
Selepas kepergian Bianca dan Darwin, Leon pun melampiaskan kekesalannya.
"Arghhhhh!!!" Teriak Leon dan memukul meja dengan kedua tangannya, membuat Kimora dan Calvin tersentak kaget.
"Yahhhhh! Apa yang kau lakukan? Mereka hanya pergi makan apa kau harus semarah ini?" Teriak Kimora ikut emosi pada tingkah laku Leon.
"Dan lagi aku tahu kau menyukainya, tapi kenapa kau terus membawa namaku dan mendorongku kepada pria brewok itu???" Protes Kimora.
"Maaf, Miss Kimora. Saya rasa mungkin Mr. Leon hanya berusaha mengalihkan perhatian Tuan Darwin pada wanita lain." Bela Calvin berusaha menenangkan Kimora.
"Lalu kenapa wanita itu harus aku?" Tanya Kimora tidak suka.
"Karena aku percaya kau bisa melindungi dirimu sendiri lebih baik daripada dia!!"
Kimora terdiam mendengarnya. Leon memang benar. Melihat dari kondisinya, dengan segala pengalaman dan kekuasaan yang ia miliki, ia memang bisa melindungi dirinya sendiri dibandingkan Bianca.
"Siapa pria itu sebenarnya? Kenapa kau terlihat frustasi dan tidak percaya diri begini?"
"Dia lebih gila dari yang terlihat." Jawab Leon kesal dan meremas kertas apapun yang dijangkaunya.
***
Suasana cafe yang tenang hanya terdengar alunan musik dan dentingan alat makan. Hanya ada beberapa orang yang mengisi meja di Salah satu cafe bintang empat itu.
"Ini... sudah siap, makanlah, kau pasti akan suka rasa di sini." Ucap Darwin sopan.
Bianca tersenyum manis saat melihat Darwin memotongkan steak dan menyodorkan piring untuknya. Pria ini sopan, hanya saja bukan tipenya.
"Aku harap makan malam ini melunasi hutangku padamu karena sudah membantuku di pesta."
"Kau tidak berhutang apapun. Aku menyukaimu dan berharap bisa menghabisi malam denganmu, kapanpun kau siap dan mau." Jawab Darwin berterus terang.
Bianca berdecih mendengarnya. Pantas saja ia merasa pria ini bersikap terlalu sopan pada wanita, ternyata memang ini taktiknya.
"Kau berterus terang sekali Tuan Darwin."
"Aku tidak suka berbasa basi membuang waktu. Dan aku rasa kau pun begitu."
"Hmm..., jika begitu ada baiknya jika ku katakan sekarang supaya tidak membuang waktumu."
"Apa? Kau mau melakukannya sekarang?" Tanya Darwin bersemangat dan tersenyum malu.
Bianca tertawa meremehkan kepercayaan diri pria itu.
"Aku sedang hamil." Ucap Bianca tiba-tiba membuat Darwin tersentak diam.
"Apa? Hamil?" Tanya Darwin terkejut dan berharap salah dengar.
***
Leon berjalan mondar mandir di ruang kantornya, selain dirinya masih ada Kimora, Calvin dan Jerry yang juga segera ke sana setelah menerima kabar dari Kimora.
"Hentikan Leon! Kau seperti setrikaan sejak tadi berjalan kesana kemari." Keluh Kimora yang risih melihat tingkah Leon.
"Apa kau belum mendapat kabar dari Bianca?" Tanya Jerry yang sama panik dan cemasnya dengan Leon.
"Menurutmu?? Apa kau pikir dia akan mencariku jika butuh pertolongan?"
"Kau benar juga. Dia tidak menyukaimu." Jawab Jerry tanpa sadar dan segera mendapat pelototan kesal dari Leon.
"Kali ini kita tunggu dulu bagaimana Bianca akan menyelesaikan masalah ini."
"Dia bisa apa selain meronta heh!" Omel Leon tidak sabaran.
"Jangan meremehkannya. Dia hanya meronta di hadapanmu karena kau tidak menggunakan perasaan." Jawab Jerry kesal.
***
"Apa kau bercanda? Hamil?"
"Yeah..., aku sedang hamil."
"Jika ini adalah bualanmu untuk menolakku, maaf, tidak berhasil." Jawab Darwin tidak percaya dan justru merasa tertantang.
Darwin menyipitkan matanya membaca kertas itu, tertulis dengan jelas bahwa Bianca sedang hamil 2 bulan dan tanggal hasil pemeriksaan yang tertera adalah jauh sebelum mereka bertemu di pesta.
"Lalu waktu di pesta, kau masih minum wine?" Tanya Darwin menyelidiki kebenaran.
"Asal kau tahu saja, sepulang pesta aku hampir mati memuntahkan wine itu, aku rasa bayi ku hampir keracunan." Sesal Bianca sedih.
"Kau yang meminumnya, meski tahu kau sedang hamil." Protes Darwin tidak terima.
"Aku tidak suka duduk di sampingmu, parfummu membuat ku mual... sorry, kamu tahu ibu hamil sensitif akan bau. Dan ku pikir dengan mengikuti kemauanmu minum wine itu, aku bisa segera pergi dan ternyata kau terus memaksaku menghabiskan isi gelas ku." Jelas Bianca dengan berani, membuat Darwin melengos kesal, merasa tertipu dengan keadaan yang terjadi.
"Ku harap kau paham." Tekan Bianca membuat Darwin menghela nafas kesal dan malu.
"Siapa ayahnya? Bukankah kau single." Tanya Darwin lagi bersikeras.
"Oh My God! Apa kau bahkan ingin mengusik kehidupan pribadiku? Siapa ayahnya dan bagaimana statusku, apakah perlu aku beberkan??" Tolak Bianca kesal membungkam Darwin yang masih tampak kesal dan tidak puas.
***
"Aku yakin, Darwin Junior tidak mungkin akan bercinta dengan wanita yang sedang mengandung, apalagi jika wanita itu mengandung janin yang bukan miliknya." Jelas Jerry dengan yakin.
"Apa maksudmu?"
"Bianca hamil?" Tanya Leon kaget.
Jerry buru-buru menggelengkan kepalanya, takut jika teman baiknya salah paham.
"Tidakkk!!! Aku memberikan Bianca hasil pemeriksaan kehamilan palsu, untuk mengantisipasi hal ini terjadi." Jelas Jerry dengan cepat.
"Kenapa tidak kau katakan dari tadi?!" Tanya Leon geram namun sedikit lega.
"Kau sungguh pelindung semua orang Jerry. Kau bahkan bisa memikirkan dan membuat rencana cadangan seperti ini." Puji Kimora takjub.
"Bianca sudah memberi kabar. Ia membalas pesanku, mengatakan ia sedang dalam perjalanan pulang dan sepertinya berhasil membuat DW Junior mencampakkannya." Sela Calvin dengan cepat dan suara nyaring, terdengar ikut merasa lega dan tenang dengan pesan yang ia baca.
Mendengar apa yang Calvin ucapkan, Leon langsung memeluk Jerry dengan erat, serasa semua bebannya terlepaskan dan penatnya hilang. Kimora tersenyum melihatnya.
"Thank you so much Bro." Bisik Leon.
"Sudah ku bilang, aku akan menjaganya seperti adik ku sendiri." Jawab Jerry ikut tersenyum lega.
Sepanjang perjalanan pulang di taksi, Bianca menatap kertas hasil kehamilan palsunya. Ia tidak menyangka bisa menipu dan berakting begitu nyata di hadapan Darwin yang terkenal perebut gila itu, tidak menyangka juga rencana yang Jerry berikan berhasil, membuatnya bisa melakukan penolakan yang keren di hadapan Darwin.
"Sayang, aku tidak bisa menggunakan kertas ini untuk menolak Leon." Lirih Bianca menghela nafas lelah.
Bianca merasa hidupnya begitu sial. Meski telah resmi menikah, suaminya itu bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menghina dan meremehkannya.
"Aku hanya minta diberikan kekuatan sedikit lagi...," Bisik Bianca pada dirinya sendiri.
Bianca berdiri di depan pintu apartemen Leon. Ia tidak ingin pulang dan bertemu dengan pria itu. Bianca menyandarkan kepalanya ke pintu, menarik nafas panjang sebelum membukakan pintu.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Leon yang berada di belakangnya, membuatnya tersentak kaget.
"Aku malas pulang." Jawab Bianca jujur.
"Malas pulang?" Tanya Leon keheranan.
"Yahh, aku malas bertemu denganmu." Aku Bianca dengan tatapan berani.
.
.
.
.
.
To Be Continue~