Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 52~



Seusai makan malam, Leon tidak ingin pulang, Bianca terpaksa mengizinkannya tinggal dan tidur di apartement kecilnya.


Mereka terbaring di ranjang ukuran sedang milik Bianca dengan pemikiran mereka masing- masing. Meski berada dalam satu ranjang, Bianca masih menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Leon.


"Aku ingin bertanya...," Ucap Bianca pelan, mengira-ngira apakah Leon sudah tidur.


"Yaa..?" Jawab Leon pelan.


"Dari mana kamu punya kunci kamar ku?" Tanya Bianca penasaran, sudah lama ia ingin bertanya tapi tidak punya kesempatan.


"Aku memintanya dari Papa, karena aku tahu Papa punya aksesmu." Jawab Leon jujur.


Bianca meringis mendengarnya, Papa pasti sudah tertipu oleh Leon sehingga mau memberikan kunci kamar cadangannya pada Leon.


Bianca berbalik menyampingkan tubuhnya menghadap Leon, pria itu melakukan hal yang sama. Mereka saling berhadapan dengan bertumpu pada lengan masing-masing.


“Lalu, apa kamu..., benar menyukaiku?” Tanya Bianca ragu-ragu dengan sorot mata menanti jawaban.


Leon menghela nafas kasar lalu menjawab ketus.


“Kamu bodoh, tidak peka atau pura-pura?” Bianca mencebik kesal dengan jawaban Leon, mendadak badmood.


Leon menarik Bianca ke dalam pelukanya, berbaring di dadanya dan mengusap-usap rambut panjangnya.


Suasana hening, hanya deru nafas yang terdengar. Tubuh Bianca yang tadinya kaku di pelukan Leon, perlahan melunak dan menikmati kebersamaan mereka.


“Sejak kapan kamu menyukaiku?” Tanya Bianca pelan. Tanpa ia sadari, tangannya terasa nyaman dan ikut mengusap dada bidang pria yang sedang menjadi tumpuan kepalanya. Leon tersenyum mendapat perlakuan itu.


“Kamu ingin tahu jawaban sejujurnya?” Masih tetap pada posisinya, Leon mengelus pelan pipi Bianca.


Rsanya Bianca ingin waktu berhenti saat itu juga, dia sedikit tidak siap dengan jawaban Leon, bagaimana jika Leon benar terpaksa menyukainya hanya karena dia sedang hamil anaknya dan semua dia lakukan hanyalah bentuk pertanggungjawaban?


Bianca menggigit bibir bawahnya dan mengganguk pelan. Leon menghela nafas dalam sebelum menjawab.


“Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu.” Bianca mengangkat kepalanya, mengernyitkan keningnya.


Yang Bianca ingat, pertama kali mereka bertemu adalah 14 tahun lalu, tepatnya saat Bianca datang ke rumah Leon diadopsi oleh Papa. Tapi saat itu Leon tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada Bianca, melainkan hanya sorot tidak suka dan kebencian.


“Ceritanya panjang jika kamu ingin tahu.”


“Ceritakan, aku ingin dengar.” Bianca menegakkan badannya dan menyelipkan rambutnya ke belakang kuping, seperti anak murid yang akan mendengarkan ajaran gurunya. Leon terkekeh melihatnya gemas lalu menyandarkan badannya ke sandaran ranjang. 


“Jangan dipotong ceritaku, aku benci mengulang.”


"Tidak, aku hanya akan mendengarkan.” Jawab Bianca mantap.


“Saat ibumu pergi. Aku ada di sana, di rumah sakit dan pemakaman. Aku tidak sengaja ikut hadir dan melihat kekacauan hidupmu. Papa menjemputku di sekolah dan saat di mobil Papa menerima telepon, Papa dengan panik meminta sopir untuk mengarah ke Rumah Sakit , aku sempat bingung apa yang terjadi, aku kira Mama ku yang masuk rumah sakit. Sampai di rumah sakit, aku melihat Papa menghampiri dan memelukmu, saat itu yang ku pikir kamu adalah anak selingkuhan Papa." 


"Aku melihatmu menangis, tapi juga berusaha tegar. Aku juga tanpa sengaja mendengar pembicaraan Papa dengan Kepala Sekolah mu, tadinya mereka akan membawa mu ke Panti Asuhan, tapi Papa bilang dia akan mengangkatmu sebagai anaknya. Saat itu aku sangat marah, aku benar-benar mengira kamu adalah anak haramnya. Tapi sedetik kemudian aku tahu faktanya, bahwa Papamu dan Papa adalah sahabat sejak kuliah, dan parahnya Papamu meninggal karena sudah menolong dan menyelamatkan Papa ku dari tabrakan mobil. Saat itu kamu baru 5 tahun, Papa sudah mau mengasuhmu tapi Mamamu tidak mengizinkan, jadi Papa tiap bulan mengirimkan uang untuk keluargamu dan untuk pendidikanmu.” 


Air mata Bianca perlahan menetes mendengar cerita Leon, yang ia tahu Papanya meninggal karena kecelakaan menolong orang lain, tapi ia tidak tahu Mr. Leo lah orang yang ditolong Papanya.


“Kamu tahu sifat dan watak Mama bagaimana, dia keras kepala. Mama mengira Papa mengirim uang kepada Mamamu karena kamu anak selingkuhannya. Papa sudah menjelaskan tapi Mama keras kepala tidak mau mendengarkan, karena Papa tidak mau mengalah dan terus mengirim uang kepada keluargamu, bahkan saat dia hampir bangkrut sekalipun, ia tetap mengirimkan uang untuk kalian. Sejak itu hubungan mereka sudah tidak harmonis, Mama mengajukan cerai, tapi Papa menolak. Mereka masih saling cinta dan menyayangi, hanya ego yang membuat mereka begitu. Aku sering mendengar mereka bertengkar, apalagi Papa sesekali mengunjungi Mamamu."


"Puncaknya saat Mamamu sakit selama 2 tahun dan sering ke rumah sakit, Papa merasa bertanggung jawab dan sering menjenguk Mamamu, Mamaku marah dan emosinya semakin menggila. Papa bisa saja meninggalkan kalian dan bersikap tidak peduli dengan memberi keluarga kalian uang yang banyak. Namun dibalik itu semua, aku paham dan belajar, mesti Papa harus mati-matian menahan emosi karena bertengkar dengan Mama dan menghadapi rumah tangganya sendiri yang tidak harmonis, Papa tetap bertanggung jawab dengan keluarganya dan memikirkan orang lain. Dia tahu, dibandingkan dengan petengkaran dia dan Mama, kehidupan kalianlah yang lebih terluka. Saat dia memutuskan mengasuh mu, aku melihat Papa bagai malaikat tanpa sayap, niatnya tulus. Dia bertanggung jawab sepenuhnya. Dia bisa melemparkan mu ke Panti Asuhan, kamu tidak punya keluarga lagi, tidak akan ada yang menuntut. Tapi lagi, dia mengajarkan ku secara tidak langsung, menjadi pria dan orang yang bertanggung jawab serta tulus sepenuhnya. Aku sangat menggagumi Papa, dia luar biasa di mataku.”


Bianca benar-benar diam mendengarkan cerita Leon, air matanya yang sejak awal sudah menetes kini semakin deras, dia menangis sedih dan terharu. Dia merasa beruntung, karena di tengah kesusahan dan kepergian orang tuanya, Tuhan masih mengirimkan seseorang yang tulus dan baik hati seperti Mr. Leo Gerald Demaind, sosok pria dan ayah yang bertanggung jawab.


“Aku ingat Papa pernah mengatakan padaku, dengan tegas dan wibawa bahwa temannya pernah mati dan menukarkan nyawa demi dia, maka dia pun akan begitu membalasnya.” Leon mengusap air mata Bianca, memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya.


“Ini jodoh dan takdir Bianca, takdir dari orang tua kita, bahkan mereka pernah berniat menjodohkan kita jika kita sudah dewasa, tapi aku malah sudah menyukaimu dan jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu.”


Bianca tersentak, dia sama sekali tidak menyangka pria tampan di depannya itu begitu peduli dan sayang padanya, bahkan sejak 14 tahun yang lalu. Bianca menatap wajah Leon dengan mata berkaca-kaca. Leon mengelus lengan rambut Bianca dan mengecup bibirnya lembut. 


“Tunggu..., kamu bilang kamu jatuh cinta padaku saat di masa kepergian Mamaku. Tapi, saat aku tiba di rumahmu... kenapa kamu tidak menyambutku dan malah membenciku?”


“Karena saat itu rasa sukaku sudah berubah jadi benci. Aku memang tidak menyukaimu, karena mengetahui ternyata selama ini kalianlah yang sudah membuat kedua orang tua ku bertengkar dan Mama pergi.” Jawab Leon sambil menatap mata Bianca.


Meski lampu kamar bercahaya kuning keremangan, tapi Bianca dapat melihat dengan jelas mata Leon menyorotkan kejujuran sekaligus kepedihan.


"Aku benci mendengar orangtua ku bertengkar karena keluargamu." Lanjut Leon seakan meminta maaf.


Bisa berbicara begitu terbuka dan tenang dengan seorang Leon, membuat Bianca merasa moment mereka saat itu adalah mimpi.


Bianca dapat memaklumi Leon, anak mana yang suka melihat kedua orang tuanya bertengkar apalagi karena kehadiran orang luar. Dan lagi saat itu Leon masih remaja, pemikiran dan mentalnya belum tentu sanggup menerima perceraian kedua orang tuanya. Wajar jika Leon membencinya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~