
Happy Friyay adalah hari yang dinantikan semua pekerja karena akan menjelang weekend, tapi bagi Bianca hari ini terasa lebih menyenangkan karena Peter dan teamnya datang untuk rapat.
Bibirnya terus tersenyum tanpa henti. Melihat Peter yang tampak maskulin dengan menggunakan kemeja lengan panjang marun slim fit yang mencetak otot di lengan dan perutnya.
"Baik, jika tidak ada masalah, rapat kita akhiri di sini." Tutup Leon dengan tegas, semua mengganguk setuju dan membereskan dokumen dan laptop masing-masing.
"Untuk kontrak ini, akan diperiksa sekarang juga, mohon ditunggu." Sambung Calvin pada yang tertuju pada Peter.
"Baik, tidak masalah." Jawab Peter lalu memusatkan perhatiannya pada Bianca yang duduk di kursi belakang khusus tamu tambahan.
"Bianca, terima kasih, sudah membantu mempersiapkan rapat." Ucap Peter sambil berjalan menghampiri Bianca yang sedang membereskan catatannya.
"Sudah tugasku." Jawab Bianca sumringah melihat pria itu menghampirinya.
"Hmm, aku ingin mentraktirmu makan malam ini, kau sempat?" Tanya Peter to the point yang juga terdengar oleh yang lain. Bianca melihat tatapan sekeliling yang keheranan dengan hubungan mereka. Apalagi Leon, yang seketika menoleh dan menatap tajam ke arah mereka, bukannya takut, Bianca malah membuang muka dan mendongakkan kepala menatap manis pada Peter.
"Baik, aku akan mengabarimu jika sudah pulang kantor." Jawab Bianca tanpa ragu.
"Baiklah, ku tunggu kabarmu." Jawab Peter tersenyum manis.
Mendengar Bianca akan makan malam dengan Peter tentu membuat Leon tidak senang namun tetap bersikap professional, setelah menandatangani kontrak dengan perusahaan Peter, Leon bergegas ke ruangannya diikuti oleh Calvin, sedangkan Bianca masih tertinggal karena membereskan ruang meeting.
"Mereka mempunyai hubungan apa?" Tanya Leon pada Calvin yang tidak mengerti.
"Siapa?" Tanya Calvin polos tidak mengerti.
"Peter dan wanita ituuu, siapa lagi??" Tanya Leon menaikan nadanya.
"Wanita itu...?" Tanya Calvin pelan dengan bingung dan berpikir, "Ahh, Bianca?" Tanya Calvin ragu.
"Kenapa kau justru sangat lamban dengan hal seperti ini." Celoteh Leon kesal dan semakin membuat Calvin merasa bersalah dalam kebingungan.
"Jika yang Mr. Leon maksud adalah Peter dan Bianca, setahu saya mereka adalah teman lama saat di kampus." Setelah mendengar jawaban Calvin, Leon melambaikan tangannya sebagai isyarat menyuruhnya keluar. Calvin yang masih diliputi rasa kebingungan pun keluar dengan penuh tanya, kenapa belakangan ini bossnya terus bertingkah aneh.
Bianca kembali ke ruangannya disambut Leon dengan wajah yang dingin. Leon sedang memutar otaknya berniat membatalkan dinner adik angkatnya itu.
"Aku ingin melihat laporan rapat dengan Toni. Yang kau buat sendiri." Perintah Leon pada Bianca tanpa basa basi.
"Hmm, baik." Jawab Bianca tenang menuruti kemauan Leon.
"Termasuk dari rapat pertama kalian. Sedetail mungkin." Lanjut Leon, kali ini berhasil membuat Bianca panik.
"Apa?? Mana mungkin aku ingat?" Tanya Bianca balik.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya sudah harus ada di meja ku hari ini juga." Jawab Leon tegas dan tidak ingin dibantah. Tanpa pikir panjang, Bianca keluar ruangan menuju ruangan di sebelahnya. Apa lagi yang bisa ia lalukan selain minta tolong pada Calvin. Toh Leon tidak mengatakan jika ia tidak boleh meminta bantuan Calvin.
Calvin yang mendengar perintah Leon tentu saja dibuat keheranan, ia bertanya-tanya apakah laporan yang ia kerjakan masih kurang jelas di mata Leon atau Leon hanya ingin menguji Bianca? Tapi yang Calvin tahu, Leon bukanlah orang yang suka berbasa basi menyuruh karyawannya melakukan hal yang tidak jelas dan terlihat tidak ada kerjaan seperti ini.
Selama Bianca berada di ruangan Calvin, Leon sibuk mengacaukan kamar tidur di kantornya. Baju yang tadinya sudah tersusun rapi di gantungan, sengaja ia serakan di kasur dan kursi. Kasur yang tidak terlalu berantakan, justru sengaja ia acak-acak. Serasa puas, Leon pun selesai mengobrak abrikkan kamarnya.
Bianca menyelesaikan laporan dalam 3 jam, tentu saja dengan bantuan Calvin yang super cepat dan baik. Bianca bersyukur Calvin bukanlah orang yang perhitungan. Tepat sebelum pukul 6 sore Bianca berhasil menyodorkan laporannya ke hadapan Leon. Senyumnya merekah karena sebentar lagi ia bisa segera pulang dan tentu saja makan malam bersama Peter.
Tanpa melihat isi laporan, Leon dengan dinginnya berkata, "Meminta bantuan Calvin, termasuk pelanggaran dan curang. Kinerja seperti ini, apa yang bisa kau banggakan, bagaimana mungkin layak menjadi assistenku?" Komentar Leon membuat Bianca berang. Ia sama sekali tidak mengerti apa mau atasannya itu. Senyum merekahnya seketika memudar menjadi kesal.
"Buat ulang, setelah itu bereskan kamar tidurku, baru kau boleh pulang." Perintah Leon sambil menunjuk kamar di sisi kirinya.
"Kamarmu? Apa urusannya denganku. Aku bukan pembantumu." Protes Bianca kesal.
"Tapi kau bawahanku, patut mematuhi perintahku!" Tegas Leon dengan masa tajamnya yang tidak ingin dibantah.
Bianca mengernyitkan keningnya heran, bahkan sekarang kamar tidurnya pun ikut jadi pekerjaannya. Leon benar-benar sesuka hati memerintahnya dan menguras emosi serta tenaganya.
Bianca menghentakkan kakinya berjalan menuju mejanya, ia segera mengirimkan pesan pada Peter jika ia tidak bisa makan malam hari itu.
Leon tersenyum tipis, ia yakin ia telah berhasil mengagalkan makan malam Bianca dan Peter dilihat dari gerak gerik Bianca yang dengan kesal meletakkan handphonenya.
Hari sudah semakin gelap, Leon sudah meninggalkan ruangannya dan akan pergi ke Restaurant Alan untuk makan malam santai dengan client sekaligus teman kerjanya, Mr. Ken. Sedangkan Bianca masih berkutat di depan komputernya untuk menyelesaikan laporannya. Sedikit lagi selesai, batinnya menyemangati diri sendiri.
Bianca tersenyum puas saat semua hasil print laporannya selesai dan tertata rapi di meja Leon. Tapi wajahnya seketika kusut saat melihat ruangan disebelahnya. Yah, dia masih harus membereskan kamar tidur Leon.
Bianca membuka pintu kamar yang dibiarkan tidak terkunci itu, melihat sekeliling kamar yang sebenarnya tidak terlalu berantakan, ia pun segera merapikan baju-baju dan seprei yang berantakan, lalu melanjutkan ke kamar mandi dan menyikat kloset serta membersihkan wastafel kamar mandinya.
Tak butuh waktu lama, Bianca sudah menyelesaikan tugas tambahan dari Leon malam itu, ia menghela nafas lega dan matanya tertarik untuk menikmati pemandangan malam kota yang disuguhkan dari kaca besar di depannya.
Bianca terkesiap saat mendekati kaca itu dan baru menyadari ternyata sedang turun hujan deras di luar sana. Ia melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 8.45. Biancapun bergegas keluar dan mengambil tasnya.
Langkahnya terhenti saat ia menyadari ruangan di luar sudah gelap gulita. Tidak ada satu orang pun di sana, hanya menyisakan dia seorang. Bianca menyalakan lampu dan berusaha membuka pintu kantor yang sudah terkunci.
"Leon si*l*n!! Yang benar saja?!" Bianca mengumpat kesal. Ia bergegas kembali ke ruangannya dan menelpon lobby bawah. Kesialannya bertambah karena beberapa kali ia telepon, tidak ada yang menggangkat, sepertinya semua sudah pulang dan kesialan selalu berpihak padanya.
Bianca terlalu lapar dan marah memikirkan kesialannya, ia kembali ke kamar tidur dan membuka kulkas kecil di kamar itu, terdapat beberapa bir, minuman dingin, dan es krim. Bianca keluar lagi mengeledah pantry kantor dan mendapati beberapa mie instan. Masih bersyukur di sela kesialannya, ia langsung menyeduhkan mie dan melahapnya sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Sensor kamera yang memang sengaja di atur aktif pukul 9 malam hingga 7 pagi itu menangkap adanya pergerakan manusia di ruangan kerjanya dan sekitar ruangan kantor memberikan notifikasi yang tersambung di handphone Leon.
Tampak di layar handphonenya, seorang gadis baru saja selesai menyantap mie instan dan mematikan lampu ruangan, berjalan menuju ke kamar tidurnya.
"Apa yang ia lakukan?" Tanya Leon di benaknya. Ia menunggu dengan penasaran tapi tidak ada pergerakan apapun. Sepuluh menit melihat tidak ada perubahan, menguras rasa penasaran Leon.
"Alan, tolong bungkuskan sandwich, satu.. ahh dua pack untuk ku." Ucap Leon tiba-tiba tanpa mengalihkan matanya dari handphone.
"Sekarang?" Tanya Alan kebingungan.
"Tentu saja, cepatlah!" Jawab Leon tidak sabar. Alan bergegas menuju kitchennya dan membungkus pesanan Leon.
"Ini." Ucap Alan sambil meletakkan satu kantong makanan dihadapannya. Leon bergegas pamit dan pergi meninggalkan tanda tanya di mata Alan dan Mr. Ken.
"Dia ada masalah?" Tanya Mr. Ken keheranan.
"Ntahlah." Alan menggelengkan kepalanya.
Tak butuh waktu lama, Leon sudah tiba di sebuah parkiran basement dan menenteng makanan yang ia pesan. Ia membuka pintu dan lift VVIP dengan kartunya.
Tingg.. Lift berhenti dan terbuka, membawanya ke lorong yang gelap, Leon menyalakan senter handphonenya, membuka pintu kaca kantor dan berjalan menuju ruangannya.
Ceklek ceklek...
Pintu kamar tidurnya terkunci dari dalam. Dengan bergegas Leon mencari kunci cadangan di laci meja kerjanya.
Leon tampak terheran saat melihat apa yang ada di hadapannya. Dengan penerangan remang-remang yang hanya berasal dari lampu tidur di sisi ranjang, Leon bisa menyaksikan dengan jelas seisi kamarnya. Ia tersenyum kecil, bukan karena kamar itu menjadi rapi, tapi karena mendapati Bianca tidur di kasurnya.
Leon menuju kamar mandi dan membiarkan air shower yang berjalan tidak terlalu kencang membasahi sekujur tubuhnya, ia sengaja karena tak ingin gemercik air membangunkan Bianca.
Leon ikut bergabung di sisi kanan ranjang, dengan amat perlahan ia membuka selimut dan menidurkan badannya, saat itu ia baru menyadari, gadis di sebelahnya menggunakan salah satu kemejanya. Sesuatu berdesir di hati dan pikirannya, apalagi ia bisa dengan leluasa melihat dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan di depannya itu. Tangannya terulur mengusap halus rambut Bianca yang tidak berantakan. Bianca mengernyit karena ada getaran halus mengusiknya, tapi ia terlalu lelah dan kembali terlelap.
.
.
.
.
.
To Be Continue~