Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 17~



Leon mendengus kesal, entah mengapa, tiap kali Bianca menolak dan melawannya, ia merasa kesal dan marah. Rasanya ia tidak terima jika Bianca tidak menuruti kemauannya.


"Mr. Leon, hanya mengingatkan jika kita ada rapat setelah makan siang dengan Perusahaan Olympus." Sebuah suara menggagetkannya Leon yang tampak melamun, entah sejak kapan Calvin masuk dan berdiri di depannya tanpa ia sadari.


"Engg..." Jawab Leon setelah sadar dari kekagetannya.


"Beritahu Bianca untuk bersiap juga. Dia akan selalu ikut ke mana pun saya menghadiri pertemuan dan pesta." Lanjut Leon dengan tegas.


"Baik." Jawab Calvin dengan sigap.


~ ~ ~


Dengan wajah cemberut Bianca menyusun minuman dan beberapa fotokopian untuk persiapan rapat di ruang meeting. Siapa lagi yang berani menyuruhnya jika bukan Leon.


"Enak saja ia selalu menyuruhku begini begitu, lama-lama aku jadi tukang makanan dan minuman, bukan asistennya." Gerutu Bianca kesal.


"Hmm... Permisi." Seorang pria membuka pintu ruang meeting dan tersenyum sopan pada Bianca.


"Yaa?" Ucap Bianca spontan karena kaget.


"Kami ada meeting dengan Mr. Leon, katanya diminta tunggu di ruangan ini."


"Ahh anda dari Olympus, silahkan duduk Pak." Jawab Bianca sopan. Pria muda berusia 20tahunan itu pun tersenyum dan meletakkan tasnya di salah satu kursi, ia dengan sigap mempersiapkan laptop serta layar presentasi. Tak lama seorang pria seumuran Bianca menyusul masuk dengan tergesa-gesa dan langsung menghampiri pria yang sedang mensetting laptopnya.


"Bagaimana, apakah sudah kau setting?" Tanya pria itu pada pria pertama dengan harap-harap cemas.


"Sudah, kau tenang saja." Jawab pria pertama dengan tenang. Pria itu menghela nafas lega dan menegakkan tubuhnya.


"Ahh, maaf saya tidak tahu ada orang lain." Pria yang baru masuk itu baru menyadari kehadiran Bianca di ruangan itu.


"Tidak apa-apa. Silahkan kalian lanjutkan." Jawab Bianca tersenyum ramah dan kemudian terkesiap saat melihat wajah pria itu dengan jelas. Pria itu sama kagetnya dengan Bianca.


"Kau... Peter?"


"Ya! Apa yang kau lakukan di sini Bianca?" Tanya Peter takjub.


"Aku bekerja di sini, dan kau?" Tanya Bianca balik dengan antusias. Peter adalah rekan satu kelompok Bianca di mata kuliah Enterpreurship. Meskipun mereka berbeda jurusan, tapi mereka lumayan sering bertemu selama 1 tahun di mata kuliah yang sama.


"Aku akan meeting dengan Mr. Leon. Kau bekerja di bagian mana? Sudah lama bekerja di sini?" Tanya Peter sambil berjalan menghampiri Bianca.


"Aku... hmm, bisa dibilang asisten Mr. Leon, tapi belum lama." Jawab Bianca sedikit ragu menjawab mengenai posisinya.


Klek... Suara pintu ruang meeting di buka oleh Calvin dan mempersilahkan Leon memasuki ruangan dengan langkah tegasnya. Peter dan Bianca langsung memposisikan diri ke posisi seharusnya.


"Kau, duduklah di sana." Perintah Leon saat Bianca berniat keluar dari ruangan karena pekerjaannya sudah selesai.


"Baiklah." Jawab Bianca mematuhi Leon. Ia pun duduk di kursi samping Calvin yang bersebrangan dengan Peter dan rekannya. Sedangkan Leon duduk di kursi pimpinan yang terletak di tengah.


Rapatpun berlangsung dengan lancar, ternyata Peter sudah 5 tahun menjadi CEO di Perusahaan Olympus dan Leon berniat bekerjasama dengan perusahaan mereka. Sedangkan pemuda yang menemani Peter adalah adiknya, Michael. Meskipun tergolong masih muda, tapi mereka sangat pintar dan saling mendukung satu sama lain, terlihat saat Leon melemparkan pertanyaan-pertanyaan sulit yang dengan mudahnya dijawab oleh mereka berdua. Bianca sesekali tersenyum saat Peter dan Michael berhasil menjawab pertanyaan Leon yang terkesan dingin dan mengintimidasi.


Leon kembali ke ruangannya setelah menyelesaikan rapat, sedangkan Bianca mengantarkan Peter dan Michele hingga ke depan lift, tak lupa mereka saling bertukar contact dengan alasan pekerjaan.


Bianca memasuki ruang kerjanya sambil tersenyum bahagia. Leon mengernyitkan keningnya heran dengan perubahan mood gadis itu.


"Heii, kenapa dia?" Tanya Leon pada Calvin yang masih berada di ruangannya.


"Entahlah, mungkin dia sedang kasmaran." Jawab Calvin santai tapi justru membuat Leon merasa panas.


"Ahh percuma bicara denganmu. Kau keluarlah, nanti kita bahas lagi." Ucap Leon mengusir Calvin. Calvin yang kebingungan dengan perubahan mood bossnya hanya bisa diam dan menurut keluar dari ruangan.


~ ~ ~


Selang berapa hari setelah pertemuan singkat Peter dan Bianca, pria itu menghubunginya dan mengajak makan malam bersama. Tentu saja Bianca tidak menolaknya, Peter adalah pria yang pintar, sopan dan rapi, apalagi dengan lesung pipi di kedua sisi wajahnya, membuat wanita luluh jika melihatnya.


"Jadi, bagaimana bisa kau menjadi asisten Mr. Leon? Ku dengar dia sangat ketat dalam memilih karyawan." Tanya Peter sambil mengaduk ramen di hadapannya.


"Well, aku tidak sengaja menjadi asistennya karena ia berinvestasi di perusahaan lamaku, jadi aku menjadi asisten sekaligus perantara kedua perusahaan."


"Woww! Itu hebat. Kau beruntung mendapatkan kesempatan itu. Aku sudah meeting beberapa kali dengan Mr. Leon, dia orang yang detail dan teliti. Sangat tidak mudah bekerjasama dan mendapatkan kepercayaannya." Ucap Peter takjub.


"Hmm, aku menyetujui saat kau bilang tidak mudah bekerjasama dengannya. Kami hampir selalu ribut saat membicarakan hal apapun." Bianca mencurahkan kekesalan mengingat ia selalu bertengkar dengan Leon.


"Kalian ribut?" Tanya Peter.


"Yahh. Selalu."


"Bagaimana kau berani menentang dia? Dan lagi, ia sangat dingin." Tanya Peter heran.


"Mungkin karena aku terlalu menyebalkan, atau..., justru ia yang menyebalkan, hahaha..." Canda Bianca melepaskan stressnya.


Malam itu Bianca habiskan waktunya dengan makan malam dan berjalan-jalan dengan Peter. Ia tak menyangka, Peter begitu ramah dan menyenangkan, berbeda dengan saat masa kuliah yang pendiam. Mereka saling menceritakan perjalanan masa kuliah hingga ke dunia kerja.


"Sudah malam, aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap Peter ramah dan membukakan pintu mobil untuk Bianca.


"Terima kasih, maaf merepotkanmu." Bianca tentu saja menyambut baik tawaran Peter. Pria manis itu sudah berhasil menyentuh hati Bianca dengan sikapnya yang sopan dan ramah.


Bianca membuka pintu apartemennya sambil tersenyum-senyum, masih terngiang perkataan Peter sesaat sebelum ia turun dari mobil.


"Next time, kita dinner lagi." Ucap Peter sambil tersenyum manis.


"Kyaaaa..." Teriak Bianca kegirangan tak sabar menanti pertemuan mereka selanjutnya.


~ ~ ~


Leon sedang berada di apartemennya, tangannya sibuk menggoyangkan segelas wine dan mengesapnya dengan pelan sambil mendengarkan perkataan Jerry. Malam ini Jerry meminta teman-temannya berkumpul membahas hasil informasi yang ia dapatkan dari orangnya.


"Jadi berdasarkan info dari narasumber yang sangat sulit dibujuk, Pak Salam. Beliau pernah bekerja sebagai sopir pribadi Mr. Leo selama 15 tahun dan dia tahu detail moment saat Bianca diadopsi. Bianca bukanlah anak simpanan dan ia diadopsi karena Mr. Leo berhutang budi kepada keluarga Bianca." Jelas Jerry dengan tegas. Tersirat senyum lega di wajah Alex, karena sekarang jelas keadaannya jika Bianca berasal dari keluarga baik-baik.


"Hutang budi apa yang dimiliki keluarga kaya raya Demaind sehingga harus mengadopsi anak orang lain?" Tanya Jack penasaran.


"Betul, bukankah bisa diselesaikan dengan uang saja?" Timpal Max.


Jerry baru akan membuka mulutnya menjawab pertanyaan teman-temannya namun terhentikan saat mendengar pintu apartemen Leon berbunyi Biip dan dibuka seseorang.


.


.


.


.


.


To be Continue~