Leon, lepaskan! Ada apa denganmu? Heiii... Lepaskan!!" Bianca terus memberontak dan membuat Leon geram.



"Kau berisik sekali." Ucap Leon berbisik di telinga Bianca, lalu melepaskan gadis itu. Leon berjalan kembali menuju meja kerjanya, meninggalkan gadis yang ia kecup seenaknya dengan keadaan jantung berdegup kencang.



"Leon br\*ngs\*k, tunggu pembalasanku!" Ujar Bianca dalam hati.


.


.


.


.


.


to be Continue~