
Bianca sedang duduk di mobil bersebelahan dengan Alex yang menyetir. Alex terlihat mencemasi Bianca, ia ingin bertanya dan berbicara tapi takut membuat Bianca menangis.
"Terima kasih. Lagi dan lagi, kamu yang mengantarku pulang saat aku ribut dengan Leon." Ucap Bianca tersenyum dan memecahkan keheningan.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Alex dengan hati-hati. Bianca mengganguk.
"Tenang saja, semakin ke sini aku sudah semakin terbiasa." Jawab Bianca terdengar lebih santai.
Hari itu Alex mengantar Bianca hingga ke kamar apartemennya, tentunya dengan izin Bianca terlebih dahulu, ia tidak ingin membuat gadis yang baru saja dikasari itu menjadi tidak nyaman, tapi juga ingin memastikan Bianca baik-baik saja.
“Masuklah.” Ajak Bianca saat sudah melangkah masuk ke kamar apartemennya. Alex mengikuti Bianca sambil menenteng tas milik Bianca dan meletakkannya di lantai. Ia memperhatikan kamar kecil itu, walaupun tidak besar, tapi terasa sangat nyaman.
“Apa kamu ingin makan sesuatu? Aku pesankan ya…” Tanya Alex sambil mengeluarkan handphonenya.
"Tidak, aku tidak lapar."
"Apa kamu ingin pergi keluar? Aku hari ini tidak ada kesibukan, jadi bisa menemanimu seharian." Tawar Alex berharap Bianca mengatakan iya supaya ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadis itu.
“Alex…, apa kau benar menyukaiku?” Tanya Bianca tiba-tiba dengan lantang hingga membuat Alex menjadi salah tingkah dan tersenyum malu.
“Sepertinya kamu mendengar apa yang Jerry katakan tadi. Hmm… Aku,”
“Jangan menyukaiku.” Potong Bianca cepat sebelum Alex sempat menjawab, Alex menatap Bianca yang sedang berdiri menghadapnya dengan heran, kenapa ia berkata begitu?
“Apa karena apa yang sudah terjadi di antara kalian?” Tanya Alex menerka-nerka pasti ada hubungannya dengan Leon.
“Itu salah satunya.” Jawab Bianca tanpa ragu.
“Apa masih ada alasan lain?” Tanya Alex bijak ingin mendengar penjelasan dari gadis manis yang terlihat baru saja menghela nafas berat di hadapannya itu.
“Baik, aku akan jujur padamu, tapi aku harap kamu menilainya dengan pikiran terbuka dan tidak emosi." Tutur Bianca berhati-hati.
“Katakan.” Jawab Alex cepat dan mulai tidak tenang.
"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentang Lara, tapi aku tidak ingin merusak persahabatan kami. Kita bisa memulai pertemanan ini karena dirinya dan…,"
"Lara menyukaiku." Kali ini giliran Alex yang memotong ucapan Bianca.
"Kau tahu? Apa dia sudah mengatakannya padamu?” Tanya Bianca dengan cepat, Alex menggeleng halus kepalanya.
"Aku tidak bodoh Bianca, aku bisa merasakannya dan aku juga tahu saat kamu berusaha menjaga jarak denganku."
"Maaf…, apa itu sangat ketara?" Tanya Bianca merasa bersalah.
"Dari awal aku sudah memikirkannya. Aku tadinya ingin menyelesaikan perasaan Lara padaku terlebih dahulu, supaya kamu tidak merasa bersalah padanya jika aku mendekatimu. Seiring waktu, aku juga ingin meyakinkan Leon jika aku pantas memperjuangkanmu. Bagaimanapun, kami juga adalah teman baik dan aku menghargainya." Mendengar penjelasan Alex yang bijaksana dan dewasa membuat Bianca tersentuh, matanya mulai berkaca-kaca, menyayangkan dirinya belum bisa berjodoh dengan Alex yang sangat baik padanya.
Dari awal ia mengenal Alex, pria itu selalu memperlakukannya dengan baik dan seakan memahaminya isi hatinya tanpa ia harus mengutarakannya.
"Apa kamu selalu sebaik ini? Kamu bahkan memikirkan perasaanku. Tapi kamu bisa lihat sendiri, betapa gila dan marahnya Leon saat melihat kita bersama. Dia membenciku, tentu tidak akan senang dengan hal ini. Aku juga tidak ingin merusak hubungan kalian karena kamu terus membelaku."
"Aku mengerti, kita adalah orang yang tidak ingin kehilangan sahabat karena pacar. Tapi, aku hanya tidak menyangka, perasaanku bahkan sudah ditolak sebelum aku memulai perjuanganku.” Ucap Alex dengan senyum kecewa.
"Maaf…, lebih baik begini daripada aku harus menyakiti banyak orang."
"Aku juga tidak ingin menambah beban masalahmu." Jawab Alex lembut dan mengerti kenapa Bianca menolaknya, ia juga merasa kasihan jika nantinya Bianca harus merasa terbebani menjalani hubungan dengannya.
"Terima kasih Alex. Kau…, aku tidak tahu harus mengucapkan apa selain maaf dan terima kasih." Air mata Bianca tak lagi tertahankan, ia merasa sangat sayang melepaskan pria sebaik Alex.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Aku juga bukanlah orang yang suka memaksa, jika tidak nyaman, jangan diteruskan. Tapi, berjanjilah, ke depannya, jika kamu ada masalah seperti ini lagi, jangan sungkan mencariku. Kita masih bisa menjadi teman baik.” Ucap Alex berusaha menenangkan dan mengusap air mata Bianca yang menetes. Ingin rasanya ia memeluk dan memberikan kekuatan, tapi Alex belum sanggup, ia juga butuh ketenangan untuk penolakan yang baru saja ia terima.
Malam telah tiba, saat itu juga Jerry Choi mengatur pertemuan Leon dengan Kimora. Jerry sedang duduk bersama Leon di sebuah restaurant hotel.
"Kau sengaja meluangkan waktumu untuk mempertemukan kami?" Tanya Leon pada Jerry sambil menyeruput minumannya.
"Kimora masih menginap di sini, dan kebetulan sekali aku sedang ingin makan steak di restaurant ini. Lagipula, semakin cepat kalian bertemu, semakin bagus untuk otak dan perasaanmu." Jawab Jerry santai.
"Sejak kapan kau jadi mak comblang ku?" Tanya Leon tertawa meremehkan.
"Aku juga tidak ingin, aku melakukan ini demi Bianca." Jawab Jerry berterus terang.
"Apa yang kalian bicarakan hingga tidak menyadari kedatanganku?" Tanya wanita yang mendapat tatapan kaget dari kedua pria di depannya itu.
"Haii Leon, lama tidak bertemu." Sapa wanita cantik di sampingnya sambil mengulurkan tangannya. Leon dengan cepat menyambut jabat tangan itu.
"Lama tidak bertemu Kimora." Balas Leon tersenyum lebar pada wanita yang ia panggil Kimora. Meskipun Leon dan Kimora sudah Lama putus, tapi mereka masih memiliki perasaan yang baik satu sama lain, apalagi Kimora adalah pengusaha sukses yang bisa Leon ajak bekerja sama dengan perusahaannya.
"Hmm..., jangan lupa aku masih di sini." Tegur Jerry Choi saat melihat kedua mantan sejoli itu saling membalas senyum dengan tatapan melepas rindu.
"Maaf Jerry, aku terlalu senang bisa bertemu dengan Leon lagi. Dia jauh lebih keren sekarang dan.... Wowww! Aku sangat kagum dengan keberhasilannya."
"Kau terlalu memuji Kimora. Aku hanya bertambah tua, berbeda denganmu, semakin cantik dan terkenal."
"Tidak... aku tidak ada apa-apanya, kau jauh lebih populer dan kaya." Kilah Kimora antusias.
"Itu berbeda, aku meneruskan perusahaan Papa dan kamu mulai dari nol." Jawab Leon kembali memuji Kimora.
"Ehemmm, bisakah kalian berhenti saling memuji semalaman?" Protes Jerry menghentikan kedua orang di depannya yang terus saling memuji.
"Hahahaha... kami terlalu seru." Tawa Kimora dengan senang.
Mereka bertiga menghabiskan makan malam dengan canda tawa hingga tak terasa waktu sudah semakin malam.
"Ahh, rasanya belum cukup untuk ngobrol dengan kalian. Ingin rasanya menarik kalian ke kamar ku." Ucap Kimora yang tidak rela pertemuan mereka berakhir malam itu.
"No." Jawab Jerry cepat.
"Itu tawaran yang menggoda, tapi maaf, aku tidak tertarik. Hahaha... ," Tolak Leon dengan canda.
Jerry melihat Leon dengan heran, bagaimana bisa Leon tidak tergoda untuk bermain di kamar Kimora? Apa Leon sedang berusaha menjaga imagenya?
"Ahh... aku ditolak dua pria sekaligus." Keluh Kimora berpura-pura sedih.
.
.
.
.
.
To Be Continue~